Latar Belakang & Pesan Moral #misiterakhirrafael







"Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" di depan Yellow Car Wash, Alam Sutera, Tangerang.







Latar belakang menuliskan "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh":
Idenya muncul saat aku hendak tidur malam. Aku terpikirkan, sepertinya seru jika ada novel yang tokoh utamanya itu sepasang kembar. Tadinya aku mau membuat alur cerita di mana dua orang kembar ini berebutan perempuan. Aku urung. Kupikir, bagaimana jika aku membuat yang lebih epik lagi. Ta-ra, oh, ide déjà vu ini masukkan saja ke dalam novelnya. Apalagi aku sedikit tahu konsepnya, karena pernah melakukan riset tentang déjà vu tersebut. Pemilihan Bali sebagai tempat Gabriel dan Mikha bertemu itu juga disengaja. Aku suka Bali, aku suka juga dengan kebersamaan, khususnya solidaritas antar bangsa.

Haha. Intinya, aku ingin tampil beda saja. Aku masih suka terbayang-bayang kata-kata keren dari Toni Morrison yang dulu kulihat di kampus Atmajaya dahulu. Itu berbunyi: "If there's a book that you want to read, but it hasn't been written yet, then you must write it." Maka dari itulah, aku menggarap mati-matian #misiterakhirrafael . Aku berharap diriku bisa mengubah dunia melalui novel coklat ini--juga lewat buku-bukuku yang lainnya. Hanya itu, tidak lebih. 

Pesan moral dari "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh":
Selalu ada seseorang untuk seseorang. Konsep 'jodoh' itu memang unik. Dari situlah, terbentuklah kisah cinta Gabriel-Mikha yang banyak dibumbui aroma misteri. Aku tidak memungkiri lagi, entah kenapa juga tiap kita berbicara mengenai alam mimpi, kata 'horor' langsung menyeruak ke pikiran kita. Namun, #misiterakhirrafael sama sekali tak dimaksudkan untuk menakut-nakuti tiap pembacanya. Ini hanya hiburan semata, jika kalian tak bisa menangkap pesan moralnya. Kemudian, melalui #misiterakhirrafael ini, aku ingin menjelaskan konsep 'selalu ada seseorang untuk seseorang'. Pertemuan tiap sepasang kekasih itu juga selalu unik dan berbeda-beda antara pasangan satu dengan yang lainnya. Itulah pesan moral dari si Coklat ini. Aku menuliskannya demi konsep usang, kolot, dan aneh tersebut.





Comments