Latar Belakang & Pesan Moral dari Empat Novel Indie Kece Ini








"Kamisama no Cempe Kanefe" di Gula Merah, Mall @Alam Sutera.





Latar belakang aku menuliskan naskahnya:
Sebelumnya, naskah "Kamisama no Cempe Kanefe" ini dituliskan sesudah aku selesai menyelesaikan "Ai Shin'Yuu" yang sangat melelahkan. Saat itu, sesudah menonton sebuah film Indonesia, aku terpikirkan untuk membuat satu novel dengan latar belakang hukum. Pikirku, jarang sekali ada novel yang bertema dunia hukum. Dari situlah, lahirlah Obed Rajagukguk dan Naomi Kawaguchi yang berprofesi sebagai pengacara--atau lebih tepatnya, mereka bekerja di sebuah law firm.

Pesan moral "Kamisama no Cempe Kanefe":
Aku mencoba memberikan ke kaiian apa saja yang akan terjadi pada pernikahan beda budaya. Pernikahan (yang juga bisa pacaran) juga bukanlah sesuatu yang mudah; juga bukanlah sesuatu yang menyeramkan. Setiap pengalaman aku mendengarkan curhat beberapa orang tentang kehidupan pacaran atau pernikahan, aku tuangkan dalam novel abu-abu ini. Lalu, kenapa judulnya seaneh itu? Oh, itu bahasa Jepang dan bahasa Sumba. Aku memilih empat kata tersebut karena mereka cocok dengan isi novelnya--yang juga sangat kental jepang-jepangannya. Dari judul seperti itulah, pesan moralnya yang lain: mau ke mana kita pergi, ke ujung dunia sekalipun, jodoh tak akan ke mana. Jodohmu tak akan tertukar dengan jodoh orang lain.







"Ai Shin'Yuu" di Yellow Car Wash, Alam Sutera.
Latar belakang aku menuliskan naskahnya:
Ini awalnya aku mau jadikan skenario film. Namun, aku urung. Kupikir, jadikan novel saja dulu. Hitung-hitung aku belajar membuat novel yang lebih bagus setelah satu naskah diterima oleh sebuah penerbit yang keren sekali. Kemudian, aku terpikirkan untuk membuat novel yang rada beda dari yang pernah kubaca. Novel yang terbentuk dari beberapa cerita pendek yang per sketsanya itu terdiri dari 200 karakter.

Pesan moral "Ai Shin'Yuu":
Cinta yah cinta. Persahabatan yah persahabatan. Tak akan pernah keduanya saling merusak jika niatnya itu bukan niat jahat. Cinta tak akan merusak persahabatan yang ada. Apalagi jika itu sampai menghancurkan persahabatan tujuh orang remaja, kurasa itu bukan cinta namanya. Ini sebuah cerita yang bagus bagaimana tujuh orang remaja tetap menjaga solidaritas mereka saat cinta menyusup ke tengah-tengah mereka. Novel hijau ini banyak kubumbui dengan pengalaman diriku saat masih seorang pelajar.







"Amoreureka" di University of Bina Nusantara, Alam Sutera.
Latar belakang aku menuliskan naskahnya:
Aku ingin sedikit mengenalkan dunia fandom, khususnya wotagei. Demi menyelesaikan novel ini, aku sampai riset ke dunia wotagei, loh. Aku sempat bertanya ke salah seorang yang menekuni wotagei. Juga, aku sempat menonton beberapa video wotagei agar mendapatkan feel seorang wotagei. Oh iya, untuk kalian yang hobi jejepangan, si tokoh utama yang bernama Sakura Lontoh, dia itu seorang cosplayer. Seluk beluk dunia cosplay, ada di "Amoreureka" juga.

Pesan moral "Amoreureka":
Untuk yang tengah belajar bahasa Jepang, bolehlah dibeli novel ungu ini. Tak sedikit kosa kata bahasa Jepang di dalam "Amoreureka". Kalian juga bisa mengetahui beberapa lagu-lagu Jepang, khususnya lagu dari anime. Lalu, terakhir kusampaikan, jangan pernah memendam masalah. Cepat atau lambat, masalah itu akan keluar. Jangan pernah juga sembarangan curhat. Seringkali teman curhat kita akan membeberkan masalah kita. Mordekhai dan Sakura sudah pernah mengalaminya. Oh iya, selalu ingat, keajaiban akan terjadi untuk mereka yang mau mempercayainya dan mau mencoba. Bagi kalian yang tengah mencari cinta sejati, bacalah novel ini dan jangan menyerah, yah. Pasti ada jalan. Seringkali cinta sejati berada di tempat yang bisa kamu jangkau.







"Cualacino" di Mall @Alam Sutera.
Latar belakang aku menuliskan naskahnya:
Aku hobi menulis. Menulis itu passion aku juga. Aku sangat tertarik bekerja di bidang media dan pembuatan animasi. Belum lagi, aku pernah mendatangi kantor redaksi sebuah media massa yang terletak di DKI Jakarta. Ada temanku pula yang jago menggambar. Itulah cikal bakal dari kelahiran "Cualacino".

Kenapa tokoh utamanya seorang perempuan? Itu terinspirasi dari seorang teman perempuan yang dulunya tinggal di Bandung. Melalui novel ini, aku mencoba untuk menyelami setiap pikirannya. Dari situlah, lahirlah tokoh bernama Ruth Melisa yang dingin--yang bahasa Jepang gaulnya, dia tsundere.

Pesan moral "Cualacino":
Teruslah berharap, teruslah menunggu cinta lamamu. Itu tidak akan pernah menjadi sebuah kesia-siaan belaka. Sebab, cinta seringkali datang di waktu yang tepat. Terakhir, selalu ciptakan kesan baik untuk siapapun yang berhubungan dengan kamu. Ingat, jejak itu tidak mudah untuk dihilangkan.







Comments