Satu Minggu Nuel Lubis sebagai Seorang Pengamat





















Hari minggu
Saat tengah berjalan-jalan santai sepulang bergereja, aku menemukan layang-layang menyangkut di atas pohon. Lalu, aku teringat ada teman yang bilang, orang yang menemukan layang-layang yang dalam  kondisi seperti ini, itu sama seperti orang yang menemukan uang di jalan. Orang yang beruntung, katanya. Alasannya:
1. Membuatnya lagi, malas;
2. Membelinya lagi, mahal.
Aku hanya terpana saja mendengarnya. Masak sampai sebegitunya, yang sampai mengejar-mengejar layang-layang, yang hanya untuk diterbangkan kembali? Temanku langsung menertawakanku dan berkata, "Kuper lu. Ketauan, nggak pernah main layangan yah, lu?"

Hari senin
Hari yang melelahkan. Sore yang indah nan lucu. Haha. Entah itu betulan dicat atau tidak, aku sudah jarang sekali lihat pemandangan seperti ini. Aku bertemu gadis kecil dengan rambut berwarna seperti itu. Haha. Aku jadi ingat diriku saat kecil dulu. Dulu rambutku sempat berwarna seperti itu.

Hari selasa
Di saat aku tengah menunggu seorang teman, mendadak aku terpikirkan nasehat tiap orang yang kukenal. Ringkasannya begini:
Hidup itu katanya harus berbasa-basi dalam menjalin hubungan dengan sesama. Terlalu serius malah bisa membahayakan diri sendiri. Namun, kebanyakan basa-basi (apalagi basa-basi busuk) justru juga membahayakan diri sendiri. Kata mereka, "Serius sedikit, bisa nggak?" 

Hari rabu
Sebelum memulai beraktivitas, aku sempatkan melihat video-video dari @smilewithmarkian lagi. Oh, orang ini sangat luar biasa sekali. Haha. Yah, mereka sepertinya benar mengenai: "What it's like to be a small guy?" Kita selalu melihat ke atas, dan... oh sialan, aku selalu memiliki kesulitan dalam mengambil barang di tempat yang lebih tinggi dari aku.

Hari kamis
Setiap membeli pulsa, aku suka terbayang-bayang pemikiran ini. Ini dari seorang teman kuliah aku dulu. Begini katanya: "Punya smartphone, namun pulsanya tak ada, itu  sama saja sia-sia. Smartphone tidaklah 'smart' jika tak ada pulsa."

Hari jumat
Akhir-akhir ini, setiap penjual nasi uduk di lingkungan aku tinggal, suka menjual lontong sayur dan nasi kuning. Seperti paket komplet saja. Di mana ada nasi uduk, nasi kuning dan lontong sayur (juga gorengan) ikut ada pula. Haha. Oh iya, aku tak bisa bayangkan, aku kelak akan merindukan sarapan seperti ini. Sarapan dengan nasi uduk, nasi kuning, lontong sayur, atau bubur ayam. Kenapa aku jadi melankolis seperti ini? Aku mendadak teringat obrolan dengan salah seorang teman yang kini tinggal di Bali. Ah, mungkin ada beberapa temanku juga merasakan kerinduan yang sama.

Hari sabtu
Merobeknya melelahkan dan merepotkan. Kalau tak dirobek, kita tak akan pernah tahu tanggal berikutnya itu apa. Oh iya, ada yang menggunakan kalender seperti ini di rumah kalian? Kalian menyebutnya apa, kalender seperti ini? Lantas, apa ada yang pernah lupa tidak menyobek tanggal yang sudah terlewati?




Comments