Satu Minggu Nuel Lubis bersama #misiterakhirrafael






Dear Diary,.....







Ini hanya sebagai ilustrasi saja. Kejadian yang sebenarnya tidak memiliki foto. Lagian, aku bisa dibuat bonyok temanku. Orangnya judes banget. Hiiy! 😨



Hari senin
Sinting, yah, aku?! Besok aku sidang skripsi, bukannya belajar, aku malah sibuk nge-PB? Haha. Aku sibuk menaikan pangkatku di game tembak-tembakan itu. Seru banget, loh. 

Hari selasa
YIHAAAA! MAAAAAK, ANAKMU LULUS KULIAH JUGA! I'm officially sarjana hukum right now. Thank, God. Walau tadi, sih, aku rada gugup di depan tiga dosen penguji aku. Aku beberapa kali bicaranya tak lancar. Suka salah ucap sampai-sampai Bu Asmin ketawa sendiri begitu. Maafkan, aku, Bu, sudah bikin Ibu malu di depan dua dosen lainnya. Oh iya, makasih, Bu, sudah membelaku di depan Pak Siradj. Aku sempat mati kutu dalam menghadapi pertanyaan Pak Siradj. 

Hari rabu
Akhirnya aku bebas menggarap naskah itu lagi. Tapi mulai dari mana, yah? Aku bingung. Gimana caranya membangun chemistry antara Gabriel dan Mikha? Iya, sih, benar yang dibilang Selvie kalau obrolan Gabriel dan Mikha kayak begitu. Mikha, kan, bukan perempuan murahan. Apalagi, habis berduka juga. Aneh, sih. Aduh, gimana, yah? 

Hari kamis
Aku off dulu menyelesaikan naskahnya. Mending nonton drama dulu. Kali saja aku dapat inspirasi. Oh iya, ini drama kesukaanku juga. Aku sampai ratusan kali menontonnya. Bagian yang kusuka saat si cowok gugup begitu di depan cewek yang ditaksirnya. Selalu menghindar begitu. Di depan yang lain, ngomong lancar. Tapi, di depan si cewek, gagap begitu. Haha. Jadi ingat..... ah, sudahlah. Malu sendiri aku 😶.

Hari jumat
Pagi-pagi buta, ada teman curhat padaku. Dia lagi ribut sama pacarnya. Katanya, sih, si cowok kekanak-kanakan. Kayak bocah begitu. Terus, yah aku semangati sebisaku saja. Haha. Lagaknya seperti dokter cinta saja aku ini. Eh iya, gimana kalau cerita dia itu kujadikan bahan cerita novelku ini saja? Haha. Sedikit karakter dia kujadikan karakter Mikha saja, yang sembari bayangan perempuan dalam mimpi itu masih tetap jadi role model untuk Mikha. Mikha, gadis yang bawel, judes, namun sangat luar biasa. Hmmm.....

Hari sabtu
Thank for that drama! Thank for her! Akhirnya, tanpa terasa aku sudah menulis hingga lima puluh halaman saja. Mikha ini jadi terlihat seperti hidup saja. Di benakku, Mikha ini sosok perempuan Oriental berambut panjang, yang seperti punya dua wajah. Kadang, dia bisa jadi perempuan bawel. Kadang, dia bisa menjadi perempuan kalem. Aku cengar-cengir sendiri tiap menulis dialog untuk Mikha. Oh iya, nama temannya Mikha, apa sebaiknya kuambil dari nama kedua teman kuliahku, yah? Sosok seperti Mikha kalau punya kedua teman yang satunya pendiam dan yang satunya centil kayak emak-emak, boleh juga. 

Hari minggu
Ibadah minggu kali ini sangat luar biasa. Khotbah si pendeta menggugah semangatku. Aku dapat ide juga untuk novelku ini. Haha. Memang benar, yah, inspirasi bisa datang dari mana saja. Terimakasih, Pak Pendeta! Barokah hidup Bapak. Semoga selalu diberkati Tuhan, yah, Pak! Hehe.


PS:
Cerita ini hanyalah ringkasan dari kisah-kisah sebenarnya yang aku tuliskan di buku harianku. But, it is really sourced from my true story!







Comments