A Mysterious Girl inside Ruth Yuriana








Ruth Yuriana.








Ia mulai merasa keseimbangan tubuhnya mau ambruk. Mata berkunang-kunang. Pandangan mulai agak kabur. Kedua tangannya mulai mati rasa. Oh tidak! Masa ia harus pingsan di dalam bus? Bikin malu saja. Dan untuk menghindari pingsan, ia lamat-lamat menurunkan posisi badannya menjadi jongkok. Memang tidak enak berjongkok dalam bus yang padat. Namun sekiranya itu lebih baik daripada terus berdiri yang lama kelamaan ambruk juga. 

Sembari jongkok, ia membongkar isi ranselnya. Seingatnya, ia menyimpan sebotol kecil minyak angin. Tapi dari tadi kok tidak ketemu-ketemu yah? Oh iya, ia baru ingat. Minyak anginnya dipinjam ayahnya, dan lupa memintanya kembali. Apes. 

Sialnya lagi, ia juga tidak membawa botol minum. Di dalam bus yang padat itu, seingatnya juga, kali terakhir dilihat, hanya ada penjual permen dan tisu yang masih ada. Mungkin ia bisa beli permen untuk tambahan energi. Tapi masalahnya ia tak punya energi lagi untuk berdiri.

“Mas,” Seorang perempuan mencolek pundaknya. 

Dengan pandangan sedikit buram, ia menatap perempuan itu. Dari tampilannya, perempuan tersebut sepertinya mahasiswi. Mengenakan kaos ketat warna merah jambu dengan dilapisi kardigan putih. Lalu bawahannya celana jins biru muda ketat. 

“Mas, duduk di tempat saya aja,” tawar perempuan itu tersenyum. 

“Nggak usah, saya kuat kok berdiri.” tolaknya, sok berdiri kembali padahal tahu kondisi fisiknya memang lagi lemah. 

“Udah deh, nggak usah malu-malu. Mas duduk aja. Itu juga dari wajahnya kelihatannya pucat.” ujar perempuan itu terkekeh. 

Mukanya merah pasi. Dengan malu-malu, ia mengambil tempat duduk si perempuan itu. Dalam posisi berdiri, perempuan itu mengambil sesuatu dari dalam tas selempangnya. Ternyata sebotol minuman mineral. Diangsurkannya pada Noel yang masih berwajah pucat. Tampak Noel jadi tak enak hati. 

“Udah diminum aja, buat tambahan energi,”

Noel menengadahkan kepala ke atas dan membuka mulut lebar-lebar. Seperti itulah cara dia meminum air dari pemberian perempuan tersebut. Dengan begitu, mulut botol tadi masih tetap steril dari kemungkinan air liurnya yang bakal menempel. 

“Aaaah….” desisnya tersenyum. Ia mengangsurkan kembali botol tersebut. “Makasih yah.”

“Sama-sama.”

“Oya, kamu masih kuliah?”

Perempuan itu mengangguk. “Iya, masih kuliah di Universitas Daruma. Ambil Komunikasi Broadcasting.”

“Oooh…”

“Mas ini wartawan, yah?”

Ia terkekeh. Sepertinya perempuan itu memerhatikan name tag yang ia kenakan sedari rumah. “Iya, saya wartawan. Wartawan di majalah remaja gitu. Majalah Hallo. Pernah baca, kan?”

“Sampai sekarang malah.”

Ia terkekeh. “Emang usiamu berapa?”

“19 tahun. Oh iya, dulu aku sebetulnya juga mau kuliah di Jurnalistik. Lebih suka masuk sana. Eh, yang dapetnya malah Broadcasting.”

“Broadcasting juga bagus, kok. Apalagi sebetulnya peluang kerjanya lebih bagus Broadcasting ketimbang Jurnalistik. Lagian jadi jurnalis itu identik kayak kuli. Gaji nggak seberapa, tapi kerjanya itu… beeuuh…”

“Emang berat yah, jadi jurnalis itu?”

“Cukup berat.”

“Udah berapa tahun kerja di sana?”

“Tahun ini sih, udah mau dua tahun.”

“Oh yah, Mas. Di kampusku kan, ada program magang tuh, boleh nggak magang di Hallo?”

“Boleh-boleh aja.”

“Alamat Hallo dimana sih?”

Noel lalu menyebutkan alamat kantor redaksi dimana ia bekerja. Tak lupa pula ia memberitahukan pada perempuan itu nomor yang bisa dihubunginya. Tak hanya itu saja, ia juga menceritakan bagaimana suasana di kantor redaksi Hallo. Entah mengapa, ia begitu senang saat melihat keantusiasan si perempuan menyimak ceritanya tersebut–yang lumayan mengisi waktu yang cukup membosankan di dalam bus. Padahal mahasiswi itu baru bertemu pagi ini. 

“Oh iya, nama kamu siapa?” tanya Noel di sela-sela gencaran pertanyaan perempuan tersebut mengenai kehidupan seorang jurnalis. 

“Ruth.”

Ia tersentak. Kebetulan yang aneh. Ruth merupakan nama yang menimbulkan kelabu di hatinya; juga merupakan nama yang menjadi penyelamatnya hari ini. Ah semakin istimewa saja posisi nama Ruth di pikiran dan hatinya. 

“Kenapa, Mas? Kok kaget gitu?”

“Nggak, cuma heran aja. Kirain selama ini nama Ruth itu langka di Indonesia, eh ternyata keliru. He-he-he.”

“Bisa aja,” ucap Ruth terkekeh. “Aku kira Mas baru aja punya pengalaman nggak ngenakin dengan seseorang yang bernama Ruth.”

Noel hanya terkekeh. 

Di tengah-tengah obrolan ngalor-ngidul itu, sang kondektur berteriak lumayan kencang bahwa bus itu akan memasuki Kebon Jeruk. Noel berdiri lagi, bersiap-siap untuk turun. 






Nuel Lubis mengenakan scarf (atau selendang?).









Cerita tersebut merupakan cuplikan dari "Cualacino". Ada di halaman berapa, bagaimana cerita selengkapnya, yah silahkan pesan ke raditeenspublisher@gmail.com yah. 

Selanjutnya, aku hanya mau bilang saja, adegan tersebut terinspirasi dari pengalaman yang sering aku alami saat kuliah dulu. Dulu, kan, aku sehari-hari naik bus umum dari Tangerang ke Jakarta. Pagi-pagi buta aku sudah berada di dalam bus, yang apesnya suka tak dapat tempat duduk. Makanya, aku lumayan kuat untuk berdiri selama lima belas menitan. Walau, jika tengah sial banget, aku suka mengalami kejadian seperti pada cerita tersebut. Badanku pernah hampir ambruk di dalam bus. 

Nah, atas dasar itulah, sepertinya bagus juga pengalaman tersebut dimasukan ke dalam "Cualacino". Tentunya, aku modifikasi sedikit. And then, et viola, jadilah ceritanya seperti itu. Aku mah begitu. Di beberapa novel, suka ada curahan hati tersembunyi aku. Well, jika ingin mengetahui sudut-sudut pandang tertentu dari seorang Nuel Lubis, pengin sekali mengenal lebih dalam aku, beli "Cualacino" yah. Jangan lupa beli novel-novelku yang lainnya yang diterbitkan oleh raditeenspublisher@gmail.com yah!

Oh iya, terakhir, aku mau bilang, siapakah perempuan yang menjadi inspirasi dari tokoh bernama Ruth Yuriana tersebut. Entahlah, aku malas menjawab. Rahasia. Yang jelas, saat menulis naskahnya, mendadak saja muncul wajah perempuan berambut panjang dan bertinggi badan 170 cm di benakku. Senyumannya sangat menawan di balik tingkah polos nan kekanakannya. That's it!






Comments