Manusia untuk Teknologi (Foto)








Foto gerbang masuk kota Bekasi via Jatiasih dan Kalimalang.









Aku tidak memungkiri teknologi benar-benar membawa banyak keuntungan. Salah satunya, teknologi yang berbau fotografi. Tinggal klik, keluar hasil, itu bisa menjadi self-reminder bahwa kita pernah ke sana, bahwa kita pernah mengalami hal tersebut. Sekarang aku paham sekali kenapa di beberapa album foto (dulunya, yah) memiliki kata-kata mutiara seperti ini: 'walau hanya selembar gambar, itu bisa menceritakan banyak hal'. Keuntungan lainnya: sering menyelamatkan seseorang dari pengalaman-pengalaman tidak mengenakan. 

Tapi, makin lama aku makin melihat manusia cenderung ketergantungan akan teknologi. Tidak hanya tentang fotografi, namun teknologi-teknologi lainnya. Kalau dalam hal teknologi, ini salah satunya: Foto oh Foto. Kadang aku suka prihatin dengan mereka yang tidak memiliki ponsel berkamera. Mereka hanya menceritakan pengalaman-pengalaman menakjubkan mereka hanya melalui omongan (atau mungkin tulisan). Ditanyakan lebih lanjut, mereka langsung mati kutu. Padahal ada beberapa kondisi yang bisa menyebabkannya. Oh iya, aku jadi teringat kata-kata Bu Lidwina Maria, dosen Hukum Perdata dulu. Dia pernah mengatakan bahwa foto seringkali kurang bisa jadi bukti hukum yang valid. Kurang lebih seperti itu, yah, yang kuingat. Yang kalau dipikir benar juga. Sebab, foto bisa dimanipulasi, bahkan termasuk foto yang dihasilkan dari rol film (katanya, loh).

Tidak hanya itu. Tidak hanya sampai di situ juga. Seringkali dengan adanya keberadaan foto digital, foto jadi terlalu mudah dihasilkan. Bukan terkadang juga, namun seringkali keberadaan foto digital bisa merusak sebuah momen. Orang jadi asyik sendiri hanya demi mengabadikan momen ke dalam sebuah foto. Yang awalnya bertemu untuk lebih akrab lagi, jadi terasa kurang karena masing-masing sibuk sendiri dengan gadget-nya, yang salah satunya  dengan kamera ponsel. 

Itu baru tentang foto. Belum tentang teknologi-teknologi lainnya. Seperti:

Kalau tidak menyalakan alarm, tidak bisa bangun pagi. Tidak bisa tidur tanpa AC. Mengetik hanya jika ber-laptop Mac (padahal kalau niat, dengan mesin tik, atau komputer yang bukan Windows XP atau Windows 10 juga bisa). Lupa waktu hanya karena tidak mengenakan jam tangan. Minum harus dari dispenser. Bangun pagi, langsung buka Youtube. And then, masih banyak contoh lainnya.

Sebetulnya tulisan senada tulisan aku ini sebelumnya sudah banyak berkeliaran. Namun, itu semua bagaikan masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Termasuk aku sendiri. Aku sendiri baru benar-benar menyadari hal tersebut sekarang-sekarang ini. Aku baru sadar, fungsi teknologi sudah berubah. Yang seharusnya 'teknologi untuk manusia', eh berubah menjadi 'manusia untuk teknologi'. 

Begitulah. Sudah, cukup sekian saja, haha. By the way, tentang foto ilustrasi di atas, aku mau bilang, teknologi foto digital sungguh hebat. Hanya dengan mengantongi smartphone di kantung celana jins, aku langsung memiliki bukti aku pernah ke Bekasi. Terbayang aku, ada seorang pemuda yang dengan hoki dan ajaibnya bisa pergi ke Alaska, padahal dirinya tak memiliki smartphone yang dilengkapi kualitas kamera sangat mumpuni. Atau, seorang amnesia yang dengan ingatan samar-samar memberitahukan ke beberapa orang bahwa dirinya berasal dari keluarga sultan. Haha sekali lagi, deh!







Comments