Judulnya? Auk Ah Gelap!

















Dulu, aku hampir tidak pernah melihat ke belakang. Aku berprinsip 'let bygones it bygones'. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Aku juga terlalu optimis memandang ke depan. Serasa berpercaya diri begitu, aku bakal jadi orang hebat. 

Dulu kapan? Entahlah. Mungkin tepatnya saat kuliah, saat remaja, atau saat SD. 

Seiring berjalannya waktu, sekarang-sekarang ini aku berubah prinsip. Apa-apa lihat ke belakang. Seolah-olah aku tak berani menatap hari esok. Seperti sudah tahu aku bakal jadi pecundang. Hidup hanya untuk hari ini dan kemarin saja. To me, the past is the best. 

Hufftt

Apa ini yang disebut krisis paruh baya? Usiaku, kan, late thirties. Konon, di usia late thirties, gairah hidup mulai menurun. Melihatnya ke belakang melulu. Apa-apa tidak sabaran. Maunya serba instan. Katanya, sih, begitu. 

Haha.

Sekarang, bagiku, melihat ke belakang itu bagaikan melihat masa depan. Melihat ke depan bagaikan melihat masa lalu. The past is in the front. The future is in the behind.

Tertukar sudah hidupku. Bagaikan seorang Superman dengan kancut di depan. 

Omong-omong, sejak kecil aku suka bertanya-tanya kenapa Superman dibuat sinting seperti itu. Apa karena pembuatnya merasa semakin hebat dan ajaib seseorang, maka orang itu akan menjadi semakin sableng? Sebab, setahuku, Wiro Sableng dikatakan sableng, justru karena keperkasaannya. 

Jadi, kesimpulannya? Esensi tulisannya di mana? Mau dibawa ke mana? Auk ah gelap! 







Comments