Peran Si Pembawa Pesan








Ekspresi Nuel Lubis tengah berpikir bagaimana caranya menyampaikan pesan ke seseorang.









Aku lupa nama permainannya, namun ini sesuatu yang kita kenal sejak TK. Setiap generasi sepertinya tahu, khususnya generasi milenial. Begini, permainannya.

Dalam satu tim, umumnya ada sepuluh orang. Tidak harus sepuluh, sih. Pokoknya, harus lebih dari dua orang. Orang pertama dititipkan pesan oleh seseorang, yang misalnya, "Saya tampan," Nah, dia diminta untuk meneruskannya ke temannya dalam satu tim. Walaupun demikian, teman-temannya yang lainnya tidak boleh tahu. Setidaknya, sampai si penerima pesan pertama meneruskannya ke yang selanjutnya. Selanjutnya, begitu terus, hingga yang terakhir. Gampang, bukan, permainannya? 

Memang gampang. Tapi bagaimana jika pesannya panjang. Dalam satu kalimat, ada enam-tujuh kata sekaligus yang njlimet banget. Nah loh. Di situlah letak keseruan permainan ini. Kadang, orang terakhir bisa mendapatkan pesan yang sangat berbeda sekali dari pesan awal. Ambil contoh: dari "Saya laki-laki tampan rupawan nan paling jenius di dunia", seketika itu berubah menjadi "Ane pria paling tamvan dan paling berotak cemerlang se-padang pasir". Kocak sekali. Padahal, di tim itu, tidak ada orang berlafal Arab, khususnya lagi si pemberi pesan. Namun, kondisi itulah yang membuat pesannya jadi seperti itu. 

Kadang, dari permainan tersebut, aku suka berpikir bahwa menjadi messenger alias pembawa pesan sangatlah tidak mudah. Sangat tidak menyenangkan sekali, jika ada seseorang yang meminta kita untuk meneruskan pesannya tersebut ke orang lain. Apalagi, cukup beresiko, pekerjaan pembawa pesan itu. Kita hanya memiliki dua opsi dalam penyampaiannya. Opsi pertama, kita teruskan pesan tersebut dengan gaya bahasa kita. Alhasil, kalau ada yang berbeda, itu kan hak kita untuk menyampaikannya seperti apa. Si pemberi pesan hanya menyuruh kita untuk menyampaikan saja. Contoh: A minta aku menyampaikan pesan ke si B untuk mencoba diet. Yang penting, pesannya tersampaikan, tak peduli caranya seperti apa aku menyampaikan. 

Opsi kedua, ini mungkin yang sangat beresiko. Itu saat kita disuruh menyampaikan pesan utuh ke seseorang. Misalnya, A bilang, "Sampaikan ke si B, dong, jangan keseringan nonton JAV lagi. Nggak baik buat dia. Nanti keseringan mikir negatif". Lalu, A minta supaya aku menyampaikannya utuh. Mungkin, A ini sangat perhatian sekali dengan si B. Makanya, minta aku sampaikan utuh ke si B seolah-olah aku itu si A. 

Opsi kedua ini yang sepertinya jarang sekali diambil. Menurutku, hanya yang sangat berhati nurani dan berjiwa satria yang mau melakukan opsi kedua. Karena, bagaimanapun, opsi kedua memang sangat beresiko. Taruhannya bisa keselamatan hidup kita. Kita mungkin tahu juga bahwa mungkin teman kita memang sangat butuh peran pembawa pesan. Alasannya, situasi dan kondisi si teman tersebut. 

Hmmm..... permainan terus-kata tersebut sesungguhnya jamak terjadi di keseharian kita. Bahkan permainan tersebut sudah berlangsung sejak masa Adam dan Hawa. Juga, itu baru manusia, loh, yang menyuruh. Bagaimana jika Allah sendiri yang meminta kita menjadi pembawa pesan (baca: messenger).







Comments