Nuel Lubis Bicara Soal Potong Rambut








Nuel Lubis di atas Honda Supravit kesayangan Mendiang Mami.










Dulu, semasa masih menjadi pelajar, hampir tiap bulan aku potong rambut. Dari yang Papi sendiri yang potong rambutku sampai potong rambut ke barber shop. Lalu, sejak menjadi seorang mahasiswa di 2007, kebiasaan tersebut berubah. Yah, namanya juga mahasiswa, mau setahun tak potong rambut, lalu rambut jadi awut-awutan tak jelas, tak jadi persoalan. Kebanyakan kampus juga tak seperti sekolah, yang rata-rata mewajibkan tiap muridnya memiliki potongan rambut yang sudah ditentukan (Paham-lah, yah, maksudku). Hingga, kebiasaan tiap bulan potong rambut tersebut berubah menjadi kebiasaan memotong rambut hanya jika dirasakan perlu saja untuk potong. Contoh: karena gerah. 

Haha. 

Nah, setiap potongan rambutku itu rata-rata hanya untuk menghindarkan gerah itu saja. Makanya, tiap ke barber shop, aku selalu bilang, "Rapiin aja, tapi jangan terlalu pendek". Alhasil, butuh waktu setengah jam untuk si abang barber shop menyelesaikan pesananku. 

Anyway, potongan rambut kali ini yang kali pertama aku ambil. Cepak, begitu. Kelihatan, kan, potongan rambutku sekarang cepak. Haha. Oh iya, potongan rambut cepak seperti itu tak butuh waktu lama untuk membentuknya. Kaget juga aku. Sebab, kurang dari lima belas menit, rambutku sudah hampir plontos. Abangnya juga hanya menggunakan mesin cukur elektronik; dan tidak menggunakan gunting sama sekali. 

Terakhir, dengan potongan rambut cepak seperti ini, bisa awet biaya potong rambut kali, yah. Yang tadinya tiap 3-4 bulan sekali, mungkin bisa tiap 6 bulan sekali aku harus ke barber shop. Semoga, yah! 😁


PS: 
Hampir semua jenis barber shop sudah pernah aku masuki. Mulai dari yang tarifnya 85 ribu rupiah hingga yang tarifnya hanya 25 ribu rupiah. 






Nuel Lubis bersama "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh".







Comments