#DoSomething is Easier to Do than 'Doing Something'

























Meme di atas tersebut, aku dapatkan dari seorang rekan penulis. Aku kenal Diego ini juga karena Alvi (yang sebelum eksis sebagai penulis, dulunya sering wara-wiri di ranah blogsphere, yang beberapa kali main ke IMMANUEL'S NOTES). Nah, singkat cerita, di timeline Twitter aku yang lama itu, Diego mengeposkannya di akun Twitter. Aku agak lupa ya, tapi pada bulan Desember 2014, memang sempat ada beberapa musibah nasional, apalagi sehabis pemilihan presiden juga. Mungkin karena itulah, Diego mengeposkannya. Mungkin seperti ingin menegur sesamanya bahwa aksi nyata jauh lebih baik daripada sekadar hashtag-hashtag-an. 

Yuk, simak sedikit cerita beberapa orang yang sudi membagikannya padaku!

Nurmala
Pernah waktu itu, pulang ngampus, tiba-tiba ujan. (Aku) di jalan sama seseorang, terus kita berhenti di pom bensin. Neduh dulu (kebetulan pom bensinnya nggak jauh dari rumah dia). Terus, dia ngasih jaket (kepunyaan) dia ke gua, supaya gua nggak terlalu basah banget, dan dia cuma make kaos doang. Abis itu, kita jalan ke rumah dia. Dia bikinin gua susu anget dulu, sambil nunggu ujan reda. Bener-bener perhatian banget, padahal dia bukan siapa siapa gua. Pacar bukan, gebetan juga bukan, haha.

Tantria
Menarik kan?
Hmm.... menembus hujan deras seharian demi ketemu doi. Eh, doi-nya pergi. Sumpah sih, gila, nggak nyangka, gua teramat sangat ber-effort melebihi apapun.

ayufnk
Dia...dan tulisan ku, 💛.

Situmorang
Main hujan itu rasanya kembali ke zaman anak-anak, 😁.

Pondi
Lagi jalan naik gojek pas lampu merah, tau-tau hujan. Akhirnya basah kuyup. Nggak jadi ikut acara. Balik lagi. Pulang.

eugenia
Pakaian gue nggak kering-kering, karena ujan. Jadinya, (gue) nggak jadi jalan sama temen gue. Lumayanlah buat hemat.

Zaenal
Sue, boro-boro. Hehehe. Gue aja di warung terus.

Dihas Enrico
Tol Cipali, hujan deras, jarak pandang tidak lebih dari lima meter, hening.
(Tulisan diedit, agar lebih enak membacanya. Beberapa nama agak disamarkan).

Dari delapan cerita tersebut, bagaimanakah respon kita? Apa hanya untuk konsumsi mata sajakah? Apa hanya untuk kepuasan batin sajakah, yang saat menyimak cerita-cerita tersebut, yang terkadang tertawa sendiri nan tak jelas? 

Mau seperti apa masalah seseorang, mau seperti apa sifat dan karakter seseorang tersebut, tak sedikit dari kita yang saat menyimaknya itu bukannya memberikan aksi nyata, eh malah berkoar-koar, menyindir, mengejek, menjadikannya sebagai bahan gosip (atau apalah itu), menggurui, hingga akhirnya masuk ke dalam bullying tingkat tinggi. Sama seperti meme tersebut, saat ada seseorang dipukuli, orang-orang dalam gedung itu malah sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Mereka terlalu sibuk dengan hashtag ini, hashtag itu.

Hmmm.....

Aku tidak mengerti mengapa bisa seperti itu. Bagian dari sistem yang kelirukah? Apa karena untuk beberapa orang, aksi nyata itu jauh lebih berbahaya? Alhasil, sejumlah hashtag, sejumlah bahan hiburan (salah satunya, gosip itu), dan sejumlah-sejumlah lainnya itu bisa bermunculan. Padahal, aksi nyata jauh lebih dibutuhkan. Jikalau tidak bisa membantu, diam jauh lebih sangat menolong. Apalagi, berdiam diri dalam doa yang sangat khusyuk ke Tuhan YME. Langkah selanjutnya, tidak ikut campur, apalagi secara berlebihan.

Well, speaking is much easier, right? Pada kenyataannya, tak sedikit dari kita yang lebih memilih untuk mengikuti arus yang salah. 

Pada akhirnya, mungkin karena begitu banyaknya pergumulan hidup, aku jadi mengerti maksud dari meme tersebut. Aku pun mengerti maksud dari Diego  yang membagikannya di timeline Twitter-nya. Mungkin tengah mengusik yang sembari menggerakkan sejumlah hati nurani.







Comments