Apa Mengasuh Anak Sesulit Itukah?







Kalau lihat penampilan Ramot yang seperti ini, pernahkah menyangka Ramot ini seorang ayah dari seorang putri kecil yang sangat manis? Haha, just kidding! 😆✌









Tak terasa aku sudah berusia 30 tahun. Sudah tuwir, kata anak kekinian. Haha. Kebanyakan teman, entah teman SD, SMP, hingga kuliah, juga sudah menikah. Beberapa malah sudah memiliki momongan. Anak, maksudku. Hmmm.

Then, akhir-akhir ini aku buka beberapa akun media sosial dan mendapati ada beberapa orangtua muda yang mengeluh betapa repotnya mengasuh anak itu. Sampai ada seorang ibu muda yang cukup sering membagikan sesuatu dari seseorang yang katanya 'profesional', yang dilakukan bahkan sebelum si anak turun ke dunia. Aku merasa lucu saja,--yang miris juga. Sebegitu susahkah mengasuh anak tersebut? Yang sampai sesusah itu, kita memerlukan bantuan 'profesional'. Padahal anak itu anak kita. Mereka lahir karena sel telur dan sperma kita. Mengapa juga harus melibatkan seseorang (yang mungkin asing buat si anak) dalam mengasuh anak? 

Well, jika memang begitu, mengapa tidak menunda saja untuk memiliki anak? Tak usah punya anak saja. Kemudian, ingat juga janji pernikahan dahulu. Ke manakah cinta semasa pacaran dulu? Kalian menikah itu apa hanya untuk seks? Hanya demi mendapatkan anak dan melanjutkan keturunankah, membela-belakan diri untuk menikah? 

Kasihan si anak juga, kan? Haha. Entahlah, aku bingung sendiri saat menyaksikan beberapa temanku yang kewalahan mengasuh anak, datang ke orang ini dan itu (apalagi jika si anak dirasa aneh dan tak sesuai ekspektasi), lalu..... hmmm, entah kenapa, aku speechless saja. Hati nuraniku merasa terketuk  saja. Aku bingung mau meneruskan tulisan ini. Yang jelas, saat melihat orangtua yang seperti itu, kok aku merasa lebih kasihan ke si anak? Aku seolah menyelami pikiran si jabang bayi. Mungkin dalam pikirannya, dia berkata seperti ini: "Papa dan Mama kayak nggak bahagia aku lahir. Kok bingung sendiri ngadepin aku? Kalau bingung, ngapain capek-capek minta Tuhan menghadirkan aku ke kalian?" 

Begitulah. Then, aku tak bermaksud menggurui. Lagi dan lagi, tulisan ini tak ada niat negatif sama sekali. Ngalor-ngidul saja. Tapi, coba deh, selami pikiran si jabang bayi, apalagi saat kalian merasa si jabang bayi rada aneh, tak wajar, dan mungkin tidak sesuai ekspektasi kalian. Juga, minta petunjuk Si Pemberi Bayi itu tentang bagaimana mendidiknya seharusnya. Selama jiwa kalian dan jiwa si jabang bayi sudah bertemu, well, in my very humble opinion, mengasuh anak itu tidaklah sulit. 

Kita akhiri saja tulisan ini dengan satu pengalamanku saat mengunjungi salah seorang teman SMP di kawasan Pasar Lama. Namanya Ramot. Jika dilihat dari penampilannya kacau sekali. Padahal yang bersangkutan sudah memiliki anak perempuan yang sangat manis. Lalu, dari Ramot tersebut, aku mendapatkan pelajaran berharga. Begini: 

"Kok Ramot bisa berpenampilan seurakan begitu? Badan tatoan pula. Padahal dia sudah ada anak juga. Haha. Mungkin Ramot ini tengah bersikap apa adanya dan tak neko-neko ke putri kecilnya. Mendidik anaknya untuk lebih be yourself. Tak usah malu dengan penampilan Ramot, kondisi ekonomi keluarga, sampai dengan kondisi si putri kecil. Mungkin seperti itu."

Well, aku jadi teringat dengan salah seorang anak yang dengan polosnya dan tanpa malu berkata ke teman sebayanya di sebuah warnet yang tidak sepi. Katanya: "Ibuku seorang pembantu,"

What the hell, serasa ditampar sekali aku ini! 







Comments