Curcol yang Penuh Keluh Kesah







Coba tebak, di-screen shoot dari post dan komentar pengunjung yang mana? 😆







Ada masanya, segala komentar di Immanuel's Notes ini disebut sebagai 'keluh kesah'. Dulu, pernah ada pengunjung bertanya kenapa disebutnya 'keluh kesah'. Ada teman juga yang protes. Katanya, terkesan negatif. 

Well, it's true. Tapi aku ada alasannya saat itu. Yah, alasannya karena capture yang aku pajang itu. Heran saja aku, mau menulis apapun di Immanuel's Notes, buntut-buntutnya selalu ada yang curcol (baca: curahan hati colongan). Awalnya, sempat (agak) kesal. Tapi lambat laun aku sadar juga, baca curcol begituan, ada untungnya juga. Aku jadi belajar melihat sesuatu dari banyak sudut pandang. Aku juga belajar problem solving juga. 

Yup, pernah juga ada pengunjung curcol ke aku soal layanan sebuah jasa begitu. Silahkan cari di post yang mana, deh. Yang jelas, saat itu, ya aku jawab sebisa aku.  Dan, yang kayak begitu, seringkali terjadi di Immanuel's Notes.

Ah!

Ya begitulah, kenapa dulu disebutnya 'keluh kesah'. Sekarang sih, balik lagi disebut sebagai 'komentar'. Aku pikir-pikir, kok jadi merasa tak enak hati, orang sudah capek-capek membubuhkan komentar di sini, eh malah aku anggap 'keluh kesah'. Paham juga kenapa pengunjung itu berkomentar seperti itu saat itu. Tapi, yah, hmmm, sorry to say, kok lebih sreg saja komentar disebutnya sebagai 'keluh kesah'? Selain jadi pembeda dari para tetangga sebelah, faktanya kan begitu, sering ada komentar berbau curcol. 

Haha, just kidding!






Comments