Sunday, November 20, 2016

Bertemu di Alam Bawah Sadar, Bersatu di Alam Sadar







"Rencana Allah berbeda dengan rencana manusia atau alam semesta."




Pernah dengar kisah Ishak dan Ribka? Ishak adalah anak Abraham. Dan mari kita kesampingkan kisah lainnya. Karena bukan itu yang mau dibahas.

Yang mau dibahas adalah...



...bagaimana Ishak dan Ribka bertemu, bersatu, dan memperanakkan Esau dan Yakub. Di situ titik poinnya. Baik Ishak maupum Ribka, keduanya dicomblangkan. Ishak sibuk membantu ayahnya mengurus banyak hal seperti berdagang dan berburu. Sampai-sampai Ishak sama sekali tidak memikirkan soal cinta. Namun Abraham, selaku ayahnya, memikirkannya. Apalagi usia Abraham sudah sangat tua, istrinya--Sara namanya--sudah meninggal, dan harus ada pewaris untuk segala sesuatu yang dimiliki Abraham. Tak hanya di jaman itu, di jaman sekarang pun, seorang ayah lebih sreg jika anak kandungnya yang jadi pewaris utamanya. Pada kasus itu, Sara istri sah Abraham.

Lalu, seperti tradisi leluhurnya, Abraham meminta abdinya, Eliezar untuk pergi Ur-Kasdim. Semuanya hanya untuk Ishak. Abraham ingin memilihkan calon istri untuk Ishak, agar ada penerus. Eliezar menurut, namun ingin bisa membawa Ishak turut serta. Cukup masuk akal. Untuk soal yang satu ini, Eliezar tahu pasti Ishak harus dilibatkan. Bagaimana jika calonnya itu tidak sesuai dengan kemauan Ishak? Ini bukan sekadar cinta monyet semata. Ini cinta seumur hidup, yang menginginkan adanya penerus agar tercipta suatu bangsa. Itu (mungkin) yang ada di pikiran Eliezar, abdi setia dan kepercayaan Abraham.

Namun Abraham berkata lain. Abraham tegas menolak dan mengancam Eliezar kalau-kalau nekat membawa Ishak ke sana. Pokoknya calonnya itu yang harus mendatangi Ishak, dan (mungkin) Ishak tidak boleh tahu.

Kejadian 24:6-8 
Tetapi Abraham berkata kepadanya: "Awas, jangan kaubawa anakku itu kembali ke sana. TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah memanggil aku dari rumah ayahku serta dari negeri sanak saudaraku, dan yang telah berfirman kepadaku, serta yang bersumpah kepadaku, demikian: kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri ini — Dialah juga akan mengutus malaikat-Nya berjalan di depanmu, sehingga engkau dapat mengambil seorang isteri dari sana untuk anakku. Tetapi jika perempuan itu tidak mau mengikuti engkau, maka lepaslah engkau dari sumpahmu kepadaku ini; hanya saja, janganlah anakku itu kaubawa kembali ke sana."

Berikutnya, Eliezar menurut dan pergi ke kampung halaman Abraham di daerah Mesopotamia. Sesampainya di sana, Eliezar bingung. Pastilah Abraham tidak memberitahukan secara spesifik harus mencari di mana atau setidaknya keluarga Abraham tinggal di mana. Daerah itu begitu luas. Salah-salah, Abraham bisa marah besar. Eliezar tidak mau itu. Maka dari itu, Eliezar berdoa seperti ini:

Kejadian 24:12-14 
Lalu berkatalah ia: "TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham. Di sini aku berdiri di dekat mata air, dan anak-anak perempuan penduduk kota ini datang keluar untuk menimba air. Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum — dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak; maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu."

Kemudian, terjadilah persis seperti yang dikehendaki Eliezar. Apa yang dilakukan Ribka sama persis dengan yang diminta Eliezar dalam doanya.

Pernahkah terpikir kenapa bisa seperti itu? Kenapa segala sesuatunya bisa terjadi begitu kebetulan? Saya percaya tidak ada yang namanya kebetulan. Segala sesuatunya sudah ada yang mengatur dari alam bawah sadar. Entah itu karena permainan alam semesta maupun sungguh tangan Tuhan yang bekerja. Keduanya itu berbeda sebetulnya, tapi sama kelihatannya.

Seperti itu jugalah yang terjadi pada pertemuan Ishak dan Ribka. Semuanya semua diatur sedemikian rupa. Percayakah kalian, andaikan saya bilang Abraham dan Ishak sudah diperlihatkan siapa calon istri Ishak oleh Allah, Sang Pencipta dalam sebuah mimpi? Sehingga Abraham dengan tegasnya meminta Eliezar harus ke kampung halamannya tanpa membawa Ishak ke sana. Normalnya, Abraham harus meminta ijin Ishak kalau sungguh menyayangi Ishak. Ini urusan hati, bukan? Tidak bisa dipaksa.

Ishak pun tak ada di tempat saat Abraham menugaskan Eliezar. Eliezar terbukti tidak membawa Ishak. Dia hanya pergi sendiri, yang sesampainya di sana, lalu berdoa minta petunjuk. Bisa saja Ishak tahu dan merengek minta ikut. Nyatanya tidak. Saya percaya penulisnya memang menuliskan cerita itu berdasarkan ilham dari Allah langsung.

Segalanya berjalan mulus. Yah walau sempat ada hambatan untuk membawa Ribka ke Kanaan. Tapi tetap saja, ayah Ribka sekali tidak menahan; malah cenderung menyetujui Ribka dipinang Ishak. Ribka pun tak keberatan. Ribka lalu dibawa pergi menuju kediaman Ishak, calon suaminya.

Di sana Ishak sudah menunggu Ribka. Tak ada penolakan dari Ishak, yang saat itu tengah berjalan-jalan di padang. Ishak melihat Eliezar yang membawa Ribka. Ribka balas menatap. Saat Eliezar mengonfirmasikannya, Ribka langsung mengenakan kerudungnya dan menghampiri Ishak. Ishak tak melakukan penolakan, selain hanya membawa Ribka ke kemah ibunya dan mengambil Ribka sebagai pasangan hidupnya.

Mungkin saja Ishak sudah tahu Eliezar mau datang. Sesuatu--dalam mimpi--mengatakan padanya bahwa ia harus berjalan-jalan di padang; ada seseorang istimewa akan menemuinya. Begitu pun dengan Betuel yang sama sekali tak menghalangi dan justru langsung merestui. Aneh, bukan, merestui tanpa melihat orangnya seperti apa? Tidak terasa aneh jika saya bilang segala sesuatunya sudah ditunjukan Allah lewat mimpi (dalam sebuah alam bawah sadar). Atas kehendak Allah juga, Abraham, Ishak, Ribka, maupun Betuel saling berjumpa sebelumnya di alam mimpi (dan mungkin juga ada Sara). Segalanya berjalan seperti itu hingga tiba waktunya. Untungnya Eliezar taat.

Sebetulnya bisa saja Ribka menolak. Banyak alasan yang Ribka bisa ajukan. Seperti ingin melihat dulu wajah Ishak. Bisa saja tak sesuai ekspektasi. Atau karakter Ishak seperti apa. Jangan-jangan Ribka kurang sreg? Atau Ishak itu kaya atau tidak? Sudah bekerja dan berpenghasilankah? Segalanya itu bisa saja dilontarkan Ribka untuk menolak. Namun urung. Ribka sudah yakin dan mau. Dari awal Eliezar tiba, segalanya berjalan mulus bagaikan sudah direncanakan. Tak ada hambatan berarti.

Pasti juga keduanya sudah dipertemukan di alam bawah sadar. Bukti tegasnya itu ada di kata-kata Abraham. Abraham berani dengan lantang bahwa salah satu malaikat Allah akan menemani Eliezar dalam perjalanannya. Segala sesuatunya sudah berjalan atas kehendak Sang Pencipta.

Sebetulnya di jaman sekarang, banyak pasangan seperti Ishak-Ribka, yang sudah dipertemukan lebih dahulu di alam bawah sadar. Hanya saja, tak banyak yang bisa bersatu. Begitu banyak yang menghalangi. Atau bisa saja salah satunya tak begitu yakin. Mungkin dia mencampuradukan antara kehendak Allah dengan keinginan duniawinya. Allah sudah menetapkan seperti ini calonnya, namun yang bersangkutan memiliki beberapa kriterianya sendiri. Ya sudahlah, Sang Pencipta bisa apa. Padahal DIA sudah memberikan arahan. Bahkan mengijinkan keduanya saling berjumpa lebih dahulu di alam mimpi. Namun salah satunya, atau mungkin keduanya, saling meragu dan mendua hati. Tidak yakin keduanya memang sudah tepat dan saling tercipta satu sama lain.

Banyak juga yang menjadi alasannya. Mungkin pihak perempuannya ingin segera bertemu. Tapi pihak laki-lakinya berkata, "Nanti dulu, saya belum yakin. Lagipula apa benar kamu mau sama saya? Kamu betulan sayang sama saya, tidak?" Atau pihak lelakinya yang ingin bertemu secepatnya, namun pihak perempuan sibuk dengan kesibukannya. Mereka berdua memiliki rencana sendiri-sendiri yang  tidak saling diungkapkan. Alhasil, tak berjalan mulus seperti Ishak dan Ribka.

Atau bisa jadi pula, ada yang menghalangi. Yah seperti ibu dan kakak Ribka itu. Bedanya, mungkin saja para penghalang itu tak begitu suka melihat keduanya bersatu.  Dan, salah satu atau keduanya tak bisa melawan para penghalang tersebut. Mungkin juga para penghalang itu tercipta sedemikian rupa karena salah satu atau keduanya pernah terlibat dalam sesuatu hal di masa lalu. Sehingga menyebabkan keduanya sulit bertemu dan bersatu.

Tapi terkadang memang mengikuti pola Sang Pencipta itu tak mudah. Rintangannya berat dan banyak. Banyak yang tak suka. Begitu pun dengan cobaan dan ujiannya. Tak kalah banyaknya. Apalagi masih ada yang namanya ego dan hasrat duniawi, yang menyebabkan sepasang kekasih tersebut tak bisa melihat jernih rancangan yang sudah diberikan oleh Sang Pencipta.

Tak sedikit pula, walau tak banyak, pasangan yang bisa bertemu dan bersatu secara nyata. Suatu ketika, saya berjumpa dengan seorang bapak pemilik sebuah toko serba ada. Dia bercerita padaku bahwa istrinya pernah bertemu dirinya sebelum menikah. Padahal keduanya sebelumnya belum pernah bertemu dan saling kenal. Masih sama-sama asing saat diperkenalkan.

Banyak juga cerita tentang seorang pemuda yang langsung menerima calonnya dengan hanya ditunjukan foto, dan belum bertemu sama sekali. Atau sepasang kekasih yang menikah karena media sosial. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Sekalinya ketemu, edannya, sang lelaki langsung melamar dan diterima.

Andai kata Sang Pencipta tak berkehendak, tak mungkin keduanya bisa berjumpa di alam bawah sadar, yang lalu jika keduanya sama sekali hatinya condong ke Sang Pencipta (tak memiliki hasrat duniawi pula), mereka berdua bisa melihat sendiri bagaimana rencana, rancangan, serta pola dari Sang Pencipta agar keduanya bertemu dan bersatu.

Hanya saja, pola Sang Pencipta seringkali kandas oleh banyak hal. Banyak orang tak suka rancangan-Nya terlaksana karena beragam kepentingan. Mungkin mereka hidup dari alam bawah sadar, yang mana jika ada pasangan bersatu, rahasia mereka bisa terbongkar. Rencana penyaliban Yesus yang sudah direncanakan Sang Pencipta pun sempat terkendala oleh salah satu murid yang bersangkutan bernama Simon Petrus. Alhasil, Yesus menegur Simon dengan keras.

Barak, pemimpin Moab, sempat ingin Bileam mengutuki Israel yang akan memasuki wilayahnya. Sebelum itu terjadi, malaikat Allah menghampiri Bileam dan melarang keras salah satu ahli spiritual Moab itu untuk melaksanakan titah Barak.

Amat disayangkan jika rencana Allah kalah dari rencana alam semesta (baca: manusia). Tapi mau bagaimana lagi. Allah sudah memberikan tiap manusia kehendak bebas. Manusia berhak memiliki rencana, rancangan, dan polanya sendiri di saat Allah sudah memberikan bagaimana seharusnya. Sama seperti Raja Saul yang sering mengabaikan titah Allah yang diamanatkan padanya lewat Samuel.

Padahal akan sangat indah jika rencana Allah satu persatu tergenapi. Nama-Nya dipermuliakan akibat begitu banyak syukur dipanjatkan pada-Nya. Namun sekali lagi, Allah bisa apa? Allah menghargai kehendak bebas. Yang bisa dilakukan-Nya, hanya menunggu rencana manusia itu akan mengalami benturannya sendiri.

Bukankah juga akan sangat indah jika Allah atau Sang Pencipta itu sudah mengijinkan keduanya berjumpa di alam bawah sadar, yang kemudian bertemu pula di alam sadar? Apalagi saya rasa dunia ini akan sangat indah jika segala sesuatunya berjalan atas dasar rancangan Sang Pencipta. 



"Seseorang yang telah mendapatkan kasih ilahi di dalam dirinya tidak akan menjadi lelah walaupun dengan erat mengikuti Tuhan, Allahnya." ~ St. Maximus The Confessor.


No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^