Thursday, February 18, 2016

ONE STORY ONE PHOTO: Destiny of Love






Genre: Romance



Dokumentasi pribadi.








Babak 1, di dalam angkot

            Di dalam angkot yang lumayan sesak, Naomi memasang wajah muram. Ia kesal sekali melihat tunangannya, Kenneth lebih memilih menjenguk teman SD-nya, Winda, daripada menemaninya untuk mempersiapkan pernikahan mereka berdua lusanya. Banyak hal yang harus dikerjakan berdua sebetulnya – seperti mengambil pakaian pernikahan di butik, foto pre-wedding, hingga segala keperluan lainnya, entah kenapa Kenneth lebih memilih merawat teman SD-nya yang sakit itu.
Hu-uh! Kenapa sih dia lebih perhatian sama si Winda itu? Tunangannya dia  kan aku, bukan teman SD-nya itu?Lagi-lagi dia perhatian banget sama si Winda itu. Naomi menggerutu dalam hatinya.
“Dasar nggak sensitif!” desis Naomi.
“Siapa, Nao? Si Kenneth, maksudmu?” tanya Wincent. Wincent adalah adiknya Kenneth yang menjadi tunangannya Naomi. Seharusnya Wincent memanggil Naomi dengan sapaan ‘kak’. Namun karena usia antara Wincent dengan abangnya dan Naomi hanya terpaut dua tahun, mereka bertiga juga tak terlalu mempermasalahkannya.
“Yah iyalah. Siapa lagi kalau bukan abangmu itu, si Kenneth.” tukas Naomi.
Wincent hanya tersenyum. Dipandangnya erat-erat wajah calon kakak iparnya itu. Nao, andai saja kamu itu dijodohkan sama aku, kamu pasti nggak bakal terus harus ngomel-ngomel gara-gara si Kenneth yang nggak peka itu. Namun sepertinya tak mungkin. Hatimu memang untuk abangku itu. Sepertinya juga aku harus benar-benar melupakanmu dan mulai belajar untuk mencintai pacarku, Ami.  Selesai ia bergumam seperti itu, ingatannya terbawa ke saat-saat dua tahun lalu; saat dimana abangnya, Kenneth dijodohkan dengan Winda. Tepatnya itu pada hari Valentine 2010.
            “Cie, cie… Yang mau dijodohkan…” ledek Wincent pada Kenneth.
            “Apaan sih, lu, Cent? Malas tahu, gue mesti dijodohin kayak begini. Ini kan bukan jamannya Siti Nurbaya lagi.” Kenneth mendumel.
            “Ya udah terima nasib aja. Kali aja bakal tunangan lu ntar, orangnya cantik.” ucap Wincent berusaha menghibur abang satu-satunya itu.
            Kenneth hanya tersenyum tipis. Matanya kembali terfokus pada game Football Manager di komputernya.
            Memang benar kata-katanya Wincent tersebut. Gadis yang akan menjadi tunangan abangnya tersebut memang cantik. Wajahnya persis seperti aktris-aktris India. Berambut panjang dan berhidung mancung. Perbedaannya hanya dua. Mata gadis tersebut sipit seperti orang China dan ia memelihara poni. Cantik dan juga manis. Itulah dua kesan pertama saat Kenneth dan Wincent bersua dengan gadis tersebut, saat keluarga gadis tersebut berkunjung ke rumah mereka pada keesokan harinya. Gadis tersebut datang bersama keluarganya untuk meresmikan hubungan pertunangan tersebut.
            Hanya saja ada sesuatu dalam diri gadis tersebut yang membuat Kenneth jadi risih, yaitu mulut bawel gadis tersebut. Bila mulut nyinyirnya itu sudah keluar, Kenneth hanya bisa bergeming, tanpa bisa menyela sedikit pun. Sehingga Kenneth lebih suka gadis itu diam saja. Selain telinganya dapat beristirahat, gadis itu sungguh enak dipandang saat mulutnya sedang terkatup rapat.
            Tapi tak hanya itu saja yang membuat Kenneth risih. Kenneth paling sebal dengan kebiasaan suka belanja gadis tersebut. Apalagi kalau ia disuruh gadis tersebut untuk menemani berbelanja. Aduh, berbelanja bersama gadis tersebut benar-benar bencana besar. Untuk membeli satu baju saja, Kenneth harus bersiap untuk berdiri selama tiga jam. Akan jadi tambah parah, bila sudah sampai di kasir. Kalau lagi kumat, gadis itu suka memborong banyak barang dan saat kasir selesai menghitung belanjaannya, gadis itu langsung kelabakan. Kelabakan memilih barang mana yang tak jadi dibelinya. Dan jika ia melihat wajahnya Kenneth, hmm, sepertinya dompetnya siap-siap dilanda gempa.  Satu-satunya obat bagi duka Kenneth tersebut hanyalah wajah gadis tersebut yang cantik nan manis itu. Apalagi jika gadis tersebut mencium pipinya Kenneth sebagai ucapan terimakasih karena telah mau membayari kelebihan belanjaannya itu.

*****

Babak 2, di rumah sakit

            “Neth,” Seorang gadis yang terbaring lemah dengan infus di tangannya, memanggilnya. Gadis ini ialah Winda, teman SD-nya dulu. Ia harus terbaring di ranjang rumah sakit, karena terserang penyakit tifus.
            “Yah?” sapa balik Kenneth.
            “Kok kamu masih di sini? Kamu nggak temanin tunanganmu buat persiapan kalian menikah dua hari lagi?” tanya Winda.
            “Lalu, kamu bagaimana?” tanya Kenneth balik.
            “Kamu nggak usah khawatirkan aku. Aku nggak apa-apa, kok, ditinggal sendirian. Apalagi nanti adikku bakal datang ke sini.” jawab Winda dengan matanya yang menerawang ke arah Kenneth.  Neth, sebaiknya kamu pergi. Aku ikhlas kalau kamu menikah. Biarlah waktu yang akan menyembuhkan luka di hatiku ini.
            Kenneth hanya tersenyum, sambil tangannya masih memegang tangannya Winda yang terbaring di samping raganya.
            “Neth, kamu sebetulnya melakukan seperti ini karena kamu merasa bersalah kan?” tanya Winda lagi.
            Namun Kenneth tetap tersenyum memandangi Winda, entah apa maksudnya.
            Winda terkekeh-kekeh sendirian tanpa alasan yang jelas. “Kenneth, Kenneth. Aku tahu, kamu terpaksa harus merawatku, karena kamu merasa bersalah gara-gara kue ulang tahun yang kamu beli untuk pesta kejutan untukku seminggu lalu itu. Ya kan?”
            Muka Kenneth bersemu merah karena malu. “I-iya, gara-gara itu kan, kamu jadi terkena disentri, hingga harus dirawat di rumah sakit. Maaf yah.”
            Winda jadi semakin nyengir. “Kenneth, kamu nggak harus kayak begini. Kelak, setelah upacara pernikahan telah kamu jalani, sikapmu itu – yang suka merasa bersalah – bisa jadi kerikil tajam bagi keutuhan keluargamu nanti.”
            “Ah nggak juga, memang si Naomi nya saja  yang kelewat posesif,” tukas Kenneth. “Padahal sudah kujelaskan padanya alasannya itu.”
            “Ini nggak ada hubungannya sama posesif, Kenneth. Aku rasa, tiap perempuan bakal cemburu, kalau melihat pasangannya sedang merawat orang lain dengan penuh perhatian, seperti kamu ini. Apalagi kalau yang dirawatnya itu perempuan cantik seperti aku.”
            “Kamu ini yah…. Sudah sakit, masih sempat-sempatnya narsis…” Kenneth mengelus-elus rambutnya Winda, sebagai ungkapan rasa gemasnya atas kenarsisan Winda itu.
            “Iiiih, kamu ini. Rambutku kan jadi semakin berantakan…” Winda ngambek. Lalu Winda menegakan punggungnya dan merapikan rambutnya. Ditatapnya kembali wajah pria yang menjadi sahabatnya sejak SD.
            “Neth, kamu sebetulnya cinta kan sama tunanganmu itu?”
            Lagi-lagi Kenneth hanya diam dengan pipi yang bersemu merah.
            Winda nyengir lagi. “Sudah kuduga sebelumnya. Walau kamu sering curhat samaku, kalau tunanganmu itu orangnya bawel lah, suka belanja lah, posesif lah, aku tahu kalau kamu sebetulnya memang cinta sama dia. Apalagi, kamu sering kulihat jadi cemburuan, tiap kali dia dekat dengan pria lain, khususnya Wincent, adikmu itu. Aku benar, kan?”
            Mendadak Kenneth jadi menundukan kepalanya.
            “Kenneth, pergilah,” kata Winda, walau ia sebetulnya ia agak berat mengucapkannya. “Nikmatilah quality time-mu bersama Naomi. Jangan kamu sia-siakan juga kesempatan langka ini. Sebab tak semua pasangan bisa seperti kamu dan Naomi, dimana masing-masing sudah saling cinta.”
            “Tapi kamu gimana?”
            “Kamu nggak usah khawatir. Nanti juga adikku datang, kok. Pergilah,”
            “Ya sudah, aku pergi dulu yah,” Dengan beratnya, Kenneth berdiri dan berjalan menuju pintu keluar ruang inap tersebut. Saat Kenneth berjalan seperti itu, mata Winda terus menatap punggung Kenneth.
            Kenneth, aku ikhlas melepasmu. Walau dulu – semasa kita SD, kamu pernah berjanji mau menikahiku, tapi aku ikhlas. Aku anggap saja, janji itu hanyalah janji main-main yang diucapkan oleh seorang bocah yang belum mengerti apa itu cinta. Lagipula itu kan juga cinta monyet. Cinta main-main; nggak serius. Kelak aku juga pasti bisa menyembuhkan luka ini dan menemukan pengganti dirimu.

*****

Babak 3, di butik      

            “Wincent, kamu mau kemana?” tanya Naomi waktu melihat calon adik iparnya itu meninggalkannya sendirian di butik itu.
            “Sebentar, Nao, aku mau beli pulsa dulu, buat menelepon teman kuliahku. Tadi dia SMS aku, katanya aku disuruh telepon dia. Ada yang penting, katanya.” dalih Wincent. Jelas-jelas yang tadi mengirimkannya pesan singkat adalah abangnya yang juga tunangannya Naomi. Wincent sengaja berbohong pada Naomi. Entah apa maksudnya. Apa jangan-jangan dia berpikir, akan timbul perang dunia lagi jika Naomi bertemu Kenneth nanti? – karena Wincent menduga Naomi masih dongkol dengan Kenneth. Atau mungkin juga karena ia masih begitu respek dengan abangnya, walau kesehariannya mereka selalu bertengkar.
            Lalu ditinggalkannyalah Naomi sendirian di butik itu. Terakhir ia melihat, Naomi masih sibuk memilah-milih gaun pengantin yang cocok dikenakan besok. Sepuluh menit setelah Wincent meninggalkan Naomi, telah berdiri di belakang Naomi, calon suaminya nanti, yaitu Kenneth. Tapi mungkin karena masih sibuk melihat-lihat, Naomi tak menyadarinya.
            “Cent, menurutmu, gaun ini bagus nggak dipakai di hari pernikahanku dua hari lagi? Kira-kira abangmu yang bodoh dan nggak sensitif itu, bakal suka nggak?” tanya Naomi dengan mata masih menatap salah satu gaun yang ada di rak.
            “Luar biasa, malah, bawel,”
            Bawel? Dahi Naomi langsung mengerut waktu mendengar kata tersebut. Segera ia menoleh ke arah suara tersebut. Dan benarlah dugaannya Naomi siapakah orang tersebut, yang selalu mengejeknya bawel. Dia Kenneth.
            “Ngapain kamu di sini? Kenapa nggak kamu temani aja mantanmu, si Winda itu?” semprot Naomi.
            “Oooh jadi kamu nggak suka aku ada di sini? Atau kamu lebih suka ditemani adikku itu, si Wincent? Iya? Ya sudah, kita batalkan saja pertunangan ini. Aku juga nggak rugi, kok, nggak jadi menikah sama kamu.” semprot balik Kenneth. “Sudah bagus aku datang ke sini.”
            Tak ada angin, tak ada badai, mendadak Naomi menjatuhkan gaun yang sedari tadi dipegangnya, lalu memeluk erat Kenneth. Dia tak mau kehilangan Kenneth. Pikirnya, mungkin saja setelah berkata seperti itu, Kenneth jadi semakin risih dengannya dan memilih menjauh.                                            

 Di sisi lain, mendadak juga pipi Kenneth jadi bersemu merah saat dipeluk erat Naomi seperti itu. Dengan pipinya masih semerah buah apel, Kenneth mengelus-elus rambut tunangannya itu. Mungkin karena wajahnya Naomi yang cantik-sekaligus-manis, membuat emosinya Kenneth reda seketika. Atau mungkin saja Naomi merupakan destiny woman untuknya. Karena hanya Naomi lah yang sanggup membuat Kenneth mengeluarkan ucapan seketus barusan, lalu mendadak padam seketika setelah melihat rupa Naomi.
            “Nao, aku minta maaf yah. Selama dua tahun pertunangan kita ini, aku selalu bikin kamu kesal. Aku selalu mengejek masakanmu yang nggak enak lah. Selalu mengejekmu bawel lah – “ Tiba-tiba saja Kenneth merasa punggungnya sakit sekali. “ – Aauuch…” Segera dilepaskanlah pelukannya terhadap tunangannya itu.
            “Kamu ini main cubit saja. Biarkan aku menyelesaikan ucapanku dulu,”
            “Oke, lanjutkan,” tukas Naomi, yang masih merengut. Walau merengut, Naomi masih menunggu apa kata-kata selanjutnya yang akan diucapkan oleh tunangannya itu. Ia penasaran.
            “Nao… Sebetulnya… Aku cinta kamu…” Akhirnya tiga kata itu keluar juga dari mulutnya Kenneth. Selama dua tahun pertunangan mereka, Naomi nyaris tak pernah mendengar tiga kata sakti itu keluar langsung dari mulut tunangannya itu. Tapi bagi Kenneth sendiri, tiga kata sakti sudah lumayan sering ia keluarkan. Hanya saja tak di dekat telinga Naomi langsung, dan seringkali diucapkan dalam bahasa kode yang mudah dipahami orang lain sebagai perwujudan lain dari tiga kata ‘I love you’ tersebut. Selain itu, apabila ada yang menanyakan langsung soal ucapannya barusan – baik tersirat maupun tersurat, ia akan langsung menyangkalnya. Mungkin kini hatinya sudah mantap, sehingga tak segan lagi untuk mengucapkannya langsung di depan Naomi.
            “Kamu…” Bibir Naomi menganga lebar. Ia tak menyangka akhirnya Kenneth mengaku cinta juga padanya.
            “Yah, aku cinta kamu, Nao,” Kenneth mempertegas lagi kata-katanya barusan. “Selama ini, sebetulnya aku sudah bisa move on dari Winda. Selama ini, aku hanya menganggap dia sahabatku saja. Hari ini saja aku merawatnya, karena untuk menebus rasa bersalahku padanya. Selama ini juga, tiap kali kamu dekat dengan pria lain, khususnya dengan Wincent, aku selalu cemburu. Kali ini, aku akui itu. Sepertinya aku benar-benar sudah mencintaimu. Maafkan aku juga yah, selama ini sudah bikin aku kesal.”
            “Kenneth…” Dipeluknyalah lagi, tunangannya itu. Sambil memeluk erat, air matanya mulai keluar, hingga mulai membasahi punggungnya Kenneth. “I love you, too…”

*****

Babak 4, di studio foto

            “Eh, Naomi, ada apa kemari?” Luther tahu sebetulnya untuk apa Naomi kemari. Karena Naomi datang ke studio foto tersebut untuk mengambil beberapa foto pre-wedding yang telah dibuat tiga hari lalu. Luther berkata seperti itu hanya untuk basa-basi saja. Bukankah tak ada salahnya berbasa-basi di antara sahabat? Apalagi Naomi memang sudah berteman dengan Luther sejak SMA.
            “Sudah, deh, basa-basinya. Fotonya sudah jadi, kan?” Naomi langsung mengarahkan ke topik pembicaraannya.
            “Santai, Nao,” Luther nyengir. “Sebentar gue cari dulu yah fotonya,” Lalu Luther segera mencari foto tersebut di beberapa rak yang ada di studio foto tersebut. Lima belas menit kemudian, Luther datang membawa amplop coklat yang pastinya berisi foto-foto pre-wedding-nya Naomi dengan Kenneth. “Nih,”
            Thank’s,” Naomi segera mengambil amplop tersebut dari genggaman tangannya Luther.
            “Oya, Nao, lu serius dengan keputusan lu menikah sama Kenneth? Bukannya lu pernah bilang sama gue, kalau lu mau nikah sama dia setelah lu dengar sendiri pengakuan cinta dia?”
            Promise is still promise, isn’t it?  Dari awal, orangtua gue dengan orangtuanya Kenneth lah yang menjodohkan kita. Bahkan waktu pertunangan dan tanggal pernikahan kita pun, mereka yang mengatur. Gue dan Kenneth juga nggak bisa apa-apa. Lagipula waktu gue protes soal ini, bokap pernah ngomong, “Seiring berjalannya waktu, kamu dan dia bisa saling mencintai, kok”. “ jawab Naomi dengan senyuman mulai mengembang di bibirnya.
            “Tapi – “
            “Tapi kenapa, Ter?”
            “Nggak ada apa-apa. Wish you all long-last.” Hanya itu kata-kata yang diucapkan oleh Luther. Awalnya dia mau bertanya mengapa Naomi tidak meminta ayahnya untuk menunda pernikahannya ke hari lain. Dia tahu betul kekerasan hatinya Naomi. Kalau sudah bertekad, pasti apa yang ditekadkan akan segera terjadi. Dan bila melihat sikap Naomi yang melembut itu, Luther tahu Kenneth pasti sudah mengucapkan tiga kata tersulit untuk diucapkan seseorang ke orang yang disukainya.
Yah itu benar. Walau sebetulnya, Naomi sendirilah yang menentukan tanggal pernikahan tersebut. Sebab sebelumnya, Naomi sudah mendengar pengakuan cinta Kenneth secara tak sengaja. Waktu itu, Naomi tanpa sengaja menguping pembicaraan Kenneth dan Wincent di kamarnya Kenneth. Tapi baru kemarinlah, tiga kata sakti itu ia dengar langsung dari mulutnya Kenneth. Kenneth sendiri, awalnya, agak kaget mendengar permintaannya Naomi tersebut. Ia merasa, masih terlalu dini soal pernikahan itu. Namun kenyataannya, Kenneth setuju terhadap rencana pernikahan yang digagas pertama kali oleh Naomi. Ia setuju bila pernikahan mereka diadakan pada tanggal 12 Desember 2012.
            Thank you for the second.” balas Naomi.
            “Oya, Nao, titip salam buat adek lu, yah, si Stella,”
            “Kenapa lu nggak bilang aja langsung ke dia, Ter? SMS kek, BBM kek, telepon kek. Dia pasti senang menerimanya.”
            “Gue nggak berani, Nao. Apalagi sepertinya adek lu suka sama pria lain,” Luther tak berani berkata bahwa pria lain yang disukai adiknya Naomi itu adalah tunangannya sendiri, Kenneth. Dia juga tahu bahwa antara Kenneth dengan Stella ada little affair yang tak diketahui Naomi – mungkin hingga saat ini. Namun dia tak mau merusak suasana hati sahabatnya itu.
            “Maksud lu, si Kenneth?” Naomi berusaha menerka apa yang dimaksud Luther.
“Mungkin,” Luther menaikan kedua bahunya.
            “Tenang aja lagi. Dari dulu, gue juga sudah tahu, kok, soal perasaannya si Stella ke Kenneth. Awalnya sempat kesal juga sih waktu tahu, apalagi saat dia bersikap manis banget sama Kenneth. Namun sekitar  dua minggu lalu, Stella pernah curhat ke gue kalau dia memilih menyerah untuk memaksakan perasaannya pada Kenneth. Dia bilang ke gue, sepertinya dia sudah tahu untuk siapa hati Kenneth itu. Hanya saja dia nggak bilang ke gue, untuk siapa. Sampai akhirnya gue tahu juga maksud kata-katanya dia itu.” kata Naomi dengan begitu sumringah.
            Betul dugaanku, Naomi sudah tahu soal perasaannya Kenneth. Dan Stella, I’m coming. Aku pasti bisa bikin kamu suka denganku… lambat tapi pasti….
            “Hey, kok melamun?” Naomi menggerak-gerakan tangannya di depan wajah Luther.
            “Nggak kok, nggak ada apa-apa. Oya, pesan gue, jangan lu pertanyakan lagi, yah, cintanya Kenneth itu. Dugaan gue – “
            “Kenneth masih menyimpan rasa ke mantannya itu?” potong Naomi. “Settle down, Luther. Because, I know whose really his heart is.”
            Luther tersenyum sambil mengacung jempol ke arah Naomi.
            “Oya, Ter, gue lupa bilang, si Stella bilang, foto-foto bikinan lu selama ini bagus-bagus.” Naomi tahu sebetulnya, ucapan Stella tempo lalu bukan didasarkan atas cinta. Dia berkata seperti itu, yah karena hasil jepretan Luther memang bagus dan tak kalah dengan hasil jepretan fotografer kenamaan. Naomi berkata seperti itu hanya untuk membesarkan hati Luther untuk tidak menyerah mendapatkan hatinya Stella. Sebab selama ini, Naomi tahu bahwa Luther memang merupakan pria yang sungguh tepat untuk Stella.
            Lima menit setelah Naomi meninggal studio fotonya Luther tersebut, Luther masih terus bergeming di tempatnya berdiri. Tatapan matanya sungguh kosong. Sebab, pikirannya Luther telah melayang-layang jauh ke hal-hal yang akan dilakukannya bersama Stella nantinya. Kini batu sandungan sebesar sepuluh kaki telah berubah menjadi sebuah batu yang bisa dipanjatnya, demi mendapatkan cintanya Stella. Jalannya kini tak sesulit jalan-jalan sebelumnya, dimana Stella selalu saja indifferent padanya.

Babak 5, di gereja

            Mungkin hubungan mereka merupakan takdir cinta. Walau dari awalnya mereka dijodohkan – hanya karena lahir di tanggal, bulan, dan tahun yang sama (Mereka berdua lahir pada tanggal 8 Agustus 1988), siapa sangka kedua insan tersebut bisa juga saling mencintai. Tak ada satupun dari mereka yang memaksakan cintanya masing-masing. Karena yang ada hanyalah pembuktian cinta untuk menarik perhatian.
            Pada awalnya, jauh sebelum  Naomi datang, Kenneth adalah kekasihnya Winda, teman masa SD-nya. Mereka berpacaran belum lama dan backstreet (Masing-masing belum siap untuk memberitahukan keluarga bersangkutan soal hubungan mereka). Hanya enam bulan saja. Setelah itu putus, karena pertunangan tersebut. Namun hubungan baik antara mereka berdua tetap terjaga.
            Awalnya Kenneth masih berat, karena hatinya terpaut pada Winda, cinta pertamanya itu. Seiring berjalannya waktu, cinta itu mulai berpindah kepemilikan. Tak sia-sia pembuktian cinta Naomi untuk mendapatkan hatinya Kenneth. Tak sia-sialah ia belajar memasak, belajar menjahit, serta fitness – segalanya itu untuk Kenneth.
            Selama dua tahun pertunangan mereka, layaknya hubungan percintaan normal lainnya, hubungan mereka juga diikuti affair. Selain Winda, Kenneth juga punya pemuja lainnya, yaitu Stella – adiknya Naomi, dan teman kuliahnya, Chyntia. Begitupun dengan Naomi. Ia dipuja oleh Wincent, dan kedua teman kuliahnya, Dipta, dan Wilson. Namun affair-affair itu tidaklah membuyarkan pertunangan mereka hingga hari sakral ini.
            Para admirer tersebut akhirnya menyerah. Winda mulai benar-benar ikhlas melepaskan Kenneth. Apalagi sudah ada Ucha, si cowok kemayu yang selama ini jadi secret admirer-nya. Lalu, Stella siap menerima cintanya Luther. Tak mau kalah, jauh sebelum hari pernikahan abangnya itu, Wincent juga telah menjalin hubungan dengan gadis pemujanya di kampus, Ami. Walau hatinya masih tertambat di Naomi, Wincent berjanji untuk lebih belajar mencintai Ami. Begitupun juga sisanya; Chyntia, Dipta, dan Wilson telah menemukan pengganti dari cinta mereka yang tak terbalas.
            Dan…
            Itulah yang namanya takdir cinta. Because there is always someone for everyone. Tak perlu paksaan dan biarkanlah cinta yang lebih bermain. Semuanya akan indah pada waktunya.
            Kini seorang pemuda yang cukup kolot (Sebab, baginya, ciuman itu sakral dan hanya boleh diberikan kepada orang yang benar-benar spesial), di depan sebuah pintu besar gereja, telah bersiap untuk mendaratkan bibir perawannya tepat di bibir gadis yang menjadi cinta sejatinya. Ciuman itu benar-benar ciuman pertamanya. Sebelumnya, tak sekalipun ia pernah mencium seorang gadis, termasuk cinta pertamanya sendiri. Dengan disaksikan puluhan undangan yang hadir, Kenneth akhirnya bisa juga merasakan nikmatnya first kist dengan seseorang yang menjadi pelabuhan hati terakhirnya.
            Selepas ciuman mesra tersebut, Kenneth langsung menggandeng Naomi untuk masuk ke sebuah mobil sedan yang telah dihiasi dengan bunga-bunga dan pita-pita. Kemanakah mereka ini setelah ini? Entahlah. Mungkin mereka berdua ingin menunjukan kepada orang banyak bahwa they’re just get married. Kemanapun mereka pergi, sekiranya biarkanlah cinta itu tetap bersemi di hati masing-masing, walaupun itu sudah pasti akan selalu terjadi. Sebab takdir telah terpenuhi. 




No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^