Sunday, January 31, 2016

ONE STORY ONE PHOTO: Surat Sang Pembuka Jalan


Kelanjutan dari sini



Dokumentasi pribadi.






Genre: Misteri, Fantasi



Tak banyak yang tahu bahwa surga itu, pun dengan neraka. Kebanyakan manusia hanya percaya pada hal-hal kasatmata saja. Hanya sedikit orang-orang yang sungguh percaya. Tak heran Dia bersabda yang tercantum dalam salah satu kitab yang ditulis oleh salah satu pengikutnya. Bunyinya: "Berbahagialah orang yang tidak melihat, namun percaya." Kalau boleh kutambahkan, ini versiku: "Dan jauh lebih berbahagia lagi mereka yang sudah menyaksikannya sendiri dengan penuh perjuangan, lalu percaya sepenuh hati pada-Nya." Banyak kan orang seperti itu, yang mati suri akibat penyakit tertentu, lalu bangkit lagi dan mengaku melihat tahta kebesaran Sang Pencipta.

Namun untuk kasusku, aku jauh lebih berbahagia lagi. Karena aku diijinkan kembali turun ke dunia (ke sebuah negara, sebuah kota yang karena reklamasi itulah bisa tercipta) dengan terlahir baru dan ingatan serta kecerdasanku tidak dikurang-kurangi oleh-Nya. Hanya saja aku baru mencapai semuanya itu saat akil balig. Saat umurku 11 tahun, aku sadar bahwa sebenarnya aku sudah dua kali hidup di planet Bumi ini. Reinkarnasi yang merupakan bagian dari inti ajaranku itu sungguh ada. Namun hanya sedikit sekali yang mau mengakui pengalaman reinkarnasinya. Mungkin mereka takut dihakimi karena dianggap aneh atau gila. 

Untukku sendiri, aku tak takut. Hanya saja aku merasa sebaiknya mereka tak perlu tahu soal itu. Belum saatnya, pikirku sebelum malaikat maut datang menjemput. Sang Pencipta sendiri yang melarangku dalam sebuah mimpi bahwa rahasia itu harus tetap tersegel sampai Dia mengutus beribu-ribu utusan-Nya turun ke Bumi. Para utusan itulah yang akan mengawali dan mempersiapkan jalan untuk Dia, yang pernah terlahir ke dunia dalam wujud bayi mungil yang terbaring di atas palungan. 

Hmm... 

Hei, mau kuceritakan satu rahasia? Dengarkanlah ceritaku ini. Tahukah kalian bahwa sebetulnya surga itu sudah dihuni oleh manusia. Yah manusia, bukan malaikat saja, apalagi Sang Pencipta. Tak banyak yang tahu. Andai saja mereka yang pernah mati suri itu berani, bisa lain ceritanya. Namun mereka juga dilarang. Kata Sang Pencipta, "Belum saatnya," Harus menunggu ribuan utusan-Nya turun dulu. Kapan itu? Aku tak tahu pula. Aku sudah meninggal saat mereka--para utusan itu, maksudku--turun berhamburan ke Bumi. Ada berapa jumlahnya? Aku tak tahu pasti. Bisa 1000, bisa 2000, bisa 3000, bisa juga 5000.

Seperti apa bentuk para utusan itu? Kurasa seperti aku, yang bereinkarnasi menjadi manusia lagi. Mereka berwujud sama seperti kalian, para manusia. Hanya saja sayap dan sinar itu dilenyapkan. Yah mereka semua aslinya malaikat dan bidadari. Tak banyak yang tahu bahwa ada yang bidadari, dan bidadari itu merupakan pasangan dari malaikat sendiri. Pernah dengar istilah soulmate? Dari sanalah muncul istilah itu. Soul itu bidadari,  mate itu malaikat. Sebetulnya malaikat juga punya emosi. Hanya saja tersembunyi, dan itu disembunyikan oleh soul-nya, sang bidadari sendiri. 

Konon, menurut salah seorang utusan yang pernah kudengar (yang turun lewat peristiwa supernova), para utusan itu baru turun di periode tahun 1970-an. Saat itu dunia sudah sangat berubah. Kaum hawa makin terus meminta persamaan hak, yah parahnya minta diijinkan untuk bisa berhubungan asmara dengan sesamanya. Kaum pria yang salah didik pun meminta yang sama. Teknologi untuk mengkamuflasekan jenis kelamin mulai diteliti. Dua bangsa tengah gencar-gencarnya memamerkan kecerdasan orang-orangnya, mulai dari pembuatan senjata hingga sampai antarariksa. Padahal seharusnya dunia lain di luar Bumi itu tak boleh diketahui. Sang Pencipta sangat menjaga sekali rahasia itu. Itu termasuk rahasia perut Bumi. Jangan tanya alasannya mengapa, satu kata yang bisa kubilang: Berbahaya. Itu saja. 

Hanya saja, manusia tetaplah manusia. Efek buah itu mulai sangat terasa sekali. Kecerdasan mereka semakin menjadi-jadi. Aku pernah belajar sejarahnya, harusnya abad pertengahan itu tak boleh ada. Apanya yang pencerahan, yang ada manusia semakin menjauh dari Sang Pencipta, lalu berusaha menjadi Pencipta itu sendiri. Eh, aku barusan memberikan jawabannya yah? Maaf, sepertinya aku terlalu berapi-api. 

Terkait abad itu juga, ada banyak ilmu pengetahuan baru bermunculan dan seharusnya itu tak boleh ada. Seperti bedah mayat manusia yang makin menjadi-jadi. Kudengar, karena praktek pembedahan itulah kloning muncul. Kloning itu awal dari niat manusia menyerupai Sang Pencipta sendiri. Mulanya dari domba, yang berujung pada manusia. Kemudian hal itu mulai merambah saat ada sekelompok orang mengetahui soal rahasia itu. Maksudku, dunia paralel. Mereka seharusnya tak boleh ada. Sebab dunia itu fungsinya sebagai tempat roh-roh orang meninggal yang menunggu diijinkan Sang Pencipta untuk melangkah ke surga, neraka, atau satu tempat khusus lainnya. Namun sekelompok biadab itu mendobraknya dengan jalan meditasi yang niatnya keliru... dan jahat. Niat mereka itu dipengaruhi oleh nafsu mereka untuk terus superior. 

Dengan sering berlama-lama di dunia paralel, mereka mengatur banyak skenario busuk yang sangat merugikan sesama mereka dan Bumi. Mereka jadi semakin kuat, dan kurasa itulah yang menyebabkan Sang Pencipta mengutus banyak malaikat dan bidadari turun ke Bumi. Untuk melawan kekuatan dari para biadab, itulah tujuannya. Sekaligus pula menahan agar para biadab itu tak semakin mengoyak tabir yang seharusnya masih tertutupi itu. Pun Sang Pencipta tak ingin mereka dihukum seperti para malaikat yang jatuh beratus ribu tahun silam. Sang Pencipta ingin mereka sadar. Salah satunya dengan jalan pernikahan antara malaikat--atau bisa juga bidadari--dengan salah satu dari manusia biadab itu. Tujuannya agar mereka sadar bahwa tindakan mereka itu sangat berbahaya.

Oh, aku lupa bercerita bahwa kedatanganku ke dunia saat itu untuk memperingatkan kaumku, sang penerima ajaranku bahwa sudah sepatutnya mereka mengikuti sepenuh hati ajaran Dia yang disiksa sukunya sendiri, yang terlalu berpikiran terlalu tinggi. Kulihat sendiri bagaimana ajaranku berkembang. Wow, luar biasa, sangat berbau supranatural sekali. Ajaran Dia pun sama saja. Sekarang ini inti ajaran-Nya tertutupi dengan mukjizat, mukjizat, dan mukjizat. Tanpa ada mukjizat, manusia jadi sangat sulit percaya. Otak mereka sangat 'kiri' sekali. Padahal baik aku dan Dia menyebarkan ajaran kami masing-masing tanpa bantuan kekuatan supranatural, atau bahasa lainnya tanpa menggunakan kekuatan indra keenam (walau beberapa kali aku dan Dia pernah juga menggunakannya untuk saat-saat yang sangat mendesak dan berniat menolong). 

Sini, kuberitahukan lagi satu rahasianya, sebetulnya indera keenam itu sungguh ada. Tiap manusia memilikinya. Itu sama seperti kendaraan yang baru diciptakan saat aku kanak-kanak. Mobil nama ciptaan itu. Mobil kan ada setir, roda, persneling, dan masih banyak lainnya. Begitu pun dengan manusia. Mereka punya mata, hidung, telinga, bibir, kulit, dan yang terakhir, indra keenam--yang berfungsi untuk bisa merasakan hal-hal tak kasatmata. Tak ada yang spesial dengan hal itu. Heran aku dengan orang yang sangat bangga dengan kemampuan indra keenamnya itu. Seperti tak ada bakat lain saja. Padahal Sang Pencipta sudah memberikan banyak bakat yang manusia harus kelola dan berikan manfaatnya ke sesama. Itulah juga mengapa aku tak menyukai sekali kaum-kaum seperti cenayang, penyihir, dukun, paranormal, hingga para ahli kejiwaan. Mereka orang-orang sombong yang sangat membanggakan sekali kemampuan indra keenamnya. 

Oh, yang terakhir, para ahli kejiwaan. Dua kaum yang muncul baru muncul setelah abad itu. Mereka menjadikan sesama mereka sebagai objek penelitian mereka. Demi apa? Demi nama mereka, demi uang, dan lain-lain sebagainya. Teori-teori yang terkandung di dalamnya--kalau mau dicermati baik-baik--akan mengantarkan manusia menjauhi Sang Pencipta sendiri; bahkan melakukan pengkotak-kotakan. Ah, aku jadi ingat waktu jamanku dulu, istilah itu namanya kasta. Sang Pencipta tak suka dengan kata 'kasta' itu. Seharusnya pengkastaan tak boleh ada. Semua manusia sama. Tak boleh ada yang bisa dianggap aneh, gila, abnormal, atau sinting.Keunikan satu manusia dan manusia lainnya memang wajib ada untuk membedakan manusia satu dengan lainnya. Dan, beberapa istilah (untuk beberapa sesama mereka yang mereka anggap abnormal) yang mereka ciptakan itulah bentuk lain dari pengkastaan abad moderen. Kalau mereka ingin membantu, sudah sepatutnya tidak menjadikan sesamanya objek penelitian. Seharusnya mereka lebih mempelajari bagaimana Sang Pencipta dalam mengasihi tiap ciptaan-Nya; belajar mengerti maksud dan kehendak dari Sang Pencipta sendiri. Itu yang benar. 

Oh, aku lupa mengenalkan diri dari awal. Aku siapa? Aku adalah... anak seorang raja yang meninggalkan segala kemewahan demi mengejar kebenaran sejati, yang karena usahaku itulah, aku bisa hidup di surga bersama beberapa manusia lainnya. Yah, ada banyak manusia yang diijinkan hidup bersama Sang Pencipta. Seperti sang nabi yang dijemput langsung dengan kereta kuda berapi. Atau sang perawan yang mati mengenaskan karena menolah percabulan. Atau sang negarawan dengan teorinya yang sangat frontal, namun efektif untuk perdamaian dunia. Atau sang pendeta kuil itu, yang menolak melakukan kebohongan. Seharusnya pula pria tua berjanggut itu bisa hidup di surga. Sayang, ia lebih mengikuti suara 'kiri'nya.

Aku dan beberapa manusia lainnya, diutus Sang Pencipta untuk terlahir kembali demi mencegah agar rahasia ilahi tak semakin disibak makin lebar lagi. Pun untuk mempersiapkan jalan bagi sang utusan itu, yang punya misi mempersiapkan jalan bagi Dia. Aku rasa aku tahu kapan pastinya dunia ini menemui kesudahannya. Kalau tanda-tanda dari lima gelombang itu sudah terjadi sepenuhnya, Dia pasti akan datang. Bukankah Dia sudah memberitahukan tanda-tanda kedatangan-Nya? Lewat bencana alam, penyakit, nabi-nabi dan guru-guru palsu berdatangan, isu perang di mana-mana, dan manusia semakin menyukai kebohongan daripada kebenaran itu sendiri.

Aku heran mengapa manusia membenci kebenaran itu sendiri. Mereka lebih suka kebohongan. Mereka pun jauh menyukai untuk menuruti nafsu kedagingan mereka. Mereka benci mengikuti kemauan dan kehendak Sang Pencipta sendiri. Memang dari siapa mereka tercipta? Awalnya mereka hanya debu dan tanah, yang kalau bukan embusan napasnya, mereka tak akan hidup. Terlalu sikap mereka itu. Jangankan aku yang dulu pernah ditolak, Dia sendiri yang merupakan Sang Pencipta sendiri juga ditolak. Sukunya menolaknya atas dasar latar belakang keluarga, pun karena Dia tak sejalan dengan kehendak sukunya yang terkungkung dalam penjajahan bangsa lain. Mereka menolak Dia dan ajaran mulia yang ditawarkan-Nya. Sungguh kelewatan!

Aku amat berharap Dia cepat tiba. Segeralah bersihkan Bumi yang makin rusak saja. Makin banyak pendusta, makin banyak pula para oportunis. Dunia makin gila saja. Semoga saja para utusan itu menjalankan amanah Sang Pencipta dengan sebaik-baiknya. Jangan takut dengan ancaman, hasutan, maupun gertakan. Sang Pencipta sungguh berada di belakang kalian. 

Omong-omong terimakasih untuk salah satu utusan yang mengijinkanku untuk menjadi mediaku menyampaikan segala kata-kataku ini. Semoga engkau cepat bertemu dengan soul-mu. Kasihan sekali dirimu yang harus terpisahkan selama sepuluh tahun. Padahal engkau dan soul-mu itu dulu pasangan paling mesra di surga sana. Dia terus merengek minta ikut saat engkau harus turun lebih dulu. Dan saat engkau masih kecil sekali, soul-mu itu menjagaimu selalu dengan penuh perhatian.