Monday, November 9, 2015

Banggalah Sebagai Pengikut dari Tuhan Yesus Kristus!



[POSTINGAN INI MUNGKIN AKAN TERDENGAR BEGITU KERAS (DAN KASAR). DIHARAPKAN UNTUK PENGANUT AGAMA LAIN YANG IMANNYA LEMAH, SILAKAN MENUTUP TAB. AKU TAK BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEGALA RISIKO YANG TERJADI]










Mungkin kalau tidak membaca laman "The Owner", tak akan banyak yang tahu perihal apa agama atau keyakinan si empunya IMMANUEL'S NOTES. Karena memang aku termasuk orang yang tak terlalu begitu suka menonjolkan identitas keagamaanku. Mauku (dan untuk sebagian orang lain juga): orang lain bisa melihat apa agamaku itu dari apa yang kulakukan. Rasanya terasa nyesss saat hobi menyisipkan ayat-ayat Alkitab di beberapa media sosial atau pasang header gambar salib, namun kelakuannya jauh dari sifat-sifat Kristus. Thus I feel as if I was a hypocrite.

Namun, lagi dan lagi, aku jadi tersadarkan. Banyak hal yang membuatku tersadar untuk tak lagi malu-malu, segan atau enggan untuk menunjukkan identitas kekristenanku. Seperti TK, yang setahun belakangan ini aktif di suatu kegiatan rohani, yang lumayan sering sharing di blog-nya. Atau si Uli yang dulu saat pertama kukenal hingga sekarang, tetap saja begitu aktif menulis postingan-postingan yang sangat religius dan menenangkan jiwa. Khusus yang terakhir, aku merasa tersentil. Sangat.

Sebetulnya harus kuakui bahwa tugas kita sebagai Nasrani memang untuk mengabarkan firman Tuhan (bagaimanapun caranya). Bukankah ada dasarnya di Alkitab lewat Markus 16:15, yang berbunyi "Lalu Ia berkata kepada mereka: 'Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.'"?  Lantas, dari  ayat tersebut. aku sadar pula bahwa yang namanya memberitakan Injil itu tak harus menjadi seperti pendeta yang ke mana-mana bawa kitab suci. Yah karena aku bukan orang teolog, aku juga sarjana hukum, yah sepatutnya mengabarkan Injil-nya dari jalan awam. Setidaknya aku harus berani pamer bahwa aku ini pengikut Yesus Kristus.

Nah, soal berani pamer itulah, yang akhir-akhir ini aku rasa ada yang hilang dari kebanyakan orang Nasrani. Entahlah, mungkin itu sudah dari jaman orangtuaku masih remaja, atau baru berlangsung sejak era Milenium ini. Yang jelas orang-orang Nasrani itu berbeda dengan para penganut agama lain. Serius, beda. Bedanya itu kalau penganut agama lain itu tak malu untuk pamer, orang-orang Nasrani seolah begitu risih untuk menunjukkan ajaran Kristus yang (mungkin) sudah diterima sejak lahir. Aku punya banyak teman yang beragama Islam. Entah yang hanya Islam KTP maupun yang benar-benar soleh, mereka tak malu untuk menunjukkan identitas keagamaan mereka. Yang nakal pun, pasti ingat salat, puasa, berzikir, dan kewajiban-kewajiban agama lainnya. Kelakuannya yang cenderung hedonis, tak menghalangi mereka untuk mengucapkan beberapa kalimat tertentu yang sebetulnya sifatnya sangat Islami seperti alhamdulillah, insya Allah, bismillah, atau assalamualaikum.

Iya aku tahu, itu bahasa Arab, ada artinya, dan rasanya terlalu cetek untuk tidak boleh diucapkan karena sudah identik dengan agama tertentu. Namun, mendadak aku jadi teringat sama pendapat guru Agama waktu kelas 6 SD. Namanya Bu Ester. Beliau pernah menegur salah satu teman yang mengucapkan beberapa kata identik tersebut. Sepele sih sebetulnya. Tapi pas kupikir baik-baik, kayaknya aku mulai paham maksud dari tindakan Bu Ester tersebut. Mungkin, untuk penafsiranku, Bu Ester ingin temanku yang seagama denganku itu tak malu dengan statusnya sebagai pengikut Kristus. Mungkin di mata beliau, dengan mengucapkan kata 'alhamdulillah', terasa sekali bahwa aku dan temanku itu seperti tidak bangga dengan keyakinan kami. Kalau bangga, kenapa malah mengucapkan kata-kata identik tersebut, padahal ada banyak kata yang bisa menggantikannya? Apa susahnya untuk mengucapkan "Puji Tuhan" ketimbang "Alhamdulillah"? Untuk otakku yang sekarang, hal itu memang sepele. Tapi, hei, bukannya hal-hal besar itu dimulai dari hal-hal kecil? Lagipula keyakinan kita akan Yesus Kristus sebagai juruselamat itu datangnya dari kita. Kalau bukan kita sebagai pengikut Kristus, siapa lagi yang akan membanggakannya?

Pernah terpikirkan tidak, kalau betapa pentingnya punya rasa bangga memiliki Yesus Kristus sebagai juruselamat kita? Untuk sekarang ini, menurutku, memiliki rasa bangga itu jauh lebih penting. Biasanya juga orang yang sudah memiliki rasa bangga akan sesuatu, pasti tak segan untuk terus membanggakan sesuatu itu. Yah minimal tidak malu-malu untuk mengakuinya. Justru kalau tak memiliki rasa bangga, untuk aku sendiri juga loh, seperti tidak yakin bahwa keyakinanku pada Kristus Yesus ini yang paling benar. Dan, ini kurasa tak ada hubungannya dengan menjadi seorang fanatik. Selama tidak berlebihan, rasanya memang sudah menjadi kewajiban kita untuk tidak malu-malu mengakui diri sebagai pengikut Kristus Yesus. Minimal kalau pengetahuan Alkitab kita kurang, lakukan saja hal-hal sepele. Seperti tidak malu untuk berdoa dengan cara Nasrani di mana pun dan kapan pun kita berada. Tak malu untuk berujar "Puji Tuhan". Atau kalau cara bule, tak malu untuk mengeluarkan satu kata umpatan khusus: "Jesus!". Tidak malu pula untuk lebih memilih sisi rohani kita di saat-saat tertentu. Kalau waktunya saat teduh atau bergereja, yah lakukan. Jangan ditunda-tunda hanya demi kegiatan-kegiatan duniawi yang sebetulnya sifatnya itu tak kekal.

Miris rasanya melihat betapa sedikitnya (dan mungkin cukup langka) orang-orang Nasrani yang sepertinya tak bangga dengan statusnya sebagai pengikut Kristus Yesus. Kenapa harus ditutup-tutupi sementara penganut agama lain malah dengan santai menunjukkannya? Contoh lainnya, temanku yang beragama Buddha yang tak malu-malu berkata bahwa dia tengah menjalani yang namanya puasa vegetarian, makanya dirinya spontan menepuk jidat saat dia malah makan daging. Just for your information, puasa vegetarian itu puasa yang dalam hari-hari atau momen-momen tertentu itu tak boleh makan daging. Hal itu merupakan bagian dari ajaran Buddhisme, yang walau temanku itu tak begitu religius, namun tak malu untuk menunjukkan ajaran Buddhisme yang dianutnya.

Sementara kita yang pengikut Kristus, setidaknya untukku sendiri, malah malu-malu untuk berdoa sebelum makan di tempat-tempat umum. Kita bahkan sering bertingkah seperti temanku itu, yang lebih suka mengucapkan "Alhamdulillah" daripada "Puji Tuhan". Padahal kita tidak dituntut untuk menjadi seperti pendeta, penatua, atau diaken. Ada banyak cara untuk menunjukkan identitas kita sebagai pengikut Yesus Kristus, yang bisa dimulai dari hal-hal sepele. Soal kelakuan kita yang mungkin masih jauh, yah biarkan saja. Teman-temanku saja yang beragama lain, yang kelakuannya minus, sama sekali tidak malu-malu dengan keyakinan mereka. Jadi, kenapa kita sebagai pengikut Yesus Kristus tidak merasa bangga sama sekali?

Tak heran juga kenapa banyak orang Nasrani yang akhirnya berpindah keyakinan. Karena, yah itu dia. Mereka tidak bangga. Mereka malu untuk menunjukkan ajaran Kristus yang Yesus sering berpesan agar menyebarkannya. Bagiku, tidak bangga itu sama dengan tidak yakin. Itu ibarat seperti saat kita tengah mengidolakan penyanyi atau klub bola tertentu. Kalau kita bisa dengan berapi-api menunjukkan kecintaan kita ke Manchester United atau Juventus, kenapa kita harus malu menunjukkan kebanggaan kita memiliki Tuhan Yesus Kristus? Bahkan untuk hal kecil pun, kita segan. Bagaimana iman kita mau bertumbuh?

Miris rasanya saat ada orang Kristen yang demi mendapatkan satu konser penyanyi tertentu, rela melakukan apa saja. Demi menunjukkan dia sangat mengidolakan penyanyi tersebut, dia sangat all-out. Untuk beli CD, harus yang orisinal. Kalau ada konsernya, sebisa mungkin harus datang. Namun apa yang dia lakukan untuk menunjukkan identitasnya sebagai murid Tuhan Yesus Kristus? Untuk hal sepele saja, sulit dilakukan. Yah itu seperti malu untuk terlihat berdoa. Lebih nyaman untuk berkata "Alhamdulillah" daripada "Puji Tuhan". Saat ditanya apa agamamu, kok rasanya tidak optimis begitu untuk bilang, "Saya pengikut Tuhan Yesus Kristus". Kalau saatnya datang ke Tuhan Yesus atau Allah Bapa, dan berbenturan dengan kegiatan-kegiatan duniawi, lebih condong ke kegiatan-kegiatan duniawi tersebut. Rasanya jarang sekali melihat mereka yang mengaku pengikut-Nya, yang benar-benar mengutamakan Dia daripada kegiatan-kegiatan duniawi yang sifatnya semu. Padahal untuk idolanya atau klub sepakbola favoritnya, mereka bisa all-out dalam menunjukkan rasa cintanya. I guess, it's so really pathetic!

Tak usah heran mengapa banyak orang Kristen yang imannya tak bertumbuh, gugur, dan pindah ke keyakinan lain. Karena, yah itu dia, mereka tak bangga dengan status sebagai murid dari seseorang yang sudah rela mengambil rupa sebagai manusia lalu berkorban di atas kayu salib. Kenapa mereka tidak bangga, mungkin karena mereka tidak yakin. Kalau yakin, harusnya mereka tidak segan, enggan, atau malu-malu untuk menunjukkannya.

Kalau kupikir-pikir juga, memang tak ada salahnya untuk menunjukkan rasa kebanggaan itu. Tak ada yang keliru untuk lebih mendahulukan Yesus di atas segalanya. Ha-ha-ha, aku jadi teringat saat ikut satu seminar waktu masih jadi mahasiswa baru di fakultas Hukum dulu. Dulu aku pernah mendatangi satu seminar yang mana bintang tamunya itu Choky Sitohang. Aku ingat Bang Choky pernah memberikan kesaksian bahwa dirinya itu pernah mengalami dilema saat dihampiri satu job yang sangat berkaitan dengan keyakinannya ke Yesus. Dia sempat dilema sekali. Takutnya dia akan kehilangan puluhan job dengan penghasilan cukup besar jika mengambil job tersebut. Ia berpikir mungkin orang-orang tertentu jadi berpikir dia itu fanatik. Sejujurnya, terkadang orang religius itu bisa terlihat seperti seorang yang fanatik (padahal kenyataannya bukan). Dan, kebanyakan orang pasti cenderung menghindarkan diri dari orang-orang yang lebih mengutamakan hal-hal yang bersifat rohani daripada duniawi. Sungguh dunia ini begitu sakit (kurasa)!








Awalnya begitu. Bang Choky sangat dilema. Namun akhirnya ia ambil juga job tersebut. Kenyataannya, ketakutannya tak terbukti. Malah berkat semakin mengalir dalam hidupnya saat dia berani mengakui. Jadi, menurutku, sepertinya tak salah untuk menunjukkan identitas kita sebagai pengikut dari Tuhan Yesus Kristus. Tak ada yang salah juga. Kalau kita takut bakal dijauhi karena iman kita, kalau kita merasa kita bakal dipersulit dalam hidup ini, kita salah besar. Lagipula memang sudah takdir orang-orang Nasrani untuk mau memikul salib, kan? Ingat perikop Matius 16: 24 ini: "Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: 'Setiap orang yang mengikut Aku, ia harus mau menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku'". Dan, memikul salibnya, kurasa, tidaklah suatu kesia-siaan belaka. Selain bakal dimahkotai mahkota kehidupan, percayalah Tuhan Yesus pasti akan memberikan banyak jalan. Dia tak pernah membiarkan kita jatuh tergeletak (Mazmur 37: 23-24).

Anyway, postingan ini tak bermaksud menghina agama lain. Tak ada maksud menggurui pula. Aku hanya sekadar sharing semata. Diterima, syukur. Tak diterima, yah itu urusan yang bersangkutan ke Tuhan Yesus sendiri. Aku sendiri pun, dibilang religius, tidak juga. Kadang aku masih lebih mengutamakan hal-hal duniawi juga, kok. Masih malu aku untuk berdoa di tempat-tempat umum, khususnya untuk doa makan. Kadang saat ditanya apa agamaku, aku malah menjawab, "Saya non-Islam," Berdoa, saat teduh, hingga pergi gereja pun masih bolong-bolong. Tapi aku bikin postingan ini murni aku sadar bahwa sudah sepatutnya aku tak perlu malu untuk mengakui bahwa aku ini pengikut Tuhan Yesus Kristus. Sudah selayaknya aku berbangga diri.

Apa yang bisa kulakukan untuk menunjukkan rasa banggaku? Jawabannya sederhana sekali, yang aku sudah tahu pasti. Mulailah dari hal-hal yang terasa sepele. Seperti menjawab, "Saya Kristen" saat ditanya apa agamaku. Atau lebih mengutamakan kewajiban religiusku daripada hal-hal duniawi. Tak malu untuk berdoa saat makan di tempat umum. Tak bolong-bolong berdoa, saat teduh, atau bergereja. Yah pokoknya segala hal sepele yang kalau kulakukan itu pasti bernilai besar. Pasti sangat membantu untuk menunjukkan betapa dahsyatnya Tuhan-ku itu, Tuhan Yesus Kristus.

At last, terkadang menunjukkan identitas kita sebagai pengikut Kristus Yesus hanya dari perilaku, tidaklah cukup. Karena orang-orang dunia pasti juga melakukan hal sama. Jadi, jalan paling efektif selain lewat tutur dan perilaku, kita sendiri harus memiliki rasa bangga dulu. Karena, menurutku, dari rasa bangga itu akan timbul rasa yakin dan pasti akan sangat berpengaruh ke tutur dan perilaku kita dalam keseharian.



2 comments:

  1. Samaan kok Nuel. Yang Muslim juga banyak mulai gak bangga sama agamanya, kadang takut dibilang sok alim -_- Yang rajin sholat dan puasa disindir sok alim, pake jilbab lebar dibilang teroris.

    Dalam beragama, wajar sih fanatik. Ya kalo situ gak fanatik, berarti gak yakin sama agamanya, kalo gak yakin ya ngapain milih agama itu? Aku mikirnya gitu. Fanatik boleh, asal gak ganggu agama lain.

    Aku malah mikirnya, kita udah masuk ke zaman di mana orang mulai sekuler, gak suka menunjukkan agamanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, setuju. Dan aku juga mulai sadar memang kalau sebaiknya kita selalu melibatkan Tuhan dalam setiap pengambilan keputusan. Nggak usah malu juga. Lagian kalau malu, Yang di Atas juga pasti akan malu mengakui kita sebagai ciptaan-Nya.

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^