Wednesday, September 23, 2015

Sebuah Renungan Singkat nan Sepele: Nuel yang Antara Berubah dan Tidak Berubah



"Terkadang yang sederhana itu susah untuk disadari. Kita lebih mikir bahagia dengan teramat complicated." - Samuel, seorang bloger yang hobi musik.



Aku ini orangnya tipe yang suka mikir, suka merenung pula, pun suka melakukan flashback ke belakang. Tiap melihat ke belakang, ah rasanya aku melihat banyak juga perubahan-perubahan dalam hidupku ini. Aku bukan lagi seorang anak yang pemalu banget. Iya, dulu aku pemalu banget. Saking pemalunya, aku malu buat bawa bekal ke sekolah, lalu menahan lapar dari jam tujuh sampai jam setengah tiga sore. Yang saking pemalunya juga, malu tiap bertemu dengan teman di luar dan tanpa seragam sekolah. Malu pula buat unjuk suara di depan sekolah. Pun malu ikut kegiatan Olahraga di sekolah. Dulu aku seperti itu. 

Yah sekarang sih sama. Aku masih seorang pemalu seperti dulu. Bedanya pemalu yang ini tidak seakut jaman sekolah dulu. Dulu pas masih kecil, gila deh, aku sampai mikir kok bisa ada anak sepemalu aku ini? Gara-gara sifat pemalu itu, aku jadi kurang bisa merasakan indahnya masa kecil dan remaja tersebut. Kalau sekarang, sudah rada lumayan. Perlahan sudah mulai tidak malu-malu lagi. Semenjak masuk ke kampus yang ada di bilangan Semanggi, mulai berani unjuk gigi. Walau tidak sering, berani mengajukan pertanyaan ke dosen. Berani pula beberapa kali mempresentasikan tugas, lalu menjawab dengan sebisanya pertanyaan dari teman-teman. Juga mulai berani mendatangi beberapa tempat sendirian saja. Dari ke pengadilan, kejaksaan, lapas, bapas, hingga berani mengontak langsung seorang hakim dan pimred by email

Kalau untuk beberapa tahun belakangan ini, aku bahkan sudah berani pergi ke beberapa tempat yang bersifat rekreatif. Kayak tahun lalu, berani mendatangi event Jak-Japan Matsuri di hari minggu yang harus pulang sore. Dengan berani pula, bilang ke mendiang Mami bahwa aku nggak pergi ke gereja dulu. Terus, aku juga berani pula untuk berhubungan secara personal dengan beberapa bloger yang selama ini hanya puas baca tulisan-tulisannya saja. Aku berani minta nomor dari beberapa bloger itu seperti Melisa Yulia, Felix Salvata si RedBike, Mas +Teguh Budi Santoso , Dhenok Habibie, +rie ramadhaanie , dan masih banyak yang lainnya lagi. Bahkan berani pula curhat ke mereka hal-hal yang sebetulnya cukup dicurhatin ke orang-orang yang kenal dan pernah ketemu saja. Selain itu, aku juga bahkan berani mengajak beberapa teman untuk ketemuan langsung. Mulai berani pula mendatangi beberapa event yang selama ini takut-takut begitu buat datang. 

Aku sendiri tidak tahu kenapa sedikit demi sedikit mulai bisa mengikis rasa malu itu. Namun kalau dibilang ada perubahan, yah harus kuakui itu ada. Dan, sebetulnya juga aku tak terlalu menyadari perubahan-perubahan yang sudah terjadi itu. Kalau saja tahun lalu, si Felix Salvata itu tak iseng berceletuk padaku lewat Line, mungkin aku tidak akan pernah merenungi dan menyadarinya. Well, tahun lalu Felix pernah bilang, "Bang, blog sampeyan sekarang udah berubah yah?! Udah nggak jujur dan apa adanya lagi. Aku ngerasa kayak ada yang hilang dari blog sampeyan."

Aku rada tertegun bacanya. Percaya deh, terkadang untuk menyadari perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri kita--entah itu positif maupun negatif, kita selalu butuh orang lain. Dan, yah benar kata Felix. Saat menyelidikinya sendiri, aku pun merasakan hal yang sama. Kok rasa-rasanya, apalagi teman bloger lain juga bilang hal sama, ada yang berbeda dari seorang Nuel? Terasa ada perubahan dalam diri seorang Nuel, yang selama ini dikenal di dunia blogsphere sebagai seorang bloger penuh emosi dan blak-blakan yang kalau nulis itu suka bocor. Aku sendiri menyadari kok, memang Nuel yang sekarang ini beda sama Nuel yang dulu. Nuel yang sekarang ini sepertinya sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Nuel yang juga sering pakai topeng untuk beberapa tujuan tertentu yang sampai sekarang sulit diumbar, apalagi diumbar di ranah maya ini.

Nuel yang sekarang ini juga sepertinya Nuel yang sepertinya sulit sekali untuk bisa merasakan yang namanya bahagia. Padahal Nuel yang dulu itu tidak seperti ini kan. Bukannya Nuel yang dulu itu Nuel yang selalu bersabar, yang selalu happy untuk hal-hal sepele, pula yang dengan beraninya bikin rusuh di dunia maya? Jadi ingat dulu pernah beberapa kali bikin masalah di dunia maya. Pernah diserang jancuker gara-gara sembarang ngetuit. Atau dulu pernah bikin geger dunia perblogan gara-gara satu-dua hal yang seharusnya tak diciptakan. Mungkin kalau ada yang sudah lama di dunia blog, terutama yang ngeblog sejak 2011, pasti kenal sama seorang Nuel Lubis yang hobi bikin rusuh dan geger.

Ah mendadak aku sendiri jadi kangen sama Nuel yang dulu. Tapi rasanya sulit untuk berubah seperti dulu. Sekarang ini saja IMMANUEL'S NOTES ini makin hari makin dikenal. Bukan maksudnya sombong sih. Namun faktanya memang begitu. Selain masih kedatangan beberapa bloger lama, blog ini juga didatangi nama-nama baru yang sebelumnya aku tidak kenal. Plus, perlahan demi perlahan keluarga mulai mengetahui keberadaan IMMANUEL'S NOTES. Apalagi ternyata mendiang Mami itu ternyata seorang silent reader yang setia. Jadi tersentuh, pengin mewek juga, tapi... bikin tersentak pula. Memang rasanya buat kembali jadi Nuel yang lama itu sudah sulit. Sulit lho kembali blak-blakan di blog sendiri. Sekarang tiap menulis saja, aku harus berpikir-pikir dulu. Contoh: yang begini cocok nggak diceritakan di IMMANUEL'S NOTES?

Terutama lagi aku kangen sama Nuel yang dulu. Nuel yang gampang banget buat bahagia. Yang cuma ketemu hal-hal unik nan baru saja, sudah girang setengah mampus. Kalau sekarang, boro-boro deh. Ukuran bahagianya sudah berubah drastis. Yang susah puas dan banyak maunya. Yang akhirnya, saat baca postingan si Keven yang soal bahagia itu, aku tersentak. Ya ampun, selama ini aku pakai standar bahagia yang seperti apa sih? Standar bahagia orang-orang Zimbabwe? Padahal, yah benar, bahagia itu sebetulnya sederhana. Dan Nuel yang dulu itu selalu bahagia untuk hal-hal sepele. Seperti yang bisa seharian berada di IMMANUEL'S NOTES (yang bagaikan rumah kedua) saja sudah bahagia tak keruan. Yang kalau nulis itu seenak udel saja, yang penting jiwa bahagia. Karena bahagia buat seorang Nuel yang dulu itu sederhana sekali, jauh lebih sederhana dari harga seporsi masakan padang di Restoran Sederhana.

Heh... Nuel yang sekarang benar-benar bermasalah untuk bahagia. Setidaknya untuk dua tahun terakhir ini. Ditambah lagi, Nuel sekarang juga sudah berubah, yang tidak seapa ada dulu lagi. Kalau dulu, tiap ada kontes blog, selalu diikuti. Kalau sekarang, berpikir dulu hingga ke negeri China. Mikir dulu kontes ini hadiahnya seperti apa, susah nggak, plus-minusnya seperti apa. Padahal dulu mah, ada kontes, main nyosor saja. Sekarang, IMMANUEL'S NOTES yang sudah jadi rumah keduanya saja sudah sulit sekali memberikan seorang Nuel sebuah kebahagiaan.

Walau begitu, ternyata masih ada kepingan-kepingan tertinggal yang masih ada di diri Nuel yang sekarang ini. Sebab Nuel yang sekarang ini masih tetap seorang dream catcher. Iya, Nuel masih sama kok. Masih tetap seorang pemimpi. Masih tetap jadi fans setia dari Selena Gomez, yang rutin update tiap single yang dikeluarkan oleh jebolan Disney tersebut. Dan yang masih tetap suka dengar lagu 'Who Says'-nya Selena Gomez, lalu semangatnya kembali jadi berapi-api gara-gara liriknya yang sangat inspiratif. Mungkin sampai beberapa tahun yang akan datang, 'Who Says' akan jadi my most-memorable song.

I wouldn't be anybody else
I'm no beauty queen
I'm just beautiful me
You got every right to beautiful life

Well, who said I will never a star? Who said like that? Everything can happen, right? And I've becoming a star, a little star in my family. Ha-ha-ha. Sumpah lagu 'Who Says' ini lirik demi liriknya suka banget. Benar-benar bisa kasih semangat banget deh!

Beneran lope-lope di udara sama Ayang Selena Gomez deh! Aw aw aw!

Saking lope-lopenya, bahkan waktu Huda Tula bikinin gambar gitu, eh ada unsur Selena-nya. Jadi malu ketahuan seorang Selenator. xD



Nuel itu di mata Huda Tula (waktu itu), seorang mahasiswa Hukum yang gemar berbaju merah dan seorang Selenator keparat. Lol.










Tulisan ini diikutsertakan dalam "RegasGA"