Thursday, June 18, 2015

ANOTHER FICTION: Cinta 16 Tahun



Genre: Romance



Cinta itu aneh. Terkadang kita tidak akan pernah tahu dengan siapa kita jatuh cinta. Kita juga tidak akan pernah kapan dan di mana kita jatuh cinta. Yang bisa kita lakukan, hanya menerima saja. Selanjutnya, terserah kita mau melanjutkannya ke hubungan yang lebih serius atau tidak. 

Sama seperti aku dalam memandang gadis yang kini duduk di sampingku. Namanya Felicia. Ia sudah berusia dua puluh tahun, mahasiswi di sebuah kampus swasta jurusan Komunikasi. Aku kenal Felicia sudah lama sekali. Bahkan saat Felicia masih orok, aku sudah memendam rasa padanya. Yah, semenjak orok. 





Iya, orok. Aku tak salah sebut, kok. Memang begitulah adanya. Aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa aku sudah mencintai Felicia sejak gadis itu masih orok. Semuanya datang begitu saja. Aku tak bisa mencegah dadaku bergetar-getar dahsyat saat memandangi wajah polos khas seorang bayi. Seperti ada sesuatu yang mengatakan padaku bahwa bayi yang ada di depanku itu kelak akan menjadi seseorang yang spesial dalam hidupku. Itulah kenapa juga aku terus berusaha sebisa mungkin agar tetap berada di sekitar Felicia. 

Felicia sendiri adalah anak dari salah satu sahabatku. Bukan sahabat sebetulnya. Hanya saja, ayah Felicia itu abang dari teman SD-ku. Meskipun abangnya itu pun akrab denganku. Oh iya, Felicia lahir saat aku berusia 16 tahun. Itu artinya, yah itulah jarak usia kami, enam belas tahun. Sebetulnya aku ini ibarat paman untuk dia. Walau aku berharap Felicia mau menganggapku lebih dari seorang paman. 

Gila? Terserah. Aku sudah mulai terbiasa dengan julukan 'gila' atau 'pedofil'. Aku sudah lelah berbusa-busa untuk menjelaskan soal perasaan aneh ini. Memang mereka pikir aku mau apa memiliki cinta seperti ini? Tidak. Aku sama sekali tidak mau. Aku lebih suka punya cinta yang normal. Iya normal. Berharap bisa jatuh cinta dengan perempuan yang sebaya atau setidaknya yang jika lebih muda, yah beda usianya hanya lima tahun. Tidak sampai enam belas tahun. 

Akibat dari perasaan cintaku yang dahsyat pada Felicia ini, aku sering kena omel. Karierku mantap, penghasilan juga tak bisa dianggap remeh. Namun hingga sekarang, saat teman-teman sebaya sudah menikah, berkeluarga, dan punya beberapa anak yang lucu-lucu, aku masih setia melajang. Status bujanganku inilah yang membuatku jadi sasaran tembak kemarahan dari Mama, juga Papa. 

"Om," kata Felicia menelengkan wajah sembari tersenyum padaku. "terimakasih yah, sudah mau menjemput aku. Om Juan baik banget, deh, sama aku."

Ya ampun, Tuhan! Senyuman itu.. tak ada perempuan dengan senyuman seindah itu. Hanya Felicia yang memilikinya. 

"Enggak apa-apa, kok, Fel. Om senang bisa jemput kamu. Lagian, Papi kamu, kan, juga abang dari sahabat Om. Kita kenal juga sudah lama. Enggak enak kalau anaknya malah enggak dibantu, sementara Om sudah cukup sering terima bantuan dari Papi kamu itu." jawabku panjang lebar, pun balas tersenyum. 

Felicia terkikik. Lalu ia kembali sibuk mengutak-atik ponsel cerdasnya. Aku pun kembali fokus mengemudi. Dan sang penyiar masih tetap sibuk berceloteh walau konsentrasi aku dan dia sudah tak di radio itu lagi. 

Di tengah-tengah kedua mata yang terpusat ke arah jalan raya, bisa-bisanya aku melirik Felicia. Felicia sungguh telah tumbuh menjadi gadis yang luar biasa cantik. Rambut panjang terurai, hidung lancip nan indah, lesung pipit yang memesona, serta kedua bola mata yang kurasa tak ada satu pun dari bidadari yang menandinginya. Felicia sungguh gadis sempurna. Rasa-rasanya, tak sia-sia aku menunggunya hingga tumbuh dewasa selama kurang lebih dua dekade. 

"Om," ujar Felicia lagi. Ada yang bilang, jika kita terus memandangi seorang gadis dalam jarak waktu yang cukup lama, si gadis bisa sadar tengah diamati. Mungkin itulah kenapa Felicia membalas tatapanku.

"Yah," ujarku balik. Lagi-lagi membalas pula senyumannya itu. 

"Aku boleh tanya sesuatu sama Om, enggak?" 

"Tanya apa?"

Tampak Felicia ragu. 

"Eeee..."

"Udah, diomongin aja, Om enggak bakal marah kok," Kata-kata berikutnya bikin dadaku ngilu. Bagaimanapun aku masih berharap lebih.  "Kamu itu sudah Om anggap seperti anak Om sendiri. Yah walau Om kan masih belum menikah." Aku tertawa getir yang paling lebar. 

Felicia kembali bergumam. "Justru itu... justru itu  yang mau kutanya..."

"Memangnya mau tanya apa?"

"Kan Om belum menikah-menikah dari aku masih SD hingga sekarang. Aku juga belum melihat Om lagi dekat sama perempuan manapun." 

Ada jeda. Kami masih bersitatap. 

"Eh, usia Om berapa sih? Tiga puluh sembilan kan?"

"Om belum setua itu juga kok, Fel,"

"Terus, usianya berapa?"

Aku bergumam, memutar bola mata. "Tiga tahun lebih rendah dari dugaan kamu itu."

"Maksudnya, tiga puluh enam?"

Aku mengangguk. 

Felicia terkekeh. "Aku baru tahu, ternyata beda usia kita enam belas tahun. Kukira, antara aku sama Om itu berbeda usia dua puluh tahun. Ternyata cuma enam belas tahun." 

Entah mengapa kata 'cuma' itu membuat hatiku lega sekali. Khayalanku mulai membuncah yang bukan-bukan dalam benak. Mungkinkah...

 Aku balas terkekeh. "Iya, cuma enam belas tahun,--" Begitu yang terucap di mulut. Andai saja ia bisa membaca pikiran, terusannya itu, buat kita menjalin hubungan yang lebih lanjut lagi. Om pengin kamu jadi calon istri Om, Fel.

"Memangnya Om enggak berniat untuk menikah apa? Kan Om juga lumayan ganteng, cerdas pula, yah walau perut Om sedikit buncit." Felicia mencubit-cubiti perutku yang sebetulnya sudah lumayan agak mengecil. Aku pura-pura meringis. 

"Sakit, Fel!" raungku pelan.

Felicia malah nyengir lebar. "Om ini masih normal kan?"

Aku tergelak. "Ya iyalah, Fel. Om ini masih normal, masih suka perempuan kok."

"Terus kenapa belum menikah juga? Bahkan sekarang pun, aku belum pernah melihat Om Juan tengah dekat dengan perempuan manapun."

"Hmm, kenapa yah?" tanyaku balik, nyengir. 

"Memangnya kriteria perempuan yang Om suka itu seperti apa?"

Haruskah kujawab pertanyaan tadi? Bagiku, pertanyaan Felicia itu bagaikan sebuah jalan dari Tuhan bahwa sekaranglah saatnya untuk mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya. Namun aku ragu Felicia bisa memahami teoriku soal cinta. Terlebih cinta yang abnormal seperti ini. Aku takut dia akan perlahan menjauh. Tapi...

"...yang kayak kamu, Fel..." Kata-kata itu deras begitu saja keluar dari otakku. 

Felica terbahak. Aku pun sama. Pula suara-suara di radio.  

"Om bercanda kan? Enggak serius? Om enggak betulan naksir sama aku kan?" Felicia berusaha mengonfirmasi tiga kataku barusan. "Aku sih berharap Om cuma bercanda. Soalnya aku itu sudah menganggap Om seperti Om-Om aku lainnya dalam silsilah keluarga. Om itu sudah kuanggap sebagai bagian dari keluarga besar aku."

Aku tercekat. Itukah anggapannya padaku? Sungguh selama ini aku sudah berharap lebih. Mungkinkah ini saatnya aku meninggalkan dan melupakan Felicia? Dari awal, seharusnya aku tahu bahwa tak mungkin Felicia akan memilih pria yang beda usia enam belas tahun darinya. Seyogyanya aku sadar diri. Namun terkadang mulut tak sinkron dengan hati. 

"Iya, Om juga serius," Aku memasang tampang serius yang aku bisa. "Om betulan suka sama kamu. Malah Om sudah suka sejak kamu masih bayi. Om sendiri juga enggak tahu kenapa bisa punya perasaan cinta yang seperti ini."

Felicia jadi melongo. 






Artwork by: Melisa Yulia Kristin







Enam belas tahun sebelumnya,


"Juan, mau ikut ke rumah sakit enggak? Hari ini istri Bang Dinan melahirkan."

Begitu Jemmy melontarkan ajakannya, aku seolah terhipnotis yang menurut saja. Aku tak tahu mengapa aku harus ikut Jemmy ke rumah sakit. Aku pun tak tahu mengapa Jemmy mengajakku. Seolah-olah berita lahirnya anak pertama Bang Ferdinan itu harus kuketahui dan aku wajib datang. Padahal tujuan awalku datang ke rumahnya itu, yah untuk bermain playstation; sembari melanjutkan bikin tugas karya tulis mata pelajaran Sejarah. Jemmy juga tak mengiming-imingi aku apapun. 

Yang bikin aku bertambah heran lagi, saat melihat seorang bayi perempuan tergolek lemas dalam inkubator. Saat itu, itulah kali pertama aku melihat bayi dalam inkubator. Bayi yang sungguh manis sekali. Kedua pipinya yang sangat tembam, sehingga membuat aku ingin meremas-remasnya. 

"Mau dikasih nama siapa, Bang?" Aku menoleh. Ternyata Jemmy tengah bertanya soal nama yang hendak Bang Ferdinan berikan. 

Jawab Bang Ferdinan, "Mmmm... menurut kamu, Felicia bagus tidak?"

"Felicia yah, Bang?!" Jemmy ikut bergumam. "Bagus kok, Bang. Aku suka sama namanya. Dan kayaknya juga cocok sama ponakanku ini yang masih bayi. Ya, kan, Juan?" Jemmy menyenggolku. 

Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Dalam hati, aku mulai membuat analisisku sendiri. Felicia itu kan berasal dari bahasa Latin yang berarti beruntung dan kebahagiaan. Dan, entah mengapa, aku merasa beruntung sudah bertemu dengan bayi imut nan menggemaskan itu. Tak bisa kucegah, jantungku berdetak lebih kencang dan keras dari biasanya. Ya Tuhan, bahkan ini lebih keras dari saat aku naksir beberapa perempuan teman sekolahku. Jangan bilang kalau aku...

...aku tidak sedang jatuh cinta dengan bayi ini kan? 

Ya Tuhan, kumohon, aku tidak mau jadi seorang yang mengidap pedofilia. Kumohon, Tuhan, jangan. Seandainya aku memang Engkau takdirkan untuk memiliki pasangan, kumohon berikanlah padaku cinta yang selayaknya. Aku lebih memilih seorang pasangan hidup dengan jarak usia yang tak terlampau jauh. Yang begini ini gila, Tuhan. Aku belum siap. Aku pun ingin merasakan yang namanya pacaran. Masa aku harus menunggu sekian tahun dulu untuk bisa menembak bayi ini saat dia remaja nanti? 

 Aku menggeleng-geleng. Jemmy mengernyitkan dahi. Bang Ferdinan terkekeh. 

"Kenapa lu, Juan?" 

"Enggak ada apa-apa."

Tak berani aku mengutarakan pada mereka berdua bahwa aku tergila-gila dengan bayi bernama Felicia ini. Aku takut mereka akan menjauh dan menganggapku tak waras. Mau di belahan bumi manapun, pedofilia tetap pedofilia. Selamanya pedofilia akan dianggap sebagai suatu bentuk diorientasi. Lebih baik kupendam saja perasaan ini hingga waktunya tiba. Biarkan waktu yang akan menjawab. 

Kembali aku menengok lagi si Felicia. Manis juga wajahnya. Aku berharap itu tidak akan tergerus waktu. Pun berharap aku selamanya akan terus berada di sekitarnya. 


22 comments:

  1. ya Jadi Felicia gak mau nih sama Om nya:). DIlanjutin aja ceritanya biar happy ending hehehe itu sih maunya aku ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti yah... Sabar nunggu kelanjutannya, hehehe...

      Delete
  2. ummm... kalo Felicia nya udah umur 20 yah ga pedofilia lagi Nuel
    itu adalah hal yang wajar
    apalagi umur 20 cewek itu lagi bagus2nya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa? Aku baru tau usia segitu, cewek lagi bagus-bagusnya. Hahaha...

      Delete
  3. Replies
    1. Nggak juga sih. Yah walau tergantung orang mandangnya gimana juga. :)

      Delete
  4. kayak mantan pasangan raffi sama yuni aja mas :D :D
    di tunggu lho kelanjutan ceritanya, kayaknya seru tuh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak ada kelanjutan kok. Nggak niat juga bikin cerbung. Hahaha.

      Delete
  5. Nahh nahhh, bang nuel mulai menggila.



    Hey, jangan salah sangka. Penulis yang menggila itu bagusssss.
    Flashfiction gue malahan bukan cuma soal cinta terlarang, tapi udah pake bunuh-bunuhan wkwkwk

    awesome story
    cuman nyesek nya batal gegara ternyata dibawahnya ada sambungannya yang berbunyi 'enam belas tahun sebelumnya'
    kirain ending nya pas ditolak ituh wkwkwk

    (y)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha... Berarti lu beneran nyimak yah, ampe nyesek gitu?! 0_o

      Thank a lot. What a really honor. ^_^

      Delete
  6. kita tidak akan pernah tau kapan saat untuk patah hati, begitupun untuk jatuh cinta.

    ReplyDelete
  7. Yang seperti ini beneran ada gak yah dikehidupan nyata?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hubungan antara om-om sama daun muda aja banyak. Pedofil pun sama. Jadi kenapa nggak mungkin? Hahaha

      Delete
  8. Kayaknya aku jatuh cinta sama Felicia.... Dan umur kami ngga terpaut terlalu jauh kok....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang usianya berapa? Hahaha... Btw jangan sampe dah, masa jatuh cinta sama tokoh fiksi? Hahaha :P

      Delete
  9. Replies
    1. saya nggak paham sama topik yang satu ini. Masih kecil aku, Mas. Hahaha..

      Delete
  10. ngakak baca komen tukang colong
    kayaknya aneh tapi kalo si cewek udah 20an bates 16tahun itu biasa aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, sepintas memang aneh. Apalagi kalau dilihatnya pas kondisi si cewek masih SD. Tapi seiring berjalannya waktu, kalau dia masih cinta orang yang sama walau fisiknya udah beda, berarti sesuatu yang normal. ^_^

      Kayaknya Ninda paham yah maksud cerpen ini, hehehe

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^