Friday, May 8, 2015

Boleh Tidak Sih Mengaku Berbakat Itu?




Dokumentasi pribadi.




Sebenarnya, sudah sejak lama sekali ada sebuah perumpamaan dalam injil yang mengusikku. Dan itu terdapat dalam Matius 25: 14-30–tentang talenta. Berikut sedikit petikan kisahnya.

Oh, ini tak ada maksud apa-apa, jangan salah paham. Hanya ingin berbagi saja.



Kerajaan Surga dikomparasikan dengan seseorang yang akan pergi melakukan perjalanan. Ia memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan kepada mereka hartanya kepada mereka. Harta tersebut diberikan dalam satuan talenta. Masing-masing 5, 2 dan 1 talenta. Harta tersebut tidak diberikan tetapi hanya dipercayakan untuk dikerjakan. hamba yang pertama pergi untuk mengerjakan sejumlah talenta yang diberikan kepadanya. 
Perumpamaan ini tidak mengatakan berapa lama hamba ini mengerjakan talenta yang diberikan kepadanya. Namun yang jelas pada waktu tertentu talenta yang tadinya itu lima, telah berlaba dan menghasilkan lima talenta lagi, sehingga jumlah harta yang ada di tangan hamba pertama menjadi sepuluh talenta. Hamba kedua melakukan hal yang persis sama dengan hamba pertama. Jadi ia juga langsung pergi dan mengerjakan dua talenta yang dipercayakan kepadanya. Hasil yang diterima oleh hamba yang kedua juga sama dengan hamba yang pertama, ketika ia mengerjakan talenta yang dipercayakan kepadanya ia mendapatkan laba dua talenta dan jumlah harta yang ada di tangannya sekarang adalah empat talenta. 
Sementara hamba ketiga tidak pergi menjalankansatu talenta yang dipercayakan kepadanya. Sebaliknya ia pergi menggali lobang dan menyimpan yang itu di sana sehingga talenta itu tidak berlaba, jumlahnya tetap sama. Pada waktu tuannya datang, yang lain mengembalikan dua kali lipat, ia hanya mengembalikan sejumlah yang diberikan oleh tuannya semula. Ia justru memulainya dengan memberikan sebuah pembenaran atas apa yang sudah ia lakukan terhadap talenta yang dipercayakan kepadanya. Ia mengatakan bahwa ia tahu bahwa tuannya itu adalah seorang yang kejam. "Menuai di tempat di mana tuan tidak menabur, dan memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam."
(dikutip dari: Studi Alkitab)



Tambahan informasi, talenta itu sendiri merupakan ukuran jumlah uang yang sangat besar nilainya, yaitu 6000 dinar–dimana satu dinar merupakan upah pekerja harian dalam satu hari. Jadi bisa dibilang, hamba yang menerima satu talenta seharusnya bersyukur mendapatkan satu talenta. Jika menggunakan ukuran nilai uang sekarang, hamba itu mendapatkan bayaran Rp 74.000 x 6000 =Rp 444.000.000 (Di daerahku tinggal, upah seorang pegawai ialah Rp 2.200.000/bulan).

Lalu pada saat aku membacanya dengan seksama nas tersebut, aku merasa seperti hamba yang menerima satu talenta. Aku seringkali meremehkan talenta atau bakat yang diberikan Tuhan padaku– ambil kata menulis. Aku menganggap, bakat menulisku ini bukanlah bakat yang seistimewa bakat menyanyi, bakat melukis, bakat mendesain program komputer, ataupun bakat di bidang olahraga. Sehingga aku jadi malas untuk mengasahnya lebih lanjut. 

Padahal setelah kurenungkan, semua bakat sama berharganya di mata Tuhan. Saat kita dipercayakan satu talenta atau bakat oleh Tuhan, sudah seharusnyalah aku mengerjakan dan mengasahnya agar suatu saat bisa diberikan tanggung jawab dalam hal-hal yang lebih besar. Apalagi kenyataannya, walau terkesan remeh (untuk orang Indonesia), sebetulnya banyak penulis yang tulisannya malah jadi menginspirasi banyak orang. Malah banyak kan penulis yang bisa sama agungnya dengan profesi-profesi lainnya.  Tak hanya menulis juga, tapi semua hal yang kita rasa itu sebagai sebuah bakat atau talenta, yah sudah seharusnya kita asah dan kembangkan. Apapun itu. Itu karunia yang sudah diberikan Tuhan. Tak baik untuk disia-siakan.

Gara-gara bahasan soal bakat ini, aku mendadak jadi teringat kembali pada hasil obrolan via BBM dengan salah seorang sahabat pena jaman SD. Kalau dibilang setuju sih, fifty-fifty yah. Aku setuju di bagian dia menyinggung soal malas untuk mengeksplorasi. Di sisi lain, aku juga kurang setuju. Bukan kurang malah, tapi tidak setuju sama sekali. Bagaimanapun, aku percaya, tiap manusia itu sudah diberikan beberapa bakat oleh Tuhan. Sama seperti saat kita berulang-tahun dan menerima kado, bukankah Tuhan akan sangat senang sekali saat kita benar-benar memanfaatkan kado (baca: bakat) yang Dia berikan?

Masalah malas mengeksplorasi, itu soal lain kali yah. Yang terpenting di sini, kita wajib menyadari dan mengakui dulu bakat yang sudah diberikan Tuhan pada kita. Dan bagaimana cara menyadarinya? Gampang sebetulnya. Tahu passion kan? Nah saat kita melakukan sesuatu dan merasa nyaman, coba kita renungkan baik-baik, apakah saat kita melakukan hal itu telah membuat diri kita jadi terasa berbeda dengan orang lain? Terus, apakah kemampuan kita dalam melakukan hal itu terasa istimewa atau biasakah? Nah, untuk menyadari hal itu, untuk menyadari bakat kita itu, kita perlu orang lain. Jangan pernah anggap remeh kata-kata orang lain seperti: "Eh menurut gue, lu itu ada bakat ngegambar deh,"

Jangan, sekali lagi, jangan pernah sepelekan anggapan orang soal diri kita, terutama soal bakat yang kita miliki. Disadari atau tidak, terkadang bakat itulah yang membuat hidup kita jadi lebih terasa greget. Kebayang dong, andai kata manusia itu tidak memiliki bakat. Monoton kurasa. Bakat itu juga merupakan salah satu yang sudah membedakan manusia satu dengan lainnya. Dan, kembali ke soal Tuhan dan kado itu, tidak bisa tidak, kita harus mengakui bakat kita setelah menyadarinya. Kebayang juga dong, betapa sakitnya diri kita saat kita memberikan kado ke teman, eh si teman itu malah tidak mempedulikan pemberian kita. Sakitnya tuh di pantat! >_<

Lalu, sama seperti si penerima kado kita itu, seharusnya yang kita lakukan itu ialah menerima dan mengakui dulu keberadaan kado berupa bakat itu. Berterimakasih pada Tuhan karena sudah diberikan karunia untuk menyanyi. Bersyukur karena Tuhan berbaik hati, sehingga kita bisa jalan koprol sejauh dua kilometer. Itu langkah pertamanya.

Langkah kedua, tergantung kita juga, mau diasah atau tidak? Tapi sebaiknya, saranku sih, kita wajib mengasahnya. Syukur-syukur kita bisa menggunakan bakat kita itu demi kepentingan sesama. Itu Tuhan senang banget. Sama seperti kita kasih kado ke teman, terus si teman bilang bahwa kado kita itu sangat berguna untuk kehidupannya. Bahagia banget kan, kita dengarnya? Begitupun dengan Tuhan. Sayang, tahu, dikasih kado, eh malah dibiarkan begitu saja di ujung kamar (atau disimpan dalam lemari). Kalau yang kasih tahu, dia pasti bakal kecewa dan mungkin tak akan pernah lagi memberikan kita kado. Kita juga pasti sama kalau berada di posisi itu. Sakit saat pemberian kita itu disia-siakan. Apalagi Tuhan yang sudah menganugerahkan kita bakat-bakat tertentu.

Langkah selanjutnya: terus diasah, terus dieksplorasi, dan jangan lupa selalu bersyukur untuk tiap hasil yang kita terima dari bakat tersebut. Jangan sombong juga. Omong-omong, bedakan juga antara sombong dengan unjuk kemampuan. Unjuk kemampuan itu penting. Bagaimanapun, setelah kita asah, rasa-rasanya sayang juga kalau hanya kita yang tahu kemampuan kita dalam suatu hal. Percuma diasah kalau orang lain juga tak merasakan sesuatu. Bagaimana juga orang bisa tahu sudah sejauh mana kemampuan kita kalau tidak ditunjukkan?

Sementara kalau sombong, kita masih dalam level satu, tapi sudah berlagak berada di tiga level di atasnya. Orang lain yang jadi saingan kita itu malah kita remehkan. Selanjutnya, saking merasa sudah merasa dewa sekali, kita jadi malas untuk mengeksplorasi lebih lanjut. Nah yang seperti itulah yang wajib kita hindari. Kita juga harus tahu diri. Bakat kita itu kan pemberian Tuhan. Sadar dirilah kalau suatu saat Tuhan mengambil kembali bakat tersebut. Contoh, kita punya bakat akting, terus suatu saat karena kesombongan, kita diberikan penyakit demensia. Beuh!

 Terus...

...sebetulnya, menulis seperti ini sih, tak ada maksud menggurui. Hanya ingin berbagi saja. Hanya mau tukar pikiran soal pertanyaan yang jadi judul artikel ini. Yang jawabannya itu: boleh banget, malah harus pula. Kenapa harus? Yah karena, percaya deh, bakat yang kita miliki itu pemberian Tuhan. Soal mengasahnya itu nanti dulu. Kita kesampingkan soal itu. Karena mungkin juga kita merasa bakat itu biasa saja. Sehingga kita tidak harus mengasah, apalagi mengeksplorasinya. Yang terutama itu, kita wajib menerima dan mengakui dulu. Itu dulu. Seiring berjalannya waktu, akan timbul dalam diri kita sendiri untuk mengasah dan mengeksplorasi bakat kita tersebut. That's all!

Tapi...

...bicara soal bakat, aku suka terkesima sama beberapa orang yang suka bilang begini: "Ah gue sih enggak ngerasa berbakat. Gue ngelakuin ini cuma karena gue demen aja. Gue ngerasa nyaman aja ngelakuinnya. Enggak bisa hidup gue kalau enggak ngelakuinnya."

Errr...

Sumpah dengar kata-kata seperti itu, terasa menampar pipi sekali. Dilihat baik-baik dari kata-katanya, orang itu memang sudah sadar dan mengakui bakatnya, tapi masih bisa tetap rendah hati (Bedakan dengan rendah diri yah). Hebat nian orang seperti itu!

Anyway, ada kata-kata bagus yang kudapat dari seorang teman blogger. Begini kata-katanya, dan anggap saja sebagai penutup.

"Kadang merasa rendah diri juga karena kita tinggi hati. Merasa harus dihargai, tapi enggak merasa diberi penghargaan yang layak, sehingga enggak merasa layak. Ujung-ujungnya bisa minder karena enggak tercapai sesuai keinginan. Alhasil bikin diri jadi capek juga. Jadi baiknya lakukan karena kita merasa harus. Jangan banding-bandingin sama pencapaian orang lain." - Melisa Yulia Kristin

Bahas soal ini juga, aku jadi teringat soal seorang teman blogger yang lain. Sekarang orangnya sudah jadi novelis hebat yang mana karya pertamanya langsung meledak. Aku ingat, dia sendiri memang sudah merasa memiliki bakat dan tampak begitu serius sekali dengan satu mimpinya. Saking seriusnya, tak masalah betapa ribetnya PKL yang dijalani, ia tetap melakoni sesuatu yang bisa membuatnya mencapai mimpinya itu. Hasilnya terlihat memang. Novelnya... BOOOOOOOM!!!!! Dan ia masih tetap rendah hati. Salut!

Penasaran dengan namanya? Namanya itu Alvi Syahrin. Dan aku beruntung bisa mengenalnya secara cukup lebih dekat (Apalagi kami dulu cukup sering saling blogwalking) sebelum dia setenar itu sebagai seorang novelis. Good job, Alvi, mimpimu terkabul. Keep it up! And you know, you are my inspiration. Enggak sia-sia kamu sampai mengeluarkan effort mati-matian demi novel "Dilema" itu.