Monday, April 13, 2015

Jangan Usik Zona Privasiku!



Tak terasa sudah lama sekali aku melepaskan masa lajang status mahasiswa. Sudah tiga tahun berlalu sejak merasakan kedahsyatan dalam ruangan Jakarta Convention Center. Memang benar, sangat sesuatu mengenakan toga itu. Apalagi sambil berjalan ke mimbar. Rasanya sama seperti sepasang mempelai berjalan menuju altar untuk mengukuhkan janji sehidup-semati mereka. Rasa-rasanya seperti itu. 








Eh sebentar, kenapa jadi membicarakan pernikahan sih? Pasangan saja belum punya. Mau nikah sama siapa? Nikah sama kucing tetangga yang mirip Jessica Veranda? Ya kali ada kucing yang mirip Jessica Veranda. Kalau ada, sebentar lagi pet shop bakal didatangi banyak orang. Dan aku mungkin berada di urutan terdepan sebagai calon pembelinya. Walau jatuhnya ngeri sih. Ntu kucing atau siluman kucing? Bisa-bisanya mirip sama Jessica Veranda. Sekalian saja mirip sama my baby hunny bunny sweetie strawberry Shania Junianatha.

Shania cantik banget yah?!
Ha-ha-ha. Abaikan. Intermeso sedikit-lah. Oke balik lagi ke soal wisuda. 






Bicara soal upacara wisuda yang berlangsung cukup membosankan, aku teringat suatu obrolan dengan beberapa teman. Dengan Aji dan Tyo. Oke ralat, aku tak terlibat secara langsung. Tepatnya aku hanya jadi pendengar yang baik bagi Aji dan Tyo yang asyik ngomongin soal pekerjaan. Aji sudah dapat pekerjaan sebelum wisuda; dan ke sanalah obrolan berlangsung. Tapi memang rasa-rasanya membosankan jika hanya mendengarkan saja. Keluar celetukanku, "Memang gaji di sana berapa?" Aji tak menjawab. Dari wajahnya, ia terlihat enggan untuk mengumbar. Tyo langsung berkata, "Nggak baik, Wel, nanyain soal gaji begitu. Nggak etis. Privasi banget soalnya itu."

Awalnya rada jengah juga. Sempat pula berpikir yang bukan-bukan. Seperti kenapa orang Indonesia itu begitu malunya bicara soal gaji dan penghasilan. Tapi aku urung. Aku pun tak mau bikin perhatian segenap wisudawan-wisudawati jadi teralih padaku. Dan...

...dan scene pun beralih. 

Pindah ke dalam sebuah angkot--dalam perjalanan menuju sebuah kursus menyetir mobil. Iseng dalam angkot, aku buka ponsel. Buka browser. Scrolling Twitter. Dan tertarik pada akun seorang penulis ternama. Biar yang baca tak cengengesan, kita inisialkan jadi IN. Pada IN inilah, aku berikan sebuah mention yang intinya bertanya soal pekerjaan dan kegiatan yang dia lakukan sekarang ini. IN sama sekali tak balas mention. Lagi-lagi aku senewen. Aku pun tak paham mengapa. Hingga akhirnya...

...sebelas april dua ribu lima belas...


Inilah hebatnya Shania! Lagi ekspresinya kayak gini aja, dia masih kelihatan cantik!
Well, itulah tanggal, bulan, dan tahun di mana 'ku sadar mengenai yang namanya privasi. Tahu kan soal privasi. Tiap orang punya privasi, yang mana mereka tak mau privasinya diusik. Sehingga privasi itu tak hanya mutlak milik kaum selebritas saja. 







Di tanggal-bulan-dan-tahun itulah, aku datang untuk memenuhi undangan traktiran seorang teman di sebuah mal yang ada di bilangan Jakarta Selatan. Sembari makan, aku dan dua orang teman sibuk ngalor-ngidul--yang sebagian besar obrolan itu soal bisnis dan pekerjaan dua orang temanku itu yang kerja kantoran. Tak disangka, obrolan seperti itu cukup membunuh waktu. Tak terasa sudah jam setengah lima sore. Klimaksnya, salah satu teman iseng bertanya soal pekerjaanku--yang mana kujawab aku ini penulis lepas. Aku sih tak masalah menjawabnya. Yang jadi masalah itu reaksi si teman yang cukup bikin aku tersinggung. Seperti melecehkan dan membanggakan sekali kehidupannya. Belum lagi, saat sudah di rumah, teman yang lain itu mengirimi aku BBM, yang mana isinya itu sudah  mengusik zona privasiku. Kalian tahu, rasanya itu seperti dijejelin sesuatu yang menjijikan saat ada yang mengusik privasi kita. Itu juga sama rasanya dengan saat kita tengah diperbincangkan di belakang kita. Itulah rasanya, kalau bisa kubilang. Dan aku baru menyadari itu sekarang-sekarang ini. Yah aku sadar pentingnya menjaga sisi privasi seseorang. Sangat menyebalkan jika ada seseorang yang begitu sangat keterlaluan mencampuri kehidupan kita lebih jauh lagi. That's really so annoying!

Gara-gara peristiwa dengan dua orang temanku itu juga, aku makin paham mengapa serasa dikacangin oleh Tyo, Aji, dan si penulis itu--IN maksudnya; ditambah lagi dengan kasus "Jancuker" ini. Aku paham mengapa mereka tak mau menjawab. Yah karena pertanyaanku itu sudah mengusik zona privasi mereka. Alhasil mereka enggan untuk menjawabnya. Saat zona itu sudah diganggu, sulit memang untuk bisa menanggapinya dengan positif. Karena itu pasti kan berhubungan dengan bagaimana orang itu berpikir. Dan isi otak tiap orang juga berbeda-beda. Pastinya juga yang bersangkutan enggan untuk dihakimi karena memiliki pemikiran yang berbeda, apalagi yang soal pandangan atau prinsip hidup. 

Omong-omong, yang masuk zona privasi itu apa saja sih? Yah segala hal yang kita rasa itu yang sifatnya sangat pribadi dari seseorang. Yang mana jika itu diumbar akan terjadi pergunjingan yang tiada habisnya. Itu bisa soal masalah agama atau keyakinan. Bisa pula soal pekerjaan dan gaji. Atau pun bisa soal aktivitas sehari-hari. Soal status menikah atau lajang juga bisa masuk ranah privasi. Termasuk pula soal orientasi seksual. Belum lagi soal prinsip hidup seseorang. Itu sih sudah mutlak masuk zona privasi.

Kita sendiri secara tidak sengaja seringkali mengusik zona privasi seseorang. Mungkin berupa pertanyaan. Atau bisa jadi berupa reaksi kita saat yang bersangkutan tak keberatan untuk membicarakannya. Sama seperti aku yang kesal dengan temanku itu yang memasang ekspresi menyebalkan--yang amat sangat bikin tersinggung sekali. 

Aku rasa, mau di negara mana pun sama saja. Yang namanya diusik zona privasinya, tak sedikit yang merasa terganggu. Sebab zona privasi itu merupakan suatu zona di mana seseorang merasa nyaman menjadi dirinya sendiri sepenuhnya. Dengan berada di dalam zona privasi, seseorang itu sudah merasa dirinya manusia seutuhnya. Apabila orang itu tak keberatan ada orang lain yang masuk, bisa dipastikan orang itu cukup spesial. Mungkin seseorang itu kekasih, istri/suami, orangtua, sahabat, atau sebagai sesuatu yang mana orang itu tak keberatan diusik untuk berbagi ruang di zona privasi. Walaupun begitu, kita juga harus sadar diri. Meski sudah diijinkan masuk, kita tetap tak boleh berlebihan mencampuri urusan pribadinya. Cukup tahu diri saja. Kita harus bisa menghargai statusnya itu sebagai seorang ciptaan Tuhan yang paling mulia (baca: manusia). Jangan sekali-kali menghakimi apalagi melecehkan. 

Sebab zona privasi itulah yang membuat seseorang jadi merasa seperti seorang manusia. Bayangkan kalau ada orang yang tak memiliki zona privasi. Bisa dibayangkan, orang itu seperti robot. Apalagi zona privasi itu juga berkaitan dengan kehendak bebas (free will). Untuk berkehendak, seseorang harus memiliki pemikiran atau pandangan sendiri. Jadi seperti sebuah robot, bukan--jika ada orang yang tak memiliki zona privasi? Yang kerjanya hanya manggut-manggut jika orang lain berkata apa dan menyuruh apa. 

Kesimpulan dari semua kesimpulan, jangan pernah usik zona privasi seseorang. Usik di sini maksudnya... yah kalau tak diijinkan masuk, yah jangan ngotot untuk masuk, apalagi sampai kelewatan ikut campur. Yuk, jaga zona privasi tiap orang!