Saturday, March 7, 2015

ONE STORY ONE PHOTO: Rumah Hantu Buron



Genre: Thriller


[Gary]

Hatsyiii!

Aku bersin sebanyak yang aku bisa. Padahal sudah kubersihkan berapa kali, tetap saja rumah tua ini selalu berdebu. Tapi tak mengapa, aku harus bisa bertahan. Bukankah itu yang kumau?

Dengan dibiarkan berdebu, rumah ini jadi terkesan angker. Pasti banyak warga yang menghindar. Tak ada curiga kalau di dalamnya itu ada buronan kelas kakap. Ditambah lagi, pagar depan rumah yang sudah sekian lama tak berpenghuni ini memang begitu antik. Antik mungkin bukan kata yang tepat. Tapi pagar itu membuat rumah ini jadi seperti misterius, alih-alih berhantu. Belum lagi halaman rumah ini yang cukup rimbun dipandangi mata. Tak terawat. Sudah berapa tak ada tukang kebun yang membenahinya? Sudah berapa lama pula tak ada yang berminat membeli atau membuldoser rumah ini? 




Dokumentasi pribadi.





Yah aku Gary, napi yang kabur dari masa tahanan selama dua puluh tahun karena kasus pembunuhan berencana.

Aku sudah biasa mengakhiri hidup sesamaku. Saking terbiasanya, aku mulai merasa ini malaikat maut. Biasanya juga aku membunuh demi uang. Satu nyawa seringkali kuganjar dengan tarif dua juta sekali eksekusi. Cara eksekusi tergantung padaku. Klien sebaiknya tutup mulut. Mereka tenang saja. Musuh atau rival mereka pasti akan kuhabisi. Tak kurang dari satu minggu. Jangankan satu minggu, kurang dari dua puluh empat jam, orang itu--selama berada dalam radar--pasti mati. Reputasiku kan sudah kondang. Gary the Ripper.

Sayang, aku harus mengalami nasib apes ini. Biasanya aku selalu dinaungi dewi fortuna. Tapi kemana dewiku yang cantik itu? Akibat tak ada dirinya, aku harus mendekam di balik jeruji. Persetan!

Aku muak di dalam sana. Aku jengah harus berbagi kamar dengan sembilan--bahkan hingga dua puluh--orang sekaligus. Jijik aku dengan kelakuan satu-dua orang dengan orientasi tertentu.

Benar kata guru PPKN-ku silam. Penjara itu sungguh bak hutan rimba yang sesungguhnya. Hukum rimba berlaku di sini. Senioritas begitu kental. Yang kuat, yang sepuh,... mereka yang berkuasa. Padahal aku ini Gary the Ripper, tapi harus menghamba ke seorang juragan ganja yang sudah dipenjara sekian tahun, dan menunggu eksekusi.

Cih. Jijik aku sama orang-orang seperti itu. Seharusnya, sudah tahu mau dieksekusi, mereka insaf diri. Lebih sering berada di tempat ibadah. Di lingkungan lapas ini kan ada masjid, gereja, dan kuil, bukan?

Sudah begitu masakan di penjara tak enak. Bosan aku sama tahu, tempe, telur, atau buncis. Padahal aku lebih sering makan steik, kaviar, pasta, atau tiramisu.

Itulah mengapa aku memilih untuk kabur. Kalian tahu, tak sulit untuk kabur. Dari jam tujuh hingga jam enam, tahanan dibebaskan dari sel dan berkeliaran di lingkungan lapas, namun tetap dalam pengawasan sipir. Di atas pukul enam petang, harus masuk sel kembali. Nah, biasanya pengawasan agak lemah jika sudah memasuki jam delapan. Mendekati tengah malam, sipir tak terlalu mengawasi. Di situlah kesempatanku.

Hei, lihat. 

Anak-anak itu, ckck. Besar juga nyali mereka. Bukannya menjauh--seperti kebanyakan orang dewasa lainnya, mereka malah semakin beringsut. Satu-dua dari mereka mencoba untuk masuk pula. Ini harus kutakut-takuti. Bisa gawat kalau mereka tahu ada penghuninya, apalagi itu seorang buronan. 

Satu...

Dua...

Tiga...

"Rawrrr.... Aaurrrghh... Grrr... Aarrrgh... menjauhlah, menjauhlah... pergi, pergi..." desisku dengan volume yang cukup tersampaikan ke kuping kecil mereka. Tapi sepertinya masih kurang. Kutendang-tendang apa yang bisa ditendang. Kubanting barang-barang yang ada. Pokoknya, intinya, aku harus bisa menciptakan suasana seram. Beberapa kali kumati-hidupkan lampu; untung lampu-lampu yang ada masih cukup terawat sekali walau sudah ditinggal lebih dari satu dekade. 

Dan lihat...

Beberapa dari mereka terbirit-birit. Tunggang langgang. Itulah yang aku harapkan. Tapi sialnya, satu-dua anak tetap membandel. Mereka tetap di posisi semula sembari berusaha merangsek masuk. Berengsek! 

Ah aku ingat. Di kamar itu kan, ada lemari pakaian yang mana ada beberapa yang bisa kugunakan untuk menakut-nakuti mereka. Tersaruk-saruk aku menuju kamar lantai dua. Tentu saja dengan suara seberisik mungkin. 

*****

Ingat pepatah kan, jangan sekali-kali menilai buku dari kavernya. Jangan pernah menghakimi seseorang hanya dari penampilan luar. Hal itu bisa juga diterapkan pada Gary Sanjaya, seseorang yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran. 

Tak ada yang menyangka orang dengan wajah semulus itu (nyaris tanpa jenggot, kumis, jerawat, hingga kutil) ternyata berprofesi sebagai pembunuh bayaran. Dandanan sehari-hari pun tak menyiratkan Sehari-hari hanya berkaus oblong dan bercelana jins belel. Bukankah di film-film, jarang sekali ada pembunuh bayaran terlihat se-dandy itu?

Bagaimana awalnya seorang Gary bisa menjadi pembunuh bayaran? Tak jelas juga. Yang utamanya, awalnya dia bekerja sebagai seorang bodyguard untuk tokoh penting--seorang bankir. Sebab posisi si bankir cukup istimewa sehingga banyak yang mengincar, bosnya itu ketar-ketir; selalu saja ketakutan kalau ada yang berniat membunuhnya. Memang yah, kita tidak boleh mengucapkan permohonan saat kalut. Jatuhnya permohonan kita itu jadi bertendensi negatif. Itulah juga kenapa si bankir nyeleneh meminta Gary untuk mengatasi ketakutannya dengan segala cara. Terbersit di pikiran Gary untuk menghabisi setiap orang yang berkeinginan untuk merebut posisi. Satu persatu dihilangkan nyawanya. Diracuni, ditembak secara misterius, atau diculik untuk dihabisi di suatu tempat. Si bankir itu senang, Gary pun senang. Ini simbiosis mutualisme yang negatif. 

Sejak itulah, Gary mulai merasakan sesuatu hal yang menyenangkan. Ia mulai merasa betapa membakar adrenalin saat dirinya menarik pelatuk, menusuk hingga tewas, atau menunggu reaksi racun bekerja di dalam tubuh sang korban. Kenikmatannya tiada tara. Apalagi, yang jauh lebih menyenangkan, dirinya dibayar. Tak tanggung-tanggung, besar pula bayarannya. Lebih besar daripada saat masih jadi bodyguard. Bayangkan, sekali nyawa menghilang, dua juta masuk kantong. Semakin tinggi status korban, semakin besar pula bayarannya. Total korban: 95 orang.

Sembilan puluh lima orang yah, gumamnya cengar-cengir menakutkan. Bukankah akan jadi suatu rekor jika Gary bisa menghabiskan seratus orang? Mungkin dirinya bisa masuk Guiness Book. Ia tergelak sebelum beraksi menghabisi nyawa politikus yang kelak akan mengantarkannya ke dalam bui untuk kali pertama. 

Politikus yang Gary ingin bunuh ini termasuk politikus favorit masyarakat. Tipe seseorang yang sungguh merepotkan bagi pebisnis-pebisnis hitam. Para penjahat kelas kakap sudah ketar-ketir jika politikus itu terpilih. Mungkin orang itu bisa merusak hegemoni yang sudah terbangun sejak lama. Kenyamanan para penjahat kelas kakap serta pebisnis hitam bisa terganggu. Makanya orang seperti itu harus dilenyapkan. Tak ayal, beberapa orang pebisnis--yang salah satunya juga ada rival si politikus--langsung menyewa jasa Gary. Bayaran oke, Gary bertindak. 

Dengar-dengar, si politikus ini teramat sulit didekati. Orang itu sungguh tipe yang hampir menuju ke seorang rohaniawan. Cukup suci, sampai-sampai mungkin orang itu tak sudi masuk ke sebuah klub malam. Hotel yang dipilih pun tak mungkin hotel kelas melati, yang mana bisa seenak perut membawa masuk perempuan yang selalu bergonta-ganti. Gary mulai berpikir keras. 

Aha! Gary ketemu cara melenyapkan si politikus. Bagaimana kalau dia melamar jadi sopir pribadi si politikus muda? Dari artikel koran ini, si politikus tak sengaja mencurahkan isi hati untuk memiliki sopir pribadi. Kalau tak salah, si politikus tinggal tak jauh dari apartemennya. 

Sekonyong-konyong Gary bergerak. Ia ubah penampilan dan identitas. Namanya kini Sujarwo. Ia berangkat menuju kediaman si politikus. Cukup lama prosesnya. Walau untuk posisi sopir, wawancara tetap harus ada. Ternyata si politikus tak benar-benar polos. Dua jam sudah, ia sudah bisa bekerja menyetiri si politikus ke mana pun dimau. 

Lagi-lagi si politikus cukup awas. Sudah seminggu bekerja, Gary masih kesulitan untuk menghabisi si politikus. Sampai akhirnya, datang juga kesempatan itu. Si politikus lengah. Mungkin karena melewati jadwal kampanye yang sungguh berat, bosnya itu tak memedulikan bahwa di minuman itu sudah Gary taruh racun sianida. Sejam-dua jam kemudian, pasti si politikus sudah kolaps. 

Namun sepertinya Gary salah pilih momen. Seharusnya jangan dilakukan di dalam mobil. Kalau racunnya bekerja, dirinya tak bisa mengelak. Mana ia lupa mengenakan sarung tangan. Bagaimana ia bisa menyingkirkan mayat si politikus? Mobil ini kan menuju rumah sederhana si politikus. Bodoh.

Bisa ditebak. Tak butuh waktu seminggu, Gary diringkus, diadili, lalu boleh tinggal di hotel prodeo. Sebetulnya ia sempat diajukan permohonan pengurangan hukuman jika menyebutkan siapa orang yang telah menyewanya. Namun ia tak mau menyebutkan. Itu bisa merusak reputasi dan akan mengurangi bayarannya di masa depan. 

*****

Dengan rambut sengaja diawut-awutkan, mengenakan jas kebesaran, bertopi caping usang, serta kedua kaki yang diusahakan tak menapak, aku mengacung-acungkan sebilah pisau seraya berteriak, "PERGIIIII!!!! PERGI KALIAN DARI SINIIII!!!" 

Kedua anak itu langsung ketakutan. Salah satu malah sempat terjatuh meringis. Aku tertawa melihatnya. Rasakan!

Tergesa-gesa aku masuk ke dalam. Bahaya juga kalau ada orang dewasa menyaksikan. Bisa-bisa kecurigaan menyeruak. 

*****

Tak butuh waktu lama, tim kepolisian berhasil membongkar siapa dalang sesungguhnya dari terbunuhnya sang politikus muda idaman segenap masyarakat tersebut. Tiga orang terendus--dari total kemungkinan yang terlibat itu lima belas. Satu dirty businessman, satu bandar, satu lagi politikus hitam. 

Tak gampang untuk membuat mereka duduk di kursi pesakitan. Kalian tahu kan, orang-orang itu seperti kancil, lihai sekali mengelak. Uang mereka segudang. Tak masalah untuk menyogok hakim dan jaksanya. Bahkan santer gosip terdengar, ada penyidik yang berhasil disuap. Penyidik itu pun diadili. 

*****

Bangsat!

Mungkinkah ini akhir dari karirku? Aku sama sekali tak menyangka persembunyianku terbongkar. Harusnya aku segera meninggalkan rumah tua setelah menakut-nakuti anak-anak badung tersebut. Benar kan instingku. Pasti akan ada orang dewasa yang melihat, lalu curiga. 

Dan sekarang... inilah nasibku sekarang. Kakiku setengah lumpuh akibat tembakan pistol aparat resek. Sempat kulukai tiga orang polisi yang berusaha meringkus, tapi tetap saja, mungkin ini memang betulan akhir dari karirku. Aku sungguh tamat. 

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^