Tuesday, March 24, 2015

ONE STORY ONE PHOTO: Masa Futuristik





Genre: Fantasi

Cerpen ini merupakan hasil remake dari sebuah cerbung yang pernah dipublikasikan di Immanuel's Notes sekitar tiga tahun lalu. Bagi pengikut setia, pasti merasa familier dengan alur ceritanya. =D



            Aku rasa, tiap manusia di sudut negara mana pun, selalu berhasrat untuk bisa mengunjungi masa depan. Melihat kehidupan mereka setelahnya adalah sebuah mimpi yang mungkin tak akan pernah terkabulkan. Bukan konon lagi. Tapi memang faktanya seperti itu.
            Teknologi mesin waktu memang terlalu ajaib untuk otak manusia sekarang-sekarang ini. Belum ada satu profesor mana pun yang bisa menciptakan mesin tersebut. Secanggih otak manusia menciptakan banyak hal, sepertinya Yang Maha Kuasa belum mengijinkan terciptanya mesin waktu. Bak kotak Pandora saja, yang saat dibuka, hal-hal buruk akan berhamburan.
            Aku beruntung, sungguh beruntung. Mungkin Tuhan sedang berbaik hati, sehingga memberikan kesempatan untuk melihat masa depanku sendiri. Terimakasih, Tuhan!
            Saat itu, aku tengah tidur siang. Rumahku sepi. Aku anak tunggal. Papi-Mami sedang pergi ke acara pernikahan salah seorang sanak. Segala pintu sudah dikunci. Aku tenang untuk berleha-leha di kamarku yang ada di lantai dua. Sebetulnya aku tidak berencana tidur. Rencana awal itu menghabiskan satu novel yang sangat cocok sebagai pengganjal pintu. Namun apa daya, tak sampai sepuluh halaman, aku terbuai oleh dewa mimpi. Antara alurnya yang membosankan, bukan cerita favorit, atau kesepian yang menyergap, yang jelas aku jadi tertidur.
            Namanya juga orang tidur, kesadarannya hilang, mana tahu soal waktu. Kalau aku Tuhan, mungkin saja bisa. Lagipula di kamar, tak ada jam dinding. Aku terbiasa mengecek waktu lewat ponsel.
            Ah, tapi mungkin sudah hampir dua jam terlelap. Mungkin selama waktu itulah, aku merasakan ada gempa. Anehnya, aku tidak histeris seperti biasanya. Aku cenderung biasa saja. Bahkan aku tidak syok sewaktu melihat dua orang berpakaian aneh berdiri di hadapanku. Dua orang? Oke aku ralat, kedua-duanya robot.  Dua robot itu mirip sekali dengan manusia. Mungkin mereka hasil dari kloning. Mungkin seperti itu. Itu dugaan awal—yang sampai sekarang tak akan pernah terpecahkan.
            Mungkin karena kupikir hanya mimpi, aku tak begitu ingat kata-kata mereka. Yang jelas, aku menurut saja dibawa mereka masuk ke dalam sebuah lubang hitam kecil. Dan di dalam lubang itu, ada sebuah mesin berbentuk bus kecil tanpa roda (namun bersayap kecil di kedua sisi). Mesin itu lalu membawaku (dan dua robot itu) ke sebuah masa.
            “Ada yang ingin menemuimu di suatu masa,” begitu kata salah satu robot yang seperti perempuan.
            Suatu masa? Pasti masa depan.
            Terkaanku betul. Mesin itu berhenti bergerak, lalu aku kembali keluar dari lubang hitam kecil itu. Di balik itu, ada sebuah ruangan. Seperti kamar. Interiornya bagus sekali. Begitu futuristik. Wow, aku di masa depan nih?
            Apa saja yang ada di ruangan ini segalanya berbau mesin. Mesinlah tenaga penggeraknya. Lampu  yang bisa menyala sendiri hanya dengan kau berucap saja. Televisi, radio, laptop,… segalanya berjalan hanya menggunakan sebilah remote control. Lihat juga lantainya. Dengan lantai seperti ini, aku tak perlu susah-susah melangkah.
            “Oh iya, kamu tunggu di sini saja dulu,” kata robot yang berbentuk laki-laki sekarang. Kemudian aku ditinggal sendirian saja. Sembari menunggu, mataku mendarat di sebuah buku elektronik yang tergeletak di atas meja terbang. Kusentuh buku itu, lalu terbentang layar hologram. Ada sebuah remaja laki-laki di dalamnya. Dia sepertinya sebaya denganku. Kurang lebih lima belas menit, hologram itu muncul, aku sadar satu hal. Mungkin buku elektronik itu semacam buku harian. Ya ampun, maafkan aku, Sob. Aku tak bermaksud mengintip isi dari buku harianmu. Berani sumpah!


Dokumentasi pribadi.



Senin, 10 Januari 2115
            
Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah setelah libur hampir tiga minggu. Hari pertama bersekolah di tahun 2115. Jujur sih, aku masih kepengin libur lagi. Aku masih mau bersantai-santai di rumah. Nggak perlu belajar lagi, nggak perlu mengerjakan PR yang bikin malas, dan satu lagi yang terpenting, nggak perlu ketemu Bernard, dkk yang menyebalkan.                                                                                                          

Bernard, Didi, Dodo, dan Dede itu selalu tak bosan-bosannya menggangguku. Bahkan mereka selalu menjodoh-jodohkanku dengan Steffy, si cewek yang buruk rupa itu. Iiih, amit-amit deh. Udah dekil, berkawat, bau pula. Iyuuuh…. Kenapa sih mereka nggak jodohin aku ke Becky. Daripada Steffy, Becky jauh lebih baik. Kulitnya putih, rambutnya panjang, dan muka bulenya itu. Pokoknya Becky jauh lebih baik lah dari Steffy.                                                                                                                                                        
Gara-gara empat orang berandalan tersebut lah, teman-teman sekelas jadi ikut-ikutan meledekku pacar Steffy, termasuk Becky sendiri. Steffy-nya sendiri  sih malah kege-eran. Kesenangan dia. Itu bukti kalau aku memang ganteng mungkin kali yah. Tapi kalau seperti itu, kenapa Becky tak pernah melirikku? Mana cewek seperti Steffy lagi yang menyadari potensi ketampananku. Hu-uh! Siapa sih yang bikin gosip nggak jelas seperti itu? Ada asap, pasti ada api kan? Kalau saja aku tahu siapa orang tersebut, lihat saja pembalasanku.                                                            


                                                                Rabu, 12 Januari 2115
            
Hari ini kelasku kedatangan murid baru. Namanya Julian. Nama lengkapnya, Julian Haysmith. Dia datang dari Inggris, karena ayahnya dimutasi kerja ke Indonesia. Perawakan Julian cukup unik, walau menurut Bernard, aneh. Bernard bilang bahwa dengan bola mata berwarna biru dan rambut pirang keemasannya itu, Julian jadi terlihat seperti alien. Dan gara-gara ucapannya itu, Julian jadi diledek habis-habisan oleh teman-teman sekelas, kecuali olehku. Karena itulah juga, gengnya Bernard menjulukiku The Twin Weirdo. Si Kembar aneh.                                                                                                                           

Oh yah, Julian ini merupakan penggemar fanatiknya Naoki Chan. Itu lho tokoh animasi dari Jepang yang berbentuk seorang anak laki-laki yang rambutnya selalu berdiri seperti habis tersambar petir. Kotak pensilnya, buku-buku tulisnya, bahkan tasnya pun bergambar Naoki Chan. Katanya, di Inggris, tokoh Naoki Chan juga sama terkenalnya seperti di Indonesia.Wah nambah satu lagi deh, anak di sekolahku yang juga penggemarnya Naoki Chan, selain Toni, sahabat terbaikku yang beda kelas denganku.                                         
Yah walau menurut Bernard, dengan kita sudah menjadi siswa SMP, kita nggak layak lagi menggemari tokoh Naoki Chan. Dia bilang, selera kita kekanak-kanakan sama sekali. Katanya lagi, harusnya kita tuh menggemari boyband Bird Boys yang katanya keren itu. Hu-uh! Menurutku, mereka nggak selayaknya mengatur-ngatur kita mau menyukai apa. Apalagi Bernard sendiri juga masih menyukai Rapunzel, tokoh animasi Disney yang berambut panjang. Hehehe.   

                                                            Kamis, 3 Februari 2115                                                                    
Hari ini Pak Gary, Guru Kesenianku mengadakan tugas kelompok di kelasku. Kali ini tugasnya ialah tugas tata boga. Tiap kelompok diwajibkan untuk membuat sebuah masakan yang nantinya dipilihkan. Dan aku kebetulan sekali masuk ke dalam kelompok yang di dalamnya ada Steffy, Dodo, Dede, dan Julian. Untungnya ada Julian. Wah kalau nggak aku bakal di-bully habis-habisan sama Dodo dan Dede yang merupakan antek-anteknya Bernard.                                                                                                                    
Oh yah, kelompokku mendapatkan tugas dari Pak Gary untuk bikin perkedel dan Steffy berteriak kegirangan di dalamnya. Idih, dasar gadis aneh! Dan minggu depan, setiap kelompok harus sudah praktek di depan kelas. Lengkap dengan alat masak beserta kompornya.Tadinya aku bingung dengan kompornya. Siapa coba yang bersedia bawa kompor yang beratnya tak kira-kira itu ke sekolah? Tapi Steffy bilang dialah yang akan bawa kompornya. Kebetulan dia punya kompor minyak tanah. Astaga! Di jaman seperti ini, masih adakah yang menggunakan kompor minyak tanah di rumahnya. Dia benar-benar gadis aneh.                       
Tambah anehnya pula, tanpa minta persetujuan, dia mulai mengatur-ngatur aku dan lainnya. Aku disuruh mencari resep perkedelnya di internet (Emang ada?) sendirian. Sisanya, Dodo, Dede, dan Julian hanya disuruh menyerahkan sejumlah uang sebagai modal membeli bahan-bahannya. Aduh, kenapa aku yang dapat tugas seberat ini? Kenapa nggak si Dede atau Dodo saja yang disuruhnya mencari resep? Waktu kutanya alasannya, dia bilang, “Kan kamu doang yang paling cerdas di kelas.” sambil matanya memandang genit padaku. Iih, apa lagi si aneh ini? Perasaan juara kelasnya kan si Guneydi. Aku kan hanya peringkat kelima waktu pembagian raport.                                               

                                                Minggu, 6 Februari 2115                                                                                    
Ah sialan. Aku dikerjain Steffy. Rupanya tak ada satupun dari Dede, Dodo, maupun Julian yang datang. Waktu aku ke rumahnya sekitar jam satu siang, dia bilang padaku kalau ia lupa memberitahukan mereka bertiga. Namun aku tak bisa dibohongi begitu saja. Hu-uh!                                                                         

Tadinya aku berniat pulang saja. Tapi entah kenapa sepertinya hatiku menyuruhku untuk tetap berada di rumahnya Steffy. Sehingga aku harus berada di rumahnya hingga pukul 16.00. Aku tak menyangka rupanya memasak itu suatu kegiatan yang lumayan merepotkan. Apalagi tambah merepotkannya pula, Steffy menggodaku beberapa kali. Berkali-kali ia mengolesi pipiku dengan tepung terigu, Atau pada saat ia menjatuhkan sebutir telur persis di telapak kakiku. Bersyukur aku bisa baca pikiran dan tahu kalau itu semua taktik untuk mendapatkan perhatianku. Jadinya aku hanya bersikap cool saja dan sedikit sikap ketus. Kalau aku marah, ia bisa saja mengiranya itu sebagai bentuk perhatian suka. Idih. Jangan harap yah.                               
Oh yah, sepulangnya aku dari rumahnya Steffy, kedua orangtuaku membelikanku dan adikku sekotak pizza.  Ihiy, pizza, pizza. I love pizza! :D

                                                Kamis, 10 Februari 2115                                                                  
Akhirnya, hari yang ditunggu pun tiba. Apesnya, kelompokku mendapatkan giliran pertama. Siap atau tidak siap, kami harus tetap tampil. Langsung saja aku dan anggota lainnya maju ke depan. Aku dan Julian mengatur beberapa meja yang akan dijadikan sebagai meja dapurnya. Kurang lebih ada lima meja yang dipakai. Dede dan Dodo disuruh oleh Steffy untuk membawakan beberapan bahan dan alat memasaknya ke depan kelas. Terutama Dede, yang dimintakan Steffy untuk  menghidupkan kompor minyak tanahnya. Sedangkan Dodo mendapatkan tugas untuk memotong tipis daun sop dan memisahkan putih telur dari kuning telurnya. Hahaha. Rasakan. Tugasku paling hanya menaruh panci ke atas kompor dan menuangkan sebotol air ke panci tersebut. Julian, kurasa, yang mendapatkan tugas paling enak. Dia nyaris tak mengerjakan apa-apa selain mengamati. Bagus.                                                                                                  
Tapi setidaknya itu yah selama proses memasaknya yang cukup lama. Kami butuh waktu dua puluh menit untuk memasaknya. Selanjutnya, Steffy menyuruh Julian untuk jadi pembicaranya yang memperkenalkan hasil masakan kami. Aku jadi kasihan, mengingat kemampuan bahasa Indonesianya Julian tak terlalu bagus. Atas dasar solidaritas sesama penyuka Naoki Chan, aku membantunya bicara.                              
Selanjutnya Pak Gary memberikan nilai 8 untuk kerja keras kami berlima. Beliau bilang nilai delapan itu lebih karena keinovasian kami yang berani mengembangkan dari apa yang diminta. Menurut beliau juga, kami kurang kompak. Ya iyalah, susah bagiku untuk kompak dengan orang-orang seperti Dodo, Dede, atau Steffy. Untung saja dapat delapan. Kalau saja dapat nilai enam atau lima, aku pasti akan menyesali selamanya tugas kelompokku ini beserta anggota-anggotanya.

                                                        Jumat, 11 Februari 2115                                                                 
Pagi ini kelasku heboh banget. Heboh ngeributin si Handi. Waktu kutanyakan hal ini ke Toni, dia bilang mereka meributkan Handi yang menanam cabe di halaman rumahnya. Ada-ada saja. Memang kenapa kalau si Handi menanam cabe? Tokh halaman rumahnya ini kan yang ditanami cabe. Tapi Bernard tiba-tiba melabrakku. Dia bilang, “Yah jelas aja heboh, cuy. Murid SMP elit kok nanam cabe di halaman rumahnya? Miskin amat.” Haha. Aku hanya nyengir saja mendengarnya. Justru menurutku bagus kalau ada anak seusiaku yang mau berkebun di halaman rumahnya. Lagipula cabe termasuk langka di jaman ini, selain hasil penjualannya yang bisa digunakan sebagai uang saku. Aku salut dengan apa yang dilakukan Handi tersebut. Kapan-kapan aku mau ke rumahnya ah. Aku mau melihat caranya dia berkebun cabe. 

Minggu, 13 Februari 2115
            
Kalau dua hari lalu, kelasku dihebohi dengan Handi dan Kebun Cabenya, gerejaku seolah tak mau kalah hebohnya. Karena pada saat kebaktian minggu tengah berlangsung, mendadak beberapa burung pipit datang masuk ke ruang kebaktian.                                                                                                                          

Sumpah yah, aku jarang-jarang lihat burung pipit. Di lingkungan rumahku nyaris tak pernah terlihat keberadaan burung yang satu ini. Mungkin ini kali yah salah satu dampak dari gejala global warning yang kata berita-berita di televisi itu sistemik. Selain masalah burung pipit ini, beberapa fauna yang kata ayahku berjumlah lumayan banyak, kini amat jarang ditemui. Contoh lainnya, cabenya si Handi. Gara-gara kelangkaan cabe, harga cabe sekarang adalah Rp 5000 per kilogramnya. Aduh, andai saja orang-orang jamannya ayah benar-benar menjaga lingkungannya, pasti keadaannya tak seperti ini. -_-
            
Oh iya, letak gerejaku adalah di dekat sebuah hutan kecil yang ada di Kebun Raya Bogor. Jadi wajar kan kalau sering didatangi sekumpulan burung di ruangan gerejanya. Yah meskipun wajar, burung-burung ini amat mengganggu sekali. Karena mereka tak hanya menyiul-nyiulkan suara indahnya, namun mereka juga mengeluarkan kotorannya. Beberapa jemaat terkena kotoran-kotorannya. Ada yang terkena di dahinya, ada yang terkena di rambut, bahkan ada yang di mulutnya. Hihihi. Itu karena orang tersebut sedang tidur dengan mulut menganga dan posisi kepala menengadah ke atas. Karena itulah pendeta dan majelis jemaatnya mengambil inisiatif untuk menghentikan kebaktiannya untuk mengusir burung-burung tersebut.
            
Lalu kehebohan pun terjadi. Segerombolan jemaat langsung keluar ruangan dengan wajah yang hampir kesemuanya bersungut-sungut. Aku dan teman-temanku yang sedang berada di gazebo dekat ruang kebaktian utamanya jadi tertawa dan nyengir-nyengir. Bayangkan saja sekumpulan burung pipit bisa menghentikan sebuah kebaktian. Ada-ada saja. :D


Senin, 14 Februari 2115
            Valentine, valentine, valentine. Entah kenapa orang-orang di sekolah heboh dengan kata ‘Valentine’ tersebut? Mayoritas anak lelaki gencar memberikan cokelat ke anak perempuan yang ditaksirnya. Begitupun sebaliknya. Anak-anak perempuan juga tak mau kalah. Bahkan di hari Valentine ini, banyak murid yang gencar melakukan pedekate ke yang ditaksirnya. Sialnya Becky, cewek yang kusukai di sekolah, ditembak dan dia mau. Tambah apesnya, kegenitan Steffy makin menjadi-jadi denganku. Aduh. Aku terpaksa berkali-kali menghindar darinya.
            Intinya, hari Valentine di sekolahku sepertinya bagaikan Hari Pacaran Nasional. Semua murid sepertinya ingin pacaran. Berlomba-lomba punya pacar. Padahal Valentine itu asal muasalnya terjadi  untuk memperingati meninggalnya seorang uskup Italia. Menurut ceritanya ayah, uskup tersebut dijebloskan ke penjara karena melawan Kaisar Romawi Claudius II yang melarang prajuritnya menikah. Tapi ada juga yang bilang kalau uskup tersebut dipenjara karena menolak menyembah dewa-dewa Romawi. Nah di dalam penjara, Valentine sering mengirimkan pesan-pesan yang berisikan ungkapan kasih sayang kepada sesama. Sebelum dipenggal, ia sempat menulis sepotong kalimat yang bertuliskan ‘from your valentine’ kepada puteri seorang sipir penjara yang berhasil disembuhkannya dari kebutaan. Begitu ceritanya. Yah jadi bisa dibilang Valentine itu suatu tradisi keagamaan di suatu negara, yang entah bagaimana ceritanya Indonesia bisa terkena dampaknya. Aneh. Lagipula untuk mempraktekan kasih sayang tak harus di hari Valentine saja kan?
            Oh yah, beruntung ibuku mengajak aku dan adikku jalan-jalan ke sebuah restoran mewah yang ada di Jakarta. Jadinya kan aku bisa melupakan patah hatiku sama Becky. Bersyukur pula tempatnya itu jauh dari kesan romantis. Musik yang dipasang juga bukan lagu-lagu yang bikin hati semakin tersayat. Aduh, kok malah galau yah?
            Tempat yang kudatangi itu terletak di lantai lima Indonesia Shopping Town dan tempat itu bernama Istana Pancake (Klasik sekali namanya; aku jadi seperti hidup di masa lampau saja!). Ibuku pergi ke sana dalam rangka acara reuni kampusnya. Reuni kecil-kecilan, kata ibu. Soalnya yang hadir juga tak semua mahasiswa seangkatannya. Hanya yang akrab-akrab saja. Hahaha. Ibu, ibu. Ada-ada saja.
            Tadinya aku juga di sana agak risih. Soalnya juga, nyaris tak ada anak yang sebaya denganku. Kebanyakan sebaya dengan adikku, Mario yang masih kelas 4 SD. Jadinya, aku terpaksa hanya bisa menghabiskan Waffle Sausage-ku, dan juga Lychee  Ice Tea-nya. Apalagi yang harus kulakukan selain makan dan makan? Mau ikut ngobrol, aku nggak ngerti apa yang mereka bicarakan. Obrolan mereka berputar-putar di topik ibu-ibu dan topik anak SD. Ingin sekali aku jalan-jalan, tapi ibu melarangku. Katanya, “Jangan kemana-mana. Nanti kamu nyasar. IST ini sangat berbeda dengan Bogor Plaza yang lebih kecil.” Padahal aku akan bukan anak-anak lagi. Aku sudah remaja, tahu! Ke-las-tu-juh!
            Oh yah, tadi ada salah satu temannya ibu yang memberikanku sebatang cokelat. Cokelat dari Swiss katanya. Ih wow. Akhirnya ada juga yang memberikanku cokelat di hari Valentine. Yah walaupun aku maunya yang memberikanku itu Becky. Sayang sekarang Becky sudah jadi pacar orang. Rasanya nggak etis mengharapkan cokelat dari pasangan orang lain. Tapi si Toni bilang padaku agar aku jangan putus asa begitu saja. Katanya, selama janur kuning melengkung belum ada di depan rumahnya, nggak boleh ada kata menyerah dalam memperjuangkan cinta. Aduh, basi sekali kata-katanya. Lagipula aku juga bukan pengemis cinta.Dan ayah juga bilang kalau sebaiknya aku lebih mengurusi sekolahku saja daripada mengurusi cinta. Belum saatnya, katanya. Tapi meskipun begitu, patah hati kan tetap patah hati. Patah hati karena Becky lebih memilih cowok lain daripadaku.
            Sudahlah, lupakan saja. Mending kita bahas cokelat Swiss-nya yang lumayan enak. Jauh lebih enak dari Aka-Coko atau Tobicioso. Kata tante yang kasih aku cokelat, cokelat tersebut harganya lumayan mahal. Satu batangnya itu seharga satu buah I-Pod. Wah tahu begitu, cokelatnya aku jadikan alat tukar saja buat mendapatkan I-Pod. Kan lumayan aku jadi punya dua I-Pod.

Selasa, 7 Maret 2115
            Akhirnya libur juga setelah sebulan lebih belajar, belajar, dan belajar. Aku patut bersyukur, sebabnya di libur lebaran ini, guru-guruku di SMA Cenderawasih Muda nyaris tak ada yang memberikan PR. Hanya satu guru saja, dan itu Ibu Olvi. Aaarghhh, kenapa sih guru judes itu nggak pernah memberikan kebahagiaan buat murid-muridnya? Nggak tanggung-tanggung, dia memberikan dua puluh soal Logaritma. Capeeee deeeh… -_-
            Oh yah, setelah libur lebaran telah memasuki hari kedua, aku jadi kangen dengan segala penganan di bulan puasa kemarin. Salah satunya, kolak. Penganan yang terdiri dari pisang rebus, ubi, dan singkong ini benar-benar penganan yang lumayan gurih. Nyaris di setiap ngabuburit, aku selalu membeli kolak. Ibuku sampai marah-marah karena aku selalu beli. Dia selalu bilang, “Kolak nggak bagus buat gigimu,” atau “Ibu nggak mau kamu jadi gendut.” Aduh, ibu! Buktinya sampai sekarang gigi-gigiku masih bagus dan berat badanku juga masih normal. Perutku juga nggak buncit seperti temanku, si Rizky. Untungnya ayah ada di pihakku. Menurutnya, anak seusiaku memang harus banyak makan. Demi pertumbuhan gizi yang baik, katanya. Asyik deh.
            Hari pertama libur lebaran, teman ayahku datang. Katanya, dia datang dari Afrika Selatan. Namanya Gregory Ayanna. Idih, kok buntutnya kayak perempuan yah namanya? Tapi katanya nama belakangnya itu berasal dari bahasa Afrika yang artinya bagus, sayang aku lupa.
            Oom Greggy ini datang ke rumah dengan membawa sedikit oleh-oleh. Bagian inilah yang kusuka apabila ada yang berkunjung ke rumah kami: Oleh-oleh. Aku dan adikku, Mario selalu bertengkar memperebutkan oleh-oleh dan itu selalu membuat ibuku mengeluarkan suara kencangnya lagi, yang mampu merobohkan satu gedung. Padahal ayah saja hanya geleng-geleng kepala reaksinya waktu melihat kami bertengkar. Dan oleh-oleh yang dibawakan Oom Greggy itu ialah roti goreng yang khas dari Afrika Selatan. Berbeda dari roti goreng yang sering kubeli di sekolah, roti goreng yang ini lebih empuk dan lebih gurih. Sayang Oom Novi hanya membawa satu kotak yang berisi dua puluh buah. Coba bawa dua atau lima kotak.

Rabu, 8 Maret 2115
            Hari ini ayah dan ibu mengajak aku dan Mario jalan-jalan ke Taman Safari. Sebetulnya aku rada bosan juga kalau harus pergi sana lagi. Bayangkan saja aku sudah mengunjungi tempat itu sepuluh kali sejak pertama kali mengunjunginya lima tahun lalu. Itu saat aku kelas dua. Aku sebetulnya lebih suka kalau diajak mengunjungi Dunia Fantasi, Pantai Anyer, atau Trans Studio di Bandung. Yah tapi ketimbang liburanku hanya di rumah saja, Taman Safari juga tak terlalu buruk kok.
            Jarak antara rumah ke sana sebetulnya juga cukup lumayan dekat. Dengan Suzukashii Emperor, lama tempuhnya hanya satu jam, yang bisa jadi dua jam karena segala jenis angkot terbang yang asyik ngetem. Sesampainya di sana, sudah jam sepuluh siang. Setelah membayar biaya masuknya yang sebesar Rp 125.000, aku dan keluargaku diperbolehkan masuk ke dalam Zona Satwa. Si Mario juga sempat ngambek. Dia merengek-rengek untuk bisa naik mobil yang didesain berbentuk gajah. Ayahku bilang kepadanya bahwa kendaraan tersebut hanya untuk para pengunjung yang tak membawa mobil terbang. Lagipula aku tak mau yah  duduk berimpit-impitan. Lebih suka naik mobil sendiri. Lebih lega duduknya. Tapi ayahku berjanji pada Mario akan mengijinkan dia naik gajah atau unta di Zona Sirkus.
            Di Zona Satwa, kami melihat aneka satwa. Mulai dari gajah, rusa, kancil, jerapah, hingga makhluk karnivora seperti macan, singa, atau serigala. Oh yah, di sana, aku sempat heran melihat kandang bekantan, monyet berhidung panjang dari Kalimantan yang merupakan maskot dari Dunia Fantasi itu. Kebanyakan binatang itu berpasangan dan ada juga yang bergerombol, namun fauna unik ini cuma sendirian. Kata petugas yang menjaganya, bekantan bernama Bernie ini merupakan satu-satunya di Indonesia dan usianya juga sudah tua. Di daerah asalnya, bekantan sudah nyaris tidak bisa ditemukan lagi. Tambah gawatnya lagi, Bernie adalah pejantan. Pasangan dan anak-anaknya sudah lama mati, sewaktu si Bernie masih hidup di kebun binatang lainnya. Kondisinya saat itu begitu mengenaskan. Apabila Bernie mati, hampir dipastikan sudah tak ada lagi bekantan lagi di Indonesia. Aku berdoa semoga Tuhan masih memberikan umur panjang pada Bernie. Yah walaupun Bernie tetap saja sendirian. Amat disayangkan binatang selucu ini punah.
            Di akhir petualangan ini, ayah menepati janjinya. Saat kami mengunjungi Zona Sirkus, Mario boleh naik gajah, walau dia akhirnya malah memilih naik unta. Katanya, dia serasa jadi ksatria padang pasir. Ada-ada saja. Biaya naik untanya itu sebesar Rp 25.000. Saat Mario naik unta, aku memimpikan aku sedang naik unta bersama Becky. Kami naik unta berdua di padang pasir dan sedang menuju ke sebuah istananya Aladdin. Hmm, sayangnya Becky sudah jadi pacarnya Jamie, anak kelas tiga itu. Becky, I don’t wanna waiting in vain for your love.

Kamis, 9 Maret 2115
            Berita duka. Tadi pagi aku menonton televisi dan disiarkan kabar bahwa Bernie mati. Dokter hewan setempat mengatakan bahwa kematiannya murni karena faktor usia. Itu artinya sudah tak ada bekantan lagi di Indonesia. Eh aku salah deh. Masih ada lima ekor lagi yang masih hidup. Namun mereka hidup di Pusat Primata yang ada di Ragunan, bukan di Taman Safari. Para ahli sedang mengusahakan agar bekantan yang tersisa dapat berkembangbiak. Meskipun ini bisa memakan waktu yang cukup lama, beberapa media dan masyarakat tentunya berharap pasangan bekantan yang ada bisa melahirkan dua atau tiga anak bekantan untuk menghindari kepunahan. Untuk itu juga, pemerintah, melalui Departemen Pariwisata, memberikan subsidi kepada pengelola Ragunan. Aku sih berharap bekantan tak seperti orang utan yang sudah punah lebih dahulu. Aku bahkan tahu orangutan dari buku sejarah kelas 5-ku. Sayang kan kalau generasi setelahku hanya bisa melihat bekantan dari buku sejarah saja.
            Pray  for bekantan. :’(


*****

            Hahaha….
            Ternyata anak di masa depan juga memiliki masalah yang sama dengan anak-anak di jamanku. Seratus tahun kemudian tak berbeda situasinya dengan jamanku. Bedanya mungkin, di masa anak yang namanya tak bisa kuingat, masa ini segalanya serba teknologi. Manusia amat dipermudahkan hidupnya. Namun, mungkin ini bagian dari konsekuensinya, lingkunganlah imbasnya. Sedih sekali melihat nasib orang-orang di masa depan yang menganggap cabai itu sesuatu yang mahal. Orangutan punah juga akhirnya di jaman ini. Bekantan bisa bertahan hingga tahun 2115. Menyedihkan yah? Ini cambukan untukku agar tidak semakin merusak lingkungan. Ternyata bukan pekerjaan sia-sia yang orang-orang itu terus kampanyekan di trotoar-trotoar.
            Sebetulnya aku ingin lebih mengetahui tahun 2115. Aku juga ingin lebih mengetahui apa motivasi dua robot itu menggotongku ke tahun tersebut. Sayang hanya itu serpihan-serpihan tahun 2115 yang bisa kuingat. Aku pun tak bisa ingat bagaimana aku bisa pulang. Apa mungkin aku pulang dengan cara yang sama dengan cara aku datang ke masa itu?
            Tak tahulah. Aku hanya bisa mengangkat bahu. Siapa anak dalam hologram itu? Apa motivasi kedua robot itu? Dan apa persisnya lokasi mereka membawaku? Aku sama sekali tak mendapatkan petunjuk.
            Nyatakah itu? Atau hanya sekadar kembang tidurku?


5 comments:

  1. Wuih terurut ceritanya, itu artinya kang ingatannya kuat, sebab itu mampu menguraikan secara sistematis.

    Semoga kenangannya membawa berkah dan manfaat ya, aamiin?

    ReplyDelete
  2. perkedel keluar lagi :) ada mesin waktu jadi ingat doraemon

    ReplyDelete
  3. Kata menggotong bisa diganti pakai bahasa baku kan ya, Nuel? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. Maksudnya? Ora mudeng saya, hahaha...

      Delete
  4. Thank a lot, all. Thank atas komentar-komentarnya. Thank juga buat yang silent reader. Dilihat dari trafiknya, berarti emang dibaca. Makasih. Jadi semangat nih nulisnya lagi. Matur nuwun.

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^