Sunday, March 8, 2015

ONE STORY ONE PHOTO: Harapan terkabul atau takdirkah?




Genre: Romance




Agar lebih memahami alurnya, mohon pembaca untuk membaca cerpen yang ini dahulu. Karena cerpen ini kelanjutan dari "Ketika Kesetiaan Mulai Langka"






Sketsa hasil buatan sendiri (yang dibuat dengan menggunakan aplikasi Paint yang ada di gawai alias gadget. =D






[Maria]


Dari awal, aku memang kurang menyukai pria ini. Pria yang menjadi suamiku maksudnya. Aku keberatan untuk dinikahinya.

Pria ini egois. Jauh lebih egois dari Morris--lelaki yang seharusnya kutunggu. Apa mungkin ini karma? Mungkinkah ini azab?

Morris tak seegois dirinya. Dia selalu mempersilahkan duduk perempuan yang butuh. Ia selalu datang dengan inisiatif sendiri untuk membantu. Morris bahkan tak pernah setidak-tidak-tahu-malu itu; tidak pernah memintaku untuk mengeluarkan uang demi melunasi sesuatu. Morris selalu berusaha menghapus noda saat lunch atau dinner.

Iya aku tahu. Aku tahu soal ungkapan itu. "Jika kau mencintai seseorang, seberapa berantakan orang itu, sekeras apa orang itu, semenakutkan orang itu, orang itu tetap ada di hati."

Aku tahu itu. Tak ayal, cerita rakyat 'Beauty and the Beast' atau 'Joko Kendil' jadi favoritku. Aku begitu menyukai kala putri kerajaan itu mau diperistri oleh seorang pemuda berwujud kendil.

Morris pun memiliki beberapa kelemahan. Morris juga tak sempurna. Ada beberapa keburukan yang tak kusukai. Seperti kebawelannya itu. Aku benci waktu dia merespon berapi-api segala kebawelanku. Aku pun benci saat dia suka bikin keputusan sendiri.

Ah aku ingat saat dia berangkat ke Amerika tersebut. Tanpa pernah cerita sama sekali, Morris langsung datang padaku dan berujar, "Mar, minggu depan aku berangkat ke New York,"

Morris juga tak jujur. Apalagi jika itu menyangkut perihal finansial. Sekeras apa kau mencoba, kalau dia tak mau, percuma saja. Lelaki itu selalu berusaha menahan lapar, membiarkanmu kenyang sendiri, waktu dia sedang tak bagus kondisi kantongnya.

Sebetulnya masih banyak keburukan Morris. Namun semakin kuingat semakin pedih. Dan segala keburukan itu aku cintai dengan segenap hati. Sungguh berbeda dengan pria yang menjadi suamiku. Keburukan Ricky jelas tak kusukai. Terutama saat dia dengan entengnya menuduhku mandul.

Oke aku akan bikin pengakuan. Dari awal diriku memang tak pernah sama sekali jatuh cinta dengan seorang Ricky Alberto Setiawan. Chemistry-ku hanya untuk Morris Permadi.

*****

[Morris]

Maaf saja, ini bukan perselingkuhan. Aku sama sekali tak pernah merencanakan pertemuan dengan dia. Aku tak sengaja bertemu sewaktu di bioskop tadi.

Perempuan ini....

Sebetulnya aku kecewa awalnya. Aku kira dia tak setia. Aku kira dirinya sudah lupa janji tersebut. Dulu kami berjanji untuk selalu bersama. Aku berjanji untuk selalu memusatkan hati padanya. Ia pun sama.

Namun waktu bergulir. Muncul pernikahan itu. Hatiku remuk. Aku sempat mengira ia tak setia. Sia-sia aku menghadiahkan beo tersebut. Mungkin beo itu sudah berganti tuan. Atau mungkin sudah tiada, saking tak diurus.

Aku salah. Perempuan itu terpaksa menikah. Faktor usia penyebabnya. Aku tahu, kaum perempuan harus segera menikah untuk menghindari anggapan miring. Lewat angka 25, tak kunjung menikah, banyak orang menuding perempuan itu tak laku. Macam barang dagangan saja.

Aku bahagia. Ternyata beo itu masih ada. Ia masih memeliharanya dalam kamar. Itu salah satu bukti--dan mungkin yang terkuat--bahwa ia memang mencintaiku. Kasihan pria itu. Pria itu memang bisa memaksa dia untuk menjadi pasangan sehidup-semati. Tapi hatinya kan sudah jadi milikku. Ha-ha-ha, aku tergelak penuh kemenangan.

Setelah empat tahun pernikahan, kami bersua kembali. Selama ini kami sudah bersepakat untuk menghindari kontak mata. Tak elok perepuan bersuami bertemu dengan lelaki lajang berdua saja.

Sebetulnya aku juga heran. Ia pernah bertutur bahwa pria itu sudah membuat perjanjian yang akan membatalkan pernikahan jika aku datang. Tapi kami berdua tahu, perjanjian itu fiktif. Tak pernah dilegalisasikan di hadapan notaris. Pria itu terus memaksanya untuk meneruskan pernikahan. Kalau tak mau, ia harus mengganti seluruh biaya yang sudah dikeluarkan. Entah itu biaya material maupun yang moral.

Keterlaluan. Tambah keterlaluan pula saat dia terisak padaku di restoran ini.

 "...dan sekarang dia mau menceraikanku karena tak kunjung mengandung..."

Hah? Apa selama ini pria itu ngotot menikahinya hanya demi mendapatkan seorang anak? Kudengar, Maria ini darah biru. Walau ayahnya seorang pengusaha toko bangunan kelas kecil, turunan ningrat tetap saja turunan ningrat. Keluarganya siap mewarisi berjuta-juta kapan pun. Apalagi Maria paras ayunya. Mungkin selain untuk memperbaiki keturunan, pria ini hendak mengincar hartanya saja.

Kalau aku sendiri, persetan dengan darah biru. Persetan pula dengan gelimangan harta di balik keluarga Maria yang tampak sederhana. Cintaku padanya itu murni. Semurni emas dua puluh empat karat. Lagian buat apa status dan harta jika kita tak sreg dengan kepribadian pasangan kita.

Aku tergelak. Iya, Maria, seringkali aku suka jengah dengan beberapa keburukanmu. Mulut bawelmu, pembawaan ratu drama-mu, jiwa melankolismu, atau kebiasaanmu yang suka memaksa itu. Tapi itu semua aku abaikan. Karena kenapa? Aku sungguh mencintaimu sepenuh hati.

Beda dengan pria itu. Siapa namanya? Ricky? Bajingan pria itu! Masa ingin menceraikanmu hanya karena empat tahun tanpa bayi? Apa cinta itu identik dengan bayi?

Lebih baik kamu pindah ke hatiku saja, Mar. Aku siap. Aku sama sekali tak mempermasalahkan soal keperawananmu atau status janda tersebut. Seperti yang sudah kubilang, aku sungguh mencintaimu sepenuh hati.

*****

Empat tahun lalu,

Perempuan di sampingku ini namanya Shania. Nama yang indah. Berasal dari bahasa Afrika-Amerika, Tishania, yang artinya 'dalam jalanku'. Atau dalam bahasa Indian itu artinya 'istana peri '.

Kuakui, perempuan yang kudengar merupakan pemuja rahasiaku ini memang secantik peri, walau sampai sedewasa ini pun aku belum pernah melihat peri sungguhan.

Padahal dia tahu untuk siapa hatiku. Tapi ia tetap mengeraskan hati. Katanya: "Belum ada pria lain yang bisa menggantikanmu, Morris. Aku percaya kalau kita berdua ini berjodoh."

Perutku mulas mendengarnya. Aku percaya soal konsep jodoh. Tapi ucapan Shania itu, ha-ha-ha. Perempuan itu tahu kan, baik aku dan Maria itu saling mencintai? Bagaimana mungkin ia bilang bahwa aku ini jodohnya? Apa dirinya masih berpikir, pertemuan tak sengaja waktu tes masuk universitas itu bukti terkuatnya? Memang dia jadi teman sefakultas. Tapi hati ini tak memilih dia. Hati ini memilih sosok Maria Anastasia Warokka yang pun menambatkan hatinya padaku.

"Jadi bagaimana?" ujar Shania tersenyum nakal. "Masih tak percaya kita ini berjodoh? Lihat kan, Maria sudah menikah. Pun kalau kamu ingat, kita satu wisuda. Kamu kan kaget waktu kubilang ternyata aku tinggal di perumahan yang sama denganmu. Tak usah mengelak, Morris--please!"

"Entahlah, Shan. I don't know. But..." Aku terdiam, menunjuk-nunjuk letak jantung. "...entah mengapa aku punya firasat bahwa cepat atau lambat, Maria akan kembali padaku."

"Bukankah perjanjian itu fiktif? Pria itu tetap memaksa juga, dan Maria sama sekali tak berusaha mencari cara agar batal."

Aku menghela napas. "Sudahlah, Shania. Aku malas membahas soal itu. Kata-kataku tetap sama. Pun dengan firasatku. Aku yakin Maria akan kembali. Tak peduli statusnya janda, tak peduli dirinya mandul, aku sungguh mencintainya sepenuh hati. Lebih baik kamu cari laki-laki lain saja, Shan."

"Aku pun sama. Sama seperti dirimu yang menunggu tanpa kepastian, aku akan menunggu kamu untuk bisa membuka hati untukku, Morris."

Aku nyengir lebar, mengertakkan gigi, dan menggeram. Sungguh keras kepala kali perempuan ini!

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^