Saturday, March 21, 2015

ONE STORY ONE PHOTO: Cinta Sepihak



Genre: Komedi-Romantis, Fantasi



Ada yang bilang, perasaan cinta itu harus diungkapkan. Katanya, cinta bukanlah cinta kalau tidak disampaikan ke obyek yang kita cintai. Konon seperti itu. 

Namun ternyata tak selamanya seperti itu. Disampaikan atau tidak, cinta yah cinta. Mungkin ada banyak alasan mengapa sebagian orang memilih untuk menyembunyikan perasaan cinta tersebut. Bagaimanapun menyampaikan perasaan suka itu bukanlah seperti saat kita tengah asyik bergosip soal dunia showbizz. Malah menyampaikan perasaan itu bisa menjadi sesuatu hal tersulit yang dilakukan. Mungkin sama sulitnya dengan mendaki puncak Mount Everest. 

Adalah kisah di bawah ini tengah menyampaikan kepada kita, tentang lima orang yang hanya bisa memendam perasaan. 


[Patricia]

Aku sebetulnya benci menyombongkan diri. Sombong bukan bagian dari namaku. Coba saja lihat nama lengkapku, Patricia Winardi. Hanya dua kata. Begitu sederhananya.

Namun aku terpaksa. Aku terpaksa harus mengikuti ajang yang mana sekumpulan remaja berkemampuan spesial saling dipertemukan dan unjuk kebolehan. Alasannya simpel: uang. Bayarannya cukup menggiurkan. Semoga saja Pak Ceppy tidak ingkar janji.

Kini aku sedang berada di ruang backstage. Ada empat anak seusiaku di sini. Mari kuperkenalkan.

Yang duduk di sampingku ini Kezia Gooden. Dia datang dari Bali. Ibunya asli Bali, ayahnya dari Selandia Baru. Kezia diundang karena bakat istimewanya dalam telekinesis. Gadis yang dua tahun lebih muda dari aku ini, bahkan sanggup menerbangkan benda yang berberat berkilo-kilogram darinya.

Di seberang itu Kenneth Chung. Cowok itu asli dari Batam. Riwayat keluarganya sedikit membingungkan. Malah dirinya sempat mencurahkan isi hati padaku. Dia bingung mau pilih warga negara mana: Indonesia atau Singapura. Soal kemampuan, Kenneth dianugerahi kemampuan tembus pandang. Cukup memicingkan mata ke arah sasaran, dan... ta----ra, ia bisa tahu isinya. Gara-gara kemampuan ini, ia mendapatkan pengalaman tak enak. Ia sempat mengintip sesuatu di balik pakaian guru bahasa Indonesia-nya.

Samping Kenneth, ada Enrico. Kepanjangannya Enrico Da Silva. Ia asli Flores. Ada darah Portugis dalam diri. Kemampuannya itu membaca pikiran.

Terakhir...

"Hoaaahmm...."

Yang menguap itu Carolus Timisela. Asli Ambon, tentu saja. Cowok hitam manis ini sanggup untuk menerbangkan diri sendiri. Tak hanya itu, dia juga sanggup berada dalam kedalaman air yang sangat berhari-hari. Sungguh saingan terberat.

Sementara aku sendiri memiliki tiga kemampuan spesial. Yang kutunjukkan itu hanya satu. Itu soal kemampuan lariku yang di atas rata-rata manusia normal. Bahkan Usain Bolt-pun tak bisa menyaingiku. Eh sebetulnya sih bukan kemampuan berlari; tapi tepatnya kemampuan bergerak.

Dua kemampuan lain sengaja kusembunyikan. Terkadang hidup tanpa diperhatikan itu jauh lebih baik. Kalian tahu, amat menyebalkan jika seseorang berteman dengan kita hanya karena sesuatu istimewa yang kita miliki. Aku amat membencinya sampai ke ubun-ubun. Mengenai kemampuan kedua itu sama seperti yang dimiliki Kezia. Kemampuan telekinesis itu kugunakan saat genting dan rahasia. Pun dengan kemampuan terakhir: terbang.

Soal terbang itu, sebetulnya aku malas mempraktekkannya. Sebab kenapa? Untuk terbang saja, aku harus melakukan hal-hal ekstrem. Aku harus melompat dari ketinggian tertentu dahulu. Enak sekali Caro (Panggilan Carolus) yang bisa terbang hanya dengan menggunakan pikiran saja.

Kata Oma, aku memiliki dua kekuatan lagi. Tapi masih laten. Dan baru akan menampakkan diri saat-saat tertentu saja. Itu yang bikin aku bingung. Oma tak pernah menjelaskan padaku seperti apa saat-saat tertentu itu.

"Sst..." Kezia mencolekku. Aku menatapnya. "Kamu naksir sama Kenneth?"

Aku terkesiap. "Hah?"

"Dugaanku benar berarti." ujar Kezia sok tahu, dengan logat Bali-nya.

Aku mengikik. "Yang bisa baca pikiran itu kamu atau Enrico sih?"

"Patrice, aku nggak perlu bisa baca pikiran kamu. Dari wajah dan tindak-tanduk kamu saja sudah terlihat kok. Apalagi, yang kuamati itu, dari tadi mata kamu terus melirik Kenneth. Mending ngaku deh. Toh aku nggak bakal bocorin."

Aku tersenyum, menggeleng.

"Iya kan?" Jari Kezia mengacung ke arahku.

"Kezia ini sok tahu ya. Wong dari tadi itu mataku tidak hanya tertuju ke Kenneth saja kok. Aku juga memerhatikan Enrico sama Caro."

"Ya deh, ya deh, aku percaya. Tapi kok kemarin, kamu selalu menghindar dari Kenneth melulu."

"Kata siapa? Nggak kok. Memang faktanya kemarin itu--"

Salah satu kru masuk. Ia memberitahukan bahwa tiba giliran kami tampil. Sekonyong-konyong aku beranjak dan menuju pintu. Yang lainnya turut pula.

Omong-omong aku tak peduli dengan hadiah utamanya itu. Kebanyakan anak sangat terobsesi untuk bisa ke Chicago. Di sana ada sebuah sekolah khusus buat anak-anak yang berkemampuan spesial. Aku tak butuh itu. Yang kubutuh itu hanya uangnya. Total senilai lima puluh juta itu bisa kugunakan untuk membantu meringankan beban Mama yang hanya membuka kedai Chinese food di pasar. Kasihan Mama. Sepeninggal Papa, ia harus sendirian menghidupi aku dan keempat adikku.


Diambil dengan menggunakan Canon EDS1200, ISO 200, bukaan f10, dan shutter speed 1/20.


[Kenneth]

"Ken, menurut kamu, mana yang lebih cantik, Kezia atau Patrice?"

Baru saja akan kujawab, si Tukang Intip Enrico sudah melabrak, "Hahaha... Kenneth itu sukanya sama--"

"Co, jangan kencang-kencang dong. Ada orangnya." desisku seraya meletakkan telunjuk di bibir.

"Oke, maaf. Aku sepertinya terlalu bersemangat kalau bicara soal cinta. Apalagi kalau si cowok itu malu-malu kucing." balik desis Enrico terkekeh.

Caro nyengir, bingung setengah mati. Bisiknya penasaran: "Memang si Kenneth suka sama siapa, Co?"

"Seorang gadis yang dari tadi matanya berkali-kali ke arah kita melulu. Orangnya itu rambutnya panjang bergelombang. " jawab Enrico nyengir, masih dengan volume yang dijaga agar tak terlalu kencang terdengar hingga sampai ke perempuan yang aku suka. Walau suka mengintip, ternyata Enrico setia kawan. Mulutnya tidak ember.

"Patrice maksudnya?" konfirmasi Caro nyengir.

Aku menghela napas, mengangguk. Mungkin karena itulah Caro jadi terkekeh lebar yang diekori oleh Enrico.

"Memang apa yang kamu suka dari Patrice itu?" tanya Caro.

"Perlu aku yang jawab atau jawab sendiri nih?" ujar Enrico nyengir mengajukan diri.

Menyebalkan si Kuping Caplang ini!

"Nggak usah mengejek aku deh. Dasar Ceking!" sembur Enrico nyalang. Tapi senyumnya masih belum meraib.

"Lama kali kau jawab. Kau itu cowok, yang tegas dong." kata Caro yang sungguh tak sabaran.

"Eeeeee..." Aku pucat pasi. Dahi mulai basah. "...yah aku, aku, aku,... aku memang suka sama Patrice sih. Dan..."

Hening menyergap.

"Ah lama kali cowok parlente ini. Dandanan saja yang sok mengikuti fashion. Tapi kalau bicara soal cinta, brrr..." Caro terbahak.

Sementara, kuamati dua perempuan itu mendelik ke arah kami--para lelaki. Mereka penasaran dengan obrolan kami.

"Jangan berisik!" tukas Kezia. "Jaga image sedikit kenapa?"

Kata-kata ketus Kezia langsung dihajar oleh serangan tak kenal ampun dari Caro dan Enrico. Keributan kecil pun terjadi di dalam ruang backstage yang memang hanya kami berlima yang berada di dalamnya.

Mataku tanpa sengaja tertumbuk pada dia. Kami jadi bersitatap. Ia pun balas tersenyum--dan mengangguk.

*****

[Kezia]

"Ayo bergegas!" seru salah seorang kru berbaju hitam-hitam. "Sekarang giliran kelompok kalian yang tampil."

Aku dan lainnya bergegas meninggalkan ruangan. Patricia keluar lebih dahulu. Aku nyaris di barisan paling akhir--bersamaan dengan Kenneth.

Ya Tuhan, perasaan apa ini? Kenapa jantungku terus berdetak-detak lebih kencang dari biasanya?

"Slow, Zia. Take it easy. Santai. Nggak usah gugup begitu. Toh ini juga kan sudah hari ke sekian kita tampil di televisi." Kenneth mendelik ke pojok kiri mata (yang bagiku itu terasa keren sekali). "Seingatku, sudah hampir sebulanan ini kita saling bertarung. Sudah banyak rekan yang tumbang. Jadi buat apa kamu gugup begitu sih?"

Kenneth terkekeh. Aku pun memaksakan diri terkekeh seraya berujar, "Eh i-i-iya, kamu benar, Ken. Ngapain harus gugup yah?"

"Kezia, Kezia. Sudah sering tampil di televisi, dan kamu masih belum bisa mengatasi demam panggungmu?" Kekehan itu jadi terasa indah di telinga. "Sampai-sampai lengan bajuku pun kamu pegangi terus. Hahaha, dasar Kezia! Percuma dong, kamu bisa telekinesis."

Aku nyengir kaku.

Pria ini menyangka aku gugup karena demam panggung. Padahal bukan seperti itu. Aku gugup karena satu hal. Satu hal itu problematika klasik dari jaman William Shakespeare masih berjaya. Itu...

...cinta.

Aku bersyukur dirinya tak bisa membaca isi pikiranku.

*****

[Enrico]

Langkahku terhenti. Seperti ada yang menahan, aku balik badan. Hatiku nyeri. Pemandangan itu begitu menyakitkan (Aku sengaja menggunakan kata 'begitu' semata untuk menahan jiwa melankolis).

Yang tertangkap kornea mataku, Kenneth berjalan dan Kezia mengikuti sembari terus memegang lengan kemeja kotak-kotak. Kezia tak tampak ketakutan; pun gangguan demam panggung. Perempuan itu spontan melakukannya.

Kadang saat seperti inilah aku benci sekali dengan kemampuan baca pikiran yang kumiliki. Ini sangat menyiksa. Apalagi sewaktu kita harus mendengarkan pikiran-pikiran yang tak seharusnya. Pikiran Kezia contohnya.

Aku bisa membaca pikiran Kezia sekarang ini. Makanya aku tahu apa sebabnya Kezia terus bergelayutan di lengan kemeja Kenneth. Mengetahui motifnya, dada ini terasa sakit sekali. Bak ada yang mengiris-iris dengan gergaji supertajam.

Sayang Kezia tak memiliki kemampuan baca pikiran. Andai saja bisa, bukankah sangat seru jika kita berinteraksi dengan cara telepati. Aku pun tak perlu repot-repot untuk mencari cara agar perasaan ini tersampaikan. Tapi sepertinya percuma saja. Kezia hanya menganggapku sebagai seorang abang yang harus siap sedia menjagai saat kedua orangtua pergi jauh.

"Hei, Co. Kok malah jadi berhenti dan bengong begitu? Buruan jalan, acaranya live kan, bukan tapping." kata Kenneth menepuk pundak.

"Eh iya," sentakku dari lamunan.

"Ayo, Co, buruan!" Kezia memanas-manasi. Kadang melihat senyuman itu, aku seringkali merasa dirinya tengah mencemburukan diriku; semata ingin menunjukkan padaku langsung siapa lelaki yang dipilihnya.

Sakit, bukan? Yah jelaslah, kita sudah pikiran orang yang kita taksir, yang bersangkutan sudah tahu kemampuan kita, lalu orang itu malah melakukan sesuatu yang kita benci (atau sekiranya bikin darah berdesir panas).

Hahaha, aku berkata seperti sudah pernah menembak Kezia saja. Lagipula lebih baik seperti ini. Akan jauh lebih menyakitkan lagi jikalau Kezia menolakku secara kata-kata.

*****

[Carolus]

Memang luar biasa kemampuan perempuan itu. Patricia maksudnya. Saingan terberat, rival, rekan, kawan, sahabat, dan gebetan. 

Yah aku sudah sejak lama memendam rasa pada Patricia. Itu sejak kami masih duduk di bangku kelas 8. Kuakui, Patricia memang menawan. Aku lebih suka perempuan tanpa lesung pipit dan rambut panjang bergelombang. Wajah tanpa lesung pipit itu malah jauh lebih sempurna menurutku. Terasa aneh di mata saat memandangi wajah seseorang yang bentuk pipinya terus berubah berdasarkan ekspresi. 

Namun bukan itu yang menjadi daya tarik dari seorang Patricia. Aku terpikat karena sesuatu yang terkandung dalam dirinya. Aku begitu menyukai pengendalian dirinya. Luar biasa! Hingga detik ini, aku belum pernah melihat Patricia lepas kontrol. Perempuan yang sangat begitu tenang sekali. 

Satu lagi kelebihannya itu ialah soal kemampuan yang dimiliki. Aku tahu sedari awal, Patricia bukan perempuan sembarangan. Ia istimewa (namun bukan dalam konteks romance). Ia sama seperti, tapi mungkin jauh lebih hebat. Bocoran saja, karena hanya aku yang tahu, selain bisa bergerak secepat kilat (bahkan kilat pun kurasa kalah saing), Patricia juga bisa telekinesis. Aku menyaksikannya sendiri sewaktu live-in SMA dulu. Waktu itu gempa terjadi, dan dengan telekinesis tersebut, ia berhasil menyelamatkan seorang bocah laki-laki dari hantaman lemari yang cukup kokoh. Tapi Patricia lebih suka jika aku tidak membocorkannya ke siapapun. Ia lebih suka dikenal sebagai seorang perempuan dengan kemampuan bergerak yang fantastis. Daya tarik kedua: sifatnya yang membumi dan tahu diri. 

Patricia...

"Woy, Caro!" tegur Kenneth. "Jangan melamun! Sebentar lagi, tiga menit palingan, kita bakal masuk ke studionya. Pasang tampang kece-lah."

Aku nyengir. "Bisa saja kau ini."

"Masih gantengan juga aku daripada si Keling Caro ini." sela Enrico. 

"Mulai deh kau ini, mainannya fisik..." kataku nyengir, lalu menangkap sesuatu yang aneh (namun sudah mulai terbiasa). "Kezia, Kezia,... kau masih demam panggung?" 

Aku jadi menggeleng-geleng gemas--melihat Kezia yang terus berpegangan di lengan kemeja Kenneth. Langsung saja Kezia lepas diri dengan semburat merah jambu. Ternyata benar dugaanku. 

"Ng-ng-nggak kok, kata siapa? Aku biasa saja lagi,... yeee!!!" responnya, beringsut maju mendekati Patricia.

***** 

[Patricia]

Sebetulnya jumlah asli kontestannya itu lebih dari 25 orang. Total ada 120 orang. Selama sebulan yang hampir dua bulan genap, sudah banyak yang tersisih. Kasihan juga mereka. Dan alasan kasihan itulah yang membuatku begitu membenci turnamen ini. Turnamen ini seperti sedang mengekspoitasi aku dan kawan-kawan. Karena buntutnya pasti demi mengejar pundi-pundi dari iklan yang jumlahnya tak mungkin di bawah lima puluh juta--setidaknya. 

Tapi ya sudah. Nasi sudah menjadi bubur. Aku terpaksa mengikuti turnamen--yang diprakarsai oleh seorang pengusaha--ini juga karena uangnya juga. Uang lima puluh juta sangat berarti. Masa bodoh dengan Chicago. Aku tak butuh juga disekolahkan di tempat seperti itu. Aku hanya ingin hidup normal, tanpa jadi buah bibir. 

Dan...

...tak terasa satu jam telah terlewati. Masing-masing dari aku dan lainnya sudah unjuk kebolehan. Nyaris dari kami berhasil memikat juri dan penonton. Oh iya, dibandingkan ajang-ajang pencarian bakat menyanyi, di turnamen ini, aku dan seluruh kontestan lainnya juga harus pintar menjual drama kehidupan kami. Itulah sepertinya yang menjadi tolak ukur penentu kemenangan. 

Ah mendadak aku teringat kata-kata Enrico tadi. Yang barusan itu di luar kebiasaan lelaki jangkung tersebut. Tak biasanya Enrico memberitahukan ke publik apa saja yang sebetulnya masuk ranah privasi. Bayangkan saja, masa ia membocorkan informasi soal perasaan Kezia ke Kenneth? Gila! 

Namun aku bisa mengerti alasannya. Enrico pernah bercerita bahwa dirinya sangat berhasrat untuk bisa berangkat ke Chicago. Ia sangat ingin bisa lebih memaksimalkan kemampuan baca pikirannya itu. Tapi aku tidak habis pikir sama sekali. Mengapa harus membocorkan hal-hal seperti itu? Apa dia tidak takut karmanya? Terkadang rasa ambisius itu bisa membutakan mata hati seseorang. Orang itu jadi tak bisa lagi bisa membedakan mana hal yang sifatnya privasi, mana juga yang sifatnya boleh dikonsumsi khalayak. 

Yang jauh lebih gilanya lagi... astaga, yang tersingkir malah Kezia; bukannya Enrico. Sadis. Aku memang tahu, hidup memang seringkali tidak adil. Tapi apa yang menimpa Kezia ini sangat tidak adil sekali. Tadinya aku berharap Enrico yang tersingkir sebagai hukumannya. Namun mungkin Tuhan berencana lain kali yah. 

Oh iya, dari tiap kelompok, akan tersingkir dua kontestan. Dan aku tak menyangka bahwa orang kedua yang tersingkir itu malah saingan terberatku, Caro. Aku juga tak menyangka Caro malah membocorkan soal dua kemampuan yang sengaja kututup rapat selama ini. Tak kusangka, dirinya berkomplot dengan para kru lewat skenario brilian tersebut. 

Lampu-lampu itu memang sengaja dijatuhkan. Tujuannya satu: memancing rasa empatiku. Aku memang tidak tahan melihat seseorang menderita, apalagi yang akan mendapat musibah. Mungkin rasa itulah yang membentuk insting yang mendorong diriku untuk mengeluarkan kemampuan telekinesisku. Awalnya sempat seluruh yang hadir mengira Kezia-lah yang melakukan. Namun kamera berkata lain. 

Tak hanya dengan para kru televisi, Caro juga bersekongkol dengan Enrico. Enrico lagi-lagi membocorkan hal-hal yang sifatnya privasi. Aku makin sebal dengan cowok itu. Dengan Enrico maksudku. Walau Caro juga sama menyebalkan dengan memaksaku pergi ke tempat yang lebih tinggi, lalu malah mendorongku jatuh semata-mata agar kemampuan ketiga itu keluar. 

Aku sebetulnya kesal. Tapi juga senang. Pun ada perasaan bersyukur karena berhasil melangkah ke tahapan selanjutnya, yaitu babak lima belas besar. Selangkah lagi aku akan mendapatkan uang lima puluh juta. Semoga saja aku berhasil menembus babak sembilan besar. 

"Pat, selamat yah. Selamat kau sudah lolos ke babak selanjutnya." ujar Caro tersenyum sewaktu aku dan lainnya bertemu di belakang panggung. 

Aku menghela napas. "Caro, aku nggak menyangka yah, kamu seperti itu orangnya. Aku benar-benar nggak menyangka kamu tega-teganya buka rahasia aku di depan banyak kamera. Aku salah apa sama kamu?"

Baru Caro akan menjawab, Enrico menyela, "Patrice, kamu harusnya senang. Caro seperti itu juga karena sebetulnya dia punya perasaan sama kamu. Dan--"

Aku mendelik tajam. "Hei, aku nggak lagi bicara sama kamu yah, Enrico si Mulut Ember. Lebih baik kamu banyak-banyak berdoa gih. Yah biar nggak kena karmanya aja sehabis buka rahasia dua orang ke hadapan ratusan orang."

"Ck, bukannya berterimakasih,--"

Tunggu sebentar, lupakan emosiku ke Enrico. Tadi cowok itu bilang apa? Caro punya perasaan ke aku? Maksudnya itu perasaan suka? Hah? Apa jangan-jangan sahabatku itu...

...sudah sejak lama mencintaiku? 

Tapi maaf, Caro. Aku tak bisa membalas perasaanmu. Sebab aku mencintai seseorang; dan orang itu sama sekali tak ada di sekelompok orang yang berada di turnamen ini. Cowok itu hanyalah cowok biasa yang mencintaiku dengan cara istimewa. 

6 comments:

  1. bagus gan cerita nya, izin nyimak yak, terimakasih ^_^

    ReplyDelete
  2. endingnya nampol banget. mantapp.

    ReplyDelete
  3. lama lama lo bakal jago foto nih bro.. asal blog jangan ditinggalin yaa :D

    ReplyDelete
  4. waah pasti deg-degan tuh hehe,endingnya mantap mas :D

    ReplyDelete
  5. Ah.. Seneng deh, bisa bersikap setia.. Ngga semua orang yang suka sama kita bisa kita terima soalnya :D

    ReplyDelete
  6. Thank a lot, all. Thank atas komentar-komentarnya. Thank juga buat yang silent reader. Dilihat dari trafiknya, berarti emang dibaca. Makasih. Jadi semangat nih nulisnya lagi. Matur nuwun.

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^