Thursday, March 26, 2015

ONE PHOTO ONE STORY: Sate, Tikus, dan Santet



Genre : Horor





"Pak, biasa, sate sepuluh tusuk,"

Satu pengunjung lagi.

Warung sate itu begitu hiruk. Wajar saja, warung itu amat melegenda di daerah tersebut. Warung sate Pak Mahmud sudah berjalan selama dua dekade--dan ini telah memasuki dekade ketiga.

Terkadang tak perlu tempat mewah untuk mendapatkan banyak pengunjung. Tak perlu promosi gencar-gencatan ala perusahaan rokok untuk meraup untung. Dan apa yang menimpa Pak Mahmud itu berasal dari sebuah lapak yang tak terlalu besar. Sederhana sekali. Kesuksesannya datang karena kesabaran Pak Mahmud. Jangan lupa kegigihan. Serta bakat beliau dalam meracik sate-sate yang sedap tidak keruan. Plus tak jemu berdoa pada Allah.

Bakat, kesabaran, kegigihan, dan doa. Itulah yang membuat Pak Mahmud bisa terus mengebulkan asap dapurnya hanya dari warung sate belaka. Yah hanya dari warung sate.

Istrinya sudah lama meninggal. Dulu sebelum dipanggil Yang Maha Kuasa, sekiranya penghasilan keluarganya datang pula dari toko kelontong. Sepeninggal sang istri, toko kelontong itu ditutup. Pak Mahmud tak kuasa untuk menjalankan dua usaha sekaligus. Akhirnya dirinya memilih untuk hanya memilih warung sate, dimana kegiatan mengipas-ipas tusukan-tusukan sate merupakan kegiatan yang sungguh menyenangkan hatinya.

Pak Mahmud amat menggemari sekali bikin sate. Sate apa saja. Sate kambing, sate ayam, sate usus, sate Padang, pokoknya segala jenis sate, beliau mahir memasaknya. Tak hanya sate pun, keahliannya memasak berbagai jenis masakan juga melampaui sang istri yang hanya jago bikin telur mata sapi.

"Pak, kalau Bapak jago sekali memasaknya, kenapa tak bikin restoran saja?" Begitu tanya salah seorang pengunjung. Pak Mahmud tersenyum mendengarnya. Alih-alih menjawab langsung, ia malah mendongak dahulu seraya mengembuskan napas. Mungkin kalau adapengunjung itu jeli matanya, terlihat sekali senyuman Pak Mahmud yang begitu getir. Terbayang masa-masa itu.

Brengsek!--rutuk Pak Mahmud dalam hati.

Sebetulnya beliau sudah ikhlas. Sudah ikhlas menerima kejadian itu sebagai pembelajaran dalam hidup. Tapi Pak Mahmud hanyalah seorang manusia belaka. Yang mana tiap teringat masa-masa kelam, bawaan untuk mengumpat akan selalu ada. Tak ada hubungannya pula dengan praktek keagamaannya. Pak Mahmud tak pernah bolong salat lima waktu. Puasa senin-kamis rutin dijalankan. Tapi namanya manusia, bukan? Tak ada yang tidak bisa khilaf untuk mengumpat sesamanya yang sudah menjengkelkan hati.

Terburu-buru Pak Mahmud mengelus-elus dada. Beliau mencoba beristighfar. Maafkan hamba, Ya Rabb, begitu doa minta ampunnya.

"Sebetulnya ada apa, Pak?" tanya salah seorang pengunjung yang lain. "Kelihatannya dulu Bapak pernah dapat pengalaman pahit yah,"

Pengunjung ini masih remaja. Mungkin waktu itu, dia masih kanak-kanak. Maklum saja tak tahu menahu dengan apa yang sudah terjadi. Para pengunjung dari generasi di atasnya sudah banyak yang mengetahui.


Diambil dengan menggunakan Canon EOS1200D, ISO 100, bukaan f7,1, dan shutter speed 1/80




Kejadiannya sekitar lima tahun setelah Pak Mahmud membangun warung satenya. Dengan pinjaman dari beberapa sanak serta keterpaksaan tinggal di rumah yang tak layak, warung sate itu berdiri. Bukan berdiri tepatnya. Pak Mahmud membelinya. Saat itu nilai tukar rupiah tak separah sekarang. Harga-harga masih murah meriah. Tapi tetap memang bukan takdir Pak Mahmud jadi orang kaya.

Warung sate ini dibangun atas biaya yang sebagian besar berasal dari kakak iparnya. Cukup besar dan tak akan pernah dilunasinya setelah kematian sang istri tercinta dan insiden tersebut. Selain dari uang sang kakak ipar, ada juga dari modal pribadi yang tak kecil pula. Sampai-sampai beliau sudah tak memiliki uang untuk menyewa hunian yang layak. Uang yang tersisa digunakannya untuk menyewa rumah kecil dekat pematang sawah.

Mengapa tak meminta bantuan keluarga yang lain? Alasannya sederhana. Pak Mahmud tak mau merepotkan orang lain lagi. Ditambah lagi, lokasi rumahnya terdahulu cukup dekat dengan warung satenya. Beliau tak perlu keluar biaya untuk transportasi. Cukup dengan bersepeda, Pak Mahmud sudah tiba di warung sate kebanggaannya.

Seminggu, sebulan, dua bulan, hingga enam bulan, Pak Mahmud berhasil menarik simpati. Untungnya saat itu belum ada penjual sate di daerah itu sebelumnya. Itulah sebabnya, beliau bisa menarik banyak pengunjung. Terlalu banyak malah. Hingga Pak Mahmud berencana untuk bikin toko kelontong sebagai bisnis sampingan. Bahkan telah berencana untuk mencari rumah yang lebih layak lagi.

Sayang rencana-rencana itu harus buyar dulu hingga tahun kelima. Persoalan klasik khas keluarga menengah bawah: kebutuhan hidup. Apalagi dua anaknya sudah duduk di bangku sekolah dasar. Tentunya butuh duit yang tak sedikit. Uang masuknya saja sudah begitu besar (walau di masa itu lonjakan harga tak sebesar era sekarang).

Saat sudah tahun kelima, baru Pak Mahmud akan menyewa rumah yang lebih layak, bisnis satenya melesu. Tepatnya itu terjadi setelah lebaran. Usut punya usut, terbongkarlah sudah. Ada yang cemburu. Si pencemburu itulah yang menebarkan isu bahwa Pak Mahmud menggunakan daging tikus sebagai bahan utama tiap masakannya.

Demi Tuhan! Harga daging memang cukup mahal. Apalagi kondisi perekonomian Indonesia tengah menukik turun tajam. Tapi Pak Mahmud tak pernah menggunakan cara-cara kotor. Beliau selalu mengusahakan untuk menggunakan bahan-bahan terbaik semampunya.

Beliau akui, salahnya juga mengapa memilih tempat jorok sebagai tempat tinggalnya. Harusnya dirinya sepakat untuk tinggal dulu di rumah kakak ipar sampai bisa mencicil sendiri rumah. Walau jauh--dan menghabiskan biaya lebih, sekiranya lebih sehat dan nyaman untuk ditinggali.

Lihat saja. Dulu Pak Mahmud tinggal di dekat pematang sawah. Rumahnya dulu kecil. Di halamannya banyak berseliweran tikus dan serangga-serangga lainnya. Saluran pembuangannya juga tak bagus. Mungkin kondisi seperti itulah yang dimanfaatkan si pencemburu untuk menjatuhkan pamor warung sate Pak Mahmud yang semakin tenar saja.

Rumor kadang bisa kejam; bisa sekejam seorang pembunuh bayaran. Kadang bisa berlangsung selama kurun waktu yang sulit diprediksikan. Bisa sebulan, dua bulan, hingga setahun lebih bertahannya. Gara-gara isu tak sedap tersebut, kondisi perekonomian keluarga Pak Mahmud carut-marut. Belum lagi si bungsu yang sakit keras, yang belum diketahui penyebabnya.

Mendadak anaknya yang baru duduk di kelas tiga itu mengeluh kesakitan di bagian perut. Awalnya diduga hanya diare atau muntaber biasa. Atau lebih parahnya, tifus. Namun keluhan itu tak kunjung surut. Sudah banyak biaya yang dikeluarkan, sudah begitu lama si bungsu dirawat inap, tetap tak kunjung sembuh. Dokternya menyarankan untuk di-rontgen. Takutnya ternyata terdeteksi sel kanker dalam raga si bungsu.

Alangkah kagetnya tim medis. Sebab ditemukan banyak benda tajam dalam lambung si bungsu. Pak Mahmud bingung bukan kepalang. Seingatnya, dirinya selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan siapapun. Siapa yang melakukannya?

Belum lagi, selang enam bulan, sang istri mendadak berteriak histeris. Seperti tak memiliki hati nurani, tega nian menyiksa si sulung. Untung Pak Mahmud ada di tempat. Sehingga si sulung bisa terselamatkan dari bahaya-bahaya yang bukan-bukan. Sang istri langsung dipasung saking seramnya.

Dua bulan setelahnya, datang sebuah surat. Oh ternyata memang ada yang menaruh iri dengki padanya. Orang itu penjual nasi goreng yang mangkal tak jauh dari warung satenya. Tukang nasi goreng itu iri sebab jumlah pelanggannya turun drastis akibat kedatangan Pak Mahmud. Padahal tukang nasi goreng itu sudah lama berjualan daripada Pak Mahmud.

Kekesalan karena tak kunjung bisa menyaingi jumlah pengunjung warung sate Pak Mahmud telah menyebabkan tukang nasi goreng itu gelap mata. Tenaga dukun disewa. Jampi-jampi diedarkan. Hasilnya? Oh mungkin maksudnya korbannya; dan itu adalah bisnis sate, anak bungsu, dan istri Pak Mahmud.

Isi surat itu pun menyatakan bahwa Pak Mahmud harus segera meninggalkan tempat itu kalau tak mau terus melihat banyak pengalaman mengerikan. Masih keras kepala, mungkin nyawa Pak Mahmud yang jadi sasarannya.

Pak Mahmud tak gentar. Beliau berusaha melawan. Satu perlawanan pertama telah mengorbankan si bungsu. Pak Mahmud geram. Apalagi sang istri makin beringas saja. Pasungan itu dikoyak-koyak, lalu kabur ke jalan-jalan sembari bertelanjang dada.

Kesal, Pak Mahmud segera melaporkan si tukang nasi goreng ke ketua RT. Ketahuanlah sudah. Jika ternyata tukang nasi goreng itu bekerja pula sebagai tukang santet. Sudah lama sekali warga resah dengan perilaku si tukang nasi goreng. Konon usaha nasi goreng itu bisa sukses karena menggunakan penglaris. Dengan menyebarkan garam di depan warung nasi goreng, pembeli datang. Padahal nasi gorengnya tak begitu enak. Sebetulnya yang bikin laku itu jin.

Anehnya, mungkin karena ukuran ketakwaan Pak Mahmud sekeluarga, penglaris itu meredup. Perlu kemampuan magis yang luar biasa dahsyat dan segala akal licik yang bisa bikin Pak Mahmud pontang-panting. Si tukang nasi goreng lalu memanfaatkan kondisi tempat tinggal Pak Mahmud yang buruk sebagai awal serangan. Berhasil. Iman beliau goyah. Begitu pun dengan sang istri setelah si bungsu yang terbongkar sudah diracuni dengan permen gulali yang dijampi-jampi.

*****

"BAKAR! BAKAR RUMAH SI TUKANG SANTET!"

Warga sudah gemas dengan kelakuan si tukang nasi goreng. Mereka prihatin dengan kondisi nelangsa Pak Mahmud. Belum lagi tukang nasi goreng sudah menebarkan teror. Tanpa perlu restu ketua RT atau lurah, mereka turun tangan. Rumah tukang nasi goreng yang lebih mewah dari Pak Mahmud langsung dikepung, Alhasil si tukang nasi goreng jadi kalang kabut.

Namun tukang nasi goreng itu tak kurang akal. Kemampuan santet digunakan. Bala bantuan dari dunia lain didatangkan. Separo massa lumpuh. Mereka kejang-kejang. Hari pertama, si tukang santet menang.

Hari kedua, kalah.

Hari ketiga, kalah. Wah ternyata si tukang nasi goreng bukan sembarang tukang santet. Tampaknya si tukang nasi goreng sudah lama sekali mendalami ilmu hitam tersebut. Jumlah korbannya lebih banyak daripada dua hari berturut-turut sebelumnya. Pasukan gaibnya pun jauh lebih ganas. 

Hari keempat, kalah. Masih tetap sama seperti hari-hari sebelumnya. Dewi fortuna tetap memihak pada si tukang nasi goreng. Kali ini perlawanan warga hanya berlangsung sementara. Kurang lebih berjalan selama sembilan puluh menit. Semata dilakukan untuk mencari kelemahan si tukang santet yang berkedok sebagai tukang nasi goreng. Beberapa utusan dikirim ke sana--yang sukses mati kesurupan. 

Hari kelima, keenam, ketujuh,... dua minggu perlawanan tetap kalah. Namun warga masih belum mau menyerah. Mereka tetap kembali mengepung rumah si tukang nasi goreng. Kali ini mereka membawa obor. Obor itu akan digunakan untuk membakar rumah si tukang santet. Situasinya makin ricuh saja. Ketua RT pasrah. Pak Mahmud jadi tak enak hati. Sebab insiden itu terjadi dipelopori oleh dirinya.

Kali ini si tukang nasi goreng alias tukang santet mulai kewalahan. Jin-jin peliharaannya memang bisa menyelamatkannya dari kobaran api. Tapi anak dan istrinya tewas sebagai tumbal agar bisa selamat. Sekeluarnya dari rumah, si tukang santet sudah dikepung dan diarak warga.

*****

"Wah, wah, wah. Persis seperti di sinetron-sinetron religi, Pak." ujar salah seorang pengunjung. Laki-laki yang kurang lebih berusia dua puluh tahun.

Pak Mahmud tergelak. Yang menjawab malah salah seorang pengunjung yang sebaya beliau, "Atau sebetulnya sinetron-sinetron religi itu yang meniru kehidupan nyata. Karena sebetulnya kejadian-kejadian seperti itu kan marak terjadi di Indonesia, bukan? Bukan suatu hal yang aneh, ada penjual yang memakai penglaris. Fenomena dukun santet pun sudah bukan barang baru."

Beberapa pengunjung angguk-angguk terpekur. Terlebih lagi dari pengunjung-pengunjung berusia muda. 

"Yang jelas, saya bersyukur. Saya bersyukur, saat itu ternyata banyak warga yang menaruh simpati pada saya. Padahal saya kan bisa dibilang warga baru juga. Tapi warga sini sudah memperlakukan saya seperti seorang warga yang sudah lama tinggal di daerah ini. Walau--"

"--bapak ini bicara apa?" sela salah seorang pengunjung lainnya. "Sudah menjadi kewajiban kita, bukan, untuk saling membantu yang kesusahan? Apalagi kami--selaku warga--juga tak enak hati karena telah termakan isu daging tikus itu. Harusnya kami sadar, Pak Mahmud tidak akan mengoplos sate dengan daging tikus." 

"Yah, itu benar." Yang lain membenarkan. "Pak Mahmud dan istri selalu baik ke warga. Selalu tak pernah absen tersenyum bila bertemu salah seorang warga sini. Bapak juga selalu rutin ikut acara-acara warga sini seperti pengajian, kerja bakti, halal bihalal, hingga beberapa kondangan warga. Kalau ada warga yang membutuhkan, Bapak masih sempat-sempatnya menyumbang, padahal kondisi perekonomian Bapak tak lebih baik dari kami."

"...beda sama si tukang santet itu, yang rada sombong dan kikir..." 

"Hush, jangan menjelek-jelekkan orang lain!" tegur Pak Mahmud. "Begitu-begitu, dia sudah sering memberikan saran pada saya. Khususnya soal penghematan."

"Pak Mahmud memang hebat. Masih bisa saja mengambil sisi positif dari pengalaman buruk yang menimpa."

"Dan satu lagi, Pak Mahmud juga tak main-main dalam berdagang. Selalu memberikan yang terbaik pada pelanggan. Selalu memperhatikan kualitas alih-alih kuantitas. Rasa sate buatan Bapak memang yang paling enak di kota ini."

Cengiran lebar muncul di wajah Pak Mahmud. Beliau lalu kembali sibuk mengipas-ipas tusukan-tusukan sate. Sembari mengipas, beliau menengadah ke langit. Pak Mahmud mengucap syukur pada Sang Khalik. 

Ya Allah, terimakasih atas segala bantuan-Mu hingga detik ini. Walau harus kehilangan anak bungsu dan istri, hamba tetap bersyukur. Apalagi berkat-Mulah, anak hamba yang sulung bisa sekolah hingga ke negeri Kangguru. Dan itu berkat keahlian bikin sate yang Engkau berikan pada hamba. Terimakasih, ya Allah!