Thursday, January 1, 2015

Mitos Jalan Lurus









Entah kapan, yang jelas, seorang teman blogger-ku yang memiliki nick Ellious Grinsant, dulu pernah bilang bahwa untuk mencapai tujuan yang diidam-idamkan, seseorang sering kali harus jalan memutar dulu. Mereka harus berputar-putar dulu untuk bisa sampai.

Begitulah yang ia tulis di blog-nya. Awalnya aku tak sepaham. Menurut kacamataku yang sudah minus lima ini, kalau kita bisa mengambil jalan lurus, kenapa tidak? Toh, dengan jalan lurus, kita akan lebih cepat sampai. Tak perlu buang-buang waktu dan energi.

And then, time so flew. Terkadang manusia perlu mendapatkan pengalaman demi pengalaman hanya untuk menjadi sepaham dengan orang lain. Pada dasarnya, manusia itu, walau sering disangkal, merupakan makhluk yang lebih suka memercayai dari aktivitas melihat. Seeing is believing, begitu yang sering aku ketahui dari sebuah komik Jepang, Case Closed.

Itulah naluri dasar kita sebagai manusia. Mungkin. Tapi sepertinya ada benarnya. Berapa banyak dari kita yang masih ingat segala tutur dari para pengajar semasa sekolah dulu? Mungkin lebih sering kita mengabaikannya. Atau parahnya tidak memercayainya. Contoh lainnya, ada puluhan nada-nada keskeptisan kala sebuah gosip menguak ke permukaan.

Itulah manusia. Sulit percaya. Yesus Kristus pernah berujar, "Berbahagialah mereka yang percaya, namun tidak melihat" Mungkin kata-kata itu keluar bukan diperuntukkan bagi Thomas belaka. Mungkin itu untuk mereka -- atau manusia-manusia -- yang sulit percaya, jika belum merasakannya sendiri.

Aku pun begitu. Jujur saja, aku ini tipikal orang yang susah percaya. Aku jenis orang yang skeptikal. Tak mudah percaya perkataan orang lain. Prinsipku: sebelum melihat dengan mata kepala sendiri, tak akan 100% percaya.

Itulah sebabnya, aku menentang opini Ellious itu. Aku sebetulnya tak percaya. Aku masih melihat ada satu kemungkinan dimana manusia bisa mencapai satu tujuan dengan memilih jalan lurus.

Namun, seiring berjalannya waktu, semenjak betulan menyeriusi jalan yang sunyi ini 2012 lalu, aku sadar sepenuhnya bahwa yang namanya berjalan lurus itu mustahil dilakukan.

Yea, berjalan yang sungguh lurus itu susah. Terkadang kita harus berhenti. Terkadang kita harus menemui polisi tidur. Terkadang kita harus berhenti lagi, sebab di depan kita ada sebuah perempatan yang membingungkan.

Jalan yang betulan lurus saja pun, sudah merupakan sebuah kelangkaan. Ambil contoh, sebuah jalan dari Ratu Plaza menuju Monumen Nasional. Tidak 100% lurus kan. Ada beberapa belokan. Malah dua kali kita menemui bundaran.

Begitu pula jalan kehidupan. Kita merasa sudah memilih jalan yang benar-benar lurus menuju gol. Pikiran kita tersugestikan seperti itu. Tapi jikalau kita mau merenunginya, kita mungkin menyengiri jalan pikiran kita sebelumnya. Lucu. Ternyata dalam mencapai gol, kita tidak benar-benar berjalan lurus.

Sama sepertiku. Mungkin awal-awal menjalani, masih merasa berjalan lurus. Namun, di tanggal satu dari tiga ratus enam puluh lima hari ini, aku tersentak. Aku sama sekali tak berjalan lurus.

Tak terasa sudah banyak belokan yang kumasuki. Banyak tanjakan. Banyak polisi tidur. Tak sedikit persimpangan. Malah terkadang demi bisa bertahan, aku harus mengambil jalan yang jauh berbeda dari gol awal.

Gol-ku itu menjadi penulis. Penulis profesional. Full-time writer. But see? Apanya yang jalan lurus, kalau aku sudah menggunakan banyak jalan yang berbeda-beda. Menulis cerpen, iya. Menulis naskah novel, iya. Pernah beberapa kali coba menulis sinopsis atau skenario. Masih sempat menulis beberapa artikel non-fiksi, baik di blog ini maupun wadah menulis lainnya. Tidak betulan lurus, kan?!

Belum lagi, di pertengahan 2014, aku mencoba peruntungan untuk terlibat di bisnis online. Malah aku sempat tersesat sebentar di dunia fandom. Dua hal terakhir kulakukan, mungkin kulakukan dalam mengatasi kejenuhan menjalani profesi yang masih terasa asing untuk masyarakat Indonesia umumnya.

Tidak lurus. Berbelok-belok. Penuh kerikil. Ada beberapa polisi tidur. Ada tanjakan yang menukik tajam. Menemui persimpangan. Sesekali berhenti di lampu merah.

Bahkan dalam sebuah balapan mobil, tak pernah kutemui sirkuit yang lurus sepenuhnya. Jalanan lurus juga tak menantang sama sekali untuk tiap pebalap. Terkadang sebuah belokan maut malah jadi sebuah tantangan yang menarik. Ada sensasi tersendiri saat berhasil melewati belokan-belokan tajam yang berpuluh-puluh.

Pun dengan tanjakan. Dengan sekuat tenaga, dan memutar otak, satu tanjakan dapat terlewati. Sensasi lagi.

Bayangkan kalau kita berjalan -- atau berlari -- di jalan yang sungguh lurus. Membosankan. Iya, membosankan. It's pretty boring. Hanya terus berjalan tanpa bersua dengan belokan, polisi tidur, tanjakan, lampu merah, jalan yang berlubang, atau sebuah bundaran. Mana sensasinya? Kalau kata Mad Dog, "Nggak ada gregetnya!"

Mungkin jalan lurus itu hanya mitos. Dan aku, kini, lebih memilih jalan yang tak lurus sepenuhnya. Penuh sensasi. Bikin greget. Life is never flat. So, that's fun indeed.