Thursday, December 4, 2014

ANOTHER FICTION: XMAS… XMAS… XMAS… Best XMAS of my life!





            Artis. Asal katanya itu sebetulnya dari kata “artist” dalam bahasa Inggris yang artinya seniman. Dari situ, bisa diambil kesimpulan, artis itu tak hanya bintang sinetron, bintang iklan, ataupun penyanyi saja. Kita bisa juga menyebut artis untuk mereka yang… melukis, memahat, menulis, dan segala pekerjaan yang berbau seni. Walaupun citra artis sekaeang ini hanya sebatas seni akting atau seni musik.
            Dan karena citra artis di dunia akting inilah kisah ini bisa bermula. Adalah Malvin, seorang artis cilik (Oke ralat, mantan artis cilik). Sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak, ia sudah eksis tampil di layar kaca. Banyak produk yang sudah ia bintangi. Banyak juga sinetron dan FTV yang sudah ia mainkan. Salah satunya itu, Bocah Spekta – sinetron dengan rating tertinggi semasa ia SD. Bayangkan saja, sinetron itu sudah berlangsung selama tiga tahun; dan entah sudah berapa episode yang dibuat sutradara dan produsernya.
            Hanya saja, pekerjaan artis itu tak seperti pekerjaan-pekerjaan lainnya yang identik dengan masuk pagi-pulang sore. Sekali kita masuk ke dalam dunianya, kita serasa berdiri di atas sebuah roda. Ungkapan ‘hidup itu seperti roda’ benar-benar kita rasakan. Itulah yang dialami Malvin.
            Tepatnya saat beranjak jadi seorang remaja. Saat itu, di tengah kesibukannya syuting, bisa juga ia lulus SD dengan nilai yang amat cukup memuaskan. Ia sukses masuk ke SMP favorit. Masa-masa awal dia belajar sebagai pelajar putih-biru cukup berat, mengingat predikatnya sebagai artis cilik. Ia sering jadi objek mata murid-murid dan guru-guru di sekolahnya. Sesekali juga ia dimintai tandatangan atau permintaan foto bersama.
            Tapi setelah berlangsung setelah dua tahun, tepat setelah ia duduk di kelas sembilan, semuanya berjalan biasa saja. Normal. Tak ada yang istimewa. Ia benar-benar jadi seorang manusia lagi. Apalagi saat tak didapatkannya lagi tawaran main sinetron, FTV, ataupun iklan.
            Bukan karena ia lebih memilih untuk berkonsentrasi dengan studinya, hanya saja itulah dunia hiburan. Bagaikan serigala berbulu domba. Hanya karena fisik dan suaranya sudah berubah, ia dicampakan dan tergerus oleh bakat-bakat yang lebih yahud darinya.
            Tapi Malvin selalu mencoba berpikir positif. Baginya, tiadanya tawaran untuk main sinetron, FTV, film, atau iklan merupakan suatu sinyal untuk lebih berfokus mengejar cita-citanya jadi pebisnis dan membuka production house sendiri.
            Kini.. Malvin telah berubah menjadi remaja kebanyakan. Masuk sekolah di jam tujuh pagi, pulang di jam satu siang, tidur siang selama dua jam, main bersama teman-temannya di sore hari, dan segala rutinitas khas seorang anak kelas sembilan. Ia benar-benar sudah terlempar dari dunia keartisan.
            Saat ini pula, ia sedang berada di rumahnya. Tepatnya di dalam kamarnya yang serba sporty. Seprai berlogo klub sepakbola asal Inggris Manchester City. Poster-poster bergambar pemain-pemain sepakbola ternama. Beberapa action figure pemain sepakbola di atas rak buku atau meja belajarnya. Terakhir, selain isi rak pakaiannya yang banyak jersey, hampir kaset playstation-nya berbau olahraga, khususnya sepakbola.
            “Mar,” sahut Malvin pada teman sekelasnya yang duduk bersila sambil memainkan joystick - sama seperti dirinya.
            “Kenapa, Vin?” tanya balik Damar. “Gue lagi asyik main nih.”
            “Gue kangen.” kata Malvin singkat sembari matanya tetap fokus pada game Winning Eleven yang terpampang di layar televisi.
            “Kangen kenapa?” tanya Damar lagi yang matanya juga terfokus ke layar televisi.
            “Kangen sama dunia entertainment. Tiba-tiba aja gue kangen main sinetron atau iklan lagi. Gue juga merindukan teman main gue di Bocah Spekta. Yah lu tahu sendiri kan pemerannya siapa aja.”
            Malvin tak keberatan saat Damar menghentikan sementara pertandingan semu mereka di Winning Eleven. Selanjutnya Damar menyeringai Malvin. Ia cengar-cengir menatap temannya.
            “Lu kangen sama Ranty, yah? Itu tuh yang jadi Della di Bocah Spekta.” sindir Damar nyengir. “Gue inget banget, dulu pernah digosipin pacaran sama dia, kan?”
            “Ngaco lu..” tepis Malvin. “Nggak hanya Ranty aja kok yang gue kangenin, tapi seluruhnya. Si Ranty-nya, si Malik-nya, si Febby-nya, sutradaranya, produsernya; terutama suasana syutingnya itu, bro. Gue kangen banget bisa akting di depan kamera.”
            “Ya udah, cuy, ikut lagi aja syuting,” ucap Damar dengan lancarnya.
            “Nggak segampang itu masalahnya,” sergah Malvin. “Lu tahu sendiri, gue udah bukan bocah imut-imut kayak dulu lagi.” Malvin berkata seperti itu tanpa maksud menyombongkan diri. “Tinggi gue aja udah 165 cm. Suara juga udah pecah. Udah muncul kumis juga nih.” Ia menunjuk pada sejumput kumis di atas bibirnya.
            Damar nyengir. “Ya élah, cuy. Pede aja lagi. Mana nih Malvin yang dulu sering gue lihat di tivi-tivi. Malvin yang selalu tampil penuh percaya diri itu.”
            Malvin senyum alakadarnya saja.
            “Vin, lu tahu nggak? Akhir-akhir ini lagi booming sinetron-sinetron remaja.”
            “Jadi sekarang lu nontonnya sinetron nih? Katanya sinetron itu sampah semua.” ledek Malvin. 
            “Gak usah dibahas, deh.“ Damar kembali nyengir. “Yang jelas, ini kesempatan lu untuk balik lagi ke dunia yang pernah mengangkat nama lu itu.”
            “Tapi apa iya gue bakal diterima? Apa iya gue masih laku?” Malvin skeptis. “Gue  udah nyaris tiga tahun nggak tampil di televisi lagi.”
            “Jangan menyerah sebelum mencoba, cuy.” kata Damar menepuk bahu Malvin. “Besok gue temenin lu deh ke PH yang lu tahu. Lu masih inget kan tempatnya?”
            “Masih sih, cuman berharap aja tempatnya nggak pindah,” jawab Malvin.
            “Besok gue temenin lu ke sana. Selain nemenin lu syuting, gue juga penasaran sama suasananya, cuy. Dulu waktu kita masih SD, lu nggak pernah ajak gue ikutan sih.”
            Malvin geli mendengar kalimat terakhir Damar barusan..
            “Dan sekarang kita main lagi aja dulu.,” Damar menghidupkan kembali permainan Winning Eleven tersebut. “Besok sepulang sekolah, kita berangkat casting.”

*****

            20 Desember 2012. Sepulang menyelesaikan ujian Matematika dan Ujian Bahasa Indonesia, Malvin bersama sahabat masa kecilnya, Damar bergegas pergi ke production house yang dulu pernah mengorbitkan namanya: New Star Production. Untung alamatnya masih sama seperti dulu. Belum berpindah tempat. Yang berbeda itu hanyalah kondisi bangunannya. Tampak gedungnya itu sudah berganti cat – dari berwarna putih menjadi krem. Hanya itu saja; sisanya masih sama. Masih ramai dikunjungi oleh orang-orang yang mau casting atau keperluan lainnya. .
            Ditemani Damar, ia masuk ke dalam gedung tersebut. Mungkin karena perubahan fisiknya, nyaris tak ada satupun yang mengenalnya sebagai Jojo, si Bocah Spekta. Malvin benar-benar diperlakukan seperti ‘orang baru’. Baginya, itu jadi suatu keuntungan. Ia tak harus risih terus menerus menjadi objek pandang khalayak. Sampai ia duduk di ruang tunggunya pun, ia masih tetap dianggap sebagai ‘orang baru’; padahal ini bukan pengalaman pertamanya ikut casting.
            “Cuy, lu kayaknya benar-benar dilupakan yah?” bisik Damar pada Malvin yang duduk di samping kanannya.
            “Makanya kemarin gue bilang juga apa. Apa iya gue bisa lolos casting? Jangan-jangan kemampuan akting gue malah udah hilang lagi?” balas Malvin sambil berbisik.
            “Pede aja, cuy. Akting itu kan bakat alami lu, nggak mungkinlah hilang begitu saja.” kata Damar mengepalkan tangannya di hadapan Malvin.
            Di saat bersamaan, seorang gadis cantik yang duduk di sebelah kirinya menyapanya. Gadis itu berambut panjang dan berwajah tirus. Mata gadis itu agak sipit dengan hidungnya yang meruncing indah. Gadis yang sepertinya sebaya dengan mereka berdua ini tersenyum manis. Hal itu membuat mereka berdua jadi tersenyum kikuk.
            “Maaf,” kata gadis itu. “Kamu Malvin, bukan?”
            Malvin mengangguk. “I-iya… Be-benar…”
            “Si Jojo, Bocah Spekta?” kata gadis itu memelototkan kedua bola matanya.
            Malvin tak menjawab, hanya mengangguk dengan takut-takut. Dalam hatinya, senang juga masih ada orang yang ingat siapa dirinya. Ada secercah optimis dalam dirinya untuk bisa masuk ke dunia akting lagi.
            Gadis itu tersenyum. Dengan mata berbinar-binar, ia mengangsurkan tangannya yang mulus pada Malvin. Malvin balik mengangsurkan tangan; dan Malvin bersama gadis itu saling berjabat tangan.
            “Aku Ranty. Ranty Marcella, lawan mainmu di Bocah Spekta. Masih ingat, kan?” ujar Ranty.
            Malvin memainkan jari telunjuknya di hadapan Ranty. “Oh Ranty? Si Anty, yang dulu tiap syuting selalu nangis dan bikin pusing para kru itu?”
            Rany nyengir. “Gak nyangka lu masih inget gue ternyata. Bahkan inget nama panggilan gue waktu kecil dulu.” Terjadi perubahan gaya bahasa dari Ranty sewaktu Malvin mengenali dirinya.
            “Justru gue yang harusnya bilang gitu lagi,” kata Malvin. “Oya, lu mau ikut casting juga.”
            “Iya. Sama kayak lu juga, gue kangen suasana syuting lagi.”
            “Tahu aja lu gue kangen,”
            “Yah habis apalagi dong yang bikin artis cilik yang dulu ngetop itu datang kembali ke kantor PH, setelah lama tak muncul di televisi.” seloroh Ranty.
            Martin nyengir – tapi mulai agak terlihat jadi terkekeh-kekeh sendirian.
            “Oya, Ran, kenalin ini sahabat gue dari kecil, Damar.” Malvin memperkenalkan Ranty pada Damar. “Damar, ini Ranty – lawan main gue dulu di Bocah Spekta,”
            Ranty dan Damar saling berjabat tangan.
            “Nggak nyangka yah? Ranty yang imut-imut, sekarang jadi secantik ini.” Damar mulai mengeluarkan bakat menggombalnya. Mendengar itu, Ranty jadi bersemu merah jambu pipinya.
            “Mulai deh lu gombalnya,” celetuk Malvin.
            Selesai berjabat tangan, Ranty berkata lagi pada Malvin: “Vin, FB lu ditutup yah?”
            “I-iya. Waktu gue kelas tujuh, ada yang nge-hack akun gue, dan sejak itu gue mutusin nggak main FB lagi. Akun yang di-hack itu juga udah gue report as spam.” jawab Malvin.
            “Oh gitu,” respon Ranty. “Anak-anak di Bocah Spekta berusaha menghubungi lu buat ajak reunian lusa nanti. Kami semua agak kesulitan menghubungi lu. FB tutup, nomor lu ganti pula. Untung si Febby punya nomor bokap lu. Bokap lu kan yang jadi manajer lu dulu?”
            Malvin mengangguk.
            “Febby, dua hari yang lalu, udah kasih tahu gue kalau dia udah ngasih tahu bokap lu soal acara reuni kita. Lu udah dikasih tahu belum?”
            Malvin menggeleng.
            “Mungkin nanti malam kali. Soalnya Feby bilang, kata bokap lu, lu lagi ujian. Mungkin doi takut kabar itu jadi rusak konsentrasi lu di sekolah.”
            “Mungkin juga,” kata Malvin mengiyakan. “Memang acaranya dimana?”
            “Di Sky Dining – Plaza Semanggi, jam 18.30.” jawab Ranty tersenyum.
            “Tanggal 22, jam segitu, gue bisa kok datang. Apalagi hari ini juga hari terakhir gue ujian.” ucap Malvin dengan mata berbinar-binar. Akhirnya setelah sekian lama, ia bisa bertemu dengan kawan-kawannya di Bocah Spekta dulu.
            “Oya, kayaknya bisa tuh acara reuninya itu jadi acara natal juga. Tiga harinya kan natal?!”
            “Rencananya sih begitu.” ujar Ranty tersenyum. “Makanya lu beneran datang yah ke acaranya. Rencananya juga, kami mau adain acara tukar kado.”
            “Pasti lah ,” Ada kesungguhan di balik mata Malvin. “Asal lu tahu, selama dua bulan ini, gue kangen sama suasana syuting dan sama teman-teman gue di Bocah Spekta.”
            “Mungkin karena lu dulu eksis banget yah di televisi. Nyaris tiap iklan, ada muka lu. Makanya lu kayak gak bisa terima saat ketenaran memudar.” seloroh  Ranty.
            Malvin terkekeh-kekeh.
            Di saat ia mulai menikmati nostalgianya dengan Ranty, terdengar di telinga, namanya dipanggil oleh salah satu karyawan PH. Ia berjalan menuju ke ruangan casting.
            “Malvino Adam Tapiheru?” kata karyawan tersebut.
            Malvin mengangguk.
            “Eh sebentar deh, kayaknya saya kenal kamu, deh,” Karyawan bertubuh sedikit gempal itu menahannya masuk. “Kalau nggak salah, kamu Jojo, kan? Yang ada di sinetron Bocah Spekta?”
            Malvin mengangguk lagi.
            “Waaah…” Karyawan itu menjerit girang. Hampir seisi ruang tunggu jadi memperhatikannya dan Malvin. “Nggak nyangka deh, saya bisa ketemu mas Jojo. Tahu gak, Mas? Saya dulu suka nontonin sinetron Mas.”
            “Makasih.” kata Malvin dengan kedua matanya mulai berkaca-kaca. Ia mulai terharu. Apakah ini suatu pertanda ia akan bisa kembali lagi ke lokasi syuting?
            “Mari Mas, saya antar ke ruang casting-nya. Ini suatu kehormatan bagi saya bisa membawa mantan artis cilik kembali ke ruang casting lagi.”
            Malvin pun setengah diseret oleh karyawan tersebut ke dalam. Saat di dalam ruangan tersebut, siapa sangka para kru yang bertugas di bagian casting mengenali dirinya lagi.
            “Hey,” sahut salah satu kru. “Ini si Jojo, kan? Yang main di Bocah Spekta dulu?”
            “Wah siapa sangka kita kedatangan mantan artis cilik yang dulu pernah kita orbitkan.” timpal kru yang lainnya.
            Walaupun dunia akting sudah lama dirindukannya, Malvin tetap saja kikuk berhadapan dengan perlakuan para kru di ruang syuting. Ingat, dia sudah lama tak tampil di layar kaca televisi lagi.
            “Oke, saya rasa kamu sudah tahu kan harus ngapain di sini?” ucap salah satu kru yang sepertinya ketuanya. “Nih ambil script-nya, pelajari sebentar, dan mulai berakting di depan kami semua. Bisa, kan?”
            Malvin mengangguk seraya beringsut ke arah para kru dan mengambil script itu. Mulailah ia berakting sesuai dengan isi naskah skenario tersebut. Terbukti kekhawatiran Malvin salah besar. Kemampuan aktingnya masih bagus. Beberapa kru yang jadi ‘juri’nya itu beberapa kali mengangguk-angguk alih-alih terkesima dengan penampilan aktingnya.  Di saat terakhir, para kru sepakat Malvin lolos casting dan mendapatkan peran utamanya.
            Martin pun meloncat-loncat kegirangan keluar ruangan. Ranty dan Damar yang melihatnya tahu Malvin diterima dari perilakunya itu. Mereka berdua sama-sama memberikan ucapan selamat pada Malvin.
            Berulang kali Malvin merapalkan sebuah doa. Siapa sangka kerinduannya akan dunia yang begitu akrab dengannya semasa bocah dulu bisa terbayar sudah. Tak hanya bisa bereuni dengan teman-temannya di sinetron Bocah Spekta yang ia dulu pernah mainkan, ia juga berhasil mendapatkan peran utama di bakal sinetronnya nanti. Ini benar-benar menjadi kado natal terindah yang pernah ia dapatkan selama ini.

            This is the best Xmas of my life, tutur Malvin dalam hatinya.