Thursday, December 4, 2014

ANOTHER FICTION: Salahkah Aku Mencintai Seorang Pelacur?



                                       
           
            Cinta itu buta. Dulu waktu kecil, aku kurang begitu mengetahui apa maknanya. Setidaknya itu sampai aku kelas 3 SMP. Karena setelah itu, perlahan-lahan aku mulai mengerti apa maksudnya. Aku paham.
            Paham bahwa cinta itu buta bukan hanya sekedar pepatah kuno. Sekarang pun, kita bisa melihat fenomena itu sendiri; seorang pria berwajah buruk rupa bisa menikahi wanita cantik. Mungkin saja film animasi Beauty and the Beast itu terinspirasi dari dunia nyata. Siapa yang tahu?
            Cinta itu buta. Awalnya, aku hanya menjadi pengamat saja dari beberapa scene per scene yang dimainkan oleh para kerabatku. Aku sering melihat fenomena Beauty and the Beast itu. Cowok gendut bisa punya pacar seksi. Cewek berkacamata bisa punya pacar atletis. Dan fenomena itu tak terjadi untuk satu-dua kasus saja. Dalam setahun, aku bisa melihat lima kasus – bahkan lebih.
            Hingga akhirnya, fenomena itu menghampiri ke kehidupanku. Aku terkena sindrom ‘cinta itu buta’. Aku tak akan melupakan kapan peristiwa itu terjadi. 12 Mei 2009. Yah itulah tanggal, bulan, dan tahunnya.
            Waktu itu, aku masih seorang mahasiswa. Mahasiswa Psikologi semester empat. Waktu itu juga, aku mengunjungi klub malam atau diskotek untuk pertama kalinya – bersama teman-teman kelompokku. Dosen Psikologi Sosial-ku meminta aku dan keempat teman karibku untuk ke sana dan mengamati pola kehidupan di sana. Nantinya hasil laporan itu harus diketikan dalam sebuah paper dengan minimal sepuluh halaman kertas A4.
            Saat itu merupakan kunjungan pertamaku ke tempat hiburan malam. Maklum aku tipikal anak rumahan. Orangtuaku, khususnya mama, begitu protektifnya dalam menjaga ketiga anaknya. Waktu aku memberitahukannya saja, mamaku sampai berulang kali berucap padaku agar aku tidak coba-coba minum minuman keras ataupun menggunakan obat-obatan terlarang. Aku sampai capai mendengarnya, kalau kunjunganku ke sana untuk kepentingan studi. Aku sungguh tak bisa membayangkan, apabila aku tak memberitahukannya lebih dahulu. Bisa-bisa, saat aku tidak pulang ke rumah pada jam sembilan ke bawah, mamaku malah akan terus menerus meneleponku, hingga ponselku harus kumatikan, dan besoknya aku diceramahinya selama kurang lebih satu jam.
            Jujur sih, aku ke sana murni mengobservasi keadaan di sana. Aku sama sekali tak terbawa suasana di sana. Yah walau sesekali aku juga mencicipi beberapa merek minuman keras yang dipesan oleh temanku – tapi tak sampai mabuk juga, kok.
            Kondisi di klub malam itu – saat aku ke sana – tak jauh berbeda dengan yang pernah kulihat di film-film. Suara bising, lampu kedap-kedip, dan di lantai dansanya, banyak orang yang joget kesetanan tanpa beban. Selain orang-orang yang begitu asyik menari, kulihat juga ada beberapa orang yang duduk di beberapa bangkunya. Di salah satu bangku itulah, aku melihat seorang gadis yang sepertinya sebaya denganku, tengah bermesraan dengan seorang pria yang mungkin sudah sepantasnya menjadi ayahnya.
            Saat aku menanyakan perihal gadis dan om tersebut, temanku, Hanggar bilang padaku bahwa gadis tersebut adalah seorang pelacur. Sebetulnya aku tak perlu menanyakannya. Momen tersebut sudah pernah kulihat di film atau sinetron – namun baru kali ini lihat langsung. Detilnya sih nyaris sama, tapi aku menghindari untuk berburuk sangka.
            Gadis dan om itu… atau mungkin tepatnya, gadis itu… gadis itu seolah menyedot semua warna, garis, dan titik – hingga di tempat itu, hanya ada aku dan gadis itu. Aku tak tahu kenapa perhatianku hanya tertuju pada gadis berambut panjang dan berlesung pipi itu. Ada sesuatu dalam diriku, sehingga aku harus mengunjungi klub malam itu lagi untuk bertemu gadis nakal tersebut. Aku sampai  mendesak teman-temanku untuk mendatangi gadis itu besok. Aku berdalih, wawancara dengan gadis tersebut juga bermanfaat untuk tugas kuliah.
            “Yah Mas, ada apa yah?” Begitulah pertanyaan yang ia ajukan padaku saat aku beringsut mendekatinya. Saat itu, ia sedang duduk sendirian, sambil mengutak-atik smartphone-nya. Mungkin menghubungi temannya atau… pelanggannya.
            “Eeeeh… Kalau boleh tahu, nama mbak siapa yah?” tanyaku balik.
            “Buat apa? Mas mau booking saya memangnya?” Gadis itu mencoba defensif. Waktu ia berkata seperti itu, aku melihat sebuah senyuman terindah yang belum pernah kulihat selama ini.
            “Hmmm… Bisa dibilang seperti itu. Tapi bukan booking seperti biasanya. Saya dan teman-teman saya berniat mewawancarai mbak untuk tugas kuliah. Tuh di sana,” jawabku, sambil menunjuk ke arah teman-temanku yang berdiri dekat meja bartender. “Mbak, tenang saja. Karena selain identitasnya bakal disamarkan, mbak juga akan kami bayar.”
            Gadis itu menyimpulkan senyum terindah itu lagi. Entah kenapa pula, jantungku jadi berdetak-detak kencang.
            “Boleh… Jadi kapan? Dan berapa bayarannya?”
                                                                        *****
            Selanjutnya, acara observasiku dan teman-temanku berlanjut ke sebuah kamar hotel. Untung saja di kelompokku, anak-anaknya lumayan tajir. Bukan suatu masalah besar bagi kami, untuk membayar seorang pelacur dan kamar hotel. Pengorbanan itu juga terbayarkan dengan sebuah nilai A di Kartu Hasil Studi-ku.
            Mungkin saat kita masuk ke kamar hotel bersama seorang wanita cantik di malam hari, banyak orang mengira ada apa-apa. Apalagi dia check-in bersama aku dan keempat temanku. Para karyawan hotel pasti menyangka akan terjadi gangbang.  Tapi berani sumpah, gadis nakal itu tidak kami apa-apakan. Aku dan teman-temanku hanya mewawancarainya. Bukan mewawancarai juga. Mungkin lebih tepatnya, mengobrol. Yah kata itu lebih sesuai, hingga aku bisa menemukan kata lain yang lebih pas.
            Semenjak pintu kamar dibuka, kami mempersilakan gadis itu duduk di ranjang hotel, yang dilapisi bed cover. Aku, Hanggar, Rio, Donny, dan Marco duduk mengitarinya. Tak ada satupun dari kami berlima yang berdiri. Karena kami menganggap, duduk jauh lebih sopan daripada berdiri. Donny mengeluarkan blackberry-nya dan menghidupkan aplikasi recorder-nya. Lalu gadis itupun mulai bercerita, setelah kami semua mempersilakannya.
            Ia mengaku berasal dari provinsi Sulawesi Utara, tepatnya di kota Tondano. Sama seperti WTS-WTS lainnya, ia terjerumus ke liang prostitusi ini juga karena faktor keluarga. Ibunya telah lama meninggal – semenjak melahirkannya. Tinggallah ia bersama ayah dan abangnya. Ayahnya merupakan seorang pengusaha yang cukup sukses. Namun saat ia kelas 11 SMA, tiba-tiba saja ayahnya terkena stroke dan meninggal sebulan setelah dirawat. Entah bagaimana caranya juga – ia juga bingung, segala harta kekayaan keluarganya bisa jatuh ke adik ayahnya. Kemudian, tanpa alasan jelas dan logis, ia dan abangnya diusir pamannya dari rumahnya sendiri. Dengan uang yang tersisa di dompet, mereka berdua akhirnya mengontrak rumah.
            Rupanya masalah yang datang seperti serangan jantung itu membuat abangnya galau. Pikirannya diserang badai. Abangnya jadi sering uring-uringan. Sepertinya abangnya belum siap memikul beban yang begitu besarnya. Sehingga kuliah abangnya  jadi berantakan dan  memilih drop out sebulan kemudian. Lebih parahnya lagi, abangnya ikut serta dalam arena perjudian. Masalah baru datang. Hutang yang begitu besar membuat abangnya nekat menjual dia ke seorang pengusaha klub malam. Jadilah ia berhenti sekolah, karena harus terbang ke Jakarta dan menjadi penjaja cinta.
            Awalnya dia kikuk dengan kehidupan barunya itu. Dengan berat hati, ia melakoni pekerjaan barunya. Menemani om-om minum, diajak check-in ke hotel, dan melayani nafsu bejat om-om tersebut. Apapun permintaan om-om itu harus ia lakukan. Jika tidak, uang tak akan didapatkannya dan tubuhnya harus rela dipukuli oleh seorang germo.
            Namun empat bulan setelahnya, ia mulai menikmatinya. Selain dibanjiri uang tiap malam, ia juga mulai bisa menikmati setiap permainan seksualnya. Tak hanya soal uang, soal birahi juga menjadi alasannya kenapa begitu betahnya berkubang dalam liang prostitusi. Ia begitu menikmati dunia esek-esek itu, sampai sudah melupakan segala hal buruk yang pernah dialaminya, bahkan termasuk pula melupakan abangnya. Tapi menurut kabar burung yang ia dengar, abangnya diamankan aparat, karena membunuh pamannya yang telah mengusirnya.   
*****
            Setelah check-in di hotel demi tugas kuliah, ada sesuatu yang membuatku harus terus mengenal gadis kawanua bernama Velita itu. Entah kenapa pula, wajah cantiknya, tubuh montoknya, hingga penampilan seronoknya terus menjajah pikiranku. Mungkin cinta telah membuatku buta, sehingga nekat minta nomor ponselnya dan meneleponnya tiga hari setelah check-in. Urat maluku sepertinya putus. Sadar-tak sadar, aku mengajaknya untuk makan malam di restoran bintang lima yang ada di ibukota. Awalnya dia menolak. Namun setelah bujukan dan rayuanku – sekaligus dijanjikan akan dibelikan sesuatu yang dia mau, dia pun luluh.                                                                                                                                                                  Sehabis shopping, aku mengajaknya ke restoran favoritku untuk makan malam. Di sana, matanya melotot saat mendengar perkataanku. Aku bilang padanya kalau aku jatuh cinta padanya. Ia menganggapku hanya becanda saja. Dia bilang, mungkin saja jatuh cinta yang kurasakan adalah jatuh cinta seorang pelanggan terhadap wanita kupu-kupu malam yang hendak disewanya. Namun aku meyakinkannya, dengan cara meletakan tangan kanannya di dadaku. Sambil samar-samar ia mendengar suara detak jantungku, aku menceritakan setiap keanehan yang kurasakan sejak bertemu dirinya. Tiba-tiba saja matanya sembap.
            Ucapnya dengan mata masih berlinang air mata, “Kamu tak sepantasnya mencintaiku. Aku wanita jalang. Kotor. Sedangkan kamu? Kamu anak orang berada. Mahasiswa pula. Kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku.”
            Aku menjawab, “Kalau boleh memilih, aku juga inginnya jatuh cinta dengan wanita baik-baik. Tapi hati ini memilih kamu,” Aku menunjuk-nunjuk dadaku sendiri. “Aku serius. Vel. Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu.”
            Dia tak berkata apa-apa lagi. Hanya menangis, berdiri, dan meninggalkanku tanpa pamit. Bukan tanpa pamit, tapi kata-kata yang kudengar juga bukann suatu kata-kata yang pantas digunakan untuk say goodbye. Karena dia berucap, “Maaf, aku nggak bisa membalas cintamu. Lupakan saja aku.”      
            Namun aku tidak menyerah begitu saja. Aku rutin menemuinya di tempat ia biasa mangkal. Dengan dalih mau mengerjakan tugas bersama teman, aku keluar rumah tiap jam 8-9 malam. Tiap kali kudekati, ia selalu menjauh. Selalu saja ia membuang mukanya, seolah-olah aku ini musuh publik nomor satu. Tapi aku tetap menyerah. Aku akan selalu ada di dekatnya. Tak peduli betapa sakitnya hatiku, saat melihatnya merayu para pelanggannya.
            Untuk pembuktian cintaku padanya ini, tanpa atau dengan sepengetahuannya aku membantunya. Saat ia butuh uang transport, aku memberikannya uang. Ia menolak. Namun kudesak, dengan alih-alih mengatakan bahwa aku hanya meminjamkannya saja. Ia pun mengambil uang itu dari tanganku dengan sedikit berat. Ia tampak ragu-ragu.
            Bahkan saat ia diganggu preman pun, aku sigap menolongnya. Ia memang seorang pelacur, namun ia tetap seorang wanita. Ia masih memiliki harga diri seorang wanita yang wajib dibela, walau hanya secercah saja. Tak sepantasnya ia diperlakukan seperti binatang, hanya karena statusnya sebagai seorang pelacur. Begitulah nuraniku berbicara – entah itu memang nurani, atau hanya sekelebat pikiran yang muncul di kala jatuh cinta.
            Cinta itu buta. Cinta telah membutakan mataku, sehingga rela membiarkan diriku sendiri dalam bahaya demi seorang yang harga dirinya mungkin lebih rendah. Demi cinta yang buta ini, aku rela perutku dihujani tinju dari satu-dua preman. Demi cinta pula, mataku harus lebam. Kalau saja tak ada kamtib yang kebetulan lewat, aku pasti sudah tewas dan bisa saja, foto diriku ada di salah satu koran besok pagi.
            Kamtib itu segera mendatangiku. Namun orang-orang brengsek itu malah kabur. Dasar pengecut! Lalu samar-samar kulihat gadis itu, Velita, menghampiriku yang terbaring lemah di trotoar. Ia memelukku dan berucap, “Preman-preman itu memukuli suami saya, Pak. Entah apa salah suami saya ini?”
            Suami? Tanpa sengaja, di saat aku sedang sekarat seperti ini, aku malah nyengir. Selama ini kan, ia selalu menolak kehadiranku di hatinya. Malam ini, ia malah mengakui aku sebagai suaminya. Hmmm…
            Ah, tidak. Sebaiknya aku tidak terlewat percaya diri dulu. Mungkin saja ia berkata seperti itu sebagai kamuflase. Ingat, dia seorang pelacur bukan? Mungkin saja ia berkata seperti itu untuk menghindari ditangkap oleh kamtib-kamtib itu. Perempuan keluyuran di atas jam 9 malam bukan perempuan yang baik, bukan?
            Tapi… Bisa saja kan, karena dia tak mau melibatkanku dalam masalah yang lebih serius lagi? Dia bisa saja memilih untuk kabur – sama seperti preman-preman tersebut. Dengan penampilannya yang begitu seronok, pastilah anggapan kamtib itu sama seperti khalayak ramai: seorang lelaki hidung belang bersama seorang perempuan nakal. Namun faktanya, ia tak kabur. Ia malah memilih opsi lain. Opsi memelukku, menganggapku suaminya, dan ikut mengantarkanku ke sebuah rumah sakit terdekat. Bahkan samar-samar kudengar, ia juga membayarkan biaya awal pengobatanku. Ia jugalah yang menghubungi keluargaku, dengan mengutak-atik blackberry yang kutaruh di kantung celanaku.
            Aku tak tahu apa maksud dari segala tindak-tanduknya itu. Namun nuraniku berkata, ia melakukan itu semua bukan karena kemanusiaan semata. Ia melakukannya karena cinta. Cinta yang murni. Mungkinkah aku telah berhasil menaklukan hatinya?

            Cinta itu buta. Aku tak peduli anggapan orang lain. Aku tak peduli kecaman orangtua dan keluarga besarku. Aku juga tak peduli sikap genitnya terhadap banyak lelaki. Karena yang kutahu, aku harus memperjuangkan cinta ini. Aku harus memperjuangkannya sampai naik pelaminan. 

2 comments:

  1. Kepikiran ya bikin ending kayak gitu?! Hebat

    ReplyDelete
  2. Yang penting ngga berjuang sendirian.. :)

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^