Saturday, November 29, 2014

ANOTHER FICTION: Itu Pacarku...





            Menunggu kelas. Hal itu lumrah terjadi bagi para mahasiswa. Jadwal perkuliahan memang berbeda dengan jadwal mata pelajaran semasa SMA dulu. Lebih fleksibel – karena mahasiswa sendirilah yang menentukan. Berbeda, bukan, dengan saat SMA dulu? Semasa SMA, jadwalnya itu pihak sekolah yang menentukan. Karena sekolah yang menentukan, mana ada jeda antar satu pelajaran dengan pelajaran lainnya.
Sungguh berlainan dengan kuliah. Waktu kuliah, tak ayal ada jeda dua jam antara kelas satu dengan kelas lainnya. Jangankan dua jam, tiga-empat jam bisa, kok. Kelas pertama jam tujuh pagi, lalu dibikin kelas berikutnya jam empat sore. Itu bisa diatur. Kan kita-kita ini sebagai seorang mahasiswa yang mengatur jadwalnya.
Sekiranya itulah yang menimpa sahabat kita ini… Joshua. Selepas menyelesaikan kelas Dasar-dasar Manajemen di jam tujuhnya, ia mulai terasa senewen dengan jeda panjangnya. Bayangkan saja, kelas berikutnya itu jam satu siang. Ah, ah, ah, ia agak menyesali kecerobohannya menyusun jadwal pas masa KRS (Kartu Rencana Studi, red)-nya.
Patut disyukuri, ia diajak main ke kosan temannya, Ilham. Kosan Ilham tak terlalu besar, tak terlalu kecil, tak terlalu mewah, terlalu kumuh. Yah bisa dibilang, kosan Ilham itu…. yang sedang-sedang saja (Jadi seperti judul lagu yah).  Kosan Ilham ini juga kosan khusus pria dan kebanyakan yang menginap itu pekerja kantoran atau buruh. Hanya sepuluh persennya itu mahasiswa atau pelajar. Tak usah heran juga, kalau siang harinya begitu sepi. Amat kontradikdtif dengan kondisi lalu lintas Jakarta yang selalu hiruk-pikuk.
“Wuih gila lu Ham,” Joshua terpekur mengedarkan pandangan ke seluruh isi kamar Ilham. “Lu bayar berapa nih kosan? Bisa masuk komputer sama PS segala? Betah gue tinggal di sini – nggak pulang-pulang.”
Ilham nyengir. “Cukup mahal sih. Tujuh ratus lima puluh ribu per bulannya. Tapi sebanding-lah dibandingkan sama kosan gue sebelumnya. Udah mahal-mahal, tapi keamanannya rawan. Lu masih ingat, kan, gue pernah kehilangan laptop di sana?”
Joshua mengangguk, sementara Budi berceletuk, “Masih-lah, lu kan cerita sampai ribuan kali ke anak-anak?!”
“Lebay lu, Nyuk.” damprat Ilham. “Ya udah main PS yuk, sembari nunggu kelas nanti. Kita masih sekelas, kan?”
Secepat kilat, Ilham beringsut menuju televisi mini dan menyalakannya. Sebelum televisinya itu kembali mengakrabi visual dari game-game playstation dua miliknya, layarnya menunjukan sebuah tayangan infotainment. Salah satu beritanya itu adalah perihal akan tayangnya di bioskop-bioskop sebuah film. Menurut beritanya, film tersebut akan menampilkan aktor-aktris tenar dari luar Indonesia – selain menampilkan artis berbakat jebolan suatu ajang pencarian bakat di sebuah stasiun televisi. Artis itu… Rachel Catherina. Dan ke sanalah mata Joshua terfokus.
“Eh cuy, lu kenapa?” tanya Budi heran. “Biasa aja-lah lihatnya.”
“Iya, nih, kenapa sih si Joshua ini? Macam kayak enggak pernah nonton infotainment aja.” lanjut Ilham.
Joshua tersenyum tipis. “Kalau gue bilang, pasti lu semua enggak bakal percaya.”
“Apaan sih lu, Jos? Lebay lu.” sahut Raja. “Emang si Rachel itu siapa lu? Kakak, adik, sepupu, atau pacar?”
Kata terakhir: ‘pacar’ membuatnya mengangguk pelan. Ketiga temannya jadi semakin memandanginya dengan kedua alis bertautan.
“Siapa lu, dia?” tanya Ilham.
“Dia pacar gue.” jawab Joshua mantap.
Suasana kamar Ilham jadi makin riuh nian saja. Untung suasana kosan tak terlalu ramai, sehingga sepertiya tak akan keberatan mendengar suara tawa yang begitu menggelagar tersebut.
“Ah becanda aja lu, Jos,” ujar Raja tak percaya. “masak cewek sebening Rachel bisa punya cowok keling kayak lu sih?”
“Doi juga tajir lagi. Denger-denger bisa tiga bahasa juga, selain suaranya yang dahsyat.” timpal Budi.
“Enggak mungkin-lah doi jadi pacar lu. Kapan lu ketemu dan jadiannya?” Ilham mengakhiri percakapan skeptis tersebut.
“Gue serius, bro,” kata Joshua tegang. “Rachel itu beneran pacar gue. Gue sama dia sekolah bareng di SMA 54 Tangerang. Kami jadian sejak kelas sebelas dan malah gue sendiri yang nganterin dia audisi ajang tersebut.”
 “Ah ngaco lu.” ledek Ilham. “Lu lagi demam yah?” Ilham menempelkan telapaknya ke kening Joshua.
“Gue serius, Ham.” Joshua menepis tangan Ilham dari dahinya. “Gue bahkan tahu, kok, seluk-beluk Rachel ini. Dia tinggal di Sutera Kirana, rumahnya tingkat dua – dan mewah, punya adik laki-laki yang sekarang kelas sepuluh, dan bokapnya itu diplomat di Spanyol sana.”
“Palingan juga hasil browsing dari internet.” Budi masih mengernyitkan keningnya. “Lu kalau nge-fans sama dia, jangan pake diaku-akuin sebagai pacar, dong. Jangan sampai fanatisme bikin lu jadi penghuni rumah sakit jiwa, bro.”
“Bener banget.” Raja membenarkan ucapan Budi barusan. “Apalagi denger-denger Rachel ini pun baru jadian sama salah satu peserta di ajang pencarian tersebut. Seminggu lalu gue baru denger beritanya di infotainment.”
“Nonton infotainment juga, nih?!” Ilham meledeki Raja.
“Terpaksa, cuy, habisnya di rumah gue, nyokap sama adek demen banget nonton infotainment.” Raja nyengir.
Apa? Rachel menjalin asmara dengan pria lain? Lalu bagaimanakah dengan hubungan mereka yang akan merayakan hari jadian mereka yang ketiga? Jantung Joshua benar-benar dicabik-cabik mendengar informasi tersebut.
“Tadi barusan lu bilang apa?” Joshua mengonfirmasi hal tersebut ketiga temannya itu.
“Iya, jadian,” jawab Raja. “Denger-denger Rachel jadian sama Brian, salah satu kontestan di sana. Cinlok gitu, deh. Makanya kali-kali nonton tivi juga dong. Jangan asyik main basket sama game online doang.”
“Tuh denger, Josh.. Doi enggak mungkin-lah pacarnya lu. Ngimpi aja.” ujar Budi.
Joshua tak menjawab, selain tersenyum getir. Dengan hati yang sedang dinaungi awan gelap, ia bergegas keluar kamar Ilham. Ketiga temannya itu jadi heran melihatnya berkemas.
“Lu mau kemana?” tanya Ilham.
“Gue mau balik, Ham. Gue titip absen aja yah, ntar.” jawab Joshua sembari membuka pintu. Ia pun keluar dan pergi meninggalkan teman-temannya yang termangu-mangu. Ketiga temannya benar-benar garuk-garuk kepala karenanya.
Ada apakah dengan Joshua ini? Apakah benar dia itu pacar sesungguhnya Rachel? Tapi masak iya sih? Ini bukan fairy’s tale macam Beauty and the Beast, dimana seorang yang buruk rupa bisa punya kekasih berwajah menawan seperti Belle. Ah entahlah, dunia ini memang dipenuhi hal-hal absurd.

*****

Hari ini, untuk kesekian kalinya, ia cabut kelas. Ada suatu urusan yang membuatnya minta tolong ketiga temannya itu untuk mengabseni dirinya; untung saja dosennya itu agak tak acuh soal absensi. Rachel Chatarina. Itulah urusan Joshua yang benar-benar genting.
Rumah Rachel, si penyanyi berbakat itu masih ada di dalam pikirannya. Jangankan hapal, ia beberapa kali mengunjungi rumah itu. Yah walaupun Rachel sama sekali tak bisa ditemui. Ia paham. Rachel pasti sibuk dengan dunia barunya itu. Tapi apa iya? Masakan saking sibuknya, hubungan cinta mereka harus kandas? Masih terngiang-ngiang di otaknya kata-kata Raja tadi siang.
“…Denger-denger Rachel jadian sama Brian, salah satu kontestan di sana. Cinlok gitu, deh…”
Mungkin itulah sebabnya, Rachel jadi sulit ditemui dan dihubungi. Tiap ke rumah, pembantunya selalu bilang tak ada di tempat. Nomor teleponnya juga sepertinya ganti. Akun facebook, akun twitter… ditutup. Ah kalau tahu akan seperti ini, harusnya ia tak mengijinkan pacarnya itu ikut ajang tersebut. Tapi sudahlah. Bukankah jika ia larang, ia akan jadi orang egois? Meskipun kali ini, Rachel-lah yang jadi si egois itu. Si egois yang tak peduli dengan perasaannya.
Tak seperti biasanya, kali ini ketukan pintunya tak terdengar halus. Agak kasar. Itu membuat Mbok Jum, pembantu di rumah Rachel berwajah mangkel.
“Eh Mas Joshua, ada apa?” tanya Mbok Jum ketus.
“Rachelnya ada?” tanya Joshua tampak geregetan.
“Belum pulang.”
“Pulangnya jam berapa yah?”
“Biasanya sih sore.”
“Sorenya jam berapa?”
“Jam lima, mungkin.”
“Oh gitu, ya udah deh, Mbok, nanti sore jam lima aku ke sini lagi.” Joshua pamit dan meninggalkan sebentar rumah mewah sang penyanyi debutan.

*****

Setelah lama berkutat di sebuah mall hanya untuk menunggu Rachel pulang ke rumahnya, Joshua kembali ke sana. Jam di arloji, pukul 17:24. Seraya duduk di lantai teras rumah Rachel, ia mengamati ada mobil yang akan masuk ke garasinya. Tampak Mbok Jum sibuk menyambut kedatangan tuan rumahnya. Atau lebih tepatnya, anak tuan rumah. Yah yang datang itu, Rachel, seseorang yang ia tunggu-tunggu.
Bergegaslah Joshua mendekati Rachel yang baru keluar dari mobil sedan tersebut. Wajah Rachel tak terlihat senang. Diseretnyalah kedua kakinya untuk segera menjauhi Joshua, Namun Joshua tak menyerah. Ia kejar dan berhasil meraih lengan Rachel, pacarnya itu.
“Rachel, sebentar,” ujar Joshua. “aku mau bicara sama kamu.”
Rachel membatalkan niatnya untuk menuju ke kamarnya.
Ada apa? Setelah kamu cuekin aku, kamu masih mau ngomong sama aku?”
“Cuekin kamu? Mana mungkin-lah aku cuekin kamu.”
“Aku mau nanya sama kamu,” Rachel merengus menatap Joshua, mantannya itu. “Kamu pernah, enggak, nonton tivi selama ini? Yah seenggaknya buat nonton aku tampil. Dan pernah juga enggak kamu kirim SMS dukungan buat aku?”
Kata-kata itu menohok dirinya, Joshua menggeleng, Jujur saja, selama ini Joshua memang sedikit alergi menonton televisi. Ia lebih suka main game online atau main basket. Ia sebetulnya hobi berselancar di dunia maya, tapi sayangnya ia lebih suka berkutat di situs-situs yang berbau sepakbola, khususnya soal klub sepakbola kegemarannya, Chelsea.
“Kamu malah enggak pernah nanyain kabarku selama ikut ajang itu. Telepon aja enggak pernah.” Rachel tampak mau bersedih.
“Ya kan kamu tahu sendiri, aku kurang suka nonton tivi, apalagi acara tivi sekarang juga jelek semua.” dalih Joshua.
“Kalau kamu beneran cinta, harusnya kamu mau berkorban.” semprot Rachel. “Berkorban melakukan hal yang kamu tidak sukai. Nyatanya malah sebaliknya. Oh iya, aku juga pernah tanya kakakmu, dan dia bilang kamu biasa saja dengan kehadiranku di televisi. Kamu juga enggak angkat telepon aku. SMS-SMS-ku juga kamu balas sekenanya; hanya dijawab ‘oke, good luck yah,’.”
“Tapi itu bukan alasan buat mutusin hubungan kita, kan?” tantang Joshua merasa tak bersalah. “Kamu bisa kontak aku di facebook atau twitter.”
“Aku sudah mengirimimu SMS, kan?” tantang balik Rachel. “Aku ingat aku pernah bilang, pihak manajemennya mengharuskanku dan peserta lainnya untuk menonaktifkan tiap akun social media yang dipunya. Tapi aku rasa, kamu enggak benar-benar baca SMS-ku. Soalnya kamu hanya jawab, “Oke, aku selalu mendoakan kamu menang.” Sungguh jawaban yang enggak nyambung sama sekali.”
“Dan saat aku keluar, aku kembali mengaktifkan akunku. Berusaha menghubungimu, tapi sepertinya akunmu pun saja terabaikan – sama seperti aku. Message enggak dibalas, mention enggak dibalas, kamu enggak follow balik aku, permintaan pertemanan juga enggak kamu confirm. Saat aku ke rumahmu, kamu juga enggak pernah ada. Pasti kamu sibuk dengan game online-mu yah kan?.”
“Tapi itu tetap bukan alasan buat mutusin hubungan kita, Hel?” Joshua membeokan ucapannya sebelumnya.
“Menurutku, iya.” jawab Rachel sengit. “Aku seperti enggak pacaran saja. Soalnya kamu nyaris enggak pernah ada di hidupku. Saat aku digosipkan jadian dengan Brian pun, kamu enggak pernah membantuku menangkisnya. Jadi enggak salah kan kalau aku malah beneran jadian dengan Brian?”
Di saat Joshua lengah, Rachel terburu-buru masuk rumah dan menutup pintu. Namun Joshua tak berselera lagi mengejarnya. Rachel benar. Ia mencoba introspeksi; dan kesalahannya memang di dirinya yang egois. Yah dialah si egois itu. Selama masa-masa pacaran mereka dulu, ia baru menyadari kehidupan asmara mereka terpusat di dirinya. Apa-apa soal dirinya. Ia ingat, ia begitu jarang menanyai kabar Rachel. Bahkan ia juga tak tahu betapa berapi-apinya Rachel diantarnya ikut ajang tersebut.
Begitu lesunya, ia meninggalkan rumah Rachel. Rasanya ia tak sanggup berjalan menyusuri trotoar menuju gerbang perumahan Sutera Kirana. Langkah kakinya itu sungguh menarik perhatian para pejalan kaki lainnya. Namun sepertinya bukan karena betapa lesunya dia, melainkan karena ia keluar dari rumah Rachel. Mungkin orang itu menyangka ia salah satu penggemar penyanyi tersebut.
‘Mas, kenapa?” tanya si pejalan kaki. “Enggak dapet foto atau tandatangannya yah?”
“Enggak, kok, saya baru diputusin.” jawabnya tersenyum miris.
“Diputusin?” si pejalan kaki semakin bingung.
“Iya, diputusin, Mas. Artis itu kan…” Joshua diam sejenak. “… itu pacarku, eh maksudnya… itu mantanku.”

9 comments:

  1. Another Fiction itu pacar muu ya gan hehhe cie ciee...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata fiksi, kreen, ini dibuat buku kang blognya

      Delete
    2. Cerita ini? Nggak, kang. Hehe. Dulu sih sempat dikirim ke salah satu media, tapi karena ga ada respon, ya udahlah, posting di blog aja.

      Delete
  2. Selepas menyelesaikan kelas Dasar-dasar Manajemen di jam tujuhnya << seriusan itu ada kuliah jam tujuh pagi? males banget -_-

    Telepon kamu juga enggak pernah kamu angkat << rancu. enakan bilang "Teleponku juga enggak pernah kamu angkat" atau "Aku nelepon kamu juga enggak pernah kamu angkat"

    Apalagi denger-denger Rachel ini punya baru jadian sama salah satu peserta di ajang pencarian tersebut. << kata "punya" maksudnya "pun" kali yah

    *berasa bawel euy. sorry ya*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you ya.. Maaf, ada beberapa typo. Suka nggak sadar, euy. Hahaha. Harus lebih jeli lagi nih. ^_^

      Delete
    2. Btw dulu aku pernah ada kelas jam tujuh sih, hahaha

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^