Wednesday, August 13, 2014

ANOTHER FICTION: Penyanyi dan Ramalan








Sekarang, di depannya sudah duduk empat orang pelaku musik yang cukup sering ia lihat di layar kaca. Ada Harvey Wilson, Jack Potter, Rose Wilfried, dan juga Agnes Sabatini. Siapa sangka ia bisa juga bernyanyi di hadapan para penyanyi atau musisi sekelas mereka. Dengan pandangan mata yang nyalang -- walau kegugupan juga menyerangnya, Dandy mulai bernyanyi. Ia menyanyikan lagunya Selena Gomez yang berjudul ‘Love You Like a Love Song’ dengan utuh. Dari awal lirik, tanpa penambahan maupun pengurangan.

Yah walau sih, di sela-sela ia bernyanyi, Harvey Wilson terpekik girang. Kurang lebih ketika ia menyanyikan bagian hook-nya. “GILA! Suara kamu bagus banget. Saya oke kamu maju ke tahap selanjutnya.”

Pujian Harvey diamini oleh dua juri lainnya. Hanya satu juri yang sedikit berkata berbeda. Itu Jack Potter. Sudah lama sekali, Jack Potter terkenal sebagai seorang musisi nyentrik. Tampil di atas panggung dengan penampilan mirip harajuku style. Tiap menaiki tangga panggung, ia selalu mengentak-entakan kaki kirinya sebanyak delapan kali, yang lalu ditutup dengan membuat tanda salib sebanyak tiga kali, sembari menggumamkan sesuatu. Entahlah, mungkin itu doa. Saat dikonfirmasi, Jack selalu tersenyum, tidak pernah menjawab. Ia selalu menjadi musisi paling misterius di negara ini.

Begini kata Jack pada Dandy, salah satu kontestan ajang musik paling prestisius di negara itu: "Yah aku akui, orang ini bersuara emas. Dia juga berbakat sekali. Tak semua orang bisa menyanyi sambil main gitar, plus begitu menghibur lewat penampilan singkatnya. Mungkin dia memang terlahir untuk tergabung ke dalam kumpulan bintang-bintang di dunia ini." Jack menatap lama kontestan dengan rambut diminyaki yang tak kuasa mendengar dentuman-dentuman maha dahsyat di dalam raganya. "Aku setuju untuk meloloskan diri ke babak selanjutnya. Yah walau aku tahu, anak ini punya kelemahan. Kelemahannya itu sendiri yang akan menjatuhkannya saat berada di atas."

Konon, Jack Potter ditengarai memiliki kemampuan untuk menerawang sesuatu, termasuk karakter atau kepribadian seseorang. Yah, kalian bisa menyebutnya itu sebagai kemampuan seorang cenayang. Tapi Jack Potter tidak merasa dirinya seorang cenayang. Ia lebih suka disebut sebagai seorang musisi legendaris misterius. Ia lebih suka hidup di balik satu kata: stereotipe. Masa bodoh dengan anggapan orang lain padanya, ia akan terus berkarya sesuai kata hatinya.

*****

Lima tahun mendatang,

Nyaris seluruh pengunjung rumah makan itu memandangi televisi dengan layar 14 inch tersebut. Semuanya sibuk memerhatikan sebuah acara infotainment. Kali ini, acara infotainment tersebut tengah menayangkan sebuah berita penangkapan seorang artis oleh segenap aparat penegak hukum. Sang artis tertangkap basah sedang ikut-ikutan berpesta narkoba di kediamannya sendiri.

"Wuih, nggak nyangka yah," ujar seorang wanita berambut keriting, berkulit legam. "Nggak nyangka Dandy bisa kayak gitu. Padahal tampangnya polos gitu. Alim, euy, anaknya. Jarang banget ada skandalnya. Eh sekalinya ada, skandal yang berhubungan sama polisi."

Seorang bapak berbrewok nyengir. "Ya itu kan yang terlihat di TV, Bu. Di luar segala sorotan kamera, kita mana tahu dia ngapain aja. Jangan-jangan dia bisa lebih parah dari berita ini? Bisa jadi kan dia pake pesugihan."

Si wanita keriting itu berjengit.

"Kalau saya sih, udah nggak heran lagi, Bu." timpal seorang pemuda. Sepertinya mahasiswa. Itu terlihat dari kemeja kotak-kotak yang ia kenakan, serta ransel. "Tiap tampil, dia jarang banget menyapa penonton. Dia juga nggak begitu interaktif di atas panggung. Tatapan matanya juga arogan gitu."

Seorang berkepala botak hanya bisa cengar-cengir. "Sampeyan ini hater-nya yah?"

"Nggak kok. Bukan hater, bukan pula fans-nya. Saya hanya bicara apa adanya; bicara sesuai fakta yang saya amati. Lagian, si Dandy ini gitu-gitu aja perjalanan karirnya. Dia hampir nggak pernah kasih suatu surprise ke pecinta musik di negara ini. Permainan olah vokalnya juga datar-datar aja."

"Suara si Dandy juga bagusan pas dia ikut 'The Idols' itu," Yang lain ikut menyahuti. "Sekarang, suaranya hancur. Nggak dijaga kali yah pita suaranya?!"

Di saat para pengunjung rumah makan tengah bergosip tak tentu arah, objek yang digosipi sepertinya mulai merasa tak enak. Semenjak berjalan dari sel dimana ia meringkuk, ia terus membunyikan tulang lehernya -- juga menggaruk-garuk bagian tubuhnya yang bisa digaruk. 

Langkahnya kini terasa berat. Ia tak berani lagi membusungkan dada. Tunduk setunduk-tunduknya. Beberapa kali mengembuskan napas berat-berat. Suaranya parau; mungkin terlalu sering mengerang, merintihkan nasib malang yang menimpanya. Tak kuasa ia membuka pintu ruang kunjungan tersebut. Hanya ada sebuah senyum kecil sekali untuk tamu yang menjenguknya. Orang itu abang sekaligus managernya.

"Gimana, Dan?" ujar Nathan nyengir. "Enak tidurnya semalam?"

Ia menghela lagi. "Boro-boro enak, Bang. Gue hampir nggak tidur semalaman. Lagian gimana gue bisa tidur? Tempatnya sempit, penghuninya ada lima belas orang. Belum lagi ada yang suka raba-raba dan gesek-gesek." keluh Dandy, juga berdecak beberapa kali. Bibirnya memasang pose bersiul, tapi tak ada suara yang mengalun. Beberapa kali pula ia menggelengkan kepala. Ia frustasi.

"Kapok sekarang?" goda Nathan terkekeh. 

"Iya, gue kapok, Bang. Kalau tahu gini jadinya, gue bakal nurut kata-kata lu. Gue bakal jaga segala sikap gue. Gue juga bakal terus mengasah bakat gue; bahkan mungkin berani ambil suatu gebrakan." Sewaktu ia mengucapkan itu semua, terdengar begitu lantang. Nyaris suaranya memenuhi ruangan tersebut.

Nathan agak menelengkan kepalanya ke kiri. "Yah...  penyesalan memang datangnya terlambat, Dan. Gue selalu bilang, kan, untuk hati-hati dalam menjaga sikap. Hati-hati pula dalam bergaul. Tapi lu nggak mau dengar kata-kata gue, selaku manager pribadi lu. Lu juga nggak mau belajar dari pengalaman senior-senior lu yang terdahulu, yang masuk penjara juga karena kasus yang sama. Coba aja lu mau dengerin kata-kata gue buat berhenti minum dan clubbing, mungkin lu nggak bakal kenal sama barang haram yang udah bikin lu jatuh seperti sekarang ini."

Dandy menghela napas lagi. "Iya, Bang, gue nyesel. Nggak usah ceramahin gue lagi. Jadi gimana sekarang nih? Bisa nggak nih, gue hanya dihukum masuk panti rehab doang? Kan gue juga nggak ngedar. Gue murni cuma pemakai."

Abangnya tersenyum. "Lagi diusahain sama Pak Noel, Bro. Sabar aja. Dia lagi coba melobi-lobi aparat untuk meringankan hukuman lu. Semoga ada hasilnya yah. Lu -- di sini -- perbanyak doa aja. Kali aja lobi-lobinya dia itu ada hasilnya. Semoga bakal ada mukjizat yang menghampiri lu."

Lagi-lagi ia menghela napas, entah itu untuk yang ke berapa kali. Kepalanya mendongak ke atas dan tersenyum. Mendadak ia teringat seseorang; seseorang turut berperan membawa dirinya masuk ke dunia hiburan. Kata-kata orang itu begitu mengusik dirinya sekarang ini. Apa mungkin?

Bang Nat -- begitu ia memanggil abangnya -- heran sendiri melihat dirinya melirihkan suatu kalimat. Itu: "Kata-kata anda benar, Mas,"

*****

Mundur ke beberapa tahun sebelumnya, 

Penonton bersorak. Band pengiring sibuk memainkan melodinya secara harmonis. Sang penyanyi utama mulai mengalunkan sebuah lagu. Penonton ikut pula menyanyikan "Fall For You", sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Secondhand Serenade. Kompak sekali mengikuti sang penyanyi bernyanyi. Jangan-jangan seluruh penonton yang ada merupakan kerabat sang penyanyi.

Di dekat panggung, tengah duduk juri-juri yang akan memberikan penilaian kepada sang penyanyi, Dandy Takahashi. Juri-jurinya masih yang dulu. Mereka masih orang-orang yang meloloskannya hingga babak spekta. Kecuali Agnes Sabatini yang punya jadwal superpadat ketimbang juri-juri lainnya. Sebagai pengganti Agnes, datanglah seorang penyanyi yang tengah naik daun, Kirgiz Khan.

Di tengah pertunjukan, Harvey Wilson memberingsut ke arah Jack Potter. Juri yang juga seorang pentolan band ini terlihat di kamera tengah membisikan sesuatu.

Entah apa yang dibisikan, yang jelas Jack Potter menjawab seperti ini: "Oh, kata-kataku waktu itu," Ia terkekeh. "Seperti yang kubilang, anak ini memang berbakat. Punya tekad sekuat baja. Kepercayaan dirinya bagus. Kreatif, inovatif. Tapi sayang, anak ini punya banyak kelemahan yang bakal menjatuhkannya. Seperti kurang disiplin, kurang bisa mengontrol tingkah laku, pemalas, dan bakal menunjukan kearoganannya saat berada di puncak. Bukannya kamu sudah bisa melihat beberapa selama dia dikarantina bersama kontestan-kontestan lainnya?"

6 comments:

  1. Plotnya menarik, hehe....

    Jadi walaupun berbakat, percuma juga kalau arogan dan nggak diiringi dengan sikap disiplin, ya....

    ReplyDelete
  2. Wah, ini sih banyak tipenya kalo di Indonesia, orang pinter dan berbakat tapi arogan, ahaha.. Fiksi yang bagus, ada pelajaran yang bisa di petik.

    ReplyDelete
  3. cerita yang bagus khususnya bagi orang orang yang memiliki kelebihan tapi sering bersikap buruk bahkan arogan terhadap orang lain
    oh yah jika berkenan silakan follback blog saya

    ReplyDelete
  4. Sombong tapi pinter.. Lumayan lah, daripada uda bego tapi songong lagi.. Wkwkwk.. :D

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^