Monday, June 30, 2014

ANOTHER FICTION: Kisah Pemilu






"Koran, koran, Kompas, Bola, Media, Merdeka,..."

Begitu mendengar anak yang sepertinya sebaya denganku itu berteriak cukup lantang -- sehingga membuat hampir seluruh penumpang bus menoleh padanya, aku melambaikan tangan padanya. Namun untuk membuat anak itu menghampiri, aku harus bersabar. Ia harus melayani dulu beberapa penumpang yang juga hendak membeli -- sama sepertiku. Kurang lebih... aku mulai menghitung... ada empat orang.

Tak banyak. Tak lama juga. Ya iyalah, mereka hanya membeli koran. Pasti sebelum membeli, mereka sudah memikirkan hendak membeli apa. Memang seperti kaum perempuan yang lama sekali tiap berada di department store. Ha-ha-ha.

"Mau beli apa, Bang?" tanyanya sembari menawarkan padaku sebuah koran.

"Kompas aja," jawabku, lalu menyerahkan selembar uang Rp 5000. Ia lalu menyerahkan sekoin gope sebagai kembalian.

Anak itu berlalu begitu saja. Aku mulai membaca koran yang kubeli. Dengan hati-hati aku membacanya. Sekiranya aktivitas membaca ini tidak mengganggu orang yang berada di kiri-kanan. Kubaca salah satu judul di halaman pertama: "Cawapres Debat Pengalaman: Perdebatkan Cara Buat Kebijakan SDM dan Iptek". Iya, iya, kemarin aku sempat menonton kok debatnya di televisi kemarin. Heboh. Kurang lebih lima stasiun televisi yang menayangkan acara penentuan untuk pemilihan presiden yang jatuh pada tanggal 9 Juli nanti. Dan saking hebohnya, aku sampai mengantuk di tengah-tengah.

Ha-ha-ha. Aku jadi tertawa dalam hati.

Sebetulnya aku kurang menyukai berita-berita politik. Dari SMP, aku merasa politik itu kotor. Demi kekuasaan, orang bisa berbuat apa saja. Gontok-gontokan. Saling serang. Saling tuding. Bahkan itu tak hanya di Indonesia. Di negara-negara lain juga sama. Sewaktu kali pertama masuk SMA, kudengar pemilihan presiden Amerika Serikat juga sama. Sempat ada isu negatif soal salah satu calonnya. Seseorang calonnya dituding memiliki affair dengan salah satu pelacur kelas atas. Entah benar, entah salah, yang jelas berita itu sempat bikin geger publik negeri Paman Sam tersebut. Entah bagaimana juga, gempitanya sampai pula ke Indonesia. Mungkin karena tahun depannya -- tahun 2009 -- Indonesia juga hendak merayakan pesta demokrasi. Sayang saat itu aku belum memiliki hak pilih dalam pemilihan umum, juga pemilihan presiden.

Jujur saja, pemilihan umum sekarang dengan tahun 2009 hampir sama. Sama-sama ditemukan pengumbaran janji dimana-mana. Sama-sama ditemukan pengotoran lingkungan lewat spanduk para calon legislatif. Yang berbeda hanya dengan pemilu 2004; itu saat aku masih SD, dimana kandidatnya ada banyak.

Namun, memang benar apa yang dibilang dosenku sebulan lalu. Pemilu kali ini luar biasa. Baru kali ini, hampir sebagian besar masyarakatnya tertarik dengan hal-hal berbau politik. Begitu antusias pula menyaksikan jalannya pemilihan presiden. Bahkan, yang kudengar, kebanyakan isu kampanye hitam timbul lebih karena ulah para simpatisannya. Yah memang pasti ada yang menyulutnya. Tapi yang bikin tambah besar... yah pasti para simpatisannya yang menurutku cukup berlebihan dalam mendukung salah satu kandidat.

"Serius banget, Dek, baca berita politiknya?" celetuk penumpang yang duduk di sebelah kiriku. Itu seorang bapak-bapak yang sepertinya sebaya Abi. Cengiran lepasnya menunjukan padaku gigi emasnya yang berkilau-kilau. Beda dengan Abi, ia jauh lebih memiliki kerutan di wajah.

Aku tak merespon. Hanya balas tersenyum. Senyum tipis sih, bukan cengiran lebar seperti yang ditunjukannya.

"Menurut adek nih, gimana soal pilpres tahun ini?" tanyanya lagi. Masih cengar-cengir.

Aku mengendikan bahu. "Nggak tahu yah. Aku juga kurang begitu suka ngikutin berita politik. Bikin pusing otak. Mending nyimak perkembangan piala dunia aja."

Ia tergelak ringan untuk membalas aku yang sudah terkekeh lebih dahulu. "Si adek bisa aja. Eh tapi, semalem bola gimana? Bapak nggak sempat nonton. Ketiduran. Maklum-lah udah tua juga. Nggak kuat begadang, kayak waktu muda dulu."

"Eeee..." Aku memutar bola mata, berusaha mengingat hasilnya. "Belanda menang 2-1. Terus Kosta Rika ngalahin Yunani 6-4 lewat adu penalti."

"Ohh.." Ia berjengit.

Muncul hening. Ia sibuk memandangi pemandangan di luar jendela. Aku sibuk membaca koran lagi. Masih terpaku dengan artikel barusan; soal hasil debat cawapres semalam. Topik-topik yang diangkat pada debat semalam ialah soal pendidikan, iptek, dan penanganan SDM. Jusuf Kalla yang pernah menjabat sebagai wakil presiden, menurutku, tampil kurang mantap. Beliau terlihat sedikit gugup. Cara penyampaiannya berputar-putar, sehingga sulit dimengerti. Sementara Hatta Rajasa cukup oke dalam debat semalam yang diadakan di Hotel Bidakara.

Walaupun tiap kandidat calon wakil presiden semalam menawarkan beberapa program yang memabukan tiap penyimaknya, aku sangsi itu semua akan terealisasi di periode kepresidenan selanjutanya, entah siapa yang terpilih. Aku menyangsikan isu pendidikan gratis 12 tahun yang digaungkan Jusuf Kalla semalam. Pula soal program Hatta Rajasa yang hendak memberikan insentif bagi dunia usaha yang mendukung pengetahuan dan riset.

"Dek, kalo Adek sendiri, pilih kandidat yang mana?" sela si bapak, yang membuyarkan konsentrasiku membaca.

Kualihkan pandangan ke bapak itu lagi -- yang belum tahu siapa namanya. Lalu kuputar bola mata. "Nggak tahu juga, Pak. Saya masih bingung. Tapi kayaknya  bakal golput deh. Habisnya, makin ke sini, kok saya melihat dua-duanya sama aja. Awalnya sih, saya mendukung Jokowi. Tapi pas baca berita yang bilang kubu Jokowi melakukan kampanye hitam ke kubu lawan, mendadak jadi gimana gitu, Pak."

Si bapak terkekeh. "Wah, Dek, mending jangan golput. Perlu Adek tahu, menurut Bertolt Brecht -- sang penyair dari Jerman itu, buta terburuk itu buta politik. Orang-orang yang buta politik, lalu memutuskan untuk golput, sesungguhnya mereka itu tak sadar -- biaya hidup, harga makanan, harga rumah, hingga harga obat, semuanya tergantung pada keputusan politik. Hati-hati, jangan sampai golput, lalu masa depan Indonesia akan jatuh ke tangan orang yang salah. Bisa-bisa kita kembali ke era orde baru, saat kebebasan berpendapat diberangus. Bisa-bisa juga, kita kembali ke era dimana penculikan diam-diam marak dilakukan."

Aku jadi nyengir lebar. "Ini si bapak nggak lagi ngomongin kandidat yang itu kan? Maksud saya, yang nomor satu."

Ia terpingkal, lalu menggelengkan kepalanya cukup heboh. "Nggak-lah. Bapak dari tadi nggak ngomongin kandidat manapun kok. Bapak hanya mengingatkan saja. Siapapun calon yang kamu pilih, Bapak dukung kok." Saat ia berkata seperti itu, aku merasa seperti mendengarkan Abi tengah memberikan nasehat. "Asal kamu jangan golput. Golput juga sesungguhnya sebuah kesia-siaan. Kalau kelak salah satu terpilih, terus sukses membawa Indonesia menuju kejayaannya lagi, kamu nggak pantas ikut gembira; kan kamu itu golput. Juga saat mereka gagal memenuhi janji kampanyenya. Nggak pantas kamu ikut berkoar-koar karena sudah salah memilih. Orang-orang golongan putih seharusnya diam saja, entah itu berhasil maupun gagal."

Aku tercenung. Aku tak berani membantah bukan karena si bapak itu sebaya dengan Abi. Bukan, bukan seperti itu juga. Namun karena apa yang dia katakan ada benarnya. Benar kata si bapak; jadi golput itu sebetulnya sebuah kesia-siaan. Sudah sepatutnya segenap warga Indonesia mulai sadar akan pentingnya pesta demokrasi yang akan digelar beberapa hari lagi. Sudah saatnya masyarakat Indonesia melek politik. Dengan melek politik kan setidaknya penyelewengan kekuasaan bisa diminimalisir.

"Jadi gimana, Dek?" Si bapak mengagetkan lamunanku. Aku balik menyeringainya yang masih cengar-cengir. Oh iya, dari penampilan dan gigi emasnya, sepertinya si bapak tak bisa dibilang dari kalangan menengah bawah. Mungkin juga si bapak ini seorang dosen. Terlihat dari omongannya yang cukup wah di telingaku.

"Maaf, Pak. Kayaknya tujuan saya sudah mau sampai nih. Permisi dulu." Aku beranjak berdiri. Dibilang tengah mengelak, yah bisa jadi. Namun aku juga tak sepenuhnya berbohong. Karena memang bus yang kutumpangi akan melewati Dunia Fantasi, tempat yang menjadi destinasiku.

Si bapak hanya terkekeh, tanpa berkata apa-apa. Aku juga tak melihat bibirnya komat-kamit, pertanda sedang menyindir aksi ngeles-ku ini.

Oh iya, aku ke Dunia Fantasi ini karena hendak bertemu teman-teman. Kami akan mengadakan reuni SMA di taman bermain -- dengan maskot seekor bekantan -- yang sudah lama sekali dibangun. Sebetulnya aku malas sekali untuk datang. Pasti mereka akan berusaha mendapatkan novel gratis dariku. Dasar mental gratisan! Jika memang temanku, seharusnya mereka tak mengharapkan gratisan. Bisa mengapresiasi dengan membelinya sendiri di toko buku.

Omong-omong,yah aku akhirnya berhasil menerbitkan sebuah novel. Setelah mengalami pergumulan yang cukup dahsyat, ada juga penerbit yang mau menerima naskah yang sudah kubuat selama tiga tahun. Tak sia-sia Abi dan Umi dan beribadah kepada sang Khalik, sehingga akhirnya ada juga bukuku di toko buku.

Oh...

Kembali ke soal pemilihan presiden.

Kalau ku lihat dan cermati, sepertinya pilihan terbaik memang kandidat nomor dua. Jokowi sudah terbukti kinerjanya sewaktu menjabat sebagai gubernur provinsi dimana aku lahir, walau singkat. Tapi jika digabungkan semasa beliau menjadi walikota Solo, aku rasa tak ada salahnya memilih Jokowi. Memang sih, menurutku, beliau suka grasak-grusuk; tak bisa ditebak juga gerak-geriknya. Namun dirinya memang berkeinginan untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik lagi. Sudah dibuktikan di Solo serta Jakarta.

Ah... sepertinya hati ini makin mantap memilih nomor dua pada 9 Juli nanti. Ha-ha-ha.