Monday, June 9, 2014

ANOTHER FICTION: Kamisama, Hontou ni, Kanojo ni Aitai yo!






Tanpa sadar dahiku berkerut. Entah bagaimana caranya, aku merasa lelaki yang duduk terpisah beberapa bangku itu mengingatkanku akan seseorang. Gayanya itu-lah penyebabnya.

Aku ingat. Dulu ia juga seperti itu. Yah suka sekali memegangi hidungnya yang tak mancung, juga tak pesek. Suka juga menggaruki matanya, walau kata para ahli mata, hal tersebut jangan dilakukan. Model rambutnya juga masih sama. Masih belah pantat. Pula cuping telinga juga aneh.

Tapi aku sadar. Pasti bukan dia. Barusan aku lihat di daftar absensi kelas, tak ada namanya di sana. Meskipun sudah cukup berpuluh-puluh tahun yang lampau, ini lucu yah, aku masih mengingat namanya. Bagaimana bisa? Sementara aku sudah nyaris total melupakan nama teman-temanku sewaktu SD, hanya dia saja yang namanya masih terpatri jelas di otakku.

Namanya Obed kan? Kalau tak salah, dia itu orang Batak. Jadi nama lengkapnya itu... seharusnya Radja Obed Siregar. Ha-ha-ha. Lucu. Kenapa aku jadi ingat begitu detil soalnya? Hanya dia yang masih bisa kuingat dari kenangan masa kecilku.

Eh tapi, harus kuakui, tak perlu kusangkal, aku dan dia cukup akrab. Begitu akrab sekali malah. Semuanya itu gara-gara aku pernah melindunginya dari gangguan anak-anak nakal. Dengan mata tak berkedip sama sekali, sepertinya dirinya begitu terkesan dengan kemampuan karateku. Ia lalu ngotot ingin belajar bela diri dari tanah asal Otou-san. Tak tanggung-tanggung, belajar di tempat yang sama denganku. Alhasil, intensitas pertemuan kami jadi begitu seringnya. Jadi suka bercanda. Harus kuakui pula, aku menyukai dirinya. Tak hanya kepribadiannya yang cukup humoris, aku...

"Nao..."

Ah, sepertinya aku tersadar kembali. Sudah tak lagi terlihat scene dari masa lalu tersebut. Apa yang ada di pandanganku sekarang, ruang kelas B201. Tampak Pak Jenary begitu antusiasnya menjelaskan soal Hukum Perkawinan.

"Kamu kenapa? Kok jadi bengong gitu? Nggak apa-apa, kan?" tanya sekaligus selidik teman pertamaku di kampus ini, Rachel.

"Nggak apa-apa, Hel. Aku nggak apa-apa." Aku tak tahu apakah suara ini terdengar seperti sebuah desisan di telinganya. Tapi mungkin terdengar begitu juga. Aku saja sewaktu mendengar kembali, astaga, parau sekali suaraku ini.

"Dari tadi, aku lihat kamu tuh, kok menatapnya ke arah sana mulu," ujar Rachel dengan begitu hati-hati menunjuki lelaki yang jadi objek mataku. "Kamu naksir yah, sama cowok itu?!"

Aku terkekeh. Menggeleng juga. "Nggak, kok.Cuma, aku merasa cowok itu mirip seseorang dari masa kanak-kanakku. Ciri  fisiknya, gerak-geriknya. Hanya saja, aku sadar cowok itu bukan dia. Tadi kulihat di daftar absensi, nggak ada namanya."

"Kamu yakin? Masa sih kamu masih bisa ingat nama seseorang dari masa kecil?"

Aku mengangguk untuk meyakinkannya. "Justru itu, aku merasa aneh juga. Kok bisa cuma orang itu saja yang kuingat. Tak satu pun nama teman SD yang kuingat."

Kutatap Rachel. Ia agak terkekeh mendengar kata-kataku barusan. Mungkin baginya aku sekedar berkelakar. Tapi aku serius. Memang begitulah apa adanya.

Ah, Obed. Kamu dimana sekarang? Sepertinya aku kangen kamu. 

Pelan tapi pasti, air mata mulai mengalir kembali dari pelupuk mata.


*****


Capek! Gila nih dosen! Ngasih kisi-kisi buat ujian banyak juga! Istirahatin otak dulu ah mendingan.

Langsung kutinggalkan satu diktat dari kelas Hukum Dagang-nya Pak Mario. Kuteguk sekaleng kopi yang sore tadi kubeli sebagai cemilan kala belajar ini. Tanganku juga sibuk menggerayangi isi bungkus dari snack rasa kentang ini. Gara-gara suara kriuk-kriuk ini, suasana dalam kamar jadi berisik. Padahal tadi begitu hening. Hanya ada suara komat-kamitku yang sibuk merapal beberapa materi yang kemungkinan bakal keluar di soal ujian.

Kupijat kening. Yah sekedar untuk meredakan ketegangan otak. Sesekali mengembuskan napas. Pula iseng juga membuat bunyi-bunyi aneh dari mulutku. Aku tak tahu menyebut aktivitas ini apa. Tapi bunyinya terdengar seperti bunyi jam berdetak. Cukup sama dengan bunyi jam dinding di kamar yang suhu udaranya cukup menusuk tulang ini.

Bodoh memang aku ini. Tadi kenapa aku memasang temperaturnya di angka 15? Sepertinya aku perlu menurunkan temperaturnya.

Perlahan aku mengambil remote yang kuletakan di dekat tangan kiri. Kuarahkan menuju AC tersebut. Kunaikan suhunya menjadi 23 derajat celcius. Segitu sudah cukup dingin kan sebetulnya.

Malam ini, di jam 02:35, aku mulai seperti orang bego. Tidak kusentuh materi-materi ujian itu. Yang ada sekarang, aku malah terbengong-bengong. Sesekali seraya mengingat kembali beberapa kenangan. Tanpa sadar, aku malah memutar kembali saat-saat SD dulu.

Kalau dipikir, walau dulu sering dijadikan objek bullying, masa SD tetap yang terbaik. Kita memang juga dicekoki kata tersebut: belajar, tapi tetap saja tak begitu diseriusi seperti sekarang ini. Belajar sambil bermain itu masih bisa diterima orang dewasa kebanyakan. Benar-benar menikmati dunia ini. Beda dengan jaman sekarang. Masih kuliah saja, aku harus perlu juga memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang selain dari uang saku. Memang uang kuliah ini masih dibayari oleh Papa. Tapi masalah uang tetap mengusik aku -- dan mungkin orang-orang yang sebaya denganku.

Oh... mendadak aku jadi teringat seseorang. Seorang gadis kecil. Kalau tak salah, gadis itu keturunan Jepang, kan. Gadis itu satu-satunya temanku yang keturunan Jepang. Sebetulnya yang bertampang oriental banyak, tapi yang keturunan Jepang, hanya dia. Tak ada yang lain.

Namanya kalau tak salah... Naomi Yuria Kawaguchi.

Ha-ha-ha. Aku jadi terkekeh sendiri. Ini kenapa aku jadi begitu ingat nama lengkapnya yah? Dari semua teman SD, hanya dia yang kuingat nama lengkapnya. Lainnya hanya kuingat nama pertamanya saja. Atau setidaknya aku bisa mengingat nama panggilannya.

Eh tapi mungkin aku juga keliru sih. Sebaiknya...

Langsung saja, kubuka laci dan mengambil buku harian yang ketika masih SD, sering kutulisi. Dengan menulis, beban di pundak ini jadi berkurang sampai tujuh puluh lima persen. Aktivitas menulis di buku harian ini pula yang menguatkan diriku dari beberapa kejadian tak mengenakan.

Mendadak aku berhenti membalik halaman. Mata ini sungguh terpaku pada sebuah halaman. Di halaman itu menceritakan saat terakhir aku berjumpa dirinya. Yah namanya memang Naomi Yuria Kawaguchi. Perlahan kubaca lamat-lamat apa yang tertulis.


Sabtu, 17 Juni 1995        Hari ini cuaca cerah, walau agak mendung sih. Hari ini juga saat-saat aku terakhir ketemu Naomi, my guardian angel. Bahkan aku cuma bisa lihat dia sebentar. Dia tak turun dari mobil sedannya yang mewah. Cuma buka jendela sebentar dan bertanya padaku: “Gimana NEM kamu? Bagus nggak?” Jawabku: “Lumayan, aku dapat 37, 62. Masih kalah sih sama kamu yang NEM-nya 38,93.” Katanya lagi: “Kamu sih kebanyakan main.” Aku hanya cengengesan. Ia memukul kepalaku, dan aku hampir menangis sebelum dibentaknya: “Jangan nangis dong! Kamu itu cowok, masak nangis sih?” Aku tersenyum dan berkata, “Nggak, aku nggak nangis kok. Oh iya, kamu kenapa harus pindah ke Jepang?” Ia tertawa. Katanya sih, “Bodoh, kan aku sudah pernah bilang kalau Otoo-san-ku harus kembali ke Jepang, karena pekerjaannya.”
     “Tapi aku nggak mau pisah sama kamu. Nanti nggak ada lagi yang lindungin aku dari anak-anak nakal,. Nggak ada lagi yang ngajarin aku karate. Nggak ada lagi teman belajar bareng. Nggak ada lagi teman main sega seasyik kamu.” Iya, diary, aku tahu, aku kelihatan kayak cowok lembek. Nggak heran, Naomi tertawa mendengarnya. “Kamu ini.… Jadi cowok, jangan lembek dong. Berani dikit napa. Kalau diganggu lagi, yah keluarin aja jurus-jurus karate yang pernah kuajarin ke kamu. Dan…” Aku berhasil menahan air mata, eh malah dia yang gagal. “… Ah sudah yah, Otou-san dan Okaa-san aku sudah datang tuh. Sampai jumpa lagi, yah, walau aku juga nggak tahu kapan bisa ketemu kamu.” Baru kali ini, kulihat Naomi yang kuat, jadi melankolis seperti ini. ia sampai tak rela tangannya terlepas dari genggamanku, padahal ayah dan ibunya sudah masuk ke dalam mobil. Papa dan Mama pun sudah berada di belakangku. 
      Tanganku dan tangannya baru terlepas setelah ibunya berkata bahwa mereka harus segera ke bandara. Ia mengucapkan satu kata, sayangnya aku tak mengerti apa yang dibilang. Itu bahasa Jepang, kayaknya. Sebagai balasannya, aku berkata: “Good bye, my friend. Semoga kita bisa ketemu lagi di lain waktu.” Dan sedan itu pun sudah melaju kencang – meninggalkanku yang akhirnya menitikan air mata sembari dipeluk sama Mama.
     Diary, sejak perpisahan itu, sulit bagiku, untuk melupakannya. Menuliskan kejadian tadi pagi pun, 


Mataku pun mulai berkaca-kaca. Pula tiba-tiba mulai merasakan perasaan rindu yang begitu aneh. Ingin sekali aku bertemu kembali dengan Naomi. Entah dimana dia sekarang. Masih di Jepang? Atau sudah di Indonesia kah?

Aku menggeleng sembari terkekeh. Rasanya pilihan terakhir itu tak mungkin. Buat apa dia kembali ke Indonesia? Atas dasar apa? Yah walaupun tak ada yang mustahil di dunia ini.

Tanpa bisa kucegah, perlahan aku mulai mengikrarkan -- yah kalian bisa menyebutnya seperti itu -- sebuah janji. Aku mendoktrin diriku sendiri -- kelak pasti bisa menemuinya. Aku yakin.



*****



Cerpen ini kubuat untuk memenuhi tantangan dari Kampus Fiksi. Tantangannya itu membuat satu cerpen yang cukup sedih dari segi alurnya (Udah sedih apa belum ini? :p ), tapi tanpa menyertakan kata 'sedih' dan turunannya secara tersurat. 

Ide cerita ini juga sebetulnya dari naskah novel yang berhasil kuterbitkan secara indie. Cukup menguras kantong. Aku perlu keluar duit Rp 350.000. Dan kata seseorang dari Raditeens sih, naskahku itu akan sudah bisa kalian nikmati. Kalian bakal bisa membeli buku tunggalku itu (Selama ini kan seringnya antologi yah?!). Sabtu kemarin, mereka menghubungiku dan mengirimiku bakal kaver novelku nanti. Begini penampakannya:







Kemungkinan dalam waktu tiga minggu ke depan dari sekarang, kalian sudah bisa menghubungi penerbit Raditeens untuk bisa membelinya. Beli yah, kumohon beli. Dengan kalian membeli novelku ini, serius, itu bakal jadi moodbooster buatku. Jadi tambah semangat lagi menulisnya. Jadi kumohon sekali, beli dong novelku ini. Yah, yah, yah?

Soal harga belum ditentukan. Nanti kalau sudah betulan terbit, aku informasikan ke kalian. Tapi kalian bisa mengontak penerbit kalau tak sabar ingin membeli. Di pojok kiri bawah kavernya itu, kelihatan kan kontak penerbitnya? Tapi ini deh kontak mereka.

Email: raditeenspublisher@gmail.comFacebook: Raditeens PublisherNo telepon: 087757691882

Beli yah nanti. Bantu aku juga supaya kelak tak perlu memikirkan soal ekonomi lagi. ^^

18 comments:

  1. lumayan sedih ceritanya. Semoga laris manis bukunya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beli dong bukunya, Bu. Jauh lebih kuhargai kalau beli bukunya ketimbang kata-kata 'semoga laris yah'. Hehehe. Beli yah. =D

      Delete
  2. Iss.. Ceritanya nggantuuung.. -_-

    Tenang Bang, pasti ku beli. Hahah.. :D

    ReplyDelete
  3. Wiiih, ikutan tantangan dari Kampus Fiksi toh. Aku kemarin nggak jadi ikut, harus garap kerjaan lain, hehe....

    Sedih kok, tapi agak nggantung :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang sengaja, biar tertarik baca novelnya.... ^^

      Delete
  4. Ikutan kampung fiksi toh pantesan rada serius gitu, panjang benerrrr... haha.. Sedihnya lumayan menrut gw. Gw biasanya sedih kalo ceritanya salah satu meninggal gitu, hehe.. Bukunya keren tuh, GA yaaaa... Ya, ya, ya?

    ReplyDelete
  5. Lumayan sih...tapi saya belum merasa sedih, soalnya alurnya terlampau singkat :)
    Tapi, bagus... :

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti harus beli novelnya. Hohohoho... ^^

      Delete
  6. GSP dominates the first 2:55 of the fight against Hughes.
    ufc 174 online John Howard-
    Round One-Alves lands punches and kicks when the men are on their feet.
    Hand to hand combat training is a large part of preparing for the Ultimate Fighting Championship (UFC).

    ReplyDelete
  7. ceritanya gurih, covernya ranum.. :9

    ReplyDelete
  8. Owalah dapet tantangan ya. Keren sih bisa nyelesaiin tantangan. Mantep

    ReplyDelete
  9. lumayan dan kayanya ceritanya menyedihkan yah,

    ReplyDelete
  10. keren ... udah bisa nerbitin buku :)
    jadi pengen
    beli yah? umm... ga janji deh, semoga aja ada anggaran untuk beli bukumu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, nggak apa-apa kok. Bisa ngerti juga. Hehehe.. =D

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^