Tuesday, April 22, 2014

ANOTHER FICTION: Tentang Tiga Orang Wanita



         Manusia adalah makhluk yang punya akal dan budi. Selain itu, manusia juga diberikan Tuhan satu karunia lagi. Yaitu, kehendak bebas. Karena itulah, manusia bebas berbuat apa saja. Bebas mau berbuat baik; atau bebas mau berbuat jahat. Seringkali pilihan kedua yang dipilih, walau berbuat baik itu tak ada salahnya dan tak ada ruginya.
            Riwayat berikut ini juga akan berusaha menyampaikan hal tersebut. 



            Kisah ini terjadi di sebuah daerah permukiman padat di sebuah kota besar. Dari balik awan, tiba-tiba saja sebuah kamera menyorot sebuah rumah petak. Di ruang depan rumah petak tersebut, tengah bercengkeramalah tiga orang wanita. Tiga wanita itu sedang menggendong anak mereka yang masih berumur dua tahun. Seperti kebiasaan ibu-ibu umumnya, mereka bertiga memang sedang bergosip.
            Namun yang digosipkan bukanlah soal selebrita. Mereka sedang menggosipkan soal seorang anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Mereka juga bingung mengapa anak tersebut bisa secerdas itu. Hingga akhirnya, mereka bertiga sepakat bahwa anak tersebut mungkin cerdas, karena faktor nutrisi. Nutrisi yang baik, mungkin saja diberikan padanya semasa masih orok.
            “Wah kayaknya aku perlu juga nih memberikan susu formula buat bayiku. Yah siapa tahu saja, nanti bayiku bisa seperti anak itu.” ucap wanita berambut pendek.
            Lalu wanita yang berbadan sedikit gemuk menimpali ucapan temannya itu, “Tapi susu formula itu kan mahal, Jeng. Duit darimana tokh? Lagipula suamimu kan hanya supir angkot.”
            Sejenak wanita berambut pendek itu terdiam. Namun beberapa saat kemudian, ia meresponnya, “Hmm, mungkin ada baiknya kali yah, kalau aku minta bantuan sepupuku cara mengutil di minimarket. Soalnya baru-baru ini dia sukses mengutil beberapa kaleng susu di sebuah minimarket.”
            Wanita berbadan sedikit gemuk mengerutkan dahinya. “Gila kamu Jeng. Itu kan kriminal. Kamu nggak takut masuk penjara apa? Apalagi minimarket sekarang sudah dipasangi kamera, lho.”
            “Yah demi anak, Jeng,” jawab wanita berambut pendek itu.  “Lagipula, memang kamu punya ide yang lebih baik dari aku?”
            “Gimana kalau kita minta susu bekasnya Toko Koh Aceng saja? Kudengar dari si Wati, dia baru saja dapat sekaleng susu dari Koh Aceng-nya langsung.”
            “Koh Aceng bukannya pelit yah?”
            “Yah sebetulnya bukan dikasih juga sih. Melainkan ambil langsung dari dekat tempat sampahnya. Diambil pun, Koh Aceng juga nggak bakal marah-marah. Justru berterimakasih, malah.”
            “Ah, tapi kayaknya lebih beresiko idemu. Salah-salah anakku yang keracunan. Bisa saja kan susunya sudah kadaluwarsa. Mending ideku, deh. Lagipula nggak semua minimarket, ada kameranya.”
            “Tapi susunya itu nggak semuanya kadaluwarsa. Kalau kita cermat, ada juga yang masih layak. Yang sebulan atau seminggu sebelum kadaluwarsanya,” kata wanita berbadan sedikit gemuk itu.  “Oh yah, Jeng, kamu sendiri gimana?” Wanita berbadan sedikit gemuk itu mendadak bertanya pada wanita berambut panjang yang dari tadi hanya memperhatikan.
            “Ide kalian itu sama-sama beresiko, deh, kalau aku bilang. Ide yang pertama beresiko masuk penjara. Lagipula walau nggak ketahuan, tetap saja bikin hati nggak tenang. Ide yang kedua juga sama saja. Memang sih, ada yang masih layak minum. Tapi sama saja. Kubaca di majalah, walau sebulan atau seminggu sebelum kadaluwarsa pun, susu itu tetap saja nggak layak. Kalau aku sih, mending kasih buah hatiku ASI saja. Dan kalau dia sudah sedikit besar, air putih atau teh juga lebih baik untuk diminumnya – menggantikan susu kaleng. Atau nanti dia bisa kuberikan jamu buatanku.”
            “Kamu memang nggak mau, Jeng,  punya anak cerdas?” sergah wanita berambut pendek.
            “Yah mau sih. Tapi kan kondisinya juga berbeda dengan anak cerdas itu. Anak cerdas itu dari keluarga berada yang bisa beli susu kaleng. Lha aku? Suamiku kan hanya seorang buruh dengan penghasilan pas-pasan, dan aku hanya seorang tukang jamu keliling. Lagipula soal cerdas kan, itu juga sebetulnya karunia Tuhan. Kalau Tuhan memang berkehendak, aku percaya anakku nanti secerdas anak tadi.”
            Yo weis, sakarepmu lah,” kata wanita berambut pendek. “Kalau aku sih, tetap bersikukuh dengan ideku itu.”
            “Aku juga.” Wanita berbadan sedikit gemuk itu membeo.
            Akhirnya, ketiga wanita itu tetap ngotot dengan ide masing-masing. Mereka semua bersikukuh dengan ide masing-masing, lalu menjalankannya keesokan harinya. Hingga tiga hari kemudian, berembus kabar bahwa wanita berambut pendek itu sedang berada di kantor polisi. Rupanya aksi pengutilannya itu telah tertangkap basah. Ia terpaksa meninggalkan anaknya yang masih bayi untuk waktu yang cukup lama.
           Berikutnya, sebulan kemudian, di sebuah rumah petak terdengar suara-suara yang biasanya terdengar, bila ada yang meninggal. Yah, rupanya anaknya wanita berbadan sedikit gemuk itu meninggal. Diduga, anak itu meninggal, akibat dari susu kadaluwarsa yang diminumnya.
            Lalu, bertahun-tahun setelahnya, wanita berbadan sedikit gemuk dan wanita berambut pendek itu hanya bisa memandang iri pada wanita berambut panjang. Apalagi, saat melihat berpuluh-puluh wartawan mengunjungi rumahnya yang kecil. Ternyata anaknya itu baru saja menjadi juara pertama dalam lomba cerdas cermat tingkat kabupaten. 








* Sebetulnya ada niat untuk mempublikasikan cerpen ini pada hari Kartini kemarin (21 April). Tapi tak apalah, aura hari Kartini masih tetap terasa hingga hari ini. Ho-ho-ho.