Tuesday, January 7, 2014

Nostalgia Masa Sekolah dalam My Boss, My Hero


Ternyata kepintaran tak berbanding lurus dengan kebaikan. Orang dikatakan cerdas itu belum berarti orang itu baik. Namun setidaknya, kecerdasan itu bisa membuat seseorang menjadi lebih bijak. Itu seperti kata pepatah lama: "Seperti ilmu padi; semakin berisi, semakin merunduk". Sekiranya itulah mungkin pesan terselubung dalam drama Jepang berjudul "My Boss My Hero" yang disutradarai oleh Toya Sato, Noriyoshi Sakuma, dan Jun Ishio itu.

Drama komedi ini mungkin sudah banyak yang tahu. Sekiranya tertarik, kalian bisa menemukannya dengan mudah di lapak-lapak VCD-DVD bajakan. Banyak pula situs yang sudah memberikan file unduhannya. Wajar saja, drama yang dibintangi oleh Tomoya Nagase ini rilis di Jepang pada 8 Juli 2006. Sudah cukup lama, namun berani jamin, ceritanya cukup berkesan di pikiran. Drama ini merupakan drama yang tak lekas lupa dari memori.

"My Boss My Hero" ini menceritakan mengenai Makio Sakaki, seorang pemuda berusia 27 tahun yang kelak akan mewarisi geng yakuza yang cukup terkenal di daerah Kanto. Ia sebetulnya punya modal menjadi pemimpin yakuza. Nyalinya besar dan cukup jago bela diri. Hanya saja, kelemahannya satu: ia bodoh. Ia tak sepintar adiknya, Mikio yang kuliah di Amerika Serikat. Gara-gara kebodohannya itulah, ia sempat hendak dicoret sebagai ahli waris oleh ayahnya. Untungnya, ayahnya masih punya hati. Ia diberikan satu kesempatan menjadi penerus geng yakuza tersebut dengan syarat harus mau disekolahkan kembali.

Demi tak kehilangan martabat di depan adiknya, ia rela menerima tawaran tersebut. Lalu diuruslah segala persyaratannya. Karena ayahnya merupakan teman dari kepala sekolah SMA St. Agnes, ia bisa dengan mudah menyusup tanpa ketahuan jika ia bukan remaja lagi. Memang yah, yang namanya nepotisme itu selalu ada dimana-mana; termasuk di Jepang yang punya etos kerja yang patut diacungi jempol.








Di sekolah tersebut, selain si kepala sekolah, tak ada yang tahu lebih lanjut soal identitas yakuza-nya. Makio selalu berusaha juga untuk menyembunyikannya. Ia ingin bisa lulus dengan damai. Apalagi kalau murid-murid dan guru-guru sampai tahu, masalahnya jadi semakin rumit. Masuk akal, ia harus menyembunyikan identitas yakuza-nya.

Setelah menjalani hari-hari di SMA tersebut, ia masih canggung. Masih belum terbiasa juga dengan kehidupan SMA, terlebih ia memang tidak lulus SMA. Segala yang terjadi di kehidupan SMA, memang masih baru untuknya. Baru kali ini, ia melihat aksi bullying, delinkuensi, kegilaan remaja SMA, cinta, dan juga persahabatan. Semua kehidupan SMA benar-benar telah menambah wawasan dan membuka pola pikirnya. Ia jadi semakin bijak, bahkan nyaris saja menyerahkan status pewaris geng yakuza itu kepada adiknya yang intelek. Sekolah itu sungguh telah mengubah Makio yang dulunya sangar dan sadis menjadi Makio yang lebih sabar dan hati-hati dalam berbuat. Sekolahnya juga telah menjadi rumah kedua yang menyenangkan, selain rumahnya sendiri.

Menonton drama ini sungguh bisa membuat kita tergelak. Cukup bisa menghilangkan penat ataupun mengenangkan kembali masa-masa sekolah. Kalau dipikir, kejadian-kejadian tak masuk akal di drama ini sebetulnya hanya sebagai pengingat. Kalau kita coba ingat-ingat lagi, masa-masa sekolah itu penuh dengan hal-hal konyol; dan hal-hal konyol itulah yang membuat masa-masa sekolah itu jadi cukup memorable. Aksi-aksi konyol dulu itu membuat kita jadi geli sendiri mengingatnya. Jadi tak perlu anggap serius salah satu scene dimana Makio dan sekelompok anak SMA berlari sekuat tenaga agar bisa makan puding yang terkenal kelezatannya. Hal seperti itu hanya segelintir dari hal-hal konyol yang pernah kita lakukan di masa-masa sekolah.

Yang membuat drama ini benar-benar terasa nyata, selain karena cerita atau skenarionya, itu akting para pemainnya. Terutama Tomoya Nagase yang berperan sebagai Makio Sakaki. Aktor tampan tersebut sungguh bisa menghidupkan tokoh gangster yang mendadak harus jadi pelajar SMA. Pemeran-pemeran lainnya juga  nyaris tak ada yang patut dipertanyakan kemampuan aktingnya. Segalanya benar-benar terasa nyata. Juga termasuk koreografi untuk adegan perkelahiannya. Secara sinematografi pun sama. Permainan efek suara, efek spesial, efek visual, dan lain-lain sebagainya sungguh diramu secara apik. Secara plot, tak ada bagian yang memusingkan otak. Kalau ada bagian yang bisa pusing, yah mungkin itu karena adegan tersebut sukses membuat kita tercengang-cengang, lalu merenunginya.

Oh yah, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan ketahuan. Walau sekeras mungkin Makio berusaha menyembunyikan status yakuza-nya, yang namanya rahasia itu tak ada yang abadi. Cepat atau lambat pasti akan terbongkar, entah itu jadi fakta atau hanya jadi mitos. Begitu pun dengan Makio. Status yakuza-nya itu perlahan naik ke atas permukaan. Mulai dari teman karibnya, Jun Sakurakouji, hingga wali kelas dan rivalnya dari geng yakuza lain. Kelak, rivalnya itu akan mengacak-acak SMA St. Agnes dan Makio lepas kontrol. Identitas yakuza-nya terbongkar. Walau demikian, ia telah sukses menanamkan kesan positif di pikiran teman-teman sekelas, wali kelas, hingga tiap orang di St. Agnes. Respek itu tidak akan hilang setelah aksi brutalnya menjelang upacara kelulusan SMA.




RATE 100

Genre: Komedi, Romance
Sutradara: Toya Sato, Noriyoshi Sakuma, dan Jun Ishio
Pemain: Tomoya Nagase, Yui Aragaki, Yuya Tegoshi, ....
Jumlah episode: 10



* Sumber gambar: hasil capture