Friday, November 22, 2013

(Mungkin) Bahasa Indonesia itu Bahasa yang Susah Dipelajari


Akhir-akhir ini, aku menemukan sebuah artikel menarik: tentang sepuluh bahasa paling susah dipelajari. Bisa dicek di: (http://www.china.org.cn/top10/2013-09/11/content_29998360_10.htm). Isi artikelnya sih memang tak terlalu valid. Lagipula tingkat kesulitan bahasa itu sebetulnya tergantung pada minat belajar seseorang terhadap bahasa yang bersangkutan. Kalau si Cepot suka mempelajari bahasa Korea, pastinya yang namanya baca Hangeul bukanlah hambatan berarti untuknya. Yah tapi sekedar tahu saja, tak masalah juga untuk tahu. Setidaknya kita jadi tahu, kan, kesulitan apa saja dalam mempelajari bahasa-bahasa tersebut.

Oh iya, artikelnya itu tertulis dalam bahasa Inggris. Ijinkanlah aku untuk meringkas (Bukan menerjemahkan kata per kata lho) isi artikelnya. Menurut Wang Yanfang, sepuluh bahasa tersulit itu adalah:

1. Mandarin
Dibilang sulit, karena seringkali ditemukan perbedaan antara pengucapan dan penulisan. Nada bicara juga berpengaruh pada arti katanya. Selain itu, Mandarin memiliki ribuan karakter yang tak mudah sekali untuk dihapalkan.
2. Yunani
Kesulitannya, bahasa Yunani itu memiliki struktur suku kata campuran, sehingga memungkinkan adanya kombinasi suara yang kompleks. Juga bahasa Yunani memiliki banyak kata turunan yang menyulitkan untuk mempelajarinya. Kadang satu kata bisa mengalami infleksi (Perubahan) menurut kata benda, kata sifat, atau lainnya.
3. Arab
Bahasa Arab itu memiliki metode tak biasa dalam membangun kata dari kata asalnya. Pada satu kata benda saja itu harus memperhatikan aspek gramatikal, jumlahnya, jenis kelamin si penutur, dan keadaan.
4. Islandia
Tata bahasanya rumit dan masih banyak ditemukan kosa kata lama. Selain itu, juga masih terpengaruh oleh bahasa Jerman kuno serta adanya bahasa Islandia moderen.
5. Jepang
Jepang memiliki tiga aksara yang susah dipelajari. Ada Kanji, Hiragana (Aksara asli Jepang), dan Katakana; dan yang paling susah itu Kanji, karena terpengaruh aksara Mandarin. Karena itulah, kadang juga suka ditemukan perbedaan antara pengucapan dan penulisan. Contoh: Ohayou Gozaimasu. Kata yang artinya 'selamat pagi' itu bacanya 'ohayo gozaimas'. Terus ada pula Ichi, dimana kadang 'i' di akhir katanya itu tidak diucapkan, tapi kadang juga diucapkan. Belum lagi ada pula semacam expression yang hanya ada dalam bahasa Jepang dan agak sulit diterjemahkan secara harfiah seperti otsukaresama, itadakimasu, yoroshiku, hingga hajimemashite.
6. Finlandia (Finnish)
Tata bahasanya rumit. Serta adanya perubahan yang luas untuk kata kerja, kata benda, pronouns, atau adjektif, dimana tergantung pada perannya dalam kalimat. Finnish juga memiliki sufiks yang bersifat derivatif (endless derivative suffixes).
7. Jerman
Punya banyak dialek, baik itu dalam penuturan maupun penulisan. Kata turunannya juga lumayan banyak.
8. Norwegia
Bahasa ini merupakan sekian dari beberapa bahasa yang sulit sekali pengucapannya. Selain itu juga tak memiliki standar resmi seperti Indonesia yang memiliki Ejaan yang Disempurnakan (EYD) atau Inggris dengan TOEFL-nya. Kebanyakan orang Norwegia juga berbicara dengan dialek yang lumayan banyak ada di sana.
9. Denmark (Danish)
Sama seperti bahasa Norwegia, Danish susah dipelajari karena masalah pengucapan. Berbeda sekali antara penulisan dengan penuturannya. Ditulisnya apa, diucapkannya seperti apa.
10. Perancis
Bahasa ini susah dipelajari karena adanya jenis kelamin pada benda. Juga pengucapannya agak susah karena faktor memperhatikan ejaan.

Yah begitulah inti sarinya. Begitulah kesulitan mempelajari bahasa tersebut menurut Wang Yanfang. Ingat, itu tak sepenuhnya valid. Mungkin itu hanya berdasarkan opininya saja. Terus, kalau dipikir-pikir, dia juga tidak memasukan bahasa Ibrani (Hebrew), Rusia, Belanda, Hindi, Spanyol, Italia, Korea, dan Indonesia.



Bahasa Indonesia itu sulit? Masa sih? 


Yup, bahasa kita itu sebetulnya susah, lho. Walaupun secara tata bahasa itu gampang dipelajari. Bayangkan saja, bahasa ini tak seperti Inggris yang tenses-nya banyak. Tak ada perbedaan antara Past, Present, dan Future. Selain itu, bahasa kita itu tak memiliki sistem tunggal-jamak. Tak ada juga mengenal jenis kelamin pada benda. Tapi ada juga sih, dalam bahasa Indonesia yang secara pengucapan itu membingungkan. Seperti kata 'bank' atau 'khusus'. Kata terakhir itu bisa diucapkan 'kusus' atau 'husus'. Masih ada juga sistem hukum  PTKS dan JCR yang kacau. Tiap kata berawalan huruf P-T-K-S yang terkena imbuhan me- itu harusnya luluh; kenyataannya tidak. Itu seperti 'mempercayai', yang mana harusnya itu 'memercayai'. Yang tidak luluh itu, kata-kata berawalan J-C-R. Contoh: 'mencintai'. Penggunaan imbuhan pe- untuk profesi saja masih ngawur. Ada 'penanam', tapi di sisi lain ada kata 'petenis'. Penggunaan kata serapa juga membingungkan. Katanya sih, kata-kata Inggris yang berakhiran -ity berubah menjadi -tas. Tapi mengapa celebrity lebih sering ditulis dan diucapkan sebagai selebriti; bukannya selebritas? Politician juga harusnya itu politikus; bukan politisi. Membingungkan yah?

Perbendaharaan kata bahasa Indonesia juga lumayan banyak, baik itu formal maupun informal. Satu kata saja sinonimnya banyak. Misal: kata 'no' saja dalam bahasa Indonesia bisa diartikan: 'tidak', 'tak', 'nggak', 'gak', atau 'kagak'. Atau 'often' diartikan sebagai 'sering', 'kerap', dan 'acap'. Pernah juga ada teman yang bilang, ada beberapa kata asing yang susah ditemukan padanannya dalam bahasa Indonesia; begitu juga sebaliknya. Contoh: kata 'sok' yang susah diterjemahkan ke bahasa Inggris. Atau kata 'tukang' yang tak jelas maknanya apa dan seringkali tergantung pada penggunaannya.

Itu baru secara EYD atau formalnya. Belum secara informal atau bahasa pasarannya (Kerennya, Slang). Meminimalisasikan penggunaan kosa kata asing - terlebih Inggris, secara prakteknya bahasa Indonesia itu susah. Orang asing yang baru belajar bahasa Indonesia lalu tiba di Indonesia, pasti akan mengalami kesulitan. Kagok. Dalam keseharian, orang Indonesia masih suka mempergunakan bahasa daerah atau logat serta dialek. Kalau tidak mendominasi percakapan, yah minimal ada beberapa kosa kata bahasa daerah yang terselip.  Contohnya: 'beuh', 'monggo', 'horas', 'gue', 'elu', 'keukeuh', 'punten', 'nrimo', dan masih banyak lagi sebetulnya. Belum lagi, bahasa Indonesia memiliki kata-kata serapan dari bahasa lain - selain bahasa daerah.

Selain itu, bahasa Indonesia itu susah diucapkan berdasarkan lafal, dialek, serta logat. Juga grammar bahasa Indonesia itu sebetulnya membingungkan. Mungkin karena prakteknya tak konsisten. Yah itu seperti hukum PTKS dan JCR tersebut. Secara fonetik, bahasa Indonesia juga susah. Ada beberapa kata yang cara penuturan dan pengucapannya berbeda - seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Oh iya, hampir lupa, dalam bahasa Indonesia itu sering juga menemukan kata-kata yang hanya ada dalam bahasa Indonesia seperti  'wah', 'eh', 'lho', 'sih', 'dong', 'kek', 'brot', 'pret', dan masih banyak yang lainnya. Jumlahnya begitu banyak dan jauh melebihi pada bahasa Inggris. Itu karena juga turut memperhatikan kata-kata seru yang di tiap bahasa daerah ada.

Entah kenapa juga, berbahasa Indonesia yang baku itu susah sekali dan terasa kaku. Tak percaya? Coba perhatikan contoh berikut ini!

1. Lu nggak tahu, dia lagi ngapain? (Informal)
2. Kamu nggak tahu, dia lagi ngapain? (Informal)
3. Anda tidak tahu, dia sedang berbuat apa? (Formal)

Jujur, dari  ketiga kalimat itu manakah yang enak pengucapannya? Kalau aku sih, yah kalau bukan kalimat pertama, yah kalimat kedua. Yang terakhir itu terasa kaku. Makanya tiap menonton film yang dialih-suarakan, dialognya itu terasa kaku. Mungkin kalau itu era 70-an atau 80-an, tak masalah. Tapi ini kan era 2000-an. Ditambah lagi, aku berani jamin juga, sepengamatanku, amat jarang yah menemukan orang yang berbicaranya itu bahasa baku (Secara EYD). Kalau tanpa penggunaan kosa kata asing sekalipun, bahasa informal-lah yang lebih sering diucapkan; bahasa formal seringkali hanya ditemukan di karya ilmiah atau segala sesuatu yang sifatnya resmi. Aku lebih sering mendengar kata-kata seperti 'ngapain', 'gini', 'cuek', 'cuma', 'nggak', 'ngerti', 'dipikirin', kepikiran', 'keringatan', 'ngejelekin', 'ngatur', atau 'gimana'; ketimbang kata-kata bakunya seperti 'sedang apa?', 'seperti ini', apatis', 'hanya', 'tidak', 'mengerti', 'dipikirkan', 'terpikirkan', 'berkeringat', 'menjelekan', 'mengatur', atau 'bagaimana'. Kata 'kenapa' saja formalnya itu 'mengapa'.

Itu semua juga belum ditambahkan dengan idiom. Juga kalimat aktif-pasif. Ada lagi kalimat transitif-intrasitif. Pembentukan kalimat majemuk. Lha, ini kenapa jadi ingat pelajaran Bahasa Indonesia jaman SMA yah?

Hmm, mungkin ada benarnya juga kata teman kuliahku, bahasa Indonesia itu susah untuk dipelajari, baik itu formalnya maupun informalnya. Secara prakteknya, penggunaan bahasa Indonesia harus memperhatikan lafal, logat, dan dialek. Mungkin di lain waktu, kita bisa bilang bahwa bahasa Indonesia itu mudah dipelajari. Yah itu karena kita sudah lama tinggal di Indonesia. Tak harus melihat dari kacamata orang asing, kalau kita cermati, sesungguhnya bahasa Indonesia itu susah dipelajari. Malah lebih sulit daripada Inggris, Jerman, Belanda, Perancis, Jepang hingga Mandarin sekalipun.

Ah, aku kok menulis ini jadi merasa bangga sekali yah terlahir dan tinggal di negara bernama Indonesia ini?  Juga bangga bisa menguasai bahasa Indonesia yang ternyata tak mudah mempelajarinya. Yah meskipun kadang suka merasa dilema juga. Habisnya sering sebal melihat ulah-ulah konyol masyarakatnya sih - terlebih lagi soal SARA. Hmmm.....





* Gambar-gambar merupakan hasil capture dua video