Friday, November 29, 2013

ANOTHER FICTION: Semua Karena Rokok

Melisa menekuk bibirnya. Ia gemas mendapati sang kekasih membuka jendela mobil dan... merokok. Sudah berapa kali diingatkan, Yanuar tetap saja tak menghentikan kebiasaan merokoknya. Sebab itulah, ia berdecak-decak kesal.

Tanpa melihat ke arah gadis favoritnya itu pun, Yanuar tahu Melisa kesal padanya. Katanya: "Nggak usah ditekuk gitu kenapa sih bibirnya? Kamu itu jadi nggak cantik lagi." Pemuda yang hobi memelihara brewok itu terkekeh. 

"Katanya kamu mau berhenti merokok, buktinya mana?" sembur Melisa yang langsung menelengkan kepala ke arah Yanuar.

"Susah, Mel. Aku  itu ibarat buah simalakama. Merokok bisa mati, nggak merokok... kayak di neraka aja." bela Yanuar. "Lagian kenapa sih aku berhenti merokok? Kan nggak mengganggu kamu."

"Asapnya." kata Melisa ketus.

Yanuar tergelak. Spontan ia menengok juga ke arah pacar yang sudah dipacari selama tiga tahun. "Mel, Mel... asap itu cenderung naiknya ke atas - mengikuti temperatur udaranya. Dan kamu lihat sendiri, aku buka jendela mobil biar asapnya semakin nggak mengenai wajahmu itu."

Melisa hanya nyengir sinis. 

"Lagian juga, ya udah-lah, ngapain ributin soal begituan. Oh iya, aku pernah baca di internet, menurut sebuah penelitian terhadap beberapa pengunjung di kafe-kafe, pengunjung non-perokok baru akan mendapatkan paparan ekuivalen satu batang rokok jika ia berada di kafe selama 105 jam. Total particulate meter dari rokok juga hanya menyumbangkan 2,4 persen dari polusi udara. Lebih kecil dari asap dari industri, pesawat terbang, debu, atau kendaraan bermotor." Cowok itu mengangkat bahu. "Yah jadi nggak ada masalah sama rokok."

Ganti Melisa yang tergelak. "Yah jelas aja dibilangnya begitu kalau yang bikin dari seorang perokok. Lagian yang namanya polusi, yah tetap polusi. Asap knalpot, kamu tahu, itu lebih banyak beredar di sekitar kaki manusia, nyata-nyatanya itu tetap polusi, kan? Mengganggu pernapasan."

"Tapi asap knalpot itu asapnya lebih banyak dari asap rokok, yah?" tangkis Yanuar.

"Walau asap rokok lebih sedikit, jangan lupa juga, yang namanya udara kotor tetap udara kotor. Dan kamu bilang, asapnya mengarah ke atas kan? Terus pas kamu bakar sampah dua hari lalu itu gimana? Asapnya mengarah ke atas juga, tapi kamu bilang, aku ingat betul, kamu terganggu sama asapnya. Bikin sesak napas kamu, ya kan kamu bilang gitu?"

Yanuar tergelak lagi. "Dasar cewek! Suka mendramatisir. Udah yah, nggak usah drama pagi-pagi."

"Ini bukan drama." Melisa kesal dituduh secara tersirat sebagai ratu drama. "Lagian hal-hal besar kan bermula dari hal-hal kecil. Memang asap rokok kelihatannya nggak berbahaya, padahal sebetulnya itu berbahaya. Pertama, buat si perokok sendiri, jantungnya merupakan objek pertama yang diserang nikotin, selain bisa bikin kecanduan...."

"Cowok itu tergelak lagi, itu bikin pacarnya semakin kesal saja. "Eh, nikotin itu nggak seperti narkotika yah - yang bisa bikin efek nge-fly atau climb a mountain?! Bahkan British Medical Association pernah menyarankan agar tidak menggunakan kata 'adiksi' pada nikotin. Memungkinkan, kok, bagi para perokok untuk berhenti."

Si cewek nyengir. "Terus kalau gitu, kenapa kamu susah buat berhenti merokok?"

Bibir si cowok mendadak kelu. Lidahnya keseleo.

"Kamu kecanduan kan?" serang Melisa semakin agresif. "Kalau memang zat yang terkandung dalam rokok tidak seberbahaya heroin, kenapa setelah merokok satu batang, kamu bakal merokok satu batang lagi? Aku tahu banget kok, kamu merokok sehari itu bisa lima batang rokok. Bahkan kata mama kamu, dalam sehari, satu pak rokok bisa kamu habiskan sendirian."

"Itu aku lagi stress, Mel," bela Yanuar defensif. "Kamu tahu sendiri, waktu itu aku pusing mikirin tugas-tugas kuliah yang banyak banget."

"Kalau stress tuh, yah keluar rumah. Sepedaan, jogging,.... atau berdoa atau tidur." Tatapan Melisa, si gadis berambut panjang itu semakin sangar saja. Auranya jadi semakin memanas di tengah dinginnya suhu dalam mobil. 

"Stressnya hanya bisa hilang kalau aku merokok."

"Tuh, addict kan berarti? Rokok itu candu kan?" 

"Eeee..." Yanuar kesulitan berkata-kata.  "Ya udah-lah, nggak usah diributin. Lagian ngapain ributin soal bahaya rokok. Ada banyak yang lebih bahaya dari rokok seperti mi instan yang mengandung MSG atau lapisan lilin, tahu-tempe dari kedelai transgenik, atau ikan-ikan laut yang sudah tercemar. Kenapa orang nggak ributin yang itu aja? Kamu juga, ngapain sih urusin aku? Sakitnya juga - aku yang nanggung kok."

"Karena aku peduli sama kamu - sama kesehatan kamu. Aku kan pacar kamu, kita sudah pacaran selama tiga tahun." kata Melisa. 

"Ya elah, baru juga pacar - belum jadi istri aku." ujar Yanuar nyengir. 

"Maksud kamu itu apa?" selidik Melisa mulai curiga. Cewek itu lalu memutar bola matanya. "Oh aku mengerti sekarang. Pantas yah, kemarin aku telepon itu malah kamu reject. Pasti kamu lagi sama perempuan-perempuan lain, kan? Sebelumnya udah ada Fella, Vanissa, Tia, Erny.... dan yang kemarin itu siapa lagi?"

Kedua lengan Yanuar mulai basah. Ia mengatupkan gigi-giginya dengan penuh erat. 

"Aku mau kita putus," seru Melisa dengan mata terbelalak; sama terbelalaknya dengan Yanuar yang karena kaget. "Pinggirin - aku mau turun di situ aja." Cewek itu menunjuk ke arah sebuah warteg. 

Yanuar pasrah saja. Entah mengapa, mendengar kata putus itu saja, keberaniannya menguap. Ia tak berani mendebat begitu saja Melisa. Padahal baru saja, ia sengit melawan kekasihnya tersebut - terkait soal rokok. Kata orang, apabila terpergok sedang melakukan kesalahan, seseorang akan kesulitan melakukan pembelaan diri.

Mobil minibus berwarna keperakan itu dipinggirkan. Segera, tanpa ada drama lagi, si perempuan keluar. Melisa membanting daun pintu dengan cukup keras. Dengan kode dari tangan si cewek, si cowok menurut saja untuk segera melajukan mobilnya sejauh mungkin. Kurang lebih sepuluh menit setelah minibus si cowok pergi, Melisa mengambil ponsel dari tas tangannya. Dari layar, kita bisa mengamati siapa yang ditelepon: Anjar, adik Melisa yang baru tiga bulan lalu jadi mahasiswa. Melisa meminta adiknya untuk segera menjemputnya. 





* Cerpen ini terinspirasi dari tulisan "Ijinkan Saya Merokok" oleh HMH.