Wednesday, October 16, 2013

(Mungkin) Ini Awal Oktober yang Kelabu


Kayaknya bulan Oktober 2013 ini suram banget buat gue yah? Dari tanggal satu kemarin, gue agak cukup rutin terima berita negatif. Beberapa naskah novel ditolak, satu novel masih masuk waiting list penerbit, ada cerpen gue yang ditolak lagi, komisi yang gue terima di www.publisher.co.id jadi malah mengecil, hingga barusan gue dikabarin sama Feby - naskah sinopsis skenario gue ditolak sama orang PH. Lewat si Feby sih, gue jadi tahu kenapa ditolak. Katanya - dan dari seseorang dari production house juga, ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan waktu kirim sinopsis skenario ke PH. Nih dia, poin-poinnya:

1. Menulis sinopsi berbeda dengan menulis cerpen. Karena di sinopsis si pembaca tidak butuh kalimat-kalimat sastra yang indah. Yah, boleh aja sih nulis pake kalimat-kalimat yang indah. Tapi yang terpenting dalam sinopsis adalah cerita dan konflik cerita. Jadi sebisa mungkin dari paragraf pertama penulis harus bisa menyuguhkan sebuah konflik pembuka! Ini penting! (Perasaan gue cukup sering nonton sinetron atau FTV, ceritanya kalau nggak irasional, yah datar dan terfokus pada soal harta dan kekuasaan. :P) Sebab orang TV atau PH hanya ingin tahu apa konfliknya, bagaimana ceritanya, progresnya seperti apa, klimaksnya bagaimana, penyelesaian ceritanya bagaimana.

2. Dalam membuat cerita, perlu diketahui bahwa beberapa rumah produksi sekarang punya standar cerita yang tinggi. Jujur saja, kalo naskah gue yang ditolak itu dikirim tahun 2007, kemungkinan bisa diterima. Karena standar cerita pada saat itu tidak setinggi sekarang. Sekarang ini standarnya semakin tinggi. Mereka nggak mau cerita-cerita yang biasa saja. Mereka mau cerita yang punya konflik yang padat, berisi, keren, unik, tidak mendayu-dayu (Masih ada kok yang mendayu-dayu dan banyak lagi), sudah tidak lagi cerita yang full komedi. Jadi kalau bisa paradigmanya diubah; jangan lagi bikin judul yang keren, tapi pikirlah bagaimana menciptakan sebuah cerita yang keren dengan konflik yang padat. Sehingga isi sinopsis yang dua sampai tiga halaman itu konfliknya padat.

3. Nggak usah bikin dialog-dialog yang tidak terlalu penting di dalam sinopsis. Kalau dialog itu nggak penting buat dimunculkan dalam sinopsis, ganti saja dengan keterangan. 

Yah begitu deh, tips dan trik dari Kang Feby.

Ditolak memang sakit, mas bro-mbak sis (Apalagi ditolak cinta -_-), tapi hidup harus terus berlanjut, kan? Ya sudahlah, ambil sisi positifnya saja. Sisi positifnya.... setidaknya gue jadi tahu kriteria cerita bagaimana yang diinginkan sama orang-orang PH. Plus mungkin fokus gue juga belum boleh di penulisan skenario - sinopsis skenario. Gue kayaknya harus fokus ke urusan jadi novelis atau bangun kredibilitas dulu di dunia kepenulisan (Ikuti saran si Ryan Hasanin). Roma kan tidak selesai dalam semalam. Hehehe.