Monday, August 12, 2013

(Mungkin) Mereka-lah Superhero Sesungguhnya



















"When i was being taken advantage by someone is no loss at all. Therefore there's a God's wonderful plan inside that. So don't be grumpy again,  Boy." >> This is kind of self note to myself. I will never suggest all of you to follow this. :)







sumber kasus







Dilema. Ternyata  kebaikan bisa bikin dilema. Iya, dilema. Pasti kalian pernah, kan, melakukan kebaikan, terus ke depannya, malah berpikir:  "Salah nggak sih gue ngelakuin itu?" Kalau ditanyakan balik, aku sering sekali. Apalagi tiap bertemu makhluk bernama pengemis.

Jujur saja, tak munafik, aku tipe orang yang jarang sekali memberikan uang ke pengemis. Selain karena faktor kantong yang tak terlalu tebal-tebal amat, ada faktor lainnya: pengemisnya itu sendiri. Sering berpikir, ""Kok kayaknya berat ngasih duit ke orang yang kerjaannya hanya duduk-duduk saja sambil menatangkan tangan?" Tambah dilema lagi, setelah baca fakta di Yahoo ini:

Petugas Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan menemukan fakta mengejutkan. Dalam sehari, pengemis di Jakarta bisa mengantongi penghasilan sekitar Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta.

"Kalau yang segitu biasanya didapat pengemis dengan tingkat kekasihanan yang sangat sangat kasihan. Seperti pengemis kakek-kakek atau ibu-ibu yang mengemis dengan membawa anaknya," ujar Kepala Seksi Rehabilitasi Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, Miftahul Huda saat ditemui di kantornya, Selasa (25/6).

Nah! Itu dia. Itulah yang bikin aku enggan kasih uang ke pengemis. Mengemis jadi seperti pekerjaan saja, bukan lagi karena nasib. Dengan memasang tampang memelas di jalan-jalan, emperan, atau atas jembatan selama sebulan, mungkin satu blackberry sudah di tangan. Kalau sudah begini, logika lebih bermain daripada perasaan, Bahaya juga, nih. Kenapa bahaya? Soalnya kalau dibiarkan terus, setiap melakukan apa-apa, selalu memikirkan untung-ruginya dulu. Tak ada lagi kebaikan tanpa pamrih yang pernah kita lakukan. Padahal sebaiknya, kan, kalau kita berbuat baik, seharusnya perasaan atau nurani lebih bermain. Baru tercipta yang namanya kebaikan tanpa pamrih. 

Itu idealnya. Secara idealis, harusnya kita seperti itu. Nyatanya, mendengar fakta soal pengemis yang bisa berpenghasilan sampai sekian juta saja, kita sudah hilang feeling bersedekah. Sudah iri dan ber-suudzon duluan. Pasti kalian geram, bukan, mendengar ada seorang pengemis yang bisa menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi?

Dan, tak hanya soal pengemis saja. Kebanyakan kita susah berbuat baik. Banyak sekali batasan dalam melakukan kebaikan. Lihat  kondisinya dulu-lah; usia si penerima bagaimana; sesuku tidak?; seagama tidak?; dan bla-bla-bla syarat-syarat lainnya. Sepertinya orang yang 100% baik itu langka yah? Maksudnya, orang yang melakukan kebaikan tanpa berpikir dulu. Mayoritas dari kita, kan, pasti berbuat baik karena dipikirkan terlebih dahulu. Jarang sekali berbuat baik secara spontan - tanpa menggunakan akal sehatnya. Padahal, seperti yang sudah disebutkan, idealnya, berbuat baik itu jangan menggunakan akal sehat. Tiap melakukan kebaikan, logika harus dimatikan terlebih dahulu. Kalau logika bermain, jatuhnya pamrih. Artinya, sepertinya doing a good stuff is meaningless.

Kenapa kita tak bisa seperti Bunda Theresa, Florence Nightingale, atau Albert Schweitzer yang langsung berbuat kebaikan tanpa berpikir? Mereka semua, kurasa, tak ada yang berpikir dahulu sebelum bertindak. Apa jadinya rakyat India, kalau Bunda Theresa punya pikiran seperti ini: "Ah buat apa juga kutolong? Tak seagama, apalagi sesuku denganku?" Atau nasib rakyat Lambarene di Gabon pasti tak akan berubah lebih baik, kalau Albert Schweitzer berpikir itu bukan urusannya membantu rakyat sana.  Atau para tentara yang jadi korban Perang Krim punya kondisi yang sangat mengenaskan, andaikan Florence Nightingale terus hidup dalam zona nyamannya yang memang anak bangsawan. Ah, rasa-rasanya juga, kalau melihat kondisi sekarang dan diriku ini, mereka itu jadi seperti orang-orang super. Mereka memang tak seperti superman atau spiderman. Tapi mereka superhero sesungguhnya dan nyata, menurutku. Bagaimana tidak? Mereka bisa melakukan sesuatu yang orang lain enggan melakukannya dan seringkali malah berpikir-pikir dahulu. Hebat!

Oya, jadi ingat juga, kasus seorang supir bajaj yang  menolong mengantarkan pulang seorang anak down-syndrome yang tersesat. Dulu di salah satu  stasiun televisi swasta pernah diceritakan, sih. Salut sama si bapak yang mau meninggalkan pekerjaannya sementara untuk menolong si down syndrome. Tak berpikir pamrih, malah. Padahal yang ditolong juga bukan siapa-siapanya.





"Do what you can to love others, and stop worrying about - if its going to be considered to be good or bad." - Anonymous















Religous person is not kind-hearted; but i guess, the kind-hearted is always be a most-religious person.


"Mungkin harusnya kita mematikan akal sehat dan logika kita sewaktu berbuat baik. Biarkan hati nurani kita yang bermain. Doing a good stuff is going to be more meaningful, if we don't think of a matter about advantage or disadvantage." - @NuelLubis