Monday, August 19, 2013

[FF] Arti Sebuah Tanah


Jauh di timur, matahari telah terbit dan sinarnya memancar masuk melewati jendela kamarku. Kulihat jam dinding yang ada di kamar dengan mata masih mengantuk. Ah, masih jam setengah enam; tidak ada salahnya tidur sepuluh menit lagi. Begitu pikirku dalam hati.

Tiba-tiba ayahku masuk dan membangunkanku. Lalu kubertanya dengan mata sayu, "Ugh... Ada apa sih Yah?"

"Begini, kita sekeluarga sudah mempunya rencana untuk pergi ke rumah pamanmu di Bandung. Rencananya kita pergi hari ini. Jadi, cepat kamu siap-siap."

"Baik, Yah,"

Dengan mata masih mengantuk, aku bangun dari tempat tidur, lalu mempersiapkan segala yang akan dibawa. Setelah benar-benar siap, segera menuju kamar mandi.

Setelah aku dan anggota keluarga lainnya mantap dengan segala persiapan, kami semua masuk ke dalam mobil. Ayah, dengan hati-hati, mengeluarkan mobil dari garasi yang sempit. Tak lupa, ayah pergi ke pom bensin; tentunya perjalanan ke Bandung cukup jauh. Jadi butuh bahan bakar yang cukup. Hingga sekitar pukul 14.05, kami tiba di Bandung. Dari sebuah pasar yang ada di sana, kami meneruskan perjalanan kira-kira satu kilometer. Lalu belok ke sebuah jalan sempit serta tanah yang tidak rata. Dan sampailah kami di rumah Paman yang kecil dengan gerbang besi berwarna hitam dan berkarat. Di halamannya, terdapat  sebuah kolam ikan, dimana airnya mengalir melalui tiga buah pancuran. Kulihat Rico, adik sepupuku dengan gembira menyambut aku dan keluarga. Dia segera lari  dan membuka pintu gerbangnya. Anggota keluarganya yang lain juga sama gembira menyambut aku sekeluarga - dari pintu rumah. Segera aku dan keluargaku keluar dari mobil, lalu mengeluarkan barang-barang bawaan dan menuju ruangan yang telah disediakan Paman.

Keesokan harinya, jam delapan pagi, aku dibawa Paman ke sebuah bukit yang tak jauh dari rumah. Pemandangan dari atas bukit memang indah. Aku memang sudah tiga kali ke rumah Paman, tapi apabila tidak ke bukit ini, rasa-rasanya ada yang kurang. Aku juga tak pernah bosan dengan pemandangannya. Hanya saja, aku melihat tampang Paman tidak seperti biasanya. Seperti sedang kehilangan sesuatu. Aku memberanikan diri bertanya, "Om, memangnya ada masalah apa?" Karena dari tadi aku melihatnya memandangi pemandangan ini dengan sedihnya.

"Dari berita Kepala desa di sini, tanah di bukit ini akan dibeli sebuah perusahaan.  Perusahaan itu berniat membangun sebuah wisma. Om jadi sedih mendengarnya. Apalagi tempat ini sering dikunjungi anak-anak di sore hari untuk bermain. Coba kamu bayangkan, dimana mereka main nanti? Di desa ini, hanya ada satu lapangan voli yang kecil." cerita Paman.

"Apa tidak ada warga yang menentangnya?" tanyaku.

"Sebenarnya sudah, tapi mereka tetap bersikeras untuk mendirikan wisma di tanah ini."

Dari sedikit obrolan ini, aku menjadi tahu dan sadar bahwa tanah-tanah kosong agak jarang dijumpai, terutama di kota-kota besar. Apalagi tanah-tanah seperti ini, yang memiliki udara sejuk, pohon-pohon rindang di sekitar, serta kicauan burung.

Liburan kali ini terasa spesial. Aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga.






PS: Cerpen (Eh ternyata ini FF) ini dibuat untuk memenuhi tugas Mengarang yang merupakan bagian dari Ujian Bahasa Indonesia - yang diampu oleh Pak Joko "P-Man". Waktu itu, masih duduk di XI IPS 1. Judul awal, Pengalaman yang Tidak Ternilai. Cerpen ini juga sudah mengalami pengeditan. Cerita aslinya banyak sekali ditemukan pemborosan kata. Maklum, dibuat oleh remaja SMA yang labil sekali. :D