Sunday, July 28, 2013

Agama itu jangan jadi tembok!




Babe kite nyang ade di surge
Dikudusin name Loe ye Beh ye
Datengleh kerajaan Loe di bumi atawe di surge sono
Jadileh ape nyang Loe mau deh Beh
Bagiin dong bocah2 Loe ini makanan secukupnye
Dan ampunin ‘deh aye dari segale sale kate ato ape kek Nyang kage berkenan di ati Babe
same kayak aye nih juge ngampunin sesame aye.
Dan jauhin aye dari nyang ja’at ja’at yah,
‘pan Loe ‘Beh nyang bosnye kerajaan dan kuase selame lamenye.
Udahan dulu ye ‘Beh, Amiiiiin

Yang di atas itu, Doa Bapa Kami versi bahasa Betawi. Kali pertama tahu dari teman SMA. Kesannya sih, waktu itu, "Gila nih yah ngebuat! Ayat-ayat dari kitab suci dipelintir begini. Nggak sopan." Yah soalnya doa itu ditemukan dalam Matius 6: 9-13. Aslinya itu berbunyi seperti yang ada di sebuah situs.Di telingaku itu terdengar seperti pelecehan ayat-ayat kitab suci. Masak ayat-ayat suci itu pakai bahasa pinggir jalan sih?

Namun, setelah dipikir-pikir lagi, ketika kita berdoa dengan bahasa model begini ke Sang Pencipta, hal tersebut terkesan tak kaku. Tuhan itu jadi benar-benar jadi seperti seorang sahabat untuk kita - para manusia. Bayangkan kalau Doa Bapa Kami diucapkan dengan bahasa formal seperti ini: "Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di sorga, ..." Terkesan kaku dan hubungan kita dengan sang Pencipta jadi seperti raja dengan algojo atau budak. Yah Tuhan sih memang segalanya (untuk yang non atheis dan non agnostik). Dialah pencipta manusia dan segala yang ada di planet Bumi ini. Tapi dengan doa seperti ini, terlihat sekali yang namanya 'agama' itu jadi lebih manusiawi dan luwes.

Selain ditulis dalam bahasa Betawi yang notabene juga dari atas sana asalnya, doa model begini menunjukan kalau 'faith' itu sudah merasuki dalam sukma orang yang bersangkutan. Agama tak lagi dipahami secara dangkal saja. Bila manusia bisa menjadikan sesuatu dari agamanya sebagai bahan humor semata, itu berarti dia (mungkin) benar-benar sadar kalau ajaran agama yang dianutnya sudah menjadi pegangan hidupnya; selama guyonannya juga tak berlebihan. Itu juga berarti, dia menjalani ajaran agamanya dengan kerelaan hati dan kesadaran diri; bukan karena embel-embel 'terpaksa', 'ikut-ikutan', 'ada udang di balik batu', atau segudang alasan-alasan lainnya.

Idealnya sih, kalau kita beragama, hidup kita jadi lebih bermakna. Kita punya pegangan saat kita galau. Ada sesuatu juga yang bisa mengontrol diri kita dalam berhubungan dengan sesama. Bagi penganut sebuah agama yang cukup saleh, pasti akan selalu berpikir tiap kali terbersit pikiran untuk menzolimi sesama kita. Percaya sekali, rata-rata semua agama itu selalu penuh dengan ajaran moral. Lebih banyak kata 'jangan'-nya ketimbang 'boleh'-nya. Selain itu, agama juga bisa menjadi tuntunan kita dalam berkehidupan, khususnya dalam masyarat Bumi yang memang sudah majemuk. Jadi, salah besar kalau ada yang bilang: "Agama itu pemecah." Agama seharusnya bisa jadi pemersatu, bukan tembok Berlin.

Itu sih memang idealnya. Faktanya di lapangan, entah mengapa agama bisa jadi pemecah. Padahal ajarannya baik, kok. Penuh pesan positif. Dari sejak mesin uap belum ditemukan, sudah kerap kali ditemukan perang atas nama agama. Alasannya satu dan klasik: ajarannya berbeda dengan agama saya. Kebanyakan orang sering kali lantang berucap: "Agama saya yang paling benar, tak ada keselamatan di luar agama saya!" Yang bilang begitu itu Tuhan apa? Dia kali yang menciptakan alam semesta ini. Yah boleh-boleh saja sih beranggapan seperti itu; tapi apa tidak sebaiknya diucapkan dalam hati. Saat ditanya mengapa beragama X, jawab saja: "Karena saya menemukan ketentraman batin." atau "Karena saya jadi tahu apa arti hidup saya yang sesungguhnya." Itu jauh lebih enak terdengar. Tak ada arogansi dan bukankah tiap agama tak mengajarkan kearoganan?

Diakui juga, agama memang jadi faktor pembeda, selain bahasa, fisik, dan pola pikir (kebudayaan). Namun agama, kalau diperhatikan seksama, bukan jadi faktor pembeda yang menonjol sekali. Saking menonjolnya, agama jadi seperti tembok layaknya bahasa. Agama malah bisa jadi sebuah jembatan. Dalam satu agama saja, sering terlihat yang namanya akulturasi budaya. Jadi seharusnya antara agama satu dengan lainnya tak menciptakan sebuah tembok yang membatasi pergaulan umatnya. Secara internal saja bisa, kenapa sulit sekali secara eksternal? Bukankah indah melihat pemandangan seperti ini:



Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan dan Masjid Al-Hikmah yang terletak di Jalan Gatot Subroto no 222, Solo - Jawa Tengah.

Bayangkan saja, gerejanya sudah berdiri sejak tahun 1939. Lalu masjidnya berdiri pada tahun 1943. Dan hingga kini, masih tetap berdiri masing-masing dan tak ada konflik. Gosipnya, umat beragama di sana saling menghargai kepercayaan masing-masing. Satu-satunya tembok di antara keduanya itu cuma sebuah tugu lilin tua. Selain di Solo, katanya yang seperti ini juga ada di Tanjung Priok. Jadi seharusnya agama tak menjadi tembok. Yuk, kita usahakan supaya agama jangan jadi tembok lagi!

Sebagai penutup, ada quote bagus dari seorang teman blogger yang sekiranya bisa jadi bahan renungan kita semua (Ceritanya waktu di perantauan di China sana):

Keven Keppi: "Waktu gua ceritain ke temen China gua yang agamanya muslim, dia sampe bengong terus bilang, "Kalo puasa ya puasa aja, nggak usah pamer-pamer ke orang laen kalo lu lagi puasa, apalagi minta dihormati sampai merugikan orang lain segala, itu sih namanya nggak tulus puasanya, cuma pengen memanfaatkan momen puasa ini untuk keuntungan pribadi."





Di atas ini bukan sejenis patung Buddha. Tapi ini sebetulnya patung Bunda Maria dan adanya di Jepang sana. Kalian tahu, di Jepang sana, konon ada yang namanya Kakure Kirishitan. Itu adalah sebuah kelompok Nasrani yang menjalankan agamanya secara sembunyi-sembunyi karena tekanan pemerintah Jepang pada era sebelum Showa dan Heisei (Penanggalan Jepang). Lalu ajaran-ajaran Kristiani dibaurkan dengan ajaran Buddha atau Boddhisattvas. Salah satunya, yah patung Bunda Maria ini yang juga agak mirip dengan patung Dewi Kanon.

Hingga saat pemerintah Jepang menjamin kebebasan beragama (Di sana, dalam undang-undangnya, agama dianggap sebagai budaya), Kakure Kirishitan ini masih ada - gosipnya. Karena kebanyakan penganutnya masih nyaman dengan jalan beragama secara sembunyi-sembunyi. Sepintas juga, ajaran agama Kristen dipelintir dan jauh dari makna sesungguhnya. Tapi coba deh berpikir positif. Setidaknya kaum Kakure Kirishitan ini mengajarkan pada kita:

"We should show our religion up by the behaviour; not by something symbolic." - @NuelLubis