Monday, July 30, 2012

Temanku yang begitu beraninya

Dulu aku pernah menonton sebuah FTV (Film Televisi, red) Remaja yang ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta. FTV itu menceritakan mengenai seorang cewek SMP yang jatuh cinta dengan cowok SMA. Nah, adegan demi adegan di FTV tersebut itu mengingatkanku kembali dengan masa SMP-ku.

Aku ingat dulu teman-teman SMP-ku banyak yang seperti itu. Entah FTV yang terinspirasi dari kejadian nyata atau mereka yang terpengaruh dengan sebuah sinetron remaja. Teman-teman SMP-ku itu jatuh cinta dengan murid-murid SMA, khususnya murid perempuannya. Mereka lebih melirik murid SMA daripada teman seangkatannya atau kakak kelas maupun adik kelasnya. Mungkin di mata mereka, jadian dengan anak SMA jauh lebih prestisius ketimbang memacari anak SMP, yang sebaya dengan mereka. Hanya segelintir saja dari teman-temanku yang masih melirik murid SMP. 

Oya, terkait fenomena ini, aku punya pengalaman gokil. Pengalaman ini kalau diingat-ingat lagi bikin aku jadi geleng-geleng kepala. Menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Aku tak menyangka kalau temanku itu bisa senekat itu dan mungkin hal seperti itu merupakan suatu pengalaman yang langka. Dan hal tersebut adalah pengalaman melihat sendiri seseorang yang lagi pedekate. 

Kisah tersebut bermula pada saat aku duduk di kelas 2 SMP. Waktu itu aku ingat kejadiannya itu terjadi pada siang hari. Sudah jadi tradisi di SMP-ku, kegiatan belajar mengajar dari murid-murid kelas 2-nya itu berlangsung siang hari. Kami masuk sekolah pukul 12.30 dan pulang jam 17.30. Dan saat itu, aku dan teman-temanku bersiap-siap mengikuti mata pelajaran Olahraga, sehabis mengikuti kelas Sejarahnya Ibu Gultom. 

Waktu bel pergantian pelajaran berbunyi, banyak temanku yang bersorak. Mereka bersorak, karena hanya di jam Olahraga sajalah, mereka bisa lebih leluasa dan rileks. Bisa dimaklumi. Sebab kami tak harus terus menatap papan tulis ataupun mendengarkan penjelasannya Bu Gultom yang sebetulnya cenderung mendikte. 

Walaupun waktu itu jam Olahraga itu jatuh pada jam 15.30, mata pelajaran Olahraga jauh lebih baik daripada Sejarah atau mata pelajaran lainnya, dimana kita harus terus mendengarkan celotehan para guru yang sedang berusaha menjelaskan materi. Memang sih, melakukan kegiatan fisik di sore hari nggak menyenangkan. Tapi setidaknya pemandangan di luar kelas jauh lebih menyegarkan pikiran daripada pemandangan dalam kelas. Tokh, kondisi cuacanya juga tak terlalu panas. Perlahan matahari sudah mulai mengurangi sengatnya. Jadi berolahraga di sore hari juga bukan sesuatu yang buruk, kan? 

Setelah Bu Gultom keluar kelas, aku dan teman-temanku bersiap-siap ganti seragam. Kami akan mengganti seragam putih-biru dengan seragam olahraga yang berwarna putih dengan lengan dan celana panjangnya berwarna biru tua. Di belakang kaos dan sisi celananya terdapat tulisan nama sekolahku, yaitu SMP Markus, Tangerang. Murid-murid laki-lakinya biasanya berganti seragam di dalam kelas, sedangkan sebagian murid perempuan berganti di toilet. Sebagian lainnya memilih berganti di ruang kelas satu yang sedang kosong, dikarenakan murid kelas satu dan murid kelas tiga masuk pagi. Oya, aku dan teman-teman seangkatanku menempati ruangan yang sama dengan kakak kelas kami. 

Karena kebanyakan murid lelakinya itu mengenakan pakaian dobel alias mengenakan dua pakaian sekaligus (Kemeja putih menimpa kemeja olahraga), kami tak butuh waktu lama berganti pakaian. Untuk bagian bawahnya, bersyukur celana olahraganya jauh lebih panjang daripada celana biru SMP-nya. Sehingga kami - khususnya diriku – hanya tinggal menutupi celana sependek lutut itu dengan celana panjang berbahan katun itu dan sebelumnya melepaskan dahulu gespernya. 

Singkat cerita, sepuluh menit kemudian, aku dan anak-anak cowok lainnya selesai ganti pakaian dan beranjak keluar kelas. Aku dan lainnya bersiap menuju lapangan basket. Aku dan teman akrabku Santo keluar di urutan terakhir. Pada saat itulah, aku melihat sesosok makhluk cukup asing di SMP. Sosok itu terasa asing karena sosok pria itu mengenakan seragam putih abu-abu. Sosok pria itu tengah berjalan menuju sosok lainnya yang cukup familiar di mataku. Cowok SMA itu berjalan menghampiri cewek SMP berambut ikal dengan panjangnya sebahu. Cewek itu kukenal bernama Milka. Aku dan temanku, Santo tadinya akan segera turun ke lantai dasar gedung SMP yang sekaligus juga gedung SMA-nya. Tapi kami berdua malah berdiri tertegun. Nggak tahu kenapa, aku merasa bakal melihat suatu pengalaman yang cukup mengesankan bagi memori otakku. Dan memang iya, aku melihat sebuah pengalaman yang cukup gila bin gokil. 

Cowok SMA yang kemudian kuketahui bernama Soni itu sekarang sudah berada di depan Milka. Kuingat cowok tersebut langsung bertanya ke Milka., “Mil, katanya Ayu yang tadi ke kelas gue, lu ada yang mau diomongin sama gue?” 

Milka menjawab dengan ekspresi panik sekaligus senang. “Eh emang si Ayu nyamperin lu, Son?” 

“Iya. Dia ngetuk-ngetuk jendela di samping bangku gue. Gue yang lagi sibuk ngerjain tugas Matematika jadi keganggu deh. Yah dia sih cuman ngasih kertas kecil bertuliskan pesan yang berisi kalau lu mau ngomong sesuatu ke gue.” balas Soni dengan penuh keheranan. “Karna penasaran, gue sampe minta ijin ke toilet.” 

“Oooh gitu…” “Jadi… Lu mau ngomongin apaan?” tuntut Soni yang semakin penasaran. Tampak sebuah ketegangan di raut muka Milka, walau Milka tetap mengusahakan tersenyum. 

Di kejauhan, tepatnya di sisi sebelah kanannya Milka dan Soni, teman-teman segengnya terlihat sedang memperhatikan aksi tersebut, sama seperti aku dan Santo. Kami juga setegang Milka. Hanya saja berbeda tujuan. Kalau aku dan lainnya tegang karena menyaksikan sesuatu momen yang mungkin cukup langka, Milka mungkin tegang karena cinta. 

Tanpa tedeng aling-aling, Milka langsung menembakan pelurunya. “Son, gue sebetulnya suka sama lu. Lu mau nggak jadi cowoknya gue? Mau yah? Pleaaaase…..” 

Soni melongo. “Mil, lu kesambet ngomong kayak gini? Lu gak lagi mabuk kan?” 

“Yeee… Sembarangan lu kalo ngomong. Kagak lah. Gue serius nih nembak lu.” rengut Milka kesal. “Jadi gimana nih jawabannya?” 

“Lu serius?” Soni tampak percaya dengan apa yang terjadi. Mungkin ia tak pernah menyangka bakal ditembak oleh cewek SMP berwajah manis dan bodi cukup seksi itu. 

“Iyaaa Soniiii….” ucap Milka tak sabaran menanti jawabannya Soni. 

“Errr… Gimana yaaah? Errr..” Soni jadi gugup dan berkeringat dingin. 

“Jadi gimana nih? Mau yah jadi cowok gue?” desak Milka. 

Soni semakin gugup. Keringat dingin semakin mengucur di sekujur tubuhnya. “Eh, Milka, bisa kasih waktu nggak? Besok aja gimana gue jawabnya?” 

“Nggak bisa, harus sekarang.” paksa Milka. “Jadi gimana?” 

“Kalau gitu, ntar aja deh sepulang sekolah. Kan SMP sama SMA jam pulangnya bareng.” tawar Soni. “Gimana?” 

Kemudian Milka menatap ke arah teman-temannya, sembari berbisik ke mereka. “Gimana nih?” Dengan berbisik pula – atau tepatnya ber-lip syinc – mereka menjawab, “Ya udah terima aja dulu.” 

Setelah minta wejangan, Milka balik menatap Soni kembali. Ia berkata sambil tersenyum, “Ya udah deh. Tapi beneran yah, sepulang sekolah nanti, lu harus kasih jawaban ke gue.” “Iya. Udah yah, gue mesti balik kelas lagi. Lu tahu sendiri kan guru Matematikanya itu killer abis.” Lalu Soni berjalan cepat menuju kelasnya. Kulihat punggungnya tampak basah karena keringat walau ia sedang tak melakukan kegiatan fisik. Milka sendiri kemudian berlari menghampiri teman-temannya tersebut yang menungguinya di ruang kelas satu. 

“To, yuk ke lapangan. Daripada kita kena hukum Pak Maruap. Gue nggak mau disuruh push-up lho.” ajakku ke Santo. Namun Santo berpikir lain. Ia malah menarik tangan kananku untuk menghampiri Milka dan kawan-kawannya itu. “Bentaran Man. Kita temui Milka sama yang laennya dulu. Ada yang mau gue cari tahu. Penasaran gue, kok si Milka bisa kayak gitu.” Entah kenapa, aku mau saja mengikutinya ke ruang kelas satu tersebut. 

Kami berdua pun segera menghampiri Milka, dkk. Saat aku dan Santo sudah berada di ruangan tersebut, Santo langsung menanyakan perihal kejadian gokil tersebut. Anita pun kemudian menjelaskan bahwa sejak jam pelajaran Sejarah tadi, Milka curhat ke mereka. Milka curhat ke mereka semua kalau ia mau menembak Soni. Milka jugalah yang menyuruh Ayu untuk menyampaikan kertas kecil tersebut ke Soni. Bersyukur pula aku bisa berteman akrab dengan Santo yang cukup akrab dengan anak-anak perempuan. Walau aku juga cukup heran kenapa mereka dengan mudah menceritakannya ke Santo, mengingat hal seperti itu merupakan privat buat diceritakan ke anak lelaki. Mereka berlima malah tidak terlihat canggung waktu menceritakannya. Bahkan Milka sendiri juga hanya senyum-senyum sendiri dan sepertinya tak sabar menanti jam pulang sekolah. Setelah itu, aku, Santo, dan segerombolan anak perempuan beranjak menuju lapangan basket. 

Untungnya kami bertujuh tak terlambat, sehingga tak kena hukuman dari Pak Maruap. Kebetulan kami datang ke lapangan pada saat Pak Maruap dan teman-temannya lainnya sedang bersiap melakukan pemanasan. Sepanjang kelas Olahraga juga, Milka terlihat berseri-berseri. Teman-temanku, khususnya yang perempuan meledeki Milka. Segelintir anak cowok tidak terlalu memperdulikannya, bahkan mereka malah terlihat asyik bermain bola basket. Hanya anak-anak cewek saja yang asyik ngobrol di bawah pohon nangka sembari meledeki Milka. Anak-anak cowok lainnya – yang tak bermain basket – hanya sedikit saja yang mendengarkan obrolan anak-anak cewek tersebut. Kebanyakan mereka memilih memperbincangkan topik lain seperti topik olahraga atau acara televisi atau film. 

Jam pulang sekolah pun tiba. Pada saat aku sudah berada di luar gerbang sekolah, sepintas saat aku membalikan badanku dan melihat ke arah sekolahku, aku melihat Milka yang masih tetap mengenakan seragam olahraganya itu sedang didekati oleh Soni. Terlihat Soni dan Milka terlibat obrolan serius dan lalu Soni membawa Milka ke sebuah daerah yang agak sepi. Milka dibawanya menjauh dari keempat temannya yang tadi menemaninya. Dari arah kejauhan, aku hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum kecil. Kemudian aku segera menghampiri tukang ojek dan pulang ke rumah. 

Keesokan paginya, pada saat aku sedang sibuk menyalin PR Bahasa Indonesianya Lausandi, terdengar sebuah kabar di kelasku. Kabar tersebut berkaitan dengan ulah gokilnya si Milka tersebut. Samar-samar kudengar bahwa Milka akhirnya jadian juga dengan Soni yang anak kelas dua SMA. Saat Milka selesai menceritakannya tersebut, terdengar suara-suara ledekan. Bahkan terdengar suara siulan pula. 

Wuaduh, untung saja pedekatenya Milka tersebut sukses. Nggak kebayang deh betapa hancur hatinya Milka. Yah mengingat perbuatannya Milka tersebut nggak hanya gokil, namun juga ekstrim. Kan bisa-bisa Milka dicap sebagai cewek kegatelan. Soni sendiri kabarnya memang sudah lama memendam rasa ke Milka. Soni berencana mau menembak Milka. Pantas saja Soni terlihat gugup dan salah tingkah waktu ditembak Milka kemarin. Berani taruhan pula, mungkin dalam hatinya dia juga tak akan menyangka gadis yang selama ini dia suka ternyata punya perasaan yang sama dan malah menembaknya terlebih dahulu. 

Yah mungkin cinta memang nggak bisa ditebak jalannya. Benar juga kalau ada yang bilang cinta itu gila. Benar juga pula kalau ada yang bilang, orang yang jatuh cinta itu kehilangan akal sehatnya. Sama seperti Milka yang sepertinya kehilangan akal sehatnya. Dia tak memperdulikan anggapan orang, sehingga dengan berani mengungkapkan perasaannya ke cowok yang bahkan jauh lebih tua usianya darinya. 

Tak hanya Milka juga sih sebetulnya yang gila karena cinta. Teman-temanku yang menjalin hubungan asmara dengan anak SMA juga sama, khususnya teman-temanku yang cowok. Terlebih lagi, teman yang juga tetanggaku, Toni. Menurut gosip yang beredar, Toni menyukai cewek SMA dan gosip tersebut sepertinya benar. Pernah kulihat dia sedang meneriaki ‘Indah’ ke sekumpulan remaja-remaja perempuan SMA yang sedang berjalan menuju kantin sekolah. 

Oh yah, kabar tentang Milka sendiri juga kurang kuketahui. Hingga kami lulus SMP pada tahun 2004, kukira ia masih berpacaran dengan Soni. Sepertinya aku kehilangan kabar tentang itu. Walau aku juga nggak begitu peduli sih mereka masih jadian atau nggak. Kalau masih, yah syukur. Kalau nggak, yah mungkin jodoh kali. Terutama bagiku ialah momen saat Milka menembak Soni itu merupakan hal tergokil yang mungkin amat jarang terjadi. Dan itu juga merupakan saat dimana aku bisa melihat seseorang sedang menembak gebetannya. Yah walau agak ekstrim juga sih nembaknya.  


*****

PS: Tulisan berdasarkan pengalamanku semasa SMP. Inti ceritanya memang nyata (Yaitu saat Milka nembak murid SMA itu memang benar. Aku lihat sendiri kejadiannya.), hanya saja ada beberapa penambahan adegan cerita. Namun itu semua kulakukan karena aku agak-agak lupa bagaimana persisnya kejadian tersebut. Maklumlah udah lewat berapa tahun. Hehehe. :P



20 comments:

  1. Cuma yg berani kayak Milka yg bakal dapetin cintanya...tuh Nuel, belajar dari dia...kalo suka cewe ya tembak lah, hehehe

    ReplyDelete
  2. kalo saya yang ditembak sudah saya tolak tuh, biar cantik kaya apa (cuma biasanya belakangan jadi nyesel)

    ReplyDelete
  3. Yaaaah, kirain si Milkan nembak Nuel, ternyata malah nembak cowok lain. Kalo Nuel yang jadi 'korban'nya, gimana? Aku sering penasaran sama pendapat cowok tentang cewek yang nembak duluan.

    ReplyDelete
  4. @ millati: orang yang komen di atas mbak, kurasa sudah cukup mewakili... #EdisiNgeles :P

    @ Keven: Kasihan atuh ditembak.... :P

    @ Meutia: Kurang tepat juga sih dibilang remaja... Kan masih kelas 2 SMP.... :P

    @ Affip: tuh kan? makanya... :P

    ReplyDelete
  5. wah ikutan GA nih yee......
    Semog beruntung deh :)

    ReplyDelete
  6. jadi inget temen gua bang ada yang jadian sama anak SMP, LOL.

    ReplyDelete
  7. wkwkwk.. :D

    kalo yang paling berkesan jaman SMP saya sih, adalah kali pertama saya lihat orang tawuran..

    wisss!

    ReplyDelete
  8. Hahahaha Tapi masih penasaran tentang milka sekarang, masih jadiankah? *ditunggu cerita selanjutnya*

    ReplyDelete
  9. Saat remaja itu saat dimana keinginan menulis impian dengan bebas...)

    ReplyDelete
  10. kalo dhe mah lebih suka ditembak bang.. sensasi ditembak itu jauh lebih keren daripada nembak #halah.. hahahhahha :p

    ReplyDelete
  11. jadi keingat masa2 SMP hehe

    ReplyDelete
  12. Iya emang langka sih kalo anak cwek SMP nembak cwok SMA. Tapi itulah dunia sekolah... Jadi pngen sekolah lagi, hiks,, Mana foto Milka sama Soni pasang dng.. huehue

    ReplyDelete
  13. kirain si milka sama buang nueelll

    hahahaha
    XD

    lucu juga

    ReplyDelete
  14. eaaa...beneran kayak nonton FTV baca ceritanya...hihihihihi...
    makasih yaa udah ikutan #GABlogEmakGaoel
    tunggu pengumumannya tanggal 4 agustus ya... :)

    ReplyDelete
  15. wuih, berbakat nulis nih nuel. good luck, ya :)

    ReplyDelete
  16. bang nuel keliatannya cemburu nih ama soni dan milka hahaha :D
    kalau jodoh memang gak kemana, soal Milka, bang nuel gak coba cari facebooknya atau gimana gitu?

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^