Wednesday, May 2, 2012

(Mungkin) Dia berspekulasi

Cerita ini bermula waktu hari wisuda. Pada saat itu, aku akan masuk ke lobby JCC-nya. Sekejap aku langsung diserbu oleh rombongan tukang foto yang nggak pake minta ijin, mereka langsung memotret aku dan kedua orangtuaku. Hingga pada saat akhir acaranya, mau tak mau, foto-foto yang dijepretkan secara liar itu haruslah kami tebus. Yah ketimbang dimanfaatkan buat yang nggak-nggak. Hehehe
.
Nah mengomentari aksi liar para tukang foto itu, papiku sempat berkata bahwa apa yang mereka lakukan adalah berjudi. Penuh spekulasi. Yah soalnya apa yang mereka lakukan juga belum pasti menghasilkan duit. Bisa saja kan ada orang-orang yang nggak menebus foto-foto mereka yang diambil secara paksa itu. Kemungkinannya ada juga mungkin mereka yang tak melakukan persis seperti yang keluargaku lakukan: Menebus foto-fotonya. Kalau sudah begitu, jelas mereka rugi. Rugi roll filmnya, rugi pula biaya cetak fotonya.

Tapi apa yang dibilang papiku itu ada benarnya. Setidaknya sampai aku mengalaminya sendiri kemarin Selasa. Kemarin, sekitar jam tujuh pagi, aku dibangunkan oleh ketukan pagar. Dengan mata yang masih penuh belekan, aku membuka pintu dan beranjak keluar pagar. Rupanya yang datang itu tukang foto yang waktu itu kami sewa untuk bikin foto wisudaku. Dia datang membawa hasilnya setelah sudah lewat seminggu acara wisudanya. Awalnya dia bertanya apakah papiku ada di rumah, dan kujawab saja sudah pergi. Namun mami sih ada di rumah. Lalu kucari mami untuk melunasi pembayarannya, agar bisa diambil foto-fotonya.

Singkat cerita, pada saat mamiku akan membayar biayanya, ia cukup terkejut. Karena biayanya itu cukup mahal. Dua ratus ribu sekian-sekian (Aku agak lupa berapa persisnya). Dan yang menjengkelkan pula, tukang foto itu tidak menuruti apa yang kami suruh. Tadinya kami hanya minta dua foto saja, namun dia ngeyel. Dia bikin empat foto. Bahkan foto-fotonya pun langsung dipigura tanpa minta persetujuannya kami dulu. Sehingga karena itulah, harganya langsung melonjak. Aku yakin kalau tanpa pigura, harganya itu paling hanya menyentuh angka 100.000 atau di bawah itu juga memungkinkan.

Akhirnya mamiku dan tukang foto itu ngotot-ngototan soal harga yang harus dibayar. Aku sih sempat menyarankan kalau ditebusnya tanpa piguranya saja. Yah dengan alasan, jauh lebih murah. Namun mami punya pertimbangan lain. Ia malah menebus harga si tukang foto itu, yaitu melunasi keempat fotonya dengan pigura yang dikenakan tanpa persetujuan. Bahkan untuk menebusnya, mami sempat berhutang ke tetangga kami. Thank's for my neighbour. ^^

Aku sih tak masalah dengan harganya. Selain karena bukan aku yang membayar, toh ini kan peristiwa langka. Jarang-jarang terjadinya. Hal yang sangat kupermasalahkan ialah sungguh tukang foto itu berspekulasi. Dia datang jauh-jauh dari Pluit, Jakarta Utara menuju Tangerang tanpa menelepon. Karena jelas ia langsung menanyakan keberadaan papiku. Kalau ia menelepon kan, tak harus bertanya seperti itu, bukan? Yah itu setidaknya menurut pemikiranku. Hehehe.

Selain itu, ia langsung mencetak empat foto dan itu di luar perjanjiannya yang hanya dua foto. Sudah begitu, foto-fotonya langsung dipigurakan. Padahal kami tak meminta dipigura. Ckckck. Entah apa yang di bayangannya dia sampai berani berspekulasi seperti itu? Apakah karena ia menganggap semua lulusan Atmajaya adalah orang kelas atas semua? Nyatanya kan tak semuanya. Ada juga yang bukan dari keluarga berada dan mungkin bisa kuliah karena beasiswa.

Tapi mungkin kalau tak begitu, kalau mereka tak berspekulasi seperti itu, mereka hanya akan mendapatkan penghasilan seadanya. Bayangkan kalau aku nggak diserbu oleh sekumpulan tukang foto waktu akan masuk ke JCC? Bayangkan kalau mereka hanya pasif dan menunggu perintah seseorang untuk difoto? Yah mungkin mereka akan mendapatkan penghasilan seadanya. Dengan mereka aktif seperti itu, setidaknya mereka bisa mendapatkan uang Rp 100.000 dengan mudah dari setidaknya empat orang yang mereka foto secara paksa (Dengan perhitunganku, satu foto senilai Rp 25.000). Itu baru empat foto, belum puluhan atau mungkin ratusan foto pengunjung yang datang saat upacara wisudanya Atmajaya waktu itu. Aku yakin satu orang tukang foto saja bisa mendapatkan satu juta dari kegiatan wisuda tersebut.

Begitupun juga dengan tukang foto yang datang ke rumahku. Bila ia tidak langsung memiguranya, yah mungkin dia hanya mendapatkan penghasilan di bawah seratus ribu. Nggak menutup kerugian lainnya, seperti biaya transportasinya ke Tangerang.Bila ia menghubungi keluargaku lebih dahulu, yah mungkin bagi dia, tidak efisien dan efektif. Lebih efektif kalau mendatanginya langsung. Mendatangi rumah kami dengan satu kesimpulan: Bisa saja kan orangtuaku tak ada di rumah dan mau tak mau dia pulang dulu. Kalau sudah begitu, rugilah dia.

Ah, sungguh spekulatif tindakan yang mereka lakukan itu! Demi mendapatkan penghasilan, mereka rela melakukan perjudian, yang belum tentu juga akan mendapatkan keuntungan. Bisa saja kan malah merugi.

Hmmm....




The Good News: Hari minggu kemarin, Chelsea menang 6-1 lawan Queen Park Rangers dan Torres cetak hattrick. Wah apa ini pertanda kalau Chelsea bakal juara Liga Champion nih? :P

The Bad News: Beberapa hari ini apes sekali aku ini. Kemarin foto yang kucetak kebakar semua. Alias buang-buang duit. Terus beberapa kali dizolimi sama provider. Dan tadi malam remote TV-nya rusak. Hiks.

The Conclusion: Apa jangan-jangan hidup ini selalu berdekatan dengan kata spekulasi?

Joke of the Day:
GULA TEBU (gundah lantaran telat bulan)
ANTING BESI (anaknya bunting babenye depresi)
GANJA KERING(di gampar janda,kepala langsung miring)
PETI KEMAS (perempuan tinggi kedip-kedip saat diremas)
PUJASERA(persatuan janda seluruh nusantara)
KRIMINAL(kringatan mimpi wanita binal)
>>source: @agunghercules