Thursday, November 24, 2011

"Gimana kabarnya"


"Ketika aku berkata, 'Gimana kabarnya?', aku tak butuh jawaban 'baik', tapi ingin kau menceritakan semua yang kau alami selama tak bertemu lagi" - Iman, 23 tahun, calon penulis yang lagi menggarap satu naskah keren bernama "Dรฉjรกvu".

Aku punya kebiasaan suka mengirimkan SMS ke teman-teman lamaku kalau lagi bosan. Biasanya sih, isinya, "Hey gimana kabarnya? Masih inget gw gak, gw Iman, temen lu SD nih." . Iya, aku tau terkesan sepele dan kepo (pengen tau). Tapi yang kulakukan ini berguna kok. Setidaknya aku tetap berusaha untuk keep contact walau hanya sekedar SMS. Biasanya kalau aku mengirimi SMS seperti itu, mayoritas pasti menjawab, "Baek". Singkat, jelas, dan padat. Jawaban itu seringkali bikin jengkel.

Karena sesungguhnya, yang kutanya itu bukan kondisi fisiknya, tapi lebih dari keadaan fisik mereka. Aku malah ingin mereka menceritakan hal-hal apa saja yang mereka alami saat sudah tidak bertemu lagi. Aku kepengen tau mereka kerja dimana, kuliah dimana, udah nikah atau belum, dll, dst. Itu yang aku ingin ketahui. Itulah sebabnya, aku selalu kembali bertanya ke dia, "Kuliah or kerja nih?".

Memang sih, jawaban seperti itu terlihat seperti orang yang bawaannya ingin tau (kepo). Tapi bukankah teman yang baik itu adalah teman yang tau kondisi sesungguhnya dari kita? Bullshit menurutku kalau ada orang yang mengaku berteman dari X, tapi dianya malah enggak tau apa-apa dari si X. Dia enggak tau kalau si X udah nikah. Dia enggak tau kalau si X kerja di perusahaan ternama. Bahkan dia enggak tau kalau si X sudah wafat.

Apalagi, saat aku tau dia sudah kerja di tempat elite, jujur, itu menjadi semacam motivasi buatku. Sering kuberpikir, "Wah si Patrice udah kerja di Arab nih, masak gue kalah? Gue harus lulus tahun ini." Dari informasi tentang keberadaan merekalah, aku mendapat motivasi berlebih agar tetap semangat. Walau, mereka enggak pernah men-support. Ada kebahagiaan tersendiri waktu aku tau kabar apa saja dari dia.

Selain SMS, aku juga berharap ketika kulontarkan secara lisan, ""Gimana kabarnya?" ke temanku yang kutemui di suatu tempat, aku juga berharap mereka tidak memberikan jawaban singkat, "Baek".

Hey, i don't ask your health. I ask yourself. All of yourself. I wanna know what activity you do. I wanna know are you married. Yeah this is stuff i wanna know from you, guys.

So please, stop gimme an answer, "Fine", "Baik", "Baek", etc. For me, friendship is not a thing like television which we can leave or sold. Friendship is more important and precious than everything in the world, except God and Family.

Guys, i give you this question because i'm really caring you. I was also happy when i knew you'd worked in high-class office. I was so sad when your relation were dead. So, once more, stop gimme an answer, "Fine", "Baik", "Baek", etc. I'm not doctor, too, guys. So, stop gimme an answer, "Baik"

:D