Monday, May 10, 2010

Ironi membaca di Indonesia

Kenapa yah, minat baca orang Indonesia kurang? Coba saja masuk ke dalam toko buku, setelah itu masuk ke time zone atau toko musik atau lainnya? Lihat saja perbandingannya. Bandingkan lebih banyak mana pengunjungnya. Lebih banyak toko buku atau toko musik atau time zone? Pastinya dua nama terakhir kan?

Mendengar itu, aku meringis rasanya. Kenapa orang Indonesia tidak suka membaca. Bahkan anak-anaknya pun lebih suka menonton TV, main PS, Main PB, fesbukan, daripada baca buku. Ckckck.....

Padahal baca buku itu asik loh. Seru.

Dan orang lebih suka baca kalau lagi menunggu sesuatu, di bus, tugas kuliah, atau karena buku tersebut isinya berisi skandal seperti buku "Gurita Cikeas" atau bila bukunya dipromosikan secara gencar di media-media seperti TV, radio, dan koran. Jarang ada orang-orang Indonesia yang benar-benar gemar membaca.

Atau baca koran yang isinya remeh temeh seperti WK dan PK. Itulah yang orang lain lebih suka baca. Yah yang isinya yang ringan-ringan, tipis hingga bacanya tidak butuh waktu lama. Orang lebih suka merokok, dan minum kopi daripada baca buku. Selain itu jarang ada penulis di Indonesia yang bukunya benar-benar best-seller seperti bukunya JK Rowling. Sedikit dan bisa dihitung dengan sepuluh jari. Itupun kalau bukan karena isinya skandal dan remeh temeh, yah pasti karena dipromosikan secara gencar-gencaran. Novel New Moon dan ketika Cinta Bertasbih terakhir aku lihat masih banyak di toko buku.

Wajar sih. Pertama minat baca kurang. Kedua angka kemiskinan masih tinggi sehingga yang bisa baca-tulisnya masih sedikit. Ketiga harga buku yang sekarang makin mahal. Jangankan buku referensi, majalah saja mahal. Bayangkan majalah BOBO yang dulu harganya masih 3000-an 5000an, sekarang sudah RP 9000. Ckckckck
Itu baru bacaan anak-anak. Sedangkan bacaan dewasa lainnya seperti FHM, Cosmo Girl, Cosmopolitan, harganya di atas RP 20.000. Komik saja harganya saja sudah Rp 15.000.

Pemerintah sendiri, menurut saya kurang membudidayakan budaya membaca. Paling yang saya dengar usaha pemerintah dalam memperkenalkan internet melalui program internet desa. Memang ada sih usaha pemerintah seperti perpustakaan keliling, tapi lebih banyak dilakukan secara swadaya, tanpa usaha pemerintah.


Bagus sih adanya perpustakaan keliling. Tapi masih kurang. Lebih baik lagi kalau harga buku, terutama bacaan untuk anak-anak harganya lebih memasyarakat. Anak-anak perlu juga, malah wajib hukumnya diperkenalkan budaya baca itu. Dari situ kan anak-anak mulai diajarkan berbahasa. Galakkan budaya baca semenjak dini. Sehingga anak-anak itu terbiasa baca dan alhasil nilai bahasa indonesianya tidak kebakaran jenggot seperti UN kemarin.

Wajar juga kalau banyak siswa yang tidak lulus UN karena nilai bahasa Indonesianya kurang. Yah karena, budaya baca masih kurang di Indonesia. Semestinya pemerintah memberikan subsidi kepada para penerbit dan distributor buku sehingga harga buku bisa ditekan semurah mungkin. Khususnya, bacaan untuk anak-anak. Sehingga buku atau dunia baca-membaca benar-benar memasyarakat.

Yah mungkin itu saja curhatan saya tentang budaya baca di Indonesia yang masih kurang. Semoga postingan ini jadi bahan pembelajaran, khususnya PEMERINTAH.