Kebiasaan Jelek dari Masa Lalu















Aku tidak tahu siapa yang memulai tradisi jelek yang brengsek nan memalukan ini. Kukira juga, hanya aku yang mengalaminya saat aku masih SD dulu (di SD Markus). Eh, ternyata sepertinya anak-anak generasi 90-an mengalami hal serupa.

Saling mengejek nama orangtua masing-masing. Itu maksudku. Walau bukan mengejek, sih. Hanya saja, kita menyapa teman kita bukan dengan nama aslinya. Kita menyapanya dengan nama ayah atau ibunya. Umumnya seperti itu jika aku melihat ke belakang. Praktek lainnya, kadang teman suka main fitnah tentang aktivitas ayah atau ibu kita. Kita jadi terprovokasi dan membela mati-matian kedua orangtua kita. Dulu, pernah ada teman yang dihukum berdiri di pojok kelas karena nama ayahnya terus menerus diolok-olok. Si teman meninju temannya yang mengolok-olok nama ayahnya.

Aku ingat juga, karena kebiasaan jelek tersebut, kita memiliki ketakutan tersendiri setiap pembagian rapor. Kita takut nama orangtua kita ketahuan. Setiap pembagian rapor dan/atau mau dikembalikan ke guru, sebisa mungkin jangan sampai teman mengintip rapor kita. Yah, biar nama orangtua kita tidak ketahuan.

Haha. Lucu juga jika mengingat kebiasaan tersebut. Dibilang jelek, nggak juga. Gara-gara kebiasaan tersebut, kita jadi pembela orangtua kita. Senakal apapun kita ke orangtua, entah kenapa di saat nama orangtua kita diejek, hati kita jadi tak tenang. Bawaannya mau kita tinju orang tersebut. Dibilang bagus, yah nggak juga. Seperti kata salah satu ayat kitab suci, nama orangtua itu seperti nama Tuhan. Perlakukanlah nama orangtua sebagaimana seharusnya.





Comments