#Aladdin&Yasmin : Pesta Penyambutan














Kota itu memang sudah ramai. Akan tetapi, kini kota ini mengalami keramaian yang tak biasa. Yang tadinya, tiap orang sibuk sendiri dengan aktivitas-aktivitas yang dilakukannya. Mereka lalu sibuk  terpana ke sesuatu.

Sesuatu itu ialah sebuah pawai. Pawai mungkin bukan kata yang tepat. Namun, tetap saja. Pawai atau apapun itu, kedua mata mereka tetap tertuju ke sebuah rombongan yang sangat ekstravaganza. Riuh sekali rombongan tersebut. Sesekali lagu-lagi tradisional Arab disenandungkan.

Rombongan itu terdiri dari orang-orang yang berbadan kekar. Mereka ini mungkin saja para pengawal dari sang pemimpin rombongan yang duduk di atas seekor gajah bertelinga lebar. Kiri dan kanan, para prajurit itu mengiringi si pemuda yang masih saja terlihat kumal di balik jubah kebesarannya. Selain beberapa puluh pengawal, ada juga sejumlah penari yang berpakaian minim. Itu maklum saja, sebab mereka berlatarbelakang penari striptis. Mereka penari yang aduhai dan lumayan profesional. Mereka bahkan tak canggung menari di depan binatang-binatang yang mengiringi rombongan.

Pusat perhatian dari rombongan tersebut beratraksi di ujung depan rombongan tersebut. Dia berbadan yang sama tegapnya dengan para pengawal, malah jauh lebih tegap. Dia beraktraksi, menari, dan bernyanyi. Simak saja.

"Selamat hari jumat nan agung, Akhwan dan Ukhti yang saya kasihi. Mohon perhatiannya sebentar, terlebih untuk Yang Mulia Sultan dan tuan putrinya yang sangat jelita,..." seru orang tersebut yang menunjuk ke arah istana berkubah mana dahsyat. Saking dahsyatnya, itu akan mengingatkan kita semua dengan sang Allah.

"Minggir kalian, biarkan tuan ana Aladdin turun. Sebaiknya kalian berlutut." Seseorang berbadan tegap itu mulai membuka jalan. Ia membantu Aladdin, seorang yang berkulit agak gelap dan kurus kerempeng itu turun dari gajahnya.

"Akhwan,  Ukhti, Yang Mulia Sultan, Tuan Putri Yasmin,..." Sekarang dia malah berteriak. "Perkenalkan, inilah tuan muda ana yang sangat kaya raya dan tampan rupawan. Dia datang ke Agrabah ini demi sang tuan putri. Dia hendak melamar Tuan Putri Yasmin. Namanya Aladdin, yang memiliki mata laksana sebongkah berlian."

Dari salah satu menara,  merahlah wajah Yasmin. Dia mau tertawa, namun harus ia tahan demi wibawanya sebagai putri kerajaan. Sementara ayahnya, Sultan Agrabah, cekikikan. Dia sangat terkesima. Di kepala sultan, sepertinya muncul ide untuk menjodohkan Yasmin dengan Aladdin yang kumal dan kurus. Berbeda dengan Jaffar yang lebih tinggi, putih bersih, dan berotot. Mungkin Yasmin jauh lebih menyukai Aladdin, mengingat Aladdin terlihat cukup sepantaran dengan Yasmin.

"Sultan nan agung, mohon terimalah cinta dan lamaran tuanku Aladdin ini. Sultan jangan takut, Tuan Putri Yasmin pasti bahagia bersama Aladdin. Harta Aladdin sangat banyak. Dia memiliki tujuh puluh ekor unta berbulu keemasan, pun dia memiliki lima puluh tiga burung merak. Sembilan puluh lima kera putih Persia dan lima puluh ekor gajah Afrika juga ia miliki. Belum lagi, para pemuda berbadan kokoh dan penari-penari bertubuh aduhai ini, ini semua kepunyaan tuanku Aladdin. Tak lupa pula, di rumahnya yang mewah, ia memiliki koki pribadi. Beberapa hewan peliharaan seperti harimau Bengal ia miliki. Kurang apakah tuanku Aladdin ini?"

Dalam hati,  Aladdin berdoa, Yasmin, terimalah cinta ana ini, ana sangat mencintai anti. Sudah sejak lama ana mengagumi kecantikan anti dari sudut-sudut nan gelap kota Agrabah.  Ana harap anti mau ana persunting.

Yasmin berdecak. Tuan putri itu menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin di mata Yasmin Aladdin seperti tengah pamer kekayaan. Sok sekali. Dia pikir dia siapa. Yasmin makin jengah saat Aladdin menggodai salah seorang penari striptis. Dengan kesal hati, Yasmin melengis begitu saja.

Aladdin yang sekilas melihatnya, langsung kecewa. "Yasmin, jangan pergi dulu," desah Aladdin.

Sultan mengamati kelakuan putri semata wayangnya. Tak sepatutnya Yasmin seperti itu. Untuk menghargai kedatangan Aladdin dan rombongannya, sultan berseru balik, "Antum yakin mau menikahi anak ana?"

"Haqul yakin, Sultan!" jawab Aladdin dengan berapi-api. Sekarang ini Aladdin harus mendapatkan restu dari ayah Yasmin.  Tentang kelakuan Yasmin tersebut, lambat laun tuan putri itu pasti akan luluh dan tergila-gila dengan Aladdin. "Ana yakin ana pasti bisa membahagiakan putri sultan."

Lalu, dengan dituntun seseorang bertubuh tegap--yang ternyata bernama Genie, Aladdin bersiap memasuki istana Agrabah yang sangat megah tersebut. Dari dalam, pintu istana itu digunakan oleh seorang algojo.

Seperti kebanyakan istana megah lainnya,  telah tersampirkan karpet merah di lantai. Aladdin terkesima dengan pemandangan di hadapan matanya. Ya Allah, yang seperti ini belum pernah hamba lihat sebelumnya, takjub Aladdin dalam hati.

Genie mendekat dan berbisik, "Bersikaplah seperti seorang pangeran kaya raya, Aladdin. Jangan tunjukkan jika dulu anta itu dulunya seorang gelandangan."

"Caranya? Ana sungguh tak tahu."

"Busungkan dada anta ke depan.  Pongahlah sedikit dengan mengangkat kepala. Lalu, perhatikan cara bicara anta. Coba suara anta berat-beratkan."

Aladdin mengangguk.














Pintu kamar Yasmin diketuk. Suara dari balik pintu tersebut berseru. "Yasmin Sayang, ini Abi, Sayang, tolong buka pintunya dulu."

Yasmin berjalan dengan agak lesu ke arah pintu kamarnya.  Ia buka pintunya.

"Yasmin,  anti pasti sudah tahu di luar ada apa. Ada rombongan kaya raya datang. Sepertinya dia hendak melamar anti. Temui saja dulu sebentar. Barangkali cocok antara anti dan pemuda tersebut. Kalian berdua sepertinya sebaya."

"Heh... baiklah, Abi," keluh Yasmin yang memaksakan diri untuk tersenyum.













Comments