ANOTHER STORY: Anna & Seorang Nyai







Genre: Misteri













Ini kali pertama Anna datang ke Indonesia. Ternyata negara ini sangat indah. Lebih indah daripada yang ia dengar dari media atau kakek buyutnya.

Kakek buyut? Iya, Anna masih memiliki darah Indonesia. Anna memang lahir di Amsterdam, kota yang sebagian besarnya tanahnya berada di bawah permukaan air. Namun, kakek buyutnya tersebut berasal dari Suriname, negara jajahan Belanda lainnya. Nama kakek buyutnya itu Zacky Sostro Wirdjo. Dari nama belakangnya saja, sudah tahu kan. Itu nama yang berbau Jawa.

Kata Opa Zacky, Wirdjo merupakan nama leluhurnya. Wirdjo diangkut oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menjadi buruh di sebuah perkebunan yang berlokasi di daerah Amerika Latin. Demi mendapatkan kehidupan yang lebih layak, Wirdjo, istri, dan kedua anaknya mau saja.

Kadang Anna merasa sedih mendengarkan kisah Wirdjo tersebut. Entah benar, entah tidak, namun kisah tersebut tak hanya diceritakan ke Anna saja. Seperti sebuah urban legend. Sebuah kisah yang hidup dari mulut ke mulut. Mau percaya, syukur. Tak percaya, sebetulnya kamu juga tak bakal kenapa-napa.

Anna tertawa sendiri mengingat kisah Wirdjo tersebut. Walau sudah berusia dua puluh tahun, entah mengapa, dari lubuk hati yang paling dalam, Anna percaya Wirdjo itu memang bukan tokoh fiktif. Sekarang Anna bersyukur dirinya bisa berada di negeri di mana kakek leluhurnya itu berasal.

Ponsel Anna berdering. Dari teman Indonesia-nya. Pacar? Bisa jadi. Walau Firman belum pernah menyatakan cinta langsung, Anna sering merasa Firman itu kekasihnya betulan. Mungkin inilah yang disebut sebagai teman rasa pacar.

"Je," kata Anna tersenyum.

"Anna, waar ben jij? Kamu di mana? Aku sudah berada di Gereja Immanuel."

"Sorry, Firman, aku sudah berada di--"

Aduh, sialan. Anna lupa mengecas ponselnya. Ia tergesa-gesa menghampiri salah seorang pengunjung Rumah Nyai Dasimah tersebut. Yang didekati, cukup kaget. Walau ada berdarah Indonesia, penampilan Anna masih seperti perempuan Eropa dengan rambut blonde dan mata biru.

"Permisi,"

Si perempuan kaget. Wajah bule begini, ternyata cukup lancar berbahasa Indonesia. Tapi, baguslah. Berarti si perempuan tak perlu berbahasa Inggris.

"Sepertinya saya lupa mengisi baterai handphone saya. Di mana saya bisa mengisinya?" ujar Anna yang tampak bingung.

Si perempuan tertawa kecil. Bukan karena raut muka Anna, melainkan karena kosa kata yang digunakan Anna. 'Mengisi' katanya, si perempuan merasa geli dalam hati.

"Kenapa tertawa?" Anna bingung.

Si perempuan itu menggeleng. "Maaf, Madam. Tapi, kalau charge hape, coba tanya ke security di sana aja. Saya kurang tahu soalnya."

Astaga, Madam katanya? Ya Tuhan, Anna masih dua puluh. Apa dirinya terlihat setua itu? Tapi, sudahlah, tak bagus tersinggung ke orang baru, apalagi di negeri leluhurnya. Setelah mengucapkan terimakasih ke perempuan berjilbab tersebut, Anna segera menghampiri petugas keamanan Rumah Dasimah tersebut.

Dug! Anna menelan air liur. Matanya menangkap sesuatu hal yang membuat bulu romanya berdiri. Itu bukan orang nyata. Warna tubuhnya remang-remang. Dan, perempuan itu berjalan begitu saja melewatinya seraya menyunggingkan senyum aneh nan misterius.

"Shijten! Niet meer!" desis Anna yang cukup ketus. Anna langsung merapalkan doa. Kaget juga Anna. Padahal Anna berharap tidak akan menemukan kejadian mistis di Indonesia.

Anna coba menengok ke belakang. Tampak seorang perempuan yang berwajah khas Jawa dengan mengenakan kebaya. Perempuan berkonde itu tersenyum ke arah Anna. Anna bergidik, namun spontan saja dirinya mengangguk ke arah bayangan perempuan tersebut.

"Hei," Punggung Anna merasa ditepuk oleh seseorang. Anna pikir makhluk gaib yang menepuk punggungnya. Ternyata Firman yang menepuk punggungnya.

"Firman, eh?"

Firman tertawa. Anna ini bagaimana? Masa perempuan Belanda ini sudah melupakan wajahnya? Selain mereka berdua saling bertukar foto selama chat, Firman yang menjemput Anna di bandara.

"Kita baru bertemu dua hari lalu. Aku yang menjemputmu di bandara. Aku yang bantu cari penginapan. Masa kamu lupa, Anna?"

"Sorry, Firman."

"Kamu kenapa? Pucat begitu. Kayak habis ketemu kuntilanak saja. Kuntilanaknya masih tidur, Anna. Ini masih jam sepuluh pagi."

Anna tampak sewot. Firman bergegas minta maaf kepada Anna. Sepertinya Firman tahu kenapa Anna sepucat begitu. Jujur, begitu menangkap ketakutan Anna tersebut, Firman pun merasa bergidik pula. Bulu tangannya berdiri seketika.

"Kamu melihat sesuatu?" Spontan saja Firman bertanya seperti itu ke Anna. Sebelum Anna ke Jakarta, Anna dan Firmam sudah sering bercakap-cakap tentang apa saja. Itu termasuk topik horor.

Anna beringsut lebih dekat ke arah Firman. Perempuan blonde itu berbisik, "Aku melihat bayangan perempuan Jawa. Dia persis seperti  yang ada di lukisan tersebut."

Anna menunjuk lukisan Nyai Dasima. Firman menoleh ke arah lukisan tersebut. Kedua anak manusia itu sama-sama bergidik. Di tengah rasa takut tersebut, terdengar seseorang yang tengah menjelaskan salah satu legenda di Indonesia. Apalagi kalau bukan tentang Nyai Dasima.

"Dasima menjadi nyai atau istri simpanan seorang pria berkebangsaan Inggris bernama Edward William, salah seorang kepercayaan Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles pada zaman pemerintahan Hindia-Belanda. Karena itulah, akhirnya Nyai Dasima  pindah ke Batavia. Diperkirakan, banyak yang bilang, lokasi cerita terjadi di Tangerang dan pada tahun 1813-1820. Rumah ini sendiri konon pernah ditinggali Nyai Dasima."

"Oh iya, sebutan Nyai itu sendiri disematkan karena Dasima pernah diperistri pria Eropa. Perempuan Pribumi yang diperistri pria Eropa, lantas disebut sebagai Nyai. Dasima sendiri merupakan Nyai yang paling terkenal karena kisah cintanya yang tragis dan memilukan. Kabarnya lagi, Dasima meninggal dengan cara yang sedikit--"

Bayangan perempuan itu muncul lagi di hadapan Anna. Dia tersenyum, lalu tertawa kecil. Anna makin ketakutan. Semakin Anna ketakutan, perempuan itu makin mendekatinya. Begitu berada di jarak yang lumayan dekat dengan Anna, perempuan itu berkata pelan--namun tak bermaksud menakut-nakuti.

"Welkom in Indonesië,"

Anna tak berani menatap wajah perempuan tersebut saking takutnya. Anna pun merasa aneh. Walau mengenakan kebaya, perempuan ini bisa berbahasa Belanda. Dia pikir perempuan itu hanya bercakap dalam bahasa Jawa sebagaimana pakaian yang perempuan tersebut kenakan. Jangan bilang bayangan perempuan itu merupakan Nyai Dasima sendiri. Makin ketakutan Anna dengan dugaannya tersebut.

"Bingung mengapa saya bisa berbahasa Belanda?" ujar perempuan itu menyunggingkan senyum. "Sama bingungnya dengan saya memandang kamu."

Kata-kata Firman langsung mengembalikan Anna ke realita. Anna memilih untuk menatap teman laki-lakinya tersebut. Firman tak tertawa, malah Anna melihat sepertinya Firman menaruh rasa iba kepada dirinya.

"Kamu nggak kenapa-napa, Anna? Lagian kamu sendiri, aku kan sudah mengingatkan, kamu ngotot mau ke sini. Apa kita pergi dulu sebentar dari tempat ini? Kita cari makan. Hoe?"

"Boleh." jawab Anna yang masih pucat pasi. Anna sendiri bingung kenapa kemarin main mengajak Firman ke tempat ini. Seperti ada dorongan tersendiri yang menyebabkan Anna memutuskan ingin mengunjungi tempat ini.

"Jangan takut, Anna. Saya tidak jahat. Saya mungkin masih memiliki hubungan darah dengan kamu. Mungkin kamu keturunan dari Meneer tersebut." Begitu kata-kata terakhir perempuan tersebut sebelum Anna menyusul Firman untuk meninggalkan tempat tersebut.

Perempuan itu siapa? Tidak mungkin perempuan itu Nyai Dasima, kan. Dan, kenapa juga Anna memaksa Firman untuk mendatangi tempat ini?

Apes ini. Sekalinya datang ke Indonesia untuk kali pertama, Anna harus mengalami kejadian horor.


PS:
Cerpen terinspirasi dari kisah Nyai Dasima. Mohon maaf jika ada kesamaan nama.






Comments