Seminggu Nuel Lubis #WorkFromHome #SelfQuarantine
















Catatan:
Gambar hanya ilustrasi. Untuk tambahan informasi, aku ke mana-mana selalu mengenakan masker dan jaga jarak.


Hari sabtu
Yeay, akhirnya! Tak sia-sia terus berusaha dan melakukan. Ada juga, kan. Aku yang tadi lagi asyik menonton "Crash Landing on You" yang membuatku menghabiskan berlembar-lembar tissue, terkaget-kaget. Ada yang mau beli barang daganganku juga. Walau sudah Maghrib, aku paksakan diri untuk keluar rumah. Barangkali masih ada  ATM (karena aku tak memiliki SMS Banking atau Internet Banking) atau jasa pengiriman kilat yang masih buka. Sekali lagi, terimakasih, Tuhan. Oh, tak lupa aku mengenakan masker hijau favoritku. Jaga-jaga saja dari Covid-19.

Hari minggu
Ah, anggap saja ini sebagai wujud terimakasih ke Tuhan, juga bakti aku ke FH Atmajaya (tempatku dulu menimba ilmu Hukum), aku mentransfer Rp 50 000 ke ketua ILUMNI FH (Ikatan Alumni Fakultas Hukum). Semoga saja mereka yang mengelolanya bisa mempergunakan secara bijak dan berfaedah. 

Hari senin
Aku menepi dulu. Untungnya, warungnya tak ramai. Alhasil, aku tak perlu repot untuk physical distancing. Ah, capek juga bersepeda pagi selama tiga puluh menit. Segelas Nutrisari sangat menyegarkan tubuh. Aku tak pakai es batu juga, kok. Yang hangat-hangat juga. Lagian, tak bagus minum yang dingin-dingin di tengah musim penyakit seperti ini. Mencegah lebih baik daripada mengobati, kan?

Hari selasa 
Sebetulnya pengumumannya itu sudah sejak hari minggu kemarin. Tapi, aku baru menyempatkan diri untuk berziarah sekarang ini. Yang meninggal itu juga, ayah dari sahabatku sejak SD, Tony Hutagalung. Rasa-rasanya kurang enak juga jika tak ikut melayat. Pak Hutagalung juga sudah amat baik padaku. Selama perjalanan, jalanan sangat lenggang. Aku sampai kesulitan meng-order taksi atau ojek online.

Hari rabu
Tadi ada pembeli lagi. Yeay, senangnya hatiku. Langsung saja aku menuju ATM yang berada di Dan-Dan. Wah, ke mana-mana aku lihat, makin tinggi kesadaran untuk hidup sehat di daerahku. Salah satu, banyak yang menyediakan hand sanitizer dan washtafel secara cuma-cuma. Selepas mentransfer, aku sempatkan diri untuk mencuci tangan secara baik dan benar, yang mengikuti anjuran pemerintah.

Hari kamis
Pagi-pagi aku harus keluar rumah. Bukan untuk berolahraga, namun aku berinisiatif membantu keluargaku dalam menyiapkan sarapan pagi, makan siang, dan makan malam. Pasar di daerahku tetap ramai, meskipun ada pandemik ini. Yang membedakan itu hanya beberapa penjual masker yang kutemukan di pasar.

Hari jumat
Baru melek aku. Perut lapar, dan ada bunyi penjual lontong sayur. Aku kalap memanggil-manggil si tukang lontong tersebut. Ah, bahkan tukang lontong pun peduli kesehatan. Dia mengenakan masker pula. Masker kesehatan yang bermerek Sensi.





Comments