Seminggu Nuel Lubis Bermasalah dengan Angkutan Umum




















Hari senin
Aduh, lama sekali datangnya. Sudah sejak setengah jam yang lalu aku order, driver-nya tak kunjung muncul. Mana aku sudah ditunggu teman. Dia bilang, dia sudah sampai di sana. Dan, dia sudah memesankan aku nasi dan dada ayam goreng, katanya. Bang, buruan datang. Atau, aku cancel saja, nih?

Hari selasa
Sudah berangkatnya agak siangan, masih saja kena macet. Sudah parah kayaknya kemacetan kota Jakarta. Semoga saja Toni di sana bersabar. Jarak Tangerang-Bekasi kan lumayan jauh. Dan, ingat, harus melewati Jakarta dulu! Bersabarlah, Ton, ini juga lagi usaha!

Hari rabu
Sudah lama tak naik angkot. Akhir-akhir ini aku keseringan naik taksi online saking lebih praktisnya. Beruntungnya juga aku bisa duduk di bangku depan. Kenikmatan naik angkot itu memang berada di bangku depan. Tahu kenapa? Karena aku bisa lebih leluasa menikmati pemandangan di luar angkot. Dapat angin sepoi-sepoi juga. Kalau sudah mau tiba, aku tinggal mencolek lengan si sopir. Tak perlu harus teriak-teriak aku. Walau, tadi aku harus turun di tempat yang sedikit keliru gara-gara ketiduran. Keluar uang lebih lagi, kan.

Hari kamis
Bus Agra Mas jurusan Tangerang-Cikarang jadi lebih bagus. Aku suka interiornya yang sekarang. Walau tarifnya jadi harus naik juga. Sekarang jadi di atas Rp 20.000. Huh, kan aku mau berhemat!

Hari jumat
Haha. Paling enak memang, duduk di pojok kalau aku naik Bus Trans Jakarta. Bisa leluasa tidur, atau melihat pemandangan. Beruntungnya aku bisa mendapatkan kesempatan berharga ini. Soalnya tempat duduk yang di pojok itu selalu jadi incaran tiap pengguna Bus Trans Jakarta. Namun, apesnya aku harus duduk di sebelah bapak-bapak dengan keringat yang membasahi sekujur tubuh. Pak, habis ngapain sih?

Hari sabtu
Datangnya sih cepat. Tapi si driver ini mengemudinya ugal-ugalan banget. Bikin jantungku mau copot saja. Aku memang mau cepat, tapi nggak ugal-ugalan juga. Begitu sampai, dia agak lama memberikan uang kembaliannya. Terpaksa aku harus beli roti coklat dulu, deh. 

Hari minggu
Iseng ah, aku mencoba naik Kancil. Habisnya lama juga dapat driver. Mau lanjut naik kereta, aku nggak tahan dengan sesaknya itu. Mahal sih, karena jarak dekat saja, harus bayar Rp 20.000. Tapi, tak apalah. Buat pengalaman pertama ini. Dan, ternyata naik Kancil itu sama seperti saat kita naik Bajaj. Hanya saja, dalamnya Kancil jauh lebih asyik daripada Bajaj. Haha.







Comments