Kisah di Balik Layar #KCAC dan "Cualacino"






















Happy Valentine's Day!

Oh iya, terimakasih banyak sudah mau membaca serial #KisahCintaAbangCici yah! Aku tahu pasti banyak yang bertanya serial yang satu itu terinspirasi dari mana. Soalnya, di tahun 2015 kemarin, ada teman bloger yang bertanya, inspirasi aku menulis dari mana. Aku bilang saja ke si bloger asal Surabaya tersebut, inspirasiku menulis bisa datang dari mana-mana. And, trust me, I do always writing for a good reason. Aku sama sekali tak memiliki niat negatif apalagi jahat saat aku menulis, khususnya menulis fiksi. 

Untuk kisah Bang Marco dan Cici Jessica itu, itu terinspirasi dari pengalaman seorang junior di kampus dulu. Aku angkatan 2007, dia angkatan 2014. Aku tergugah untuk mengangkat setiap curahan hatinya menjadi sebuah serial cerita yang luar biasa. Ada banyak pertimbangannya juga, loh--dan yang jelas, aku selalu menulis dengan alasan bagus dan positif. Good vibes only. Salah satunya, untuk serial Bang Marco dan Cici Jessica itu sendiri, aku berpesan agar hati-hati dalam berbuat, apalagi hal-hal seperti 'itu' memang ada. Kisah cintanya si junior ini sudah berlangsung lama dan tampaknya sangat mesra, dia juga sudah berkorban habis-habisan (baca: nge-bucin), eh cowoknya malah ditikung. Begitulah cerita di balik layar kisah Bang Marco dan Cici Jessica. Walau itu berdasarkan kisah nyata seseorang, aku memberikan beberapa bumbu agar lebih menarik lagi untuk disimak. 

Haha. Yang seperti ini mengingatkanku dengan masa di mana aku menuliskan "Cualacino". Novelku yang serba biru muda itu pun terinspirasi dari seorang teman bloger yang dulunya tinggal di Bandung (tapi mungkin sekarang dia masih). Dulu, aku dan si teman perempuan itu sering mengobrol via Whatsap. Lama kelamaan aku jadi tertarik dengan si teman perempuan. Tergugahlah hati aku untuk menjadikan beberapa buah pikirannya menjadi sebuah novel berjudul "Cualacino". Hey, kamu yang sebentar lagi mau menikah, tokoh bernama Ruth Melisa itu terinspirasi dari kamu. Ada beberapa sifat dan karakter kamu dalam kepribadian Ruth Melisa tersebut. Kamu juga semangat, yah. Terimakasih juga atas kata-kata motivatif kamu, terimakasih juga sudah mau meluangkan waktu berharga kamu untuk kita saling bertukar pikiran. Semangat! Papa kamu di surga juga pasti ingin kamu lebih bersemangat dalam menjalani hidup!

Overall, thank you for all of you who already read. Aku sangat menghargainya. Mohon maaf juga jika ada yang tak berkenan. Tuhan memberkati!














Comments